Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Melepas Rindu


Lembut tapi masih terkesan maskulin, seperti itulah perlakuan Edgar kepada Arumi dalam permainannya di atas tempat tidur. Setiap sentuhan yang dirasakan Arumi saat itu, terasa begitu berbeda dan sangat indah. Arumi seakan tidak ingin mengakhiri semuanya.


Perih dan lelah tidak Arumi hiraukan, karena ia terlalu menikmati semua yang Edgar lakukan kepadanya. Pria itu memang sungguh luar biasa. Ia sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan dirinya dengan baik.


Beberapa saat kemudian, Edgar menurunkan tubuhnya hingga menempel pada punggung Arumi. Diciuminya telinga gadis itu, dan ia pun kemudian berbisik di antara suara helaan napas beratnya yang membuat Arumi semakin terbius.


“Sudah cukupkah, Arum?” Bisik Edgar setelah mereka melakukannya selama hampir satu jam, dalam berbagai posisi yang berbeda.


Arumi menoleh ke arah samping, di mana terdapat wajah Edgar dengan titik-titik keringat di keningnya. Gadis itu mengangguk pelan. Tadinya Arumi ingin memaksakan dirinya. Akan tetapi, ia sudah merasa lemas dan kelelahan karena harus mengimbangi seorang Edgar yang sudah sangat profesional. Lagi pula, Arumi merasakan ada bagian tubuhnya yang dirasa sudah tidak nyaman.


Lebih baik ia menyudahi saja permainan mereka.


Dengan segera, Edgar membalikan tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Didekapnya dengan erat tubuh Arumi. Helaan napasnya pun semakin memburu dengan gerakannya yang semakin cepat.


Tidak berselang lama, Edgar kemudian membenamkan wajahnya di antara leher dan pundak sang kekasih. Ia mengakhiri semuanya dengan sempurna. Sesaat kemudian, Edgar terkulai lemas di atas tubuh Arumi yang sudah bersimbah keringat, tak berbeda dengan tubuhnya.


Perlahan Arumi membuka matanya. Napasnya masih terengah-engah. Ini adalah pertama kalinya ia bercinta lagi dengan seorang pria setelah sekian lama ia putus dari Moedya.


Arumi pun mulai menenangkan dirinya dan mengatur pernapasannya. Ia merasa sangat lelah. Sementara Edgar juga masih terkulai lemas di atas tubuhnya. Pria itu terlihat jauh lebih lelah.


Arumi sudah mulai tenang. Ditatapnya langit-langit kamar itu. Arumi kemudian mengelus lembut rambut pria yang telah berjuang keras untuk dapat meraih cintanya. Gadis dengan lesung pipit itu tidak merasa menyesal dan tidak harus merasakan hal seperti itu tentunya.


Belaian halus Arumi kini berpindah pada punggung Edgar. Perlahan pria itu bereaksi dan menggerakan tubuhnya.


“Thank you, Arum,” bisik Edgar seraya mengangkat kepalanya yang sejak tadi terbenam di leher jenjang Arumi. Ia lalu mengecup lembut kening Arumi. Wajah lelah terlihat dengan jelas di sana. Sementara Arumi hanya tersenyum. Edgar terlihat begitu seksi dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


“Kamu sangat berat, Ed!” Keluh Arumi. Edgar hanya tertawa pelan. Ia lalu menggulingkan tubuhnya. Ia kini telah berpindah ke sebelah Arumi.


“Kemarilah, Arum!” Edgar meminta Arumi untuk tidur di atas tubuhnya. Arumi menurut saja. Ia berpindah ke atas tubuh pria itu dan kembali merasakan betapa hangatnya tubuh tegap sang kekasih.


Ditatapnya wajah yang diliputi rasa lelah, tetapi terlihat sangat puas dan bahagia. Edgar tampak sangat berseri meskipun sebenarnya ia ingin segera tidur.


Sesaat kemudian, Arumi kemudian sedikit menaikkan tubuhnya, sehingga wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah Edgar.


Dielusnya dengan lembut rambut pria itu. Arumi kemudian menempelkan keningnya pada kening Edgar. Deru napas keduanya saling beradu dan menghangat di wajah masing-masing. Mereka pun saling merasakan detakan jantung satu sama lain.


“Maafkan aku yang terlambat mencintaimu, Ed,” ucap Arumi dengan setengah berbisik. “Maafkan aku yang selalu menutup mata dan telingaku dari cintamu yang teramat besar. Aku tahu jika aku telah bersikap sangat buruk padamu,” sesal Arumi. Perlahan gadis itu kembali memejamkan matanya.


“Kamu membuatku sangat lelah, Arum. Namun, aku senang, karena rasa lelah membuatku dapat tidur dengan nyenyak. Kamu tahu, Arum? Aku selalu berolahraga di malam hari agar aku merasa sedikit lelah,” terang Edgar. Tangannya bergerak lembut di atas punggung Arumi.


“Kamu tidak terlihat lelah sama sekali, Ed,” bantah Arumi. “Kamu mengikuti selama lebih dari tiga tahun. Ya, Tuhan ... jika aku adalah dirimmu, maka aku pasti sudah pergi sejak dulu,” ujar Arumi.


Edgar tersenyum simpul. Tangannya kini beralih pada rambut panjang Arumi. Dielusnya rambut itu dengan lembut. “Aku mencintaimu dan akan selalu begitu. Terkadang aku pun tidak tidak tahu akan dapat bertahan hingga kapan. Satu hal yang pasti, aku hanya bertahan karena aku tahu jika pengorbanan dan perjuanganku selama ini pasti akan berakhir pada hasil yang terbaik untukku, entah aku bisa memilikimu atau tidak. Setidaknya ... aku tidak mengaku kalah sebelum berperang,” jelas Edgar.


“Seandainya kamu tidak berakhir denganku, apa kamu tidak takut akan menyakiti hati wanita yang bersamamu karena tato ini?” Tanya Arumi lagi.


Edgar menggumam pelan. “Aku akan meminta maaf kepadanya sekaligus bercerita jika aku pernah mencintai seorang gadis yang selalu bersikap ketus dan galak padaku,” sahut Edgar dengan diiringi sebuah tawa pelan, membuat Arumi segera mencubit pinggangnya.


Edgar tertawa geli. Ia merasa sangat bahagia malam itu. Kehadiran Arumi benar-benar telah menjadi sebuah suntikan semangat baru baginya. Edgar merasa hidupnya telah mendekati pada kesempurnaan. Selangkah lagi, ia akan mengakhiri kisah hidupnya dengan sangat manis.


“Bagaimana dengan tawaranku tadi?” Edgar bertanya lagi seraya terus mengelus lembut rambut Arumi.


“Tawaran yang mana?” Arumi bertanya balik.


Ia tersenyum. Tangannya masih ia letakan di atas dada Edgar dan mengusap-usapnya perlahan. “Aku akan ke Marseille dan menginap di sana selama beberapa hari. Sudah lama aku tidak mengunjungi makam kedua orang tuaku,” ucap Arumi membuat Edgar mengeluh pelan.


“Kapan kamu akan berangkat ke sana?” Tanya Edgar lagi.


Arumi terdiam untuk sejenak. “Apa kamu akan menemaniku, Ed?”


“Aku ingin sekali menemanimu ke sana, tapi aku masih memiliki banyak urusan di sini Arum “ tolak Edgar dengan penuh sesal. Sebenarnya ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat meghabiskan waktu dengan Arumi, tetapi keadaannya memang tidak memungkinkan.


Arumi tidak menjawab. Sesekali diciumnya leher Edgar dengan mesra. Ini seperti sebuah mimpi baginya. Tentunya Arumi tidak pernah membayangkan akan berakhir dalam pelukan Edgar di atas tempat tidur seperti saat itu. Gadis itu tidak pernah membayangkan  jika ia akan kembali pada kisah cinta lamanya, yang telah ia kubur dalam-dalam.


Ya, ada banyak hal yang berubah, tapi Edgar tidak pernah berubah. Sikapnya, senyumnya, cara dia memperlakkukan Arumi, selalu sama. Pria itu selalu terlihat lembut dan romantis.


“Apa kamu menyukainya, Ed?” Tanya Arumi lagi setelah beberapa saat lamanya mereka saling terdiam.


“Kamu sendiri?” Edgar bertanya bertanya.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya tertawa pelan. Tentu saja ia terlalu malu untuk mengakui hal itu. Namun, ia yakin jika Edgar pasti sudah mengerti.


“Rasanya sangat berbeda, Arum,” ungkap Edgar. “Ini jauh lebih indah jika dibandingkan dengan waktu itu. Aku senang karena malam ini kita melakukannya dalam keadaan sama-sama sadar,  dan tentu saja rasanya jauh lebih nikmat, kan?” Ujar Edgar seraya mengecup lembut kening Arumi.


Arumi kembali tertawa pelan. Lagi-lagi ia merasa malu. “Kamu pria yang sangat luar biasa, Ed,” sanjungnya seraya mencium pipi Edgar dengan mesra.


“Kamu juga sangat luar biasa, Arum,” Edgar menyanjung balik Arumi. Sesaat kemudian ia membalikan badannya. 


Edgar kembali membuat Arumi berada di dalam kungkungannya. Ia meletakan tangan kiri gadis itu dengan lurus. Edgar kemudian menggenggam erat jemarinya.


Kembali dilu•matnya bibir gadis itu dengan lembut. Arumi lagi-lagi tidak kuasa untuk menolaknya, meskipun ia masih merasakan ada bagian dari tubuhnya yang terasa perih. Akan tetapi, sentuhan-sentuhan Edgar di tubuhnya telah membangkitkan kembali semua hasratnya.


“Mari kita ulangi!” Bisik nakal Edgar.