
"Juna!" Panggil Ranum ketika melihat Moedya yang sudah bersiap untuk pergi. Ia telah berhasil menahan langkah pria itu.
Pagi itu seperti biasa, Moedya mengenakan kaos oblong kesukaannya. Kaos yang selalu dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek di bagian lututnya. Ia menenteng jaket kulit hitam di tangan sebelah kanan. Itulah kostum kesukaan Moedya.
Melihat kehadiran Ranum di sana, Moedya kemudian tertegun dan menoleh. Ia menatap sang ibu yang baru keluar dari kamarnya.
Hari ini, Ranum terlihat lebih sehat jika dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu, tampak lebih segar dan berseri kali ini.
"Ibu sehat? Aku pikir Ibu belum bangun," Sapa Moedya dengan hangat. Ia kembali dan menghampiri sang ibu yang saat itu berdiri di dekat tangga.
"Kamu pikir Ibu ini pemalas yang selalu bangun siang?" Protes Ranum. Ia lalu meraih tangan Moedya dan mengajaknya untuk duduk di atas kursi kayu khas Jepara, yang berada di dekat tangga menuju lantai dua. "Kemarilah! Ibu ingin bicara denganmu," ajaknya.
Moedya menurut saja. Ia pasrah ketika sang ibu menarik tangannya dan membawanya untuk duduk.
Duduk bersebelahan, Ranum menatap lekat putra semata wayangnya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu istri dari Pramoedya Aryatama itu. Moedya sendiri sudah dapat menebak hal itu. Ia harus mempersiapkan dirinya dengan baik.
"Ada sesuatu yang penting?" Tanya Moedya dengan senyum kalemnya.
"Aku ini ibumu! Apa harus ada sesuatu yang penting dulu baru Ibu bisa mengajakmu bicara?" Protes Ranum dengan nada bicaranya yang sangat khas, tegas dan tidak bertele-tele.
Moedya tertawa pelan menanggapi sikap Ranum kepadanya. Itu adalah hal yang sudah sangat biasa dalam perbincangannya bersama Ranum. Akan tetapi, pembawaan Moedya memang tenang, sehingga ia hanya menanggapi sikap Ranum dengan santai. "Aku harus segera ke bangkel, Bu. Jika pembicaraan kita akan memakan waktu yang lama ... sebaiknya kita lakukan saja nanti setelah aku pulang kerja, bagaimana?" Tawar Moedya.
"Tidak! Apa-apaan kamu? Bengkel lebih penting dari ibumu sendiri? Tetap duduk dan kita akan bicara!" Tegas Ranum.
Moedya menghela napas pelan. Ia lalu menggaruk keningnya untuk sesaat. "Baiklah," Moedya menegakan tubuhnya yang tadinya duduk dengan setengah membungkuk. "Ada masalah apa sehingga Ibu terlihat begitu gusar?" Tanya pria tiga puluh tahun itu.
Ranum masih menatap lekat putra semata wayangnya. Sesaat kemudian, ia lalu menghempaskan napas pelan. "Katakan pada Ibu yang sebenarnya! Apakah benar jika kamu berhubungan dengan Diana?"
Moedya menoleh dan tersenyum. "Wah ... gosip cepat beredar rupanya. Apakah Arumi mengadu kepada Ibu?" Tanya Moedya dengan tenangnya.
Ranum membelalakan matanya saat mendengar nama Arumi. "Apa maksudmu? Jangan katakan jika Arumi sudah mengetahui hal ini!"
"Sudah," jawab Moedya dengan entengnya.
Seketika Ranum memukul lengan putranya yang dihiasi tato. Ia terlihat benar-benar gemas terhadap Moedya. "Ya ampun, Juna! Kamu terlihat sangat tenang padahal Arumi sudah mengetahui hal ini. Bagaimana kamu ini? Ibu tegaskan satu hal, Ibu tidak akan pernah mengizinkanmu menjalin hubungan dengan Diana! Ibu tidak menyetujuinya!" Tegas Ranum.
Mendengar perkataan Ranum barusan, Moedya masih terlihat tenang. Wajahnya bahkan terlihat sangat berseri. Ia tampak begitu lega. "Baiklah. Aku senang karena Ibu berkata seperti itu. Jadi, katakan pada tante Tara untuk menasihati Diana dan suruh dia manjauh dariku!" Ujar Moedya sambil beranjak dari duduknya. "Ibu jauh lebih mengenal tante Tara, apa lagi suaminya ...." gurau Moedya seraya memakai jaketnya. Ia pun tertawa geli.
"Juna!" Sergah Ranum. Ia melotot karena Moedya sudah menggodanya dengan cukup keterlaluan.
"Hei, Juna! Kita harus melanjutkan perbincangan ini nanti," seru Ranum.
Sementara itu, Moedya melangkah dengan gagahnya. Ia tidak menjawab dan hanya melambaikan tangannya kepada Ranum. Senyum tipis menghiasi wajah maskulinnya. Ia senang karena Ranum tidak menyetujui hubungannya dengan Diana.
Sudah cukup bagi dirinya untuk bersembunyi dan mengamati dari kejauhan. Sudah saatnya ia kembali menjadi Moedya yang dulu. Moedya yang berani bertindak, bukan seorang Moedya yang pengecut seperti dirinya selama tiga tahun ini.
Memacu motornya dengan cukup kencang, Moedya merasa hatinya menjadi sedikit ringan. Ia merasa harapan itu datang kembali kepada dirinya. Ia pun mengalihkan jalur yang seharusnya ia lewati. Bukan lagi menuju ke bengkelnya, melainkan menuju Sweet in Jar.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Moedya kembali menginjakan kakinya di dalam toko dengan aroma menggugah selera itu. Ia berdiri di dalam toko itu dan mulai mengedarkan pandangannya. Sepasang mata dengan sorot yang dalam, menyapu setiap sudut toko dan mencari seraut wajah cantik yang ingin ia temui. Akan tetapi, yang muncul di hadapannya bukanlah gadis yang ia cari, melainkan gadis yang merupakan karyawan di sana.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya gadis itu dengan ramah.
"Saya mencari Arumi," jawab Moedya.
"Oh ... mbak Arum ada di dapur, dia sedang ...."
"Oke, terima kasih," potong Moedya seraya mengedipkan sebelah matanya dan berlalu menuju dapur. Ia meninggalkan gadis yang hanya tersipu karena sikapnya.
Berdiri di pintu dapur, Moedya menyandarkan lengannya sambil memerhatikan gadis cantik yang tengah fokus pada loyang-loyang berisi kue di hadapannya. Ia manatap gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Rambut panjang yang digulung asal-asalan dengan anak rambut yang terjatuh dan membuatnya terlihat sangat seksi. Tubuh indah dengan pinggang ramping yang dilapisi apron, membuatnya terlihat sangat manis dan begitu anggun.
Pandangan Moedya kemudian beralih pada sepasang kaki jenjang berhiaskan flat shoes putih berpita yang cantik. Sungguh, gadis itu terlihat sangat sempurna. Ia begitu indah dan memang patut untuk dikagumi. Dialah Arumi, cinta lamanya yang telah lama pergi dan akan segera ia jemput kembali.
"Arum," sapa Moedya. Ia tidak tahan hanya dengan memerhatikan gadis itu. Ia ingin menyapa dan mendengar suaranya.
Arumi tersentak. Ia hampir menjatuhkan mangkuk berisi mentega yang tengah dipegangnya. Ia lalu menoleh ke arah sumber suara.
Terkejut, wajah cantiknya terlihat sangat lucu. Ia merasa heran kenapa Moedya ada di sana saat itu. Pria itu juga terlihat sangat bahagia.
Arumi meletakan mangkuk yang sedang dipegangnya. Sementara itu, tatapannya masih ia layangkan kepada pria dengan penampilan eksentrik itu.
"Moedya? Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Arumi dengan heran.
Moedya tidak segera menjawab. Ia melangkah dengan tenang dan menghampiri Arumi yang masih terpaku dengan wajah terheran-heran. Ia lalu berdiri tepat di hadapan Arumi yang masih belum mengalihkan tatapannya dari pria itu.
Arumi kemudian membalikan badannya sehingga kini ia menghadap kepada Moedya. Gadis itu hanya terpaku, ketika Moedya menangkup wajah cantiknya dan menyentuh bibirnya dengan lembut. Arumi kemudian memejamkan matanya. Ia tidak menolak hal itu. Ia hanya mencoba untuk terus meresapi, apakah maksud dari Moedya melakukan hal itu kepadanya? Akan tetapi, semakin lama ia semakin terlupa. Arumi terbuai dengan permainan kecil sang mantan, dan yang ia lakukan saat itu, hanyalah menikmati apa yang sudah sangat lama ia rindukan.