
Arumi mengalihkan pandangannya pada es krim yang sedang dipegangnya. Ia lalu menyendok dan memasukan satu suapan lagi ke dalam mulutnya. Sementara Edgar masih menatapnya dengan lekat.
"Di mana mobilku?" Tanya Arumi sambil terus melahap es krimnya.
"Ada di tempat parkir. Aku menyuruh orangku untuk membawanya kemari," sahut Edgar. "Tadinya aku akan menemui Keanu. Ada urusan pekerjaan yang harus kami bahas, tapi aku melihat mobilmu keluar dari halaman rumahmu. Entah kenapa ... tiba-tiba aku ingin mengikutimu," terang Edgar dengan tenangnya.
"Aku harap itu yang pertama kalinya kamu mengikutiku," gumam Arumi dengan malas.
Edgar tidak menjawab. Ia hanya merubah sedikit posisi berdirinya. Ia juga kini tidak menatap lagi kepada Arumi.
Arumi seakan sudah dapat menebak maksud dari sikap diam Edgar. Tidak dapat disangkal lagi, jika pria itu pasti melakukan hal-hal konyol.
"Aku harap kamu tidak memasang kamera pengintai di dalam mobilku," gumam Arumi lagi. Ia sudah mengenal Edgar dengan baik, pria itu memang memiliki sikap yang gigih.
"Aku sudah membatalkan jadwal bertemu dengan Keanu sebanyak dua kali. Semoga kakakmu tidak berpikir jika aku adalah orang yang tidak profesional," keluh Edgar seraya kembali mengambil sendok es krim itu dan mulai mengambil satu sendok untuk dirinya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menjadi seorang detektif?" Sahut Arumi seraya memutar bola matanya dengan malas. "By the way ... aku harus pulang," lanjut gadis itu. Ia tidak membuka mulutnya ketika Edgar hendak menyuapinya dengan satu sendok es krim.
Edgar tidak menjawab, yang terdengar darinya hanyalah helaan napas berat sebanyak beberapa kali. Ia sepertinya tengah menyesalkan sesuatu.
Arumi juga ikut terdiam. Ia menjadi sedikit berpikir tentang Edgar saat itu, Akan tetapi, Arumi tidak ingin mengikuti jejak Moedya yang selalu mencari pelarian, meskipun Arumi mengetahui jika Edgar begitu tergila-gila kepadanya.
"Kenapa foto-ku terpampang sangat besar di kamarmu?" Tanya Arumi. Ia merebut sendok kecil itu dari tangan Edgar dan kembali menyendok es krim untuk dirinya.
"Agar aku dapat menatapmu dengan jelas setiap saat," jawab Edgar singkat.
"Kenapa tiba-tiba aku jadi merasa takut kepadamu, Ed? Kamu terlalu berlebihan dan itu membuatku tidak nyaman," ujar Arumi dengan wajah yang menunjukan suatu keresahan.
Edgar tertawa pelan. Ia lalu merebut lagi sendok kecil itu dari tangan Arumi. Arumi mendelik kepada pria itu, ia mencoba untuk protes. "Ambilkan sendok baru untukku!" Perintahnya. Sikap Arumi terhadap Edgar tidak berubah. Ia masih suka memerintah pria itu dengan seenaknya.
"Ambil sendiri atau kalau mau ini ...." Edgar kembali menyodorkan sendok berisi es krim itu ke dekat mulut Arumi. Sementara gadis itu hanya terdiam. Akan tetapi, beberapa saat kemudian Arumi membuka mulutnya dan bermaksud untuk menerima suapan dari Edgar. Sayang sekali, Edgar hanya bermain-main. Dengan cepat, pria itu menarik kembali sendoknya dan malah memasukan sendok berisi es krim itu ke dalam mulutnya.
Kesal, Arumi segera melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya ia tekuk dan ia palingkan dari Edgar. Sementara Edgar hanya tertawa geli melihatnya. Ia juga membiarkan Arumi dengan sikap merajuknya.
"Terus saja tertawa! Kamu memang pria paling menyebalkan! Aku pulang saja!" Gerutu Arumi seraya berlalu dari dapur.
Melihat hal itu, Edgar segera meletakan es krimnya di atas meja. Ia lalu segera mengejar Arumi dan meraih pergelangan tangan gadis itu.
"Hey, Arum! Tunggu!" Edgar mencegah Arumi untuk pergi.
"Lepaskan tanganku!" Sergah Arumi dengan kesal.
"Apa yang sudah berandalan itu lakukan padamu, sehingga kamu harus meratapinya seperti tadi siang?" Selidik Edgar.
Arumi mengalihkan pandangannya kepada pria yang saat itu masih memegang tangannya. Tatapannya tajam dan penuh kemarahan. Akan tetapi, dengan segera tatapan itu melunak.
"Kenapa, Arum? Kenapa kamu harus seperti itu?" Sesal Edgar. "Aku tidak suka melihatmu bersedih dan terluka. Aku sangat tahu bagaimana hidup dalam perjalanan yang seakan tanpa tujuan. Hidup hanya dengan satu harapan, yang bahkan masih terlihat semu dan tidak mungkin tercapai. Rasanya sangat menyakitkan, Arum."
Arumi terdiam. Posisinya saat ini memang tidak jauh berbeda dengan Edgar. Ia seakan mengharapkan sesuatu yang sulit untuk ia dapatkan.
"Apa kamu merasa sangat bodoh, Arum?" Edgar masih dengan nada bicaranya yang tenang. Sementara Arumi tidak menjawab. Ia memang merasa sangat kacau, bahkan jauh lebih kacau dari sebelumnya.
Moedya seakan telah mempermainkan takdir hidupnya. Pria itu datang dan pergi dengan sesuka hatinya. Ia datang menawarkan cinta dan perdamaian. Akan tetapi, tidak lama kemudian ia pergi lagi dan menciptakan kabut yang kian pekat di hati Arumi.
"Kenapa kamu masih bisa memaklumi pria seperti dia dan terus mengabaikanku? Kenapa kamu sangat sulit untuk melupakan cintamu kepadanya dan begitu mudah melupakan aku?" Lirih Edgar. Rasa kecewa akan semua penolakan Arumi terhadapnya, sudah tidak mampu ia sembunyikan lagi.
"Aku lelah, Arum. Aku mulai merasa jenuh dengan kebodohanku sendiri. Jika kamu ingin agar aku menyerah ... maka baiklah, aku akan melepaskan semua harapanku untuk bisa membawamu kembali ke dalam hidupku ...." setelah berkata seperti itu, Edgar kemudian berlalu ke dalam kamarnya. Sementara Arumi masih berdiri mematung di tengah-tengah ruangan berlantai marmer itu.
Tidak berselang lama, Edgar kembali dengan tas dan sebuah jaket. Ia kemudian memasangkan jaket itu di tubuh Arumi, meskipun hanya sekedar melingkarkannya sehingga menutupi tubuh gadis itu. Ia juga menyodorkan tas kecil milik Arumi.
Arumi menerima tas itu dengan perasaan yang aneh. Untuk sejenak, ia menatap Edgar yang terlihat sangat kecewa kepada dirinya. "Aku kembalikan besok jaketnya," ucap Arumi pelan.
"Tidak apa-apa. Aku masih mempunyai banyak jaket di lemariku," jawab Edgar datar dan membuat Arumi kian merasa tidak enak. Sikap Edgar sangat aneh malam itu. Ia tidak seperti biasanya.
Arumi mengangguk pelan. "Good night, Ed," Arumi kemudian membalikan badannya dan menuju lift. Sementara Edgar masih terpaku menatapnya, bahkan hingga gadis itu masuk dan menghilang di balik pintu lift yang membawanya pergi dari tatapan pria itu.
Selama di dalam perjalanan pulang, hati Arumi kian gelisah. Apa yang sudah terjadi selama ini, telah membuat hidupnya menjadi terasa tidak menentu. Arumi harus mengambil sikap dan keputusan yang terbaik bagi dirinya.
Sementara itu, Edgar terduduk lesu di atas sofa ruang tamu apartemennya. Ia menyandarkan tubuhnya dan mendongakan wajahnya. Ia menatap plafon apartemennya yang indah dengan hiasan lampu yang memberikan kesan elegan pada ruangan itu.
Izin tinggalnya di Indonesi, tinggal tersisa sekitar beberapa bulan lagi. Apa yang akan ia lakukan dalam waktu sesingkat itu? Tidak mungkin pula ia akan dapat membawa kembali Arumi, meskipun ia melakukan usaha sekeras apapun, karena kenyataannya watak gadis itu jauh lebih keras dari apa yang terlihat.
Arumi cantik ya, pemirsah. Mirip sedikit sama ceuceu othor, tapi cuma sedikit ... sedikit banget😁😁😁