
Arumi bergelayut manja di dalam pelukan Edgar siang itu. Disentuhnya dada sebelah kanan Edgar yang berhiaskan tato bertuliskan namanya. Arumi kemudian mengusap-usapnya dengan lembut. Sementara Edgar membalasnya dengan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala gadis itu.
Edgar menempati lantai lima di hotel itu. Dari dalam kamar, mereka dapat melihat dengan jelas pemandangan pelabuhan dengan deretan kapal pesiarnya dan segala aktivitas di pelabuhan itu.
Angin berembus dengan tidak terlalu kencang, tapi tetap berhasil menyibakan tirai melalui pintu balkon kamar yang sengaja dibiarkan terbuka.
Tidak lama lagi, musim gugur akan segera tiba. Saat itu, pemandangan indah akan terlihat dengan jelas. Ribuan dedaunan yang berwarna-warni akan memenuhi tanah dan menciptakan sebuah kesan romantis yang tak terlupakan.
“Kamu masih ingat Arum kapan pertama kali kita memulai hubungan?” Tanya Edgar seraya mengelus lembut rambut panjang Arumi, sementara gadis itu terdiam berpikir. Ia sedang mengingat-ingat sesuatu yang Edgar tanyakan kepadanya.
“Aku lupa kapan tepatnya, Ed. Namun, aku ingat betul jika saat sudah memasuki musim gugur. Kamu memberiku syal rajut yang sangat cantik waktu itu, tapi maaf karena aku sudah menghilangkan syalnya,” ujar Arumi tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Ah ... aku sudah bisa menduganya,” sesal Edgar dengan helaan napas beratnya. Ia membiarkan Arumi yang saat itu tengah asyik memainkan bulu dadanya. “Kamu pasti sudah menghilangkan semua yang telah kuberikan padamu, kan?” Tukas Edgar.
Arumi tidak menjawab. Akan tetapi, ia semakin merapatkan tubuhnya kepada tubuh Edgar. Mungkin saja gadis itu ingin meminta maaf meski bukan secara lisan.
Ya, tentu saja. Arumi merasa bersalah atas semua sikapnya terhadap Edgar. Ia tidak pernah menyangka jika Edgar akan kembali membuatnya jatuh cinta, bahkan dengan sebuah perasaan yang sangat jauh berbeda.
Arumi seperti menjilat ludahnya sendiri. Akan tetapi, semua yang terjadi di luar kuasanya. Ia tidak mampu untuk menolak pesona dari sang mantannya beberapa tahun silam itu. Arumi bahkan kini tanpa sungkan telah berani membawa pria itu ke atas tempat tidur.
“Seberapa sering kamu melakukannya dengan Moedya, Arum?” Sebuah pertanyaan yang terasa sangat menghakimi bagi Arumi. Tentu saja ia merasa malas untuk menjawabnya, apa lagi harus menjelaskannya kepada Edgar.
“Haruskah kamu bertanya seperti itu padaku?” Protes Arumi.
Edgar menggumam pelan. Ia memindahkan tangannya pada lengan gadis itu dan mengusap-usapnya dengan lembut. “Karena kamu kini terasa sangat jauh berbeda, Arum,” ujar Edgar seraya mengela napas pendek. “Sebenarnya aku ingin sekali menjadi pembimbingmu, tapi sayangnya aku kurang beruntung. Tenang saja, Arum! Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Aku suka dengan dirimu yang sekarang. Kamu jauh lebih menggoda,” ucapan Edgar terdengar begitu nakal.
Arumi tidak menjawab. Ia masih meletakan kepalanya di dada Edgar. Sesekali gadis itu mendongak dan mencium dagu yang dipenuhi jenggot tipis itu. “I love your beard,” bisik Arumi seraya tertawa pelan, membuat Edgar meliriknya dan mengecup keningnya.
“I love your skin,” balas Edgar dengan jauh lebih nakal dan membuat Arumi melanjutkan tawanya.
“I love your smell,” balas Arumi tanpa menghentikan tawa manjanya.
“I love your everything,” balas Edgar.
Arumi terdiam untuk sejenak. Setelah itu, ia lalu bangkit dan duduk di atas pangkuan Edgar. Disentuhnya wajah rupawan itu dengan penuh perasaan. Tidak harus diceritakan lagi betapa menawannya pria itu. Dari dulu hingga saat ini, ketampananya tidak pernah berubah bahkan di usianya yang sudah menginjak tiga puluh, Edgar terlihat semakin seksi dan memesona.
“I love your everything. I love you, Mr. Hillaire. You make me feel it again?” Tanpa segan Arumi menyentuh permukaan bibir Edgar yang segera berbalas dengan sebuah luma•tan penuh gairah dari Edgar.
Suara de•sah napas dan erang manja Arumi pun kembali menghiasi kamar itu. Berbaur menjadi satu dengan angin yang membawa keduanya terbang tinggi.
Waktu makan siang akhirnya tiba. Menu yang telah Edgar pesan sebelumnya sudah tersaji di atas meja, yang tidak terlalu besar dengan dua kursi di atas balkon kamar itu.
Satu porsi penuh bouillabaisse dengan beberapa makanan pendamping lainnya yang sangat menggugah selera. Arumi menatap heran kepada sang kekasih. “Kamu memesan makanan sebanyak ini, Ed?” Tanya Arumi sambil menyelipkan rambutnya di balik telinga.
“Ya. Memangnya kenapa?” Jawab Edgar yang saat itu baru selesai memakai kembali kemejanya. Ia terlihat begitu segar setelah mandi. Edgar pun menghampiri Arumi dan duduk di hadapannya.
“Why?” Tanya Arumi dengan tidak mengerti.
Edgar lalu meneguk minumannya sebelum akhirnya ia mulai menyantap menu yang telah tersedia. Pria itu masih terlihat sangat tenang.
“Kamu sudah mengetahui jawabannya, Babe,” jawabnya sambil mengunyah makanannya di dalam mulutnya.
“Bisakah diperjelas, Ed? Sejujurnya aku benar-benar belum dapat memahami semua ini. Kamu bahkan belum memberiku penjelasan tentang pria yang terus mengikutiku seperti bayangan keduaku itu!” Arumi sedikit protes atas sikap Edgar yang dinilainya tidak terbuka.
“Masih beruntung karena aku mulai mencintaimu dan sangat merindukanmu, sehingga aku masih bisa memberikan maaf untukmu. Jika kedua perasaan itu tidak ada, maka aku pasti tidak akan pernah ingin mengenalmu lagi!” Tegas Arumi. Ia mulai menyantap makanannya.
Edgar menggumam pelan. Tanpa menghentikan aktivitas makan siangnya, pria tiga puluh tahun itu kembali berkata, “Kamu ingin tahu sesuatu, Arum?” Edgar kembali berteka-teki.
Arumi masih memegangi sendok dan garpu di kedua tangannya. Tatapnnya ia layangkan kepada sang kekasih yang menurutnya telah melakukan sesuatu yang sangat berlebihan. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu terlihat sangat cemas, bahkan cenderung seperti ketakutan secara berlebihan,” selidik Arumi tanpa mengalihkan tatapannya.
Edgar pun demikian. Ia masih memegangi sendok dan garpu itu, meski kini ia menghentikan makannya untuk sesaat dan membalas tatapan lekat Arumi.
“Semua berawal ketika aku baru kembali dari Indonesia. Ada seseroang yang mengirimkan foto-fotomu padaku, Arum. Ada sekitar lima atau enam lembar, bahkan aku melihat fotomu ketika sedang di toko,” tutur Edgar yang seketika membuat Arumi terdiam dengan wajah yang sedikit tegang.
“What do you mean, Ed?” Tanya Arumi dengan rona tidak percaya.
Edgar mengangguk pelan. Ia seakan ingin menegaskan tentang ucapannya tadi. “Itu bukan yang terakhir, Arum. Setelah itu aku menerima lagi foto-fotomu ketika kamu baru tiba di bandara. Saat kamu baru tiba di Paris. Aku akui kamu terlihat sangat cantik ketika menunggu kedatanganku di dekat Sungai Seine sore itu, tapi itu justru membuatku semakin mencemaskanmu,” papar Edgar lagi.
Sesaat kemudian, ia lalu beranjak dari duduknya dan terlihat mengambil sesuatu dari dalam saku mantelnya. Setelah itu, Edgar kembali duduk di hadapan Arumi dan menyodorkan sebuah amplop kepada Arumi.
Ragu, Arumi menerima amplop itu. Sementara tatapannya yang masih diliputi dengan rona kecemasan, terus ia layangkan kepada pria di hadapannya. Arumi seakan tengah meminta pejelasan dan mungkin sebuah kepastian dari Edgar.
“Bukalah!” Suruh Edgar.
Masih dengan wajah yang tegang, Arumi membuka amplop itu. Seketika ia tersentak melihat foto-foto dirinya. Ia juga melihat salah satu foto dengan sebuah tulisan di balik foto tersebut. Sebuah kalimat sederhana yang membuatnya merasa takut.
“Siapa yang mengirimkan ini, Ed?” Gumam Arumi dengan tangan yang sedikit bergetar.
“Terus terang saja jika aku belum menyelidikinya, Arum. Masalah di perusahaan sangat menyita waktu dan pikiranku. Karena itu, aku menugaskan seseorang untuk selalu mengikutimu, dan memastikan jika kamu baik-baik saja. Tentu saja aku tidak pernah menyuruhnya untuk mengikutimu hingga ke toilet ....” Edgar terdiam untuk sejenak. Setelah itu, ia kembali melanjutkan kata-katanya, “Aku sangat mencemaskanmu, Babe!”