
Semenjak perselisihannya dengan Arumi pada hari itu, Carmen menjadi lebih pendiam. Ia lebih banyak menyendiri dan hanya bicara seperlunya, bahkan terhadap Edgar sekalipun.
Sebenarnya keadaan seperti itu membuat Edgar dan Arumi merasa tidak nyaman. Namun, sebagai anak muda mereka menghormati sikap yang diambil oleh Carmen. Mereka tidak memaksakan keinginan mereka terhadap wanita itu.
“Apa aku terlalu keras terhadap bibi Carmen?” Arumi menunjukkan wajah yang dipenuhi dengan penyesalan. Ia duduk dengan setengah bersandar di dada Edgar seraya mengangkat dan menekuk kedua kakinya di atas sofa.
Edgar yang sedari tadi mengelus lembut rambut Arumi, hanya menggumam pelan. Sesekali ia mengecup mesra kening sang istri. “Tidak apa-apa, biarkan saja. Aku rasa bibi Carmen juga butuh waktu untuk merenung,” jawab Edgar. Ia mencoba terlihat tenang dan biasa saja, meskipun sorot matanya menujukan hal yang sebaliknya.
Sebagai seorang istri, Arumi dapat merasakan kegalauan yang tengah menggangu sang suami. Ia dapat memahami jika Edgar pasti merasa sedih, karena Carmen seakan menjaga jarak dengannya.
Arumi merasa bersalah atas situasi itu.
Bulan Februari, bulan yang terasa begitu dingin. Salju berjatuhan dan membuat suasana terasa begitu syahdu. Arumi dan Edgar lebih banyak menghabiskan waktu di dekat perapian, terlebih saat malam tiba. Mereka bercengkerama berdua, menikmati indahnya kehidupan berumah tangga, meskipun hingga saat ini mereka belum sempat berbulan madu.
“Apa kamu sudah memutuskan akan ke mana tujuan bulan madu kita nanti, Sayang?” tanya Edgar. Ia sepertinya enggan untuk membahas masalah Carmen, sehingga lebih memilih untuk membahas masalah lain.
“I don’t know. I have no idea,” jawab Arumi pelan. Ia tengah asyik memainkan jemari Edgar.
“Bagaimana jika Italia atau mungkin Swiss?” tawar Edgar.
Arumi tertawa pelan dengan suaranya yang agak parau. Wanita itu kemudian membetulkan posisi duduknya. Ia tidak lagi bersandar di dada Edgar. Kini, ia menghadap kepada pria itu dan memasang wajah manjanya yang manis.
Edgar tersenyum kalem. Ia lalu menaikkan kedua kakinya dan meluruskannya di atas sofa. Arumi segera naik ke tubuh sang suami dan melipat tangannya yang ia letakan atas di dada Edgar. Arumi kemudian meletakan dagunya di sana.
Sementara itu, Edgar meletakan tangannya pada pinggang ramping Arumi. Ia juga mengelus punggung sang istri dengan penuh kasih sayang. Ditatapnya wajah manis dan menggemaskan yang ada di hadapannya. Edgar akan selalu terpesona dengan si pemilik wajah itu.
“Ini sesuatu yang aneh, Sayang,” ucap Arumi pelan.
“Apanya yang aneh?” tanya Edgar tanpa menyingkirkan tangannya dari punggung Arumi yang berbalut sweater tebal. Arumi menatap sang suami. Ia pun mengernyitkan keningnya.
“Paris adalah kota tujuan dari banyak pasangan. Sementara kita pergi berbulan madu ke negara lain?”
Edgar tergelak mendengar ucapan lugu sang istri. Ia pun menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak habis pikir dengan pemikiran Arumi. “Aku rasa kita membutuhkan suasana baru. Kita sudah terlalu sering melihat Menara Eiffel dan Sungai Seine. Apa kamu tidak ingin melihat Menara Pissa, Piramida, atau mungkin kamu ingin mengunjungi Santorini?” tawar Edgar.
Arumi tersenyum lebar. “Sangat menarik,” jawabnya.
“Tentu saja. Aku memang sangat menarik, Sayang,” ujar Edgar seraya mempererat pelukannya. Arumi pun terlihat sangat nyaman berada di atas tubuh sang suami, hingga tanpa disadari mereka berdua akhirnya sama-sama tertidur di atas sofa itu.
Malam semakin larut. Jarum jam sudah menunjuk di angka sebelas. Arumi terbangun dari tidurnya. Badannya terasa pegal karena ia tertidur dalam posisi tertelungkup.
Arumi memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju dapur dan bermaksud untuk membuat minuman hangat, terlebih karena perutnya terasa lapar.
Akan tetapi, sebelum ia sampai ke dapur, langkahnya harus terhenti di ruang keluarga yang ia lewati. Arumi diam-diam memerhatikan wanita yang tengah duduk termenung seorang diri di dekat perapian.
Terlihat Carmen yang tengah memegangi sebuah bingkai foto. Susana di ruang tamu itu begitu temaram. Hanya sebuah cahaya kuning dari lampu tempel dan api dari dalam tungku, yang memberikan penerangannya untuk ruangan yang cukup luas itu. Arumi memberanikan dirinya untuk mendekat dan menyapa wanita paruh baya itu.
“Bibi ....” sapa Arumi pelan. Carmen tersentak dan segera menoleh. Bingkai foto yang tengah dipandanginya pun terjatuh dari tangannya. Untung saja karena bingkai itu tidak sampai pecah.
Arumi semakin mendekat. Sementara Carmen segera meraih bingkai foto itu dan mencoba untuk menyembunyikannya. Namun, sayangnya Arumi telah terlebih dahulu melihat gambar yang terpasang di dalam bingkai foto itu. Arumi melihat dengan jelas jika itu adalah foto Joacquin Guzman.
“Apa yang Bibi lakukan dengan foto tuan Guzman?” selidik Arumi dengan penasaran. Ia berdiri tidak jauh dari wanita itu. Wanita yang kini tengah terlihat resah, karena apa yang dilakukannya diketahui oleh Arumi.
Carmen tampak salah tingkah. Ia lalu meletakan foto itu kembali ke tempatnya dan bermaksud untuk pergi dari ruangan itu. Akan tetapi, dengan segera Arumi menghalanginya. “Aku ingin bicara sebentar,” ucapnya.
Carmen tertegun dan menoleh. Tatapannya datar dan menyiratkan suatu kepedihan yang tidak mampu untuk ia ungkapkan.
“Aku ingin bicara tentang Edgar,” ucap Arumi lagi meskipun Carmen tidak menjawab. Namun, ia tahu jika wanita itu masih merespon apa yang ia ucapkan. Karena itu, Arumi akan melanjutkan kata-katanya meskipun Carmen tidak menanggapi, yang penting wanita itu masih bersedia untuk mendengarkannya.
“Jika memang Bibi tidak ingin bicara padaku, maka tak apa. Aku bisa memahaminya. Akan tetapi, jangan lakukan itu terhadap Edgar! Meskipun ia terlihat tenang dan menunjukkan sikap yang biasa saja, tapi aku tahu jika sebenarnya ia sangat sedih karena situasi ini. Jangan sangkut pautkan Edgar dalam kekesalan Bibi terhadapku! Ini urusanku dengan Bibi, dan suamiku hanya mencoba untuk menjadi penengah. Bagaimanapun juga, ia hanya berusaha untuk melindungi harga diriku dan nyatanya ia masih sangat menghormati Bibi. Jadi, tolong pertimbangkan hal itu! Aku tidak menyukai ketika melihat Edgar tersenyum padaku dengan senyuman yang dipaksakan!” tegas Arumi.
Carmen terdiam. Ia menatap lekat Arumi. Ia baru tahu jika wanita yang dinikahi Edgar ternyata tidak semanis wajahnya. Arumi ternyata bukan seorang wanita manja seperti yang ia kira selama ini. Carmen dapat melihat itu dengan jelas dari sikap dan cara bicara Arumi yang begitu lugas dan juga sangat tegas, yang kadang terdengar tajam dan begitu menusuk relung hatinya.
Wanita berambut pirang itu memutuskan untuk kembali duduk di dekat perapian. Tatapannya masih kosong. Ia pun termenung. Entah apa yang tengah membebani pikirannya kini, yang pasti hal itu telah membuat hati Arumi seketika merasa terenyuh. Arumi menyadari jika kata-kata dan nada bicaranya terlalu keras terhadap wanita paruh baya itu.
“Kau benar, Arum,” Carmen berucap dengan suaranya yang pelan dan sedikit bergetar.
“Aku sadar ketika kau mengatakan jika aku tidak akan mengetahui bagaimana rasanya mencintai, karena aku memang tidak pernah tahu bagaimana rasanya berbagi perasaan indah itu dengan seseorang. Aku hanya merasakan dan menyimpan perasaan itu untuk diriku sendiri, tanpa ada siapapun yang mengetahuinya, termasuk ia yang kucintai,” Carmen menundukan wajahnya. Kata-katanya terdengar begitu memilukan, membuat Arumi berpikir dan mencoba untuk menerka arah dari pembicaraanya.
Tatap mata wanita cantik itu, kini tertuju pada foto yang tersimpan di atas meja kecil sebelah sofa. Arumi sepertinya mulai dapat memahami sesuatu. Namun, apakah memang seperti yang ada di dalam pikirannya atau itu hanya sebuah perkiraannya saja?
“Ada apa dengan tuan Guzman?” tanya Arumi. Rasa penasaran mulai hadir dan menggelitik keingintahuannya. Sementara Carmen tidak segera menjawab. Wanita berambut sebahu itu masih terdiam seraya menatap perapian yang masih menyala.
“Apakah ia yang Bibi maksud adalah tuan Guzman, ayah angkat suamiku?” selidik Arumi lagi.
Carmen menoleh. Tatap matanya tampak sayu dan sungguh tidak bersemangat. Namun, akhirnya ia mengangguk pelan.