Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Raclette vs Cassoulet


Raclette, itulah menu yang Arumi siapkan kali ini untuk Edgar. Ia baru menyelesaikan semua pekerjaannya di dapur, ketika Carmen datang menghampirinya. Wanita paruh baya itu tertegun melihat makanan yang sudah siap untuk dihidangkan.


“Kenapa kau membuat itu, Arum? Apa kau belum tahu menu kesukaan Ed saat musim dingin?” protes Carmen dengan nada bicaranya yang terdengar agak sinis.


Arumi tidak menjawab. Wanita muda itu hanya menatap Carmen dengan lekat. Carmen kini bermaksud untuk membuat menu baru, yang akan dihidangkan kepada Edgar. “Aku biasa membuatkan Ed Cassoulet. Ia sangat menyukai makanan itu,” ucap Carmen lagi. Wanita itu mulai menyiapkan kacang putih dan bahan-bahan pelengkap lainnya.


Sementara Arumi masih berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja berlapis marmer itu. Ia juga melipat kedua tangannya di dada, sedangkan tatapannya semakin tajam ia layangkan untuk wanita berambut pirang tersebut.


Arumi semakin tidak habis pikir dengan sikap dari wanita tua itu. Ia tidak mengerti mengapa Carmen begitu posesif terhadap Edgar. Carmen bersikap seakan-akan jika Edgar akan langsung membuangnya setelah pria itu menikahi Arumi, atau memang ia tidak menyukai Arumi?


“Apa masalahmu denganku, Bibi?” tanya Arumi dengan sangat lugas. Penekanan suaranya terdengar cukup tegas.


Carmen menoleh. Ia menghentikan pekerjaannya untuk sesaat. “Tidak ada,” jawabnya, “aku hanya mengatakan jika Ed lebih menyukai Cassoulet untuk menu musim dingin,” imbuh Carmen seraya melanjutkan pekerjaannya. Ia sepertinya menghindari kontak mata dengan Arumi.


“Kapan Bibi membuatkan itu suamiku? Baru kemarin, kan?” Arumi dengan nada bicaranya yang agak sinis, membuat Carmen kembali tertegun. Namun, ia tidak menjawab. Wanita itu kembali pada pekerjaannya.


Arumi kemudian melangkah maju dan menghampiri wanita yang baru selesai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat menu yang ia sebutkan tadi. Masih melipat kedua tangannya di dada, Arumi berdiri sambil menghadap kepada Carmen. Sementara wanita itu tampak menghindarinya. Ia sepertinya tidak nyaman dengan sikap dan nada bicara Arumi terhadap dirinya.


“Bukankah kita sudah bicara tempo hari di apartemen milik Edgar? Aku sudah memberi sebuah penjelasan yang kupikir dapat Bibi pahami dengan baik, tapi ternyata Bibi masih belum mengerti juga dengan semua yang sudah kukatakan,” ujar Arumi tanpa berbasa-basi lagi.


“Apa maksudmu, Arum?” Carmen berlagak tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Arumi. Lagi-lagi wanita itu menghindari kontak mata dengan Arumi yang saat itu tengah menatapnya dengan tajam.


“Jangan berpura-pura, Bibi! Aku tahu apa yang Bibi katakan kepada suamiku kemarin. Aku mendengarnya, dan terus terang saja aku merasa sangat heran. Boleh aku tahu apa yang membuat Bibi sepertinya tidak menyukaiku?” Arumi menodong Carmen dengan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, tapi terlalu sulit untuk dapat dijawab oleh Carmen. Wanita itu lebih memilih untuk diam. Sementara Arumi masih menunggu jawaban darinya.


“Kenapa, Bibi? Apa Bibi hanya berani bicara ini dan itu kepada suamiku saja? Kenapa Bibi tidak berani terbuka padaku?” tantang Arumi lagi, membuat Carmen merasa terintimidasi dengan sikap dan pertanyaan dari Arumi yang seakan memojokannya.


Arumi masih menunggu jawaban dari wanita itu. Jawaban yang entah akan ia dapatkan atau tidak, karena Carmen tampaknya tidak ingin menanggapinya. Wanita itu justru terus menyibukan dirinya dengan menu cassoulet yang menjadi andalannya.


Arumi merasa lucu dengan sikap dari wanita setengah baya itu. Ia kembali tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh Carmen. Arumi pun tertawa pelan. Tawa yang terdengar sinis. “Baiklah! Jika Bibi memang tidak ingin menjelaskan apa-apa padaku, maka itu bukanlah suatu masalah yang besar bagiku. Aku hanya meminta sedikit kepadamu, tolong jangan pernah meracuni pikiran suamiku dengan pemikiran-pemikiran jelekmu tentangku! Lagi pula, Bibi hanya akan membuang energi dengan melakukan hal itu, karena saat ini aku telah menjadi istri dari Edgar dan cintanya padaku terlalu besar. Jauh lebih besar dari sebuah kacang putih itu!” tegas Arumi lagi.


Mendengar ucapan Arumi yang bernada semakin tegas, Carmen mulai merasa tertantang. Ia menoleh kepada Arumi dan menatap wanita muda itu. Mata tua dengan banyak kerutan di wajahnya, menyiratkan rasa yang terlihat semakin tidak nyaman.


“Lalu apa maksud dari semua kata-kata tidak enak yang Bibi tujukan padaku? Aku seorang istri yang pemalas yang selalu bangun kesiangan! Aku bahkan tidak boleh mengeluhkan cuaca yang terlalu dingin!”


“Kau terlalu berani, Arum!” tujuk Carmen dengan tiba-tiba.


Melihat perlawanan dari wanita itu, Arumi segera menegakan tubuhnya. Ia juga menurunkan tangan yang sejak tadi dilipatnya di dada. Tatapannya semakin tajam ia layangkan kepada wanita paruh baya itu. Arumi bahkan kini berdiri tepat di hadapannya.


“Aku masih menghormati Bibi. Aku sangat meghargaimu sebagai seseorang yang jauh lebih tua dariku. Aku juga begitu terkesan dengan semua kebaikan Bibi selama ini, tapi satu kesalahan Bibi! Bibi terkesan tengah meracuni Edgar! Sementara Bibi mengetahui dengan jelas, sepeti apa perasaan Edgar terhadap diriku!”


Arumi terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian ia kembali melanjutkan kata-katanya. “Cinta Edgar terlalu besar dan kuat untukku! Bibi salah besar jika berpikir dapat memengaruhi suamiku dengan cara kuno seperti itu!” lanjut Arumi dengan nada bicara yang mulai melunak kembali.


“Ingat, Bibi! Jangan sampai aku mengingatkan posisimu di rumah ini. Bagaimanapun juga, Bibi hanyalah seseorang yang telah merawat suamiku Lebih dari itu, Bibi bukanlah siapa-siapanya!” tegas Arumi lagi. Suaranya pelan tetapi begitu pasti.


“Sayang ....” terdengar suara Edgar yang tiba-tiba hadir di dapur itu. Arumi dan Carmen menoleh secara bersamaan.


Edgar telah berdiri di lawang pintu seraya memerhatikan mereka berdua. Pria itu masih menunjukkan raut mukanya yang tenang meskipun sorot matanya terlihat sedikit aneh. Edgar kemudian berjalan ke arah mereka berdua.


Arumi dan Carmen sama-sama terdiam. Arumi bahkan sedikit memundurkan tubuhnya dan kembali menyandarkan pinggulnya pada meja dekat kompor. Sementara Carmen hanya mematung. Wanita paruh baya itu menatap Edgar yang kini berdiri di antara dirinya dan Arumi.


“Ada perbincangan seru apa di sini?” tanya Edgar dengan penasaran bercampur rasa curiga. Ia menatap kedua wanita itu secara bergantian.


“Tidak ada apa-apa, Ed. Aku hanya mengatakan kepada Arumi jika kau menyukai Cassoulet jika dibandingkan dengan Raclette,” jawab Carmen dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit gusar. Sedangkan Arumi hanya menyunggingkan sebuah seyuman sinis di sudut bibirnya.


Edgar kembali menatap sang istri. Ia sepetinya sudah mengetahui jika telah terjadi sesuatu di dalam dapur itu. Ia meminta sebuah penjelasan kepada Arumi dengan isyarat matanya.


Arumi segera menegakan tubuhnya. Ia lalu mendekat kepada sang suami dan menyentuh wajah berjangut tipis itu dengan lembut. Dengan senyum manisnya, Arumi mengatakan sesuatu kepada Edgar. “Aku hanya mengatakan kepada bibi Carmen, bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan rasa cintamu padaku, karena cintamu sudah terlalu kuat untukku,” ucap Arumi dengan senyum puasnya. "Begitu kan, Sayang?" Arumi melirik Carmen yang masih berdiri mematung.