
“Memangnya apa masalahmu jika Arumi menikah denganku?” terdengar suara Edgar yang tiba-tiba ada di sana. Arumi mengeluh pelan seraya menyentuh keningnya. Ini bukan situasi yang ia sukai.
Edgar melangkah ke arah mereka berdua. Tatapannya tajam ia layangkan kepada Moedya yang saat itu juga tengah menatapnya dengan cara yang sama.
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu masih mengganggu calon istriku? Bukankah kamu sudah memiliki tunangan yang cantik. Apalagi yang kurang?” Edgar dengan nada bicaranya yang teramat dingin dan ketus.
Moedya tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya. Sikapnya terlihat menganggap sepele pertanyaan dari Edgar. “Aku hanya ingin agar Arumi menikah dengan pria jauh lebih baik dariku, tapi tentu saja itu bukanlah dirimu, Tuan Sok Keren!” jawab Moedya. Lagi-lagi ia seakan berbicara tanpa berpikir.
Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Edgar. Pria itu tampak mencibir ejekan dari Moedya. Ia tidak akan mau kalah dan memilih untuk menanggapi ocehan tidak penting dari pria itu. “Apakah saat memotong rambut, otakmu juga ikut terpotong?” ejek Edgar dengan seenaknya.
“Ed!” sergah Arumi. Ia tidak suka jika Edgar terpancing dengan semua ucapan Moedya.
Edgar menoleh kepada calon istrinya. Ia menatap Arumi dengan tatapan aneh. Arumi dapat merasakan hal itu dengan baik. Segera didekatinya pria dengan postur 180 cm itu. Ia pun menggandeng lengan Edgar dengan mesra dan menatapnya dengan penuh cinta. “Aku lapar. Bagaimana jika kita mencari makan sebelum pulang?” tawar Arumi. Ia mencoba mengalihkan perhatian Edgar pada sesuatu yang lain. Ia tidak ingin jika perselisihan itu akan terus berlanjut, meskipun Arumi tahu jika Edgar tidak akan sampai bersikap bodoh, yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
“Sebentar lagi mobil derek akan datang. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan urusan mobilmu yang mogok,” ucap Edgar dengan nada bicara yang terdengar lebih lembut kepada Arumi. Gadis itu tersenyum manis. Ia pun mengangguk pelan.
Sementara Moedya hanya memalingkan wajahnya melihat adegan kedua sejoli di hadapannya. Dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki, Moedya memilih untuk pergi dari sana. Sementara mobil derek pun tiba, tidak lama setelah kepergian Moedya.
Edgar segera meraih tangan Arumi. Ia menuntun gadis itu untuk masuk ke mobilnya. Edgar terlihat kesal. Ia menutup pintu mobilnya dengan agak kencang sehingga membuat Arumi terkejut.
Begitu juga ketika ia masuk dan duduk di belakang kemudi. Arumi dapat melihat dengan jelas raut wajah tidak bersahabat yang ditunjukan oleh pria itu.
Arumi terus memerhatikan pria yang kini tidak bicara sedikitpun kepada dirinya. Ia pun tidak mengerti kenapa Edgar harus bersikap seperti itu. Apa salahnya sehingga Edgar menjadi terlihat sangat kesal? Gadis itu pun lebih memilih untuk diam dan menyandarkan kepalanya sambil menatap ke luar jendela kaca mobil, yang kini telah melaju di antara hiruk pikuk napas perkotaan sore itu.
Melihat Arumi yang hanya terdiam dan seakan membiarkan dirinya, Edgar terlihat semakin kesal. “Bagaimana kalian bisa bertemu seperti itu?” tanyanya dengan nada bicara yang dingin.
Arumi menoleh dan menatap pria yang akan segera menjadi suaminya. Ia sebenarnya tidak ingin membahas hal itu. “Aku tidak tahu jika Moedya ada di sana. Lagi pula tadi aku sudah menolak bantuannya dan menyuruhnya untuk pergi,” jelas Arumi. Ia mencoba untuk tidak terpancing dan sebisa mungkin tetap menguasai dirinya.
Edgar tertawa sinis. Ada nada cibiran dalam suara tawanya. “Kenapa kamu menyuruhnya pergi? Apa karena aku akan menemuimu di sana tadi?” tukas Edgar lagi tanpa mengalihkan pandangannya kepada Arumi. Ia masih sibuk dengan kemudinya, atau mungkin karena ia memang tidak berminat untuk menoleh ke arah gadis itu.
Arumi mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. Ini bukan situasi yang ia sukai. Ia tahu jika Edgar saat itu tengah cemburu kepada dirinya. ”Apa maksudmu, Ed? Kenapa kamu harus bertanya seperti itu padaku?” Arumi bertaya balik dengan ekspresi yang terlihat jengkel atas sikap kekanak-kanakan yang ditunjukan Edgar kepada dirinya.
“Aku hanya merasa heran bagaimana kalian bisa bertemu dengan tanpa sengaja di sana," ucap Edgar lagi. Ia seakan belum merasa puas, atas penjelasan yang telah Arumi utarakan kepadanya.
Mendengar hal itu Edgar kembali tertawa pelan seperti tadi. Ia seakan meragukan semua alasan yang diungkapkan oleh Arumi. “Kebetulan yang menyenangkan,” sindirnya.
Mendengar hal itu, Arumi segera melotot tajam kepada pria yang sejak tadi tidak menoleh sedikitpun kepada dirinya. Rasa jengkel atas tuduhan tidak mendasar yang ditujukan Edgar kepadanya, kian memuncak. Kepalanya mulai terasa panas dan ingin segera meledak. Arumi ingin sekali mengeluarkan segala unek-unek yang ia tahan sejak tadi.
“Apa maksudmu, Ed? Aku tidak mungkin menghubungimu jika aku tahu Moedya akan berada di sana! Kita akan segera menikah, dan aku tidak ingin mengulangi kegagalan yang sama seperti dulu!” tegas Arumi. Ia mulai bicara dengan nada yang sedikit tinggi.
“Ya, maksudku kenapa harus dia yang ada di sana? Kenapa kebetulan itu menjadi sesuatu yang benar-benar kebetulan? Lucu sekali!”
“Ed! Aku mohon hentikan berpikir seperti itu! Aku baru pulang setelah melihat gedung yang akan kita jadikan sebagai tempat resepsi. Aku juga baru menyebar undangan pernikahan kita kepada teman-temanku! Aku tidak akan berbuat bodoh dengan melakukan kesalahan seperti itu! Aku tidak berminat untuk mengacaukan rencana pernikahanku sendiri! Pikirkan itu baik-baik!” tegas Arumi seraya melipat kedua tangannya di dada. Ia juga memalingkan wajahnya dari pria yang yang bersikap sangat menyebalkan hari itu.
Edgar tidak menanggapi ucapan Arumi. Ia masih terus fokus pada kemudinya. Entah apa yang ia pikirkan sehingga bersikap seperti itu kepada Arumi.
Arumi berpikir untuk sejenak. Ia dapat memahami keresahan hati yang dirasakan oleh Edgar saat itu. Ia juga mengetahui betapa besar rasa cemburunya terhadap Moedya. Namun, tidak seharusnya juga Edgar bersikap seperti itu kepada dirinya. Itu sesuatu yang tidak adil tentunya.
“Kamu sudah bersikap keterlaluan, Ed! Aku tidak menyukai hal ini!” ucap Arumi lagi setelah beberapa saat terjadi kebisuan di antara mereka berdua. Sedangkan Edgar lagi-lagi tidak menanggapi ucapan Arumi sama sekali.
Ditatapnya pria yang masih terlihat tampan, meskipun dalam keadaan kesal seperti itu. Arumi kembali mengela napas panjang dan mengempaskannya. Disentuhya lengan kokoh Edgar dengan penuh perasaan. Gadis itu merasa lelah jika harus terus menanggapi semua kekesalan Edgar dengan kemarahannya.
“I love you, Ed,” ucap Arumi dengan tiba-tiba. Selama ini, ia jarang sekali mengatakan hal itu kepada Edgar. Namun, kali ini ia merasa harus mengatakannya. Entah itu untuk sekadar merayu, atau memang karena ia ingin mengatakannya.
"Jangan merayuku, Arum!" sergah Edgar pelan.
Arumi tertawa pelan. Ia kemudian melepas sabuk pengamannya dan mendekati Edgar yang masih belum berminat untuk menoleh ke arahnya. Arumi pun mencium pipi Edgar dengan mesra, membuat pria itu memperdengarkan helaan napas beratnya yang seksi. Akan tetapi, ia masih tetap bersikap tak acuh kepada Arumi. Edgar lebih memilih untuk tetap fokus pada jalanan yang tengah dilaluinya.
"Ayolah, Ed! Aku mohon, jangan bersikap seperti itu padaku!" pinta Arumi dengan manjanya.
Sayang sekali, karena semua rayuan itu tidak mempan untuk dapat melelehkan rasa kesal Edgar yang besar atas pertemuannya dengan Moedya. Namun, Arumi hanya tersenyum. Ia kembali mencium pria itu dengan mesra.