
Arumi berdiri di depan sebuah pintu berwarna putih. Ia kemudian memutar handle-nya sehingga pintu itu pun terbuka. Untuk sejenak, Arumi tertegun menatap ruangan di hadapannya. Di sanalah, Ryanthi menjalani sebagian dari masa mudanya, sebelum ia dipersunting oleh Adrian.
Arumi mulai melangkah masuk, begitu juga dengan Edgar yang sejak tadi mengikutinya dari belakang. Gadis itu, mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kamar. Ia merasakan ada desiran-desiran aneh yang mulai menyapanya.
Ketika Surya masih hidup, Ryanthi memang masih kerap datang dan menginap di rumah itu. Lalu, setelah Surya tiada, ia mulai jarang datang ke sana. Akan tetapi, Vera sengaja tidak mengganggu kamar lama Ryanthi, sehingga kamar itu masih seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah dari kamar itu. Semua masih berada pada tempatnya.
Namun, berhubung saat ini Ryanthi pun sudah tiada. Kamar itu juga rencananya akan dijadikan kamar untuk cucu-nya Vera, yang akan kembali dari luar negeri.
Hampir seluruh barang-barang pribadi milik Ryanthi, sebenarnya sudah dibawa ketika Ryanthi pindah ke rumahnya yang sekarang. Akan tetapi, sebelum kamar itu dijadikan kamar orang lain, maka Vera hanya ingin memastikan jika sudah benar-benar tidak ada lagi barang pribadi milik Ryanthi di sana. Kamar itu sendiri masih tampak bersih dan rapi, karena meskipun kosong tapi selalu dibersihkan secara rutin.
Arumi menatap perabotan yang ada di dalam kamar itu, meskipun tidak terlau banyak. Ia lalu melangkah ke arah jendela dan berdiri di sana.
"Kamu tahu sesuatu, Ed?" Arumi mulai bicara setelah sejak tadi ia hanya terdiam.
"Apa?" Tanya Edgar seraya menghampiri gadis itu dan berdiri di sebelahnya.
"Dulu ... ibu mengatakan jika ini adalah tempatnya bersembunyi dari cinta ayahku," ucap Arumi lirih.
Edgar mengernyitkan keningnya. Ia belum dapat memahami maksud dari ucapan gadis itu. Diliriknya Arumi yang saat itu tengah menatap ke luar jendela. "Maksudnya?" Tanya Edgar. Ia ingin agar Arumi memberinya sebuah penjelasan yang lebih dapat ia pahami.
Arumi tersenyum kelu. Ia melirik Edgar untuk sesaat sebelum kembali menatap ke luar jendela. "Ayahku sering berdiri di bawah sana, sementara ibuku bersembunyi di sini. Alasannya ... karena ia merasa malu dan tidak berani untuk menatap ayahku secara langsung. Ibuku sungguh naif, sementara ayahku seorang pria yang gigih ... just like you," Arumi melirik Edgar untuk sejenak.
Edgar tersenyum kecil mendengar hal itu. "Apa menurutmu aku seperti itu?" Tanya Edgar. Rasa percaya diri kian tumbuh di dalam hatinya.
"Ya ... i think so. Sedikit menyebalkan memang. Aku sendiri tidak mengetahui secara persis seperti apa kegigihan ayahku dulu, tapi hal itulah yang membuat ibuku menjadi sangat mengaguminya," jelas Arumi.
"Apa kamu juga sudah mulai mengagumiku?" Tanya Edgar lagi seraya mengulum senyumnya.
"No!" Jawab Arumi dengan tegas. Ia kemudian berlalu ke dalam walk in closet milik Ryanthi.
Lemari dan semua rak serta deretan laci di sana sudah kosong. Ryanthi sudah membawa seluruh barang-barangnya, meskipun dulu Adrian sempat melarangnya. Ryanthi memilih untuk menyumbangkan semua pakaian lamanya yang rata-rata masih baru. Ya, tentu saja baru, karena Ryanthi datang ke rumah itu, hanya membawa baju usang dan sandal jepitnya.
"Seprtinya sudah tidak ada apa-apa di sini," ucap Edgar yang ikut memeriksa setiap laci.
"Iya. Semuanya sudah kosong," sahut Arumi seraya menatap lemari kaca berukuran besar di sana. Gadis itu kemudian tersenyum. "Ibuku pasti sangat bahagia tinggal di sini," gumamnya. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke ruangan tempat tidur. Arumi iseng membuka laci sebelah tempat tidur satu persatu.
Di dalam sana, Arumi menemukan beberpa majalah masakan yang sudah usang. Ia melihat tahun beredarnya majalah itu. Arumi tersenyum seraya menunjukannya kepada Edgar.
"Aku masih dalam perencanaan ayah dan ibuku di tahun itu," celoteh Edgar membuat Arumi tertawa pelan.
Dibukanya penutup kotak itu dengan hati-hati. Tampaklah sebuah buku catatan kecil dengan sampul tebal berwarna merah hati. Arumi kemudian membuka lembaran dari buku itu. Tampaklah tulisan tangan Adrian di dalamnya.
"Ini buku catatan ayahku," ucap Arumi pelan. Edgar yang merasa penasaran, ikut duduk di sebelahnya.
Ku tatap wajah cantik itu, dan aku tahu jika ia menyimpan banyak duka di balik tatapan matanya yang bersinar. Aku bertanya, tetapi ia hanya diam dan tertunduk. Ryanthi ... ada apa dengan dirimu?
Rasa penasaranku semakin besar. Hal itu telah
membuatku menjadi semakin termotivasi untuk dapat mengenalnya dengan lebih jauh.
Ryanthi ... ternyata ia sedang patah hati. Cintanya pergi dan meninggalkannya. Itu mungkin sesuatu yang buruk baginya, tapi berita baik untukku. Saatnya aku menunjukan diri, seberapa pantas seorang Adrian untuk Ryanthi. Aku yakin, jika aku akan dapat menaklukan kerasnya hati seorang Ryanthi.
Arumi menghela napas panjang setelah membaca tulisan itu.
"Ibumu memiliki pacar selain ayahmu?" Tanya Edgar dengan setengah menggumam.
"Entahlah, Ed. Ibu tidak pernah bercerita tentang mantan-mantan pacarnya kepadaku. Ia hanya selalu bercerita tentang betapa ia sangat mengagumi ayahku yang luar biasa. Aku rasa hal yang wajar jika kita memiliki pacar sebelum menikah," sahut Arumi tanpa menoleh. Ia lalu membuka lembaran lainnya. Catatan terakhir dari buku itu.
Tiga tahun, aku menantikannya kembali. Perasaanku tak menentu, ketika aku mengetahui jika sebentar lagi ia akan pulang ke tanah air. Aku tidak tahu harus berbuat apa? Aku belum mempersiapkan diriku. Aku gugup dan ... Ryanthi, aku sangat merindukannya.
Sudah sekian lama aku tidak menikmati indahnya senja bersamanya. Sudah terlalu banyak aku mengeluh kepada angin dan memintanya untuk menyampaikan semua rasa rindu dan gelisahku dalam penantian panjang ini.
Ryanthi ... ia satu-satunya gadis yang selalu membuatku menantikan kehadirannya. Esok, esok ia akan kembali. Apa yang harus kukatakan untuk menyambut kepulangannya? Tidak ada. Aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku hanya ingin memeluknya dengan erat, dan tidak akan pernah melepaskannya lagi, sampai aku merasa tidak mampu untuk dapat memeluknya.
Ryanthi, hanya kematian yang akan memisahkan kita.
Arumi menutup buku itu. Ia kembali menghela napas panjang dan tertunduk. Sementara Edgar, ia tahu jika Arumi tidak sedang baik-baik saja. Ditatapnya gadis itu. "Arum ... are you okay?" Tanya Edgar lembut.
Arumi tidak segera menjawab. Yang terdengar hanya sebuah isakan pelan dari bibirnya.
"Kamu ingin meminjam bahuku, Arum?" Edgar bersikap sangat lembut saat itu.
"Aku merindukan mereka, Ed ...." tangis Arumi pecah di dalam dekapan Edgar. "Aku sangat merindukan ayah dan ibuku ...." isak Arumi lagi. Saat itu, hatinya terasa begitu sakit. Rasa rindu yang tidak pernah akan ada habisnya dan tidak akan pernah terobati.
Ada banyak penyesalan dalam diri Arumi. Ia terkadang menikmati hari-harinya sendiri dan tidak sempat berkumpul dengan kedua orang tuanya. Setelah itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, dan berpisah sekian lamanya dengan mereka.
Rasanya memang teramat menyiksa. Seperti berada dalam himpitan sebuah batu besar. Arumi seakan tengah berdiri di atas karang yang tajam. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Akan tetapi, ia ingin melawan ombak besar itu, dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dari dalam dirinya. Ia hanya ingin membuktikan, jika Arumi bukanlah seorang gadis yang lemah, yang akan menyerah begitu saja kepada takdir hidupnya.