Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Saatnya untuk Bicara


"Arum tunggu!" Seru Moedya. "Arumi! Behenti!" Serunya lagi. Ia bergegas mengejar Arumi yang saat itu sudah berlalu menuju mobilnya.


Dengan secepat kilat, Moedya meraih pergelangan tangan Arumi. Ia tidak melepaskannya meskipun Arumi terus berontak. "Lepaskan aku, Moedya! Sudah kukatakan padamu agar jangan pernah menyentuhku!" Sergah Arumi dengan tegas.


"Jangan pergi dulu, karena perbincangan kita belum selesai!" Cegah Moedya dengan tidak kalah tegas.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan! Semuanya sudah jelas!" Tolak Arumi.


Arumi terus berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Moedya darinya. Akan tetapi, semakin ia berusaha untuk melepaskan tangannya, maka genggaman tangan Moedya terasa semakin kuat. Arumi bahkan sampai meringis karena kesakitan.


"Moedya ... sakit ...." ringis Arumi pelan.


Moedya tersadar. Ia kemudian melonggarkan genggaman tangannya, tetapi tidak melepaskan tangan mantan kekasihnya itu.


"Lepas, Moedya! Aku tidak akan ke mana-mana," desis Arumi seraya terus menatap pria berambut gondrong itu.


Perlahan, akhirnya Moedya melepaskan pergelangan tangan yang berhiaskan gelang rantai kecil itu. Gelang pemberian darinya dulu, sewaktu masih menjalin hubungan dengan gadis itu.


Arumi memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit dan memerah. Moedya memeganginya dengan sangat kencang tadi, sehingga meninggalkan bekas di atas permukaan kulitnya.


Sambil terus mengusap-usap pergelangan tangannya, Arumi kemudian menyandarkan sebagian tubuhnya pada mobil sedan putihnya. Sementara Moedya berdiri menyamping dan menatap ke arah gadis dengan lesung pipi itu.


"Untuk kedua kalinya, aku kembali menunggumu. Aku kira, kamu akan datang menemuiku. Menjemputku, dan mengajakku pulang. Dalam bayanganku, kamu datang dan berkata, 'Sudahlah, Arum! Kita lupakan semua yang telah terjadi. Semua kesalah pahaman dan kebodohan ini. Kita awali lagi semuanya dengan baik'. Aku membayangkan jika kita akan kembali dan menjalani hubungan, bukan membuatku berada dalam situasi seperti ini," tutur Arumi dengan lirihnya.


"Aku membutuhkan waktu, Arum. Aku harus memantapkan hatiku. Aku harus menemukan kembali kepercayaanku yang telah hilang kepadamu," balas Moedya. Ia masih melayangkan tatapannya kepada gadis yang pernah sangat ia cintai.


"Kamu pikir aku merasa nyaman berada di dalam posisiku saat ini? Tidak Arum!" Bantah Moedya dengan tegas.


"Aku sedang berusaha menata kembali kepercayaanku yang telah runtuh kepadamu. Aku mengawasimu, Arum! Aku menatapmu meski hanya dari kejauhan. Kamu mungkin tidak mengetahuinya, setiap hari aku lewat di depan toko kue milikmu. Aku memperhatikanmu, Arumi! Aku melihatmu setiap hari. Namun aku hanya duduk di atas motorku, dan itu sudah terasa jauh dari cukup bagiku."


"Kamu tahu, Arum? Aku ingin melihat apakah dirimu sanggup untuk melewati hari-harimu tanpa diriku, dan ternyata ... ternyata dia ... pria itu masih selalu saja ada di dekatmu!" Tunjuk Moedya dengan amarah yang mulai menguasai dirinya tetapi terus ia tahan.


Arumi terdiam. Ditatapnya pria berwajah maskulin dengan penampilan eksentrik itu. Kenapa ia tidak pernah menyadari hal itu sebelumnya? Kenapa dirinya tidak peka dengan semua hal yang ada di sekelilingnya?


Arumi hanya sibuk dengan perasaannya saja. Ia tidak mempedulikan yang lain, selain rasa sakitnya atas semua hal yang telah terjadi selama ini.


Petang menjelang. Suasana pun kian gelap dan sepi. Moedya belum juga mengizinkan Arumi untuk pergi dari tempat itu. Dinyalakannya lampu mobil Arumi sehingga menjadi penerang agar suasana tidak terlalu pekat.


"Aku ingin pulang saja," ujar Arumi seraya bermaksud untuk membuka pintu mobilnya.


"Tidak ada yang akan pergi dari sini, karena pembicaraan di antara kita belum selesai!" Cegah Moedya dengan tegas.


"Kenapa kamu sangat menakutkan saat ini?" Protes Arumi.


Moedya tertawa pelan. Ia kemudian menggaruk keningnya beberapa kali. Setelah itu, Moedya menghela napas panjang.


"Moedya, ayo kita pulang saja!" Ajak Arumi dengan wajah yang tampak mulia resah.


"Kenapa, Arum? Kamu mulai takut dengan hujan?"


Arumi tidak menjawab. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya. "Jangan sampai kekasih barumu mengetahui jika sekarang kita berdua berada di sini. Aku tidak ingin membuat masalah dengannya," ujar Arumi dengan sikap tak acuhnya.


Moedya tertawa pelan. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada mobil Arumi. Tatapannya pun lurus tertuju ke depan, pada air danau yang terlihat dalam keremangan. Moedya terhanyut dalam pikirannya sendiri, begitu pula dengan Arumi. Entah apa yang kini tengah mengusik pikiran kedua insan yang dulu pernah saling mencintai itu.


"Apakah kamu percaya takdir, Arum?" Tanya Moedya setelah beberapa saat lamanya mereka berdua saling membisu.


"Tentu saja," jawab Arumi pelan.


"Ayahku pernah mengatakan jika tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Tuhan telah menciptakan segala hal dengan perhitungannya masing-masing. Semuanya sudah ada dalam rencananya, bahkan selembar daun yang terjatuh dari tangkainya pun, sudah merupakan sebuah goresan takdir bagi daun itu sendiri," tutur Moedya.


"Kita berdua memiliki orang tua yang luar biasa, Arum. Dengan kisah mereka masing-masing yang sarat akan makna kehidupan. Aku pikir, kenapa kita harus berada dalam kekonyolan secara terus-menerus?"


"Kamu saja yang konyol, aku tidak sama sekali!" Sahut Arumi dengan nada bicaranya yang ketus dan tak acuh.


Terdengar Moedya tertawa pelan mendengar ucapan Arumi. Inilah yang membuatnya begitu merindukan gadis itu. Arumi dengan segala sikap dan kata-katanya yang apa adanya.


"Jadi ... kamu dan si Perancis itu tidak menjalin hubungan yang spesial?" Moedya kembali menyinggung kedekatan antara Arumi dan Edgar.


"Terserah kamu ingin berpikir seperti apa! Kalaupun aku harus mencari pria lain selain dirimu, aku tidak yakin apakah aku akan memilih Edgar atau tidak," ucap Arumi tanpa menoleh kepada Moedya.


"Kelihatannya dia sangat tergila-gila kepadamu," ucap Moedya lagi. Ada nada sindiran halus dalam penekanan suaranya.


Arumi tersenyum sinis. Ia semakin merapatkan tangan yang ia lipat di dada, karena udara terasa semakin dingin. "Apa bedanya dengan Diana? Aku bahkan baru mengetahui jika kalian ternyata sudah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama," ucap Arumi dengan sedikit sesal dalam nada bicaranya.


Moedya kembali menghela napas pelan. Ia tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menggaruk-garuk keningnya.


Sebenarnya Arumi mengharapkan sebuah penjelasan dari Moedya. Namun, ia tidak merasa yakin jika melihat gelagat dari pria itu yang tampak enggan untuk bercerita kepadanya.


Sementara malam terus merayap. Suasana pun menjadi semakin sepi. Sedangkan suara gluduk semakin nyaring terdengar. Arumi membetulkan posisi berdirinya. Ia kembali bermaksud untuk pergi.


"Diana putri dari sahabat dekat ibuku, Arum," ucap Moedya dengan tiba-tiba.


Arumi menoleh dengan tatap matanya yang datar. "Aku tahu itu. Diana sudah menceritakan semuanya," sahut Arumi pelan.


"Maaf karena aku tidak pernah bercerita kepadamu. Aku rasa itu bukan hal yang penting," ucap Moedya lagi. Ia seakan ingin terus menahan Arumi agar tidak beranjak dari sana.


Arumi kembali menatap Moedya. Kali ini tatapannya penuh dengan rasa sesal. Ada banyak rasa yang mulai berkecamuk di dalam hatinya. "Tidak apa-apa. Itu membuatku sadar, jika aku belum sepenuhnya mengenalmu," ucap Arumi seraya masuk ke dalam mobilnya.