
“Apa maksud dari semua ini, Ed?” Tanya Arumi dengan keresahan yang masih menyelimuti wajahnya. “Aku tidak merasa memiliki musuh,” lanjutnya. Tiba-tiba selera makannya hilang seketika. Arumi meletakan sendok dan garpu yang sedari tadi ia pegang dengan begitu saja di atas piring. Ia pun menatap makanan yang belum sempat ia habiskan.
Edgar meneguk minumannya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, sementara tangan kanannya memainkan sendok di dalam piring. “Makanlah dulu, Arum! Jika perut kita kenyang, kita bisa berpikir dengan jauh lebih baik. Sayang sekali jika disia-siakan, karena aku telah memesan banyak untuk kita,” ucap Edgar datar. Ia juga sebenarnya merasa sedikit bingung. Namun, Edgar tidak ingin menunjukannya di hadapan Arumi.
“Bagaimana aku bisa makan dengan tenang, Ed! Aku difoto secara diam-diam oleh orang asing yang entah siapa dan di mana orangnya. Mungkin saja orang itu tengah mengawasi kita saat ini dari suatu tempat,” celetuk Arumi, tapi sempat membuat Edgar mengernyitkan keningnya.
“Jangan berlebihan, Arum!”
“Jika kamu saja bisa menyuruh orang untuk mengawasiku, maka bukan tidak mungkin jika orang lain pun melakukan hal yang sama,” ujar Arumi dengan sepasang matanya yang bergerak dengan tidak beraturan.
Edgar tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya.”Rasa takutmu yang berlebihan telah membuatmu menjadi konyol, Sayang.”
“Sama konyolnya denganmu, Sayang!” Balas Arumi kesal.
Edgar tidak berniat untuk terus memperdebatkan hal itu dengan lebih lanjut. Ia sedang tidak ingin mencari masalah baru dengan Arumi. Sebaiknya ia mengalah dan membujuk gadis itu agar bersedia untuk ikut dengannya kembali ke Paris.
“Aku sudah menghubungi Keanu kemarin,” ujar Edgar. Ia kembali melanjutkan makannya.
“Aku belum sempat menghubunginya,” balas Arumi.
“Dia ingin agar kamu ikut denganku ke Paris, karena di sana kamu akan jauh lebih aman. Di dalam pengawasanku langsung tentunya,” goda Edgar seraya menopang dagunya dengan tangan kanan yang ia letakan di atas meja. Ia lalu tersenyum dan berusaha untuk kembali mencairkan suasana tegang yang dirasakan oleh Arumi.
Arumi hanya mendelik kepadanya. Setelah itu ia membalas Edgar dengan menjulurkan lidahnya, sama persis seperti yang selalu ia lakukan dulu jika ia merasa tidak klop dengan ucapan Edgar.
Apa yang Arumi lakukan telah membuat Edgar tersenyum lebar. Pria itu merasa jika kini ia telah kembali pada beberapa tahun silam saat ia pertama kali menjalin hubungan dengan Arumi.
Edgar kemudian berdiri dan menggeser kursinya ke dekat Arumi. Ia lalu duduk sambil menghadap langsung pada gadis itu. Diambilnya satu sendok makanan di piring Arumi dan ia arahkan tepat di depan mulut sang kekasih. “Habiskan dulu makananmu! Setelah itu kita akan lanjut bicara,” ucapnya dengan lembut.
“Tidak! Aku sudah kenyang!” Tolak Arumi dengan manjanya.
“Ayolah, Arum! Ini sangat enak. Bukankah kamu rindu dengan makanan ini?” Edgar terus memaksa untuk menyuapi gadis itu. Sementara Arumi terus menolak, hingga Edgar harus memaksanya. Arumi menutupi mulutnya yang dipenuhi oleh makanan. Ia berkali-kali memukul lengan Edgar yang saat itu hanya terkekeh, saat melihat sang kekasih yang tampak sangat lucu. Satu yang pasti, siang itu mereka lewati dengan canda.
Menjelang sore, Edgar mengajak Arumi untuk berjalan-jalan di dekat pelabuhan. Tidak ada hal yang terlalu berarti yang mereka lakukan.
Mereka berdua hanya berdiri dan memandangi kapal-kapal yang berderet dengan rapi.
Angin berembus dengan cukup kencang. Edgar kemudian meraih tubuh Arumi dan menempatkan gadis itu di depan tubuhnya. Dipeluknya Arumi dari belakang dengan cukup erat. Gadis itu menanggapi apa yang Edgar lakukan dengan sebuah tawa manja. Mereka seakan tidak peduli dengan sekelilingnya.
Edgar tidak sungkan untuk menunjukkan kemesraannya di depan umum. Rupanya Arumi juga tidak ada masalah dengan hal itu. Terlebih saat ini mereka bukan sedang berada di Indonesia. Namun, apa yang mereka lakukan tetap saja tidak luput dari pengawasan sepasang mata, yang sejak tadi terus memerhatikan mereka dari kejauhan.
“Aku tidak bisa tinggal lama-lama di sini, Arum,” sesal Edgar ketika ia mengantarkan Arumi pulang.
“Kapan kamu akan kembali ke Paris?”
“Tomorrow,” jawab Edgar membuat Arumi mengeluh pelan.
Arumi tidak segera menjawab. Sejujurnya ia masih ingin berada di Marseille, di kota kelahiran sang ayah tercinta. Namun, ia juga begitu menikmati kebersmaannya dengan Edgar. Selain itu, Arumi pun merasa takut saat ia teringat jika ada seseorang yang sedang mengawasinya.
“Boleh aku bertanya sesuatu, Ed?”
“Tanyakan saja!”
Arumi menatap lekat wajah pria yang kini mengisi hatinya. Ia seakan tengah mencari sebuah kejujuran dari sorot mata abu-abu milik pria itu.
“Apakah ini semua bukan akal-akalanmu saja? Um ... maksudku ... foto-foto itu ... bisa saja pria suruhanmu yang memang sengaja mengambilnya atas ....”
“Perintahku?” Potong Edgar. Dengan segera ia dapat menangkap arah pembicaraa Arumi.
Arumi merasa tidak enak. Ia mengalihkan tatapannya dari wajah tampan itu. Tiba-tiba ia merasa tidak nyaman akibat tatapan Edgar yang seakan kecewa karena tuduhannya. “Maafkan aku, Ed. Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini,” sesal Arumi pelan.
Edgar tidak menjawab. Ia masih menatap lekat Arumi dengan rona penuh keheranan. “Kamu mencurigaiku, Arum?” Terdengar nada kecewa dan penuh sesal dalam nada bicara Edgar saat itu. Ia tidak menyangka jika Arumi bisa sampai berpikir seperti itu.
Arumi terlihat semakin tidak nyaman. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua yang ada di dalam pikirannya memang terasa begitu konyol. Ia menyesl kenapa harus mengungkapkan hal itu kepada Edgar.
“Dengar, Arum! Aku memang melakukan hal yang kamu anggap konyol dengan mengirimkan Henry untuk mengawasimu! Namun, aku tidak berpikir lebih dari apa yang aku lakukan! Aku juga sudah mengutarakan alasannya dengan sangat jelas kepadamu!” Tegas Edgar dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dari biasanya.
“Ya, tapi aku juga tidak dapat memikirkan siapa yang bisa melakukan hal itu padaku! Aku ....”
“Siapa yang melempari kaca paviliun yang kamu tempati malam itu?” Edgar seakan tengah menggiring Arumi pada sebuah opini baru. Ia hanya ingin memastikan apakah yang dipikirkannya sama dengan apa yang dipikirkan oleh Arumi.
“Pikirkan, Arum! Siapa juga yang telah mengirimkan bunga yang kamu anggap dariku? Kamu memiliki penggemar baru? Ah ... yang pasti itu bukanlah Moedya,” Edgar kembali membuat Arumi untuk berpikir dan mulai menerka.
Arumi menatap lekat pria yang juga tengah menatapnya. Dalam pikirannya tiba-tiba terlintas satu nama. “Ben?” Ucap Arumi seraya mengernyitkan keningnya.
“Kenapa pria itu selalu ada di dekatmu, Arum?”
Arumi terdiam dan tampak berpikir. Arumi baru sadar jika akhir-akhir ini ia memang lebih sering bertemu dengan pria berwajah tegas, pemilik dari restoran seafood itu. Namun, apakah etis jika Arumi mencurigai Ben dengan begitu saja?
Ben adalah pria yang tampaknya sangat baik. meskipun ekspresi wajahnya lebih sering terlihat datar dan tidak seramah Edgar. Akan tetapi Ben masih bersikap wajar dan sopan kepada Arumi. Karena itulah, Arumi merasa tidak yakin dengan tuduhan Edgar. Namun, apakah adil jika Arumi menuduh Edgar yang sengaja menciptakan pusaran keresahan pada dirinya?
Bagaimanapun juga Arumi jauh lebih mengenal Edgar. Ia sudah mengetahui karakter pria itu dengan baik. Edgar memang pria yang gigih dan mampu melakukan apapun demi memperjuangkan semua yang dia inginkan, tapi apa mungkin Edgar bisa berbuat serendah itu? Arumi merasa semakin tidak yakin.
“Aku bingung, Ed. Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana, tapi aku merasa jika Ben tidak mungkin melakukan hal seperti itu,” bantah Arumi pelan. Ia terlihat ragu.
“Oh ... ya, terus saja membelanya!” Protes Edgar yang mulai jengkel dengan sikap Arumi, yang seakan membela Ben. Edgar mengalihkan pandangannya pada hal lain yang ada di jalan itu. Ia seolah tengah menghindari tatapan mata Arumi. Pria itu sepertinya tengah dilanda cemburu berat.