
Arumi segera membalikan badannya. Gadis itu berniat untuk kembali ke mobilnya yang ia parkirkan tidak jauh dari sana. Akan tetapi, tiba-tiba ia tertegun ketika Moedya menyebut namanya. Arumi berdiri mematung, tetapi ia tidak menoleh sedikitpun kepada pria itu.
“Kenapa, Arum?” Tanya Moedya. Ia merasa bangga karena masih dapat menghentikan langkah kecil Arumi. Moedya kemudian berjalan mendekati gadis itu. “Jadi ... pacarmu sudah kembali ke negaranya?” Tanya Moedya dengan nada bicara yang terdengar sedikit aneh.
Arumi tidak menjawab. Gadis itu juga tidak segera memerlihatkan wajah cantiknya kepada Moedya. Ia hanya berdiri dengan angkuhnya. Arumi ingin menunjukkan seberapa besar ketegaran yang ia miliki kepada pria itu. Arumi tidak ingin lagi menjadi pengagum pria yang tidak memiliki pendirian teguh itu. Ia tidak berhasrat lagi untuk dapat kembali berada dalam pelukannya.
“Apa urusannya denganmu?” Tanya Arumi dingin.
“Tidak ada. Aku hanya ikut senang karena ...” Moedya menjeda kata-katanya untuk sejenak, “akhirnya kamu berakhir di dalam pelukan pria Perancis itu. Seharusnya sudah dapat kutebak sejak awal,” sindir Moedya.
Seketika Arumi membalikan badannya. Ditatapnya pria dengan banyak tato di tubuhnya itu. Ada perasaan tidak rela dalam hati Arumi ketika Moedya berbicara dengan nada sinis tentang Edgar. Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir joyfull orange-nya.
“Ya, sehrausnya aku sudah melakukan ini sejak dulu. Edgar pria yang sangat baik. Dia sangat romantis dan selalu mengerti dengan apa yang aku butuhkan. Satu hal yang pasti, dia adalah pria yang memiliki komitmen yang kuat,” ujar Arumi dengan bangga. Entah kenapa hatinya terasa begitu puas dan bahagia ketika ia membahas pria dengan senyum menawan itu.
Moedya tersenyum tipis. “Aku tahu dia jauh lebih brengsek dariku,” bantah Moedya dengan percaya diri.
“Setidaknya dia bukan seorang pengecut sepertimu!” Balas Arumi dengan tegas. “Dia pria yang jujur dan tidak pernah meninggalkanku. Dia masih berdiri di belakangku, mengikutiku, meskipun aku tidak pernah menoleh kepadanya. Dia datang di saat aku aku merasa sendirian. Saat di mana kamu mungkin tengah menghabiskan waktumu dalam pelukan Diana,” Arumi terdiam untuk sejenak.
“Edgar ada di sana. Dia datang dan menanyakan apakah aku lapar? Dia membawakan tas-ku ketika aku kembali ke rumah, dan dia ....” Arumi terdiam. Ia berpikir dan seolah teringat akan sesuatu. Arumi terus tertegun. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan.
“Edgar ....” gumam Arumi pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arumi bergegas menuju mobilnya. Ia tidak memedulikan Moedya yang terlihat keheranan karena sikapnya.
Arumi segera menjalankan mobilnya dan pergi dri tempat itu.
Arumi menjalankan mobilnya dengan cukup kencang. Wajah gadis itu terlihat berseri. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, yang pasti gadis itu merasa telah menemukan sebuah jawaban yang telah ia cari selama ini.
Sesampainya di rumah, Arumi bergegas memarkirkan mobilnya. Ia kemudian berlari ke kamarnya. Arumi mengambil kotak berwarna biru navy itu. Ia membukanya dan menatap cincin berlian itu. Arumi pun tersenyum penuh haru.
“Ed ....” desahnya pelan. Tanpa terasa air matanya menetes dengan perlahan. Arumi segera bangkit dan keluar dari kamarnya. Ia bergegas menuju ruang kerja Keanu.
“Ada apa, Arum?” Tanya Keanu ketika melihat Arumi berdiri di hadapannya. Keanu lalu meletakan buku yang sedang ia baca di atas pangkuannya.
Dengan antusias, Arumi segera duduk di sebelah sang kakak. Senyum lebar terkembang di bibirnya. Ia lalu memegangi lengan Keanu. “Kakak ... aku akan pergi ke Perancis,” ucap Arumi dengan yakin.
Keanu seketika menatap gadis itu. Ia juga mengernyitkan keningnya. Sesaat kemudian, pria yang selalu terlihat kalem itu tersenyum. “Marseille atau Paris?” Tanyanya.
Keanu tersenyum dengan kalemnya. Digenggamnya jemari sang adik dengan hangat. “Aku akan mengatur semuanya,” ucap pria itu. Ada rona bahagia pada tatap matanya. Ia senang karena pada akhirnya, Arumi dapat mengambil keputusan untuk hidupnya.
“Terima kasih, Kak. Kamu adalah kakak terbaik yang aku miliki,” ujar Arumi seraya memeluk Keanu dengan hangat.
“Ya, tentu saja! Hanya aku kakakmu, Arum,” balas Keanu dengan tenangnya.
Keesokan harinya, Keanu mulai mengurus segala hal yang Arumi butuhkan untuk keberangkatannya ke Perancis. Arumi pun mempersiapkan segala hal yang akan ia bawa, terutama hatinya yang kini dipenuhi oleh sejuta keyakinan yang sudah tidak terbantahkan lagi.
Selang beberapa hari, setelah segala sesuatu urusannya selesai, akhirnya Arumi dapat bernapas lega. Ia saat ini tengah duduk di dalam pesawat yang akan membawanya terbang menuju harapan dan sebuah kisah yang baru dengan cita rasa lama.
Dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga indah yang bermekaran, senyum manis itu terus terkembang dan menghiasi wajah cantiknya. Arumi sangat menikmati perjalanannya kali ini, bahkan ketika ia sudah menginjakan kakinya di kota Paris.
“Paris ... aku kembali ....” gumam Arumi dalam hati dengan senyuman indah yang terus terkembang di bibirnya.
Lalu ke mana tujuan Arumi saat ini? Taksi yang ia tumpangi berhenti di tempat yang dulu sering sekali ia dan Edgar kunjungi, Sungai Seine.
Arumi meletakan kopernya di samping. Ditatapnya sungai yang membelah kota Paris dengan latar menara Eiffel yang indah. Arumi mencoba mengenang semua hal yang pernah ia lakukan di sana.
Memang sudah terlalu lama dan tentu saja terlupakan. Semua kenangan itu sengaja Arumi buang jauh-jauh dan ia kubur dengan sangat dalam. Siapa sangka, justru saat ini ia seperti seekor anjing yang tengah menggali tanah untuk mencari tulang yang disembunyikannya.
Ya, kenangan itu ada. Memang sangat berkesan bagi Arumi remaja yang ceria dan selalu tersenyum riang. Saat itu, Arumi belum mengenal seperti apa kisah cinta yang sesungguhnya. Ia hanya mengangguk ketika Edgar menyatakan cinta kepadanya. Ia juga hanya terdiam ketika harus merasakan ciuman pertamanya dari pria itu.
Hari sudah menjelang senja saat itu. Arumi kemudian merogoh ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada mr. Hilaire.
Aku seperti seorang gelandangan yang terdampar di tepi Sungai Seine. Bisakah kamu menolongku?
Edgar yang saat itu tengah berada di ruang kerjanya dengan berteman sebuah laptop, segera menyunggingkan senyumannya yang menawan. Segera ia meraih kunci mobilnya dan memacu kendaraannya menuju Sungai Seine.
Tak percaya dan merasa seperti tengah bermimpi. Edgar menatap lekat gadis dengan skinny jenas berbalut mantel panjang itu. Gadis cantik berambut panjang, dengan sepasang lesung pipit yang menghiasi senyuman manisnya.
Perlahan Edgar melangkah dan menghampiri gadis yang berdiri tidak jauh darinya.