
Moedya yang baru saja pulang ke rumahnya, memilih untuk segera keluar. Ia kembali menuju motornya dan pergi dari sana. Hatinya terasa kacau. Ia tidak menyangka jika Arumi akan menikah lebih dulu dibanding dengan dirinya.
Sebelumnya, Moedya beranggapan jika Edgar tidak akan mungkin bersikap serius kepada Arumi. Ia tidak pernah membayangkan, jika Arumi akan secepat itu memutuskan untuk menikah dengan Edgar. Kacau, semuanya terasa sangat mengejutkan. Moedya tidak mampu berpikir dengan jernih. Saat itu, ia hanya mengendarai motornya tanpa arah dan tujuan yang pasti.
Beberapa saat kemudian, Moedya menghentikan motornya untuk sejenak. Ia lalu merogoh ponsel dari dalam jaketnya. Moedya tampak menghubungi seseorang. Sesaat kemudian, Moedya kembali menjalankan motornya hingga akhirnya ia tiba di sebuah coffee shop. Setelah memarkirkan motor retronya, ia pun segera masuk. Moedya memilih meja yang berada paling pojok. Kebetulan sore itu suasana di sana tidak terlalu ramai.
Diletakannya ponsel dan sebungkus rokok di atas meja. Ia sepertinya sedang menunggu seseorang, karena tidak berselang lama wajahnya sedikit berseri ketika orang yang ia tunggu telah tiba di sana.
Rupanya, Moedya tadi menghubungi Keanu. Ia ingin meminta penjelasan kepada pria itu tentang rencana pernikahan Arumi dengan Edgar.
“Apa kabar?” tanya Moedya. Ia berbasa-basi terlebih dahulu sebelum memulai pada inti dari pertemuan itu.
“Aku sedang sibuk saat ini. Banyak hal yang harus kupersiapkan untuk ....” Keanu tidak sempat melanjutkan ucapannya.
“Pernikahan Arumi?” sela Moedya dengan nada bicaranya yang terdengar cukup datar.
Keanu menatap sahabatnya untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria yang masih setia dengan potongan rambut cepaknya itu mengganggukan kepalanya perlahan. “Hari ini dia mengirimkan kartu undangan untuk tante Ranum,” ucap Keanu.
“Ya, aku melihatnya. Arumi datang dengan calon suaminya. Pria itu tersenyum puas padaku. Ia mungkin merasa menang karena telah berhasil memiliki Arumi,” celoteh Moedya dengan seenaknya. Rasa kacau dalam hatinya, telah membuat dirinya tidak dapat berpikir dengan normal, hingga akhirnya ia berbicara seakan tanpa berpikir terlebih dahulu.
“Apa, maksudmu bicara seperti itu?”
“Ya, kita berdua mengetahui siapa Edgar Hillaire,” sahut Moedya. Nada bicaranya membuat Keanu berpikir sesuatu. Pria itu mengernyitkan keningnya dan mencoba mencerna makna dari ucapan sinis Moedya tentang Edgar.
“Aku mengenal Edgar, dan aku juga sangat mengenalmu. Aku rasa kamu tidak perlu banyak bicara tentang siapa Edgar, karena aku mengetahui seberapa besar perjuangannya untuk dapat memiliki Arumi. Edgar seorang pejuang sejati, bukan pengecut yang hanya pandai bersembunyi,” balas Keanu.
Moedya tampak tidak terlalu menyukai ucapan Keanu yang seakan telah menyindir dirinya. Ia menunjukkan ekspresi wajah yang tidak bersahabat. Berkali-kali ia membuang mukanya dan lebih memilih menatap ke arah lain.
“Jadi, Arumi sudah yakin untuk menikah dengan Edgar?” tanya Moedya lagi. Ia ingin lebih meyakinkan dirinya.
Keanu tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran sahabatnya itu. Sekian lama ia berteman baik dengan pria yang sudah mencukur rambut gondrongnya itu, tapi ia masih selalu dibuat geleng-geleng kepala oleh sikap dan cara berpikir pria itu. Karenanya, dulu ia pernah melarang Arumi untuk melanjutkan hubungannya dengan Moedya. Namun, saat itu Arumi sedang dimabuk kepayang oleh pria berpenampilan eksentrik itu.
“Dengarkan aku, Moedya! Aku sangat menyayangi adikku. Dia satu-satunya yang kumiliki setelah orang tuaku tiada. Aku pasti akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk selalu menjaga dan membuatnya merasa aman, dan yang paling penting adalah memberikan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya kepada Arumi. Aku tidak akan berkompromi dengan apapun atau siapapun yang sudah mengusik kebahagiaan adikku,” Keanu mengela napas pendek dan mengempaskannya dengan perlahan.
“Arumi sudah terlalu sering menunggumu. Ia menantikan kedatanganmu untuk menjemputnya dan mengajaknya pulang, membawanya pada kehidupan yang sesungguhnya. Akan tetapi, apa kenyataannya? Aku mengetahui dengan sangat jelas. Kamu menutup matamu dan sibuk bersembunyi di balik senyuman manis Diana. Kamu membiarkan Edgar masuk dan membawa Arumi kembali pada karakter yang sebenarnya. Lalu, apakah salah jika adikku memilihnya?” Keanu menatap lekat sahabatnya itu. Pria yang saat itu hanya terdiam dan seakan tengah memikirkan segala kebodohan dan kekeliruan yang telah dilakukanya.
“Meskipun kamu terus menjelekan Edgar dan membencinya setengah mati, tapi aku yakin itu tidak akan berpengaruh sama sekali pada penilaian Arumi terhadap Edgar. Hanya Arumi yang mengetahui seberapa besar pengorbanan Edgar untuknya, dan hal itu menjadi sebuah nilai plus bagi adikku yang ia berikan untuk Edgar,” terang Keanu lagi.
“Aku rasa itu merupakan sesuatu yang tidak perlu untuk kujabarkan lagi. Seharusnya kamu tidak perlu mempermasalahkan hal seperti ini. Jika memang kamu masih memiliki perasaan terhadap adikku, maka seharusnya kamu menunjukkan hal itu beberapa waktu yang lalu, tapi aku senang karena takdir menuntunnya kepada Edgar. Maafkan aku Moedya, tapi aku merasa jika Edgar jauh lebih mampu menjaga dan mencintai Arumi dibanding dengan dirimu. Jangan pernah menyalahkan apapun atau siapapun atas keadaan yang kamu alami saat ini, karena itu semua adalah hasil dari perbuatanmu sendiri,” Keanu berbicara panjang lebar kepada sahabatnya itu.
Rasanya sangat lega ketika ia dapat mengeluarkan segala unek-uneknya selama ini terhadapa Moedya. Entah Moedya dapat menerimanya atau tidak, yang pasti jika semua yang dikatakan oleh Keanu adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi oleh Moedya.
“Aku terjebak dalam pusaran yang kuciptakan, Ken. Aku tahu jika diriku terlalu pengecut untuk mengambil sebuah keputusan yang sesuai dengan hatiku, tapi ... kenapa aku masih harus merasa kecewa atas hal ini? Aku tengah belajar untuk mengendalikan diriku. Aku mengingat semua nasihat ayahku yang ternyata tidak kulakukan sama sekali. Aku sudah menyakiti Arumi, dan aku merasa heran kenapa aku masih harus merasa tidak nyaman saat melihat Arumi dengan pria lain. Aku sudah bertekad untuk fokus pada Diana, tapi semua konsentrasiku selalu hilang setiap kali aku melihat Arumi,” tutur Moedya dengan wajah penuh sesal.
Keanu tersenyum kecil. Sesaat kemudian, ia menyempatkan dirinya untuk membuka ponselnya dan memeriksa sebuah pesan yang masuk dari sang istri. Setelah itu, pandangannya kembali ia alihkan kepada pria yang berada di hadapannya.
“Menurutku saat ini sebaiknya kalian jalani takdir kalian masing-masing. Kamu sudah mengambil keputusan untuk hidupmu, dan Arumi pun demikian,” Keanu kembali tersenyum dengan kalemnya. “Maafkan aku, tapi aku harus pergi. Masih ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan. Aku tunggu kartu undangan darimu,” tutup Keanu, ia lalu beranjak dari duduknya.
Setelah berpamitan dengan Moedya, Keanu kemudian berlalu dari tempat itu dan membiarkan Moedya kembali dalam kegalauannya.
Apa yang dirasakan Moedya, sebenarnya sesuatu yang sudah tidak perlu untuk dibahas lagi. Semua rasa cemburu dan sakit hati yang ia tunjukan, adalah sesuatu yang sia-sia.
Sama halnya seperti sebuah daun yang telah terjatuh dan terbawa terbang oleh angin, menjauh dari pohon yang melepaskannya dan membuatnya terasing di antara daun yang lain.
Moedya mungkin masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dirinya dengan Diana. Namun, ia harus memaksakan dirinya untuk belajar lebih baik tentang makna dari sebuah hubungan.
Kisah romansa bukan hanya tentang sebuah ciuman hangat atau aktivitas sensual di atas ranjang. Ada sesuatu yang lebih, yang harus dibangun di atas itu semua. Belajar untuk berkomitmen dengan baik, itulah yang harus dilakukan setiap insan yang telah memutuskan untuk membangun sebuah ikatan atas dasar perasaan.
Semakin lama, cinta yang tadinya terlihat semu akan tampak semakin nyata, jika kita memang kita berniat untuk menggalinya dengan jauh lebih dalam.