
Sepulang dari bengkel, Moedya segera menemui Ranum di kamarnya. Wanita itu rupanya tengah asyik menonton rekaman video beberapa waktu silam, yang memperlihatkan kebersamaan antara dirinya dan sang suami tercinta, Pramoedya Aryatama alias Arya.
Ranum tampak senyum-senyum sendiri melihat semua yang terekam dalam video tersebut. Itu adalah moment terindah yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia bahkan tidak peduli meskipun saat itu Moedya sudah masuk dan duduk di sebelahnya. Moedya pun akhirnya ikut menonton bersama sang ibu.
"Ayahmu sangat tampan, kan?" Ujar Ranum dengan bangganya. Ia tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah maskulin bertato yang ada dalam video tersebut.
Moedya tersenyum simpul. Ia tahu jika sang ibu begitu mencintai mendiang ayahnya, bahkan ia sudah berkali-kali melihat rekaman video itu.
"Apakah Ibu tahu sejak kapan ayah mulai merajah tubuhnya dengan tato?" Tanya Moedya membuat Ranum meliriknya untuk sejenak. Ia pun kemudian tersenyum.
"Ayahmu pernah bercerita dulu, tapi Ibu sedikit lupa," jawab Ranum dengan entengnya.
"Katanya cinta, tapi bagaimana Ibu bisa melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan ayah?" protes Moedya.
Ranum tertawa pelan. Ia kembali melirik putra semata wayangnya. "Ya, Ibu juga tidak terlalu mengerti. Ada beberapa hal yang Ibu lewatkan dari ayahmu," sesal Ranum.
"Apakah ayah juga begitu terhadap Ibu?" Tanya Moedya lagi. Ia seakan tengah menginterogasi ibunya sendiri. "Ibu adalah wanita yang sangat detail, bagaimana bisa ada sesuatu yang Ibu lewatkan?"
"Sedetail apa Ibu? Ibu tetap seorang wanita biasa yang terkadang melupakan hal yang dianggap penting dan mendahulukan sesuatu yang tidak terlalu penting," ujar Ranum seraya terus melayangkan pandangannya pada layar televisi dengan ukuran besar itu.
Moedya terdiam untuk sesaat. Harus ia akui jika Ranum dan Arya adalah pasangan yang sangat serasi. Kisah cinta mereka juga sangat unik dan menyenangkan. Bebas namun tetap dalam satu ikatan kata setia.
Mendiang Arya, memang tidak pernah bercerita tentang masa lalunya bersama Ranum kepada Moedya. Ia lebih suka mengajak putra semata wayangnya untuk berdiskusi antar lelaki. Sebuah obrolan tentang bagaimana seorang pria harus bersikap, terutama dalam menghadapi kehidupan dan tentu saja tentang wanita.
"Wanita adalah napas kehidupan bagi kita kaum pria, Nak," ucap Arya pada suatu hari, ketika mereka sedang menikmati waktu dengan memancing bersama.
"Akan tetapi, itu bukan berarti kita tidak dapat bernapas tanpa adanya mereka. Mungkin kita hanya akan sedikit kesulitan. Berapa lama kamu dapat menahan napasmu di dalam air?" Tanya pria dengan jenggot yang cukup tebal itu. Meskipun ia tengah berbincang dengan Moedya, namun pandangannya terus terfokus pada alat pancingnya. Ia tampak selalu waspada dan bersiap untuk setiap gerakan dari alat pancingnya.
"Aku tidak suka berlama-lama menahan napas di dalam air, untuk apa? Aku tidak berniat menjadi seekor ikan," sahut Moedya dengan seenaknya.
Arya tergelak mendengar jawaban dari salah satu fans fanatiknya selain Ranum tentunya. Ia kemudian melirik pemuda itu untuk sejenak.
"Kamu yakin ingin membuat tato?" Tanya Arya lagi. Ia kembali mengalihkan tatapannya pada riakan air di sekitar tali pancingannya.
"Ya. Aku harap Ayah tidak protes. Kalau bisa ... tolong yakinkan ibu juga!" Ujar Moedya diakhiri sebuah tawa pelan.
"Kenapa harus Ayah? Kenapa tidak lakukan sendiri?"
Arya kembali tertawa pelan. Dengan cekatan ia menarik alat pancingnya yang saat itu sudah berhasil memikat seekor ikan yang cukup besar. Ikan itu menggelepar-gelepar ketika Arya meletakannya di atas tanah.
"Kamu menganggap ibumu sangat keras. Lalu ... apa yang kamu pikirkan tentang ayahmu?" Arya seakan tengah mengajak sang putra untuk bermain-main.
Moedya membetulkan topi yang dipakainya saat itu. Untuk sejenak ia menatap sang ayah yang tengah melepas ikan hasil pancingannya dari mata kail yang masih tersangkut pada mulut ikan tersebut. Setelah itu, Arya memasukannya pada sebuah wadah.
"Jika ayah dapat menaklukan kerasnya ibumu, apa kamu tidak berpikir seberapa kerasnya ayahmu?" Arya kembali melanjutkan obrolan mereka setelah ia kembali memasang umpan dan melemparkannya ke dalam air.
"Mungkin karena kita sama-sama seorang pria, jadi ... aku rasa Ayah akan jauh lebih memahami apa yang ada di dalam pikiranku," kilah Moedya.
"Seperti itu rupanya. Akan tetapi, ada beberapa anak laki-laki yang justru merasa tidak nyaman dan tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan ayahnya," bantah Arya. Ia masih fokus pada alat pancingnya.
"Yang pasti itu bukan aku," sahut Moedya yang diakhiri dengan sebuah tawa geli.
"Lalu ... jika kamu merasa sangat mudah menaklukan hati ayahmu, kenapa kamu merasa takut untuk mulai menaklukan hati ibumu?" Tantang Arya. Ia melirik ke arah Moedya untuk sesaat.
"Apa yang akan kamu lakukan seandainya suatu saat nanti kamu dihadapkan kepada seorang wanita dengan watak seperti ibumu? Apa kamu akan meminta bantuan Ayah untuk merayunya untukmu? Ayahmu ini bukanlah Bisma yang berkeliling ke setiap kerajaan dan mencarikan seorang putri untuk pangerannya. Tidak, Nak! Kamu bisa melakukannya sendiri!" Tegas Arya.
Itulah sepenggal kisah yang selalu ada di dalam ingatan Moedya. Ia tidak menyangka jika ucapan Arya waktu itu akan menjadi sebuah kenyataan.
Moedya harus dihadapkan kepada seorang gadis seperti Arumi. Ia memang bukan gadis yang liar, tapi Arumi sulit untuk ia kendalikan. Arumi bukan gadis yang nakal, tapi ia adalah seorang pemberontak yang manis.
Asap tipis mengepul dari sebatang rokok yang tengah Moedya hisap. Sesekali Moedya meneguk minumam kalengnya. Malam itu, ia tengah menyendiri di lantai tiga rumahnya. Ia ingin menenangkan pikirannya.
Ditatapnya langit malam yang gelap. Suasana pun sudah semakin sepi, karena saat itu sudah hampir tengah malam.
"Arum, apa yang sedang kamu lakukan saat ini?" Gumam Moedya di dalam hatinya.
Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja rotan yang ada di hadapannya. Ia mulai mengusap layar ponselnya. Moedya membuka galeri di ponselnya. Sungguh mengejutkan, karena di sana hanya ada foto-foto mobil dan segala sesuatu yang berhubungan dengan club motornya. Moedya hanya menyimpan satu foto dengan wajah gadis cantik itu. Itupun entah foto kapan, ia sendiri tidak ingat sama sekali.
Kembali ditutupnya layar ponsel itu, dan ia letakan begitu saja di atas meja. Moedya lalu mengepulkan asap rokoknya. Beberapa saat kemudian, ia pun mematikan rokok itu di dalam asbak dan meraih minuman kalengnya. Moedya lalu beranjak dari duduknya.
Kini pria dengan T Shirt panjang itu lebih memilih untuk berdiri di dekat pagar pembatas. Sesekali ia meneguk minumannya. "Maafkan aku, Arum," gumam Moedya dengan suara beratnya yang terdengar sangat dalam.