
Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti di depan bangunan yang mirip dengan sebuah penginapan terbengkalai. Salah satu dari dua pria tadi kemudian membukakan pintu untuk Arumi, dan memaksa gadis itu untuk keluar. Ia bermaksud untuk memegangi lengan Arumi, tapi dengan segera gadis itu menepisnya.
“Don’t touch me! You son of a bi•tch!” Umpat Arumi dengan sangat kasar. Kata-katanya telah berhasil menyulut emosi pria itu, hingga ia mengangkat tangannya dan bermaksud untuk memukul Arumi. Akan tetapi, dengan segera pria yang satu lagi keluar dari mobil dan menahannya.
“Jangan bertindak gegabah! Tuan bertubuh kurus itu mengatakan jika gadis ini tidak boleh terluka sedikitpun,” pria dengan rambut ikal yang tadi menjadi sopir, mencoba mengingatkan sahabatnya yang bertubuh tinggi besar. Pria itupun mengurungkan niatnya. Ia kembali menurunkan tangannya.
“Silakan, Nona Cantik,” pria berambut ikal itu mempersilakan Arumi untuk masuk. Namun, Arumi tidak langsung menurut. Ia hanya mematung dan memasang wajah ketusnya kepada pria yang tadi hendak memukulnya.
“Aku tidak takut padamu, Gorila Coklat!” Umpat Arumi lagi dalam bahasa Indonesia. Setelah itu, Arumi kemudian melangkah masuk.
Pria itu mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan ucapan Arumi. Ia lalu melirik rekannya dan bertanya dengan menggunakan isyarat. Rekannya yang berambut ikal tadi hanya mengangkat bahunya. Ia pun segera masuk mengikuti Arumi.
Arumi tertegun melihat keadaan di dalam. Ada tiga orang pria di sana yang tengah asyik bermain kartu dengan beberapa botol minuman di atas meja. Asap rokok mengepul bebas di udara dan berbaur dengan suara gelak tawa tanpa aturan dari mereka bertiga. Arumi tidak menyangka jika dirinya akan berada di tempat seperti itu.
“Ikuti aku!” Ajak pria berambut ikal tadi. Arumi tidak memiliki alasan untuk membantah, lagi pula ia merasa risih dengan tatapan nakal dari para pria yang ada di sana, yang ditujukan terhadap dirinya.
Arumi melangkah dengan wajah dingin dan tatapan matanya yang tajam. Ia tidak tahu di mana kini ia berada.
Pria berambut ikal itu menunjukkan sebuah kamar berpintu merah kepada Arumi. Dengan seringai nakal dan terlihat sangat menyebalkan, ia menoleh kepada Arumi. Setelah itu, ia membukakan pintu untuk gadis cantik itu. ”Silakan masuk, Nona Cantik! Ini akan menjadi kamarmu. Semoga kau menyukainya,” ucapnya.
Arumi tidak menjawab. Ia sama sekali tidak ingin berbasa-basi dengan salah satu dari penjahat yang sudah melakukan hal menakutkan kepada dirinya dan Edgar. Gadis itu berdiri mematung dan memandangi ruangan yang telah disiapkan untuknya.
Ruangan itu terlihat cukup gelap dan juga lembab. Itu lebih mirip dengan sarang tikus daripada disebut sebagai kamar. “Aku tidak sudi ditempatkan di kandang babi seperti itu!” Umpat Arumi dengan ketusnya.
Mendengar umpatan dari Arumi, pria itu justru malah tertawa geli. Bukannya marah, ia malah merasa terkesan dengan sikap berani gadis itu.
“Ayolah, Sayang! Ini bukan hotel berbintang. Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu tidur di kamarku, tapi aku harus mengikuti peraturan dari tuan bertubuh kurus itu. Sayang sekali karena aku harus melewatkan gadis secantik dirimu,” ucap pria itu lagi membuat bulu kuduk Arumi seketika meremang.
“Najis!” Umpat Arumi lagi dalam bahasa Indonesia.
“Kenapa kau terus berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti?” Protes pria itu.
“Itu deritamu, Bodoh!” Umpat Arumi lagi. Ia lalu melangkah masuk. Terciumlah bau apek yang cukup menyengat di sana. “Oh ... ini lebih buruk dari toilet umum,” gumam Arumi. Ia berkali-kali mengeluh kesal.
“Hey ... Sayang, jika kau butuh ....”
Seketika pria itu terdiam sambil menutup kedua matanya. Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Arumi sudah membanting pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang begitu keras. “Wow ... gadis yang luar biasa,” gumam pria itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke perkumpulan rekan-rekannya yang lain.
Terdengar ia juga menghubungi seseorang. Sepertinya ia tengah mengabari bosnya yang ia panggil dengan sebuat tuan bertubuh kurus. Entah siapa yang ia maksud. Satu hal yang pasti, Arumi harus harus mencari cara untuk dapat segera keluar dari tempat mengerikan itu. Ia berharap agar Edgar dapat menemukan keberadaannya dengan segera.
Edgar baru tiba di kediamannya. Dengan tubuh terluka dan pakaian yang dipenuhi bercak darah, ia melangkah masuk dengan terburu-buru. Entah bagaimana ia bisa sampai ke kediamannya, yang pasti saat itu ia telah berhasil membuat Carmen menjadi sangat histeris.
Wanita tua itu menangis saat melihat keadaan Edgar. Kecemasan terlihat jelas di matanya. Ia segera membawa Edgar untuk duduk.
“Apa yang telah terjadi padamu, Nak? Hal buruk apa ini?” Resahnya. Ia segera berlari ke ruangan lain dari rumah megah itu untuk mengambil kotak P3K. Sementara Edgar masih duduk dengan menahan emosi yang sangat besar dalam dirinya.
Tidak berselang lama, Carmen kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna putih. Meskipun sudah berumur, tetapi wanita itu masih sangat cekatan dalam bergerak dan melakukan berbagai aktivitas. Dengan segera, ia membersihkan luka di wajah Edgar.
“Apa yang terjadi padamu, Nak?” Tanya Carmen lagi.
Edgar masih belum juga menjawab. Ia seakan tengah mengumpulkan semua kekuatan dalam dirinya. Sorot matanya menunjukkan jika saat itu ia sedang berpikir keras. Ya, ia harus segera menemukan Arumi.
“Ada seseoarng yang telah merencanakan penjebakan untukku, Bibi. Mereka membawa Arum pergi dan aku tidak mampu mencegahnya ....” Edgar berkata dengan nada bicaranya yang terdengar penuh penyesalan. Ia tengah menahan kesedihan yang bercampur dengan rasa marah yang teramat besar.
Edgar menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Saat ini ia belum dapat berpikir secara jernih.
“Ya, Tuhan. Siapa yang telah berani melakukan kejahatan seperti itu kepada dirimu dan Arumi, Nak?” Carmen terlihat begitu resah. Ia lalu mengelus rambut belakang Edgar dengan lembut dan penuh rasa keibuan. Hatinya begitu teriris saat melihat pria yang sudah ia anggap seperti putra kandungnya sendiri, berada dalam keadaan seperti itu.
Tidak berselang lama, terdengar suara ponsel milik Edgar berdering. Sebuah panggilan masuk dari Keanu. Pria itu mencemaskan keadaan Edgar dan Arumi. Sementara Edgar tidak mampu untuk berkata apa-apa lagi. “Maaf, Ken! Aku sudah berusaha, tapi mereka telah berhasil menculik Arum ....”
Lemas, seketika tubuh Keanu terduduk di atas sofa ruang kerjanya. Tugasnya untuk menjaga amanat dari kedua orang tuanya, dipertaruhkan saat ini. Ia harus segera bergerak dan tentu saja tidak boleh bersikap gegabah.
“Segera hubungi polisi dan minta bantuan mereka!” Saran Keanu beberapa saat kemudian. “Aku akan segera terbang ke Perancis,” lanjutnya.
Keanu lalu menutup sambungan teleponnya. Ia pun bergegas keluar dari ruang kerjanya dan menghubungi salah seorang temannya yang ia anggap dapat membantunya dalam mempercepat pengurusan proses keberangkatannya ke Perancis. Ia juga memberitahu Puspa untuk bersiap-siap.
Sedih dan terpukul, itulah yang dirasakan Puspa saat itu. Sebagai wanita yang memiliki hati sangat lembut, Puspa begitu mencemaskan keadaan adik iparnya. “Segera temukan Arum, Sayang!” Pinta Puspa di sela isak tangisnya.
Keanu segera memeluk sang istri. Ia tahu jika Puspa sangat menyayangi Arumi. Selama ini, hubungan mereka berdua sangat dekat. Jadi, wajar jika Puspa begitu terpukul saat mendengar berita mengejutkan itu.
“Aku dan Edgar pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat membawa Arumi kembali. Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai kakak dan juga pengganti orang tua bagi adikku. Semoga ini tidak akan sesulit yang kubayangkan. Bersiaplah, Sayang! Kita akan segera terbang ke Perancis,” ujar keanu.
“Ya Tuhan, aku ingin sekali ke sana tapi bukan karena ada peristiwa seperti ini,” isak Puspa.
Keanu segera memeluk sang istri dengan hangat. Ia juga tidak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini. Untuk sesaat ia berpikir, apakah semua ini ada hubungannya dengan masalah yang tengah membelit Edgar? Keanu yakin jika Arumi pasti hanya dijadikan sebuah sarana untuk dapat melemahkan Edgar.