Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Air Mata Terakhir


Arumi terdiam. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat jendela kamarnya. Ada setitik rasa penyesalan dalam dirinya. Hatinya merasa sakit mendengar ungkapan cinta dari Moedya. Bagaimanapun juga, dulu ia begitu kesulitan untuk dapat melupakan pria itu. Lalu, apa yang terjadi kini? Mengapa Moedya justru menyatakan cintanya, di saat Arumi akan menjalani sebuah pernikahan yang suci.


“Arum, apa kamu masih di situ?” terdengar kembali suara Moedya di ujung telepon.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya mengguman pelan, sebagai tanda bahwa dirinya masih setia dengan ponselnya saat itu.


“Arum,” Moedya kembali menyebut namanya. “Aku sengaja memotong rambutku. Sesuatu yang dulu pantang untuk kulakukan. Namun, sekarang aku melakukannya, sama seperti yang pernah ayahku lakukan ketika ia akan melamar ibuku. Aku berharap ada keajaiban datang padaku, tapi ternyata tidak. Sepertinya Tuhan memang sudah tidak mengizinkanku untuk berada di dekatmu lagi, meskipun aku berniat untuk berubah. Aku benar-benar menyesali semuanya,” lirih Moedya.


“Tolong katakan sesuatu padaku!” ucap pria itu lagi.


“Apa yang ingin kamu dengar, Moedya?” Arumi balik bertanya. “Seperti yang sudah kamu katakan tadi, Tuhan tidak mengizinkanmu ada di dekatku lagi, karena mulai saat ini ada Diana yang akan menemanimu. Aku sudah cukup mengenalnya. Aku rasa dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Lagi pula, dia sangat mencintaimu. Jadi, jangan pernah mengabaikannya!” ucap Arumi. Ia berusaha untuk menahan tangisnya.


“Jika kamu memang ingin berubah, maka itu tidak harus padaku. Mulailah pada Diana. Jangan perlakukan dia seperti kamu memperlakukanku,” lanjut Arumi lagi.


Moedya terdiam mendengarkan semua ucapan Arumi. Pria itu spertinya memang harus lebih banyak belajar. Moedya bergaul dengan banyak wanita, tapi ia tidak pernah mengenal seorang wanita dengan baik. Arumi menjadi wanita pertama yang membuatnya sedikit belajar tentang cinta, meskipun nyatanya ia masih seringkali membuat banyak kesalahan.


Moedya bukan pria yang manis apalagi romantis. Ia merupakan kebalikan dari Edgar. Namun, Moedya adalah pria yang lucu, dan tentu saja ia pandai bernyanyi dan kerap bermain gitar di depan Arumi. Hal yang sama seperti yang selalu dilakukan Adrian untuk Ryanthi.


“Pulanglah, Moemoe! Aku bukan Miemie-mu lagi. Semuanya sudah terlambat, karena saat ini aku sudah menautkan hatiku untuk Edgar. Aku sudah berjanji untuk selalu mencintainya dan berusaha untuk tidak mengecewakannya,” ucap Arumi lagi dengan lirihnya.


Gadis itu kemudian menyibakan tirai yang menutupi jendela kaca kamarnya. Tampak di bawah sana, Moedya sedang duduk di atas motor seraya menatap ke arahnya.


Terenyuh hati Arumi melihatnya. Pria itu masih Moedya yang sama, yang pernah menjadi kekasihnya dulu. Rambut pria itu memang kini telah berbeda, tapi wajah itu tidak pernah berubah. Tatap mata itu masih terlihat seperti yang dulu, sama seperti saat pertama kali Arumi menatapnya.


Arumi terdiam untuk sejenak. Gadis itu mengangguk pelan. “Aku mencintai Edgar, karena itulah aku bersedia untuk menikah dengannya. Aku rasa sudah cukup, Moedya! Jangan pernah mencoba untuk mengungkit dan mengingatkan aku tentang semua perasaanku padamu! Susah payah aku menerima Edgar dalam hidupku. Tolong jangan mengusikku lagi!” pinta Arumi masih dengan nada bicaranya yang lirih.


“Arum, apa yang harus aku lakukan jika ternyata aku belum mampu melupakanmu sepenuhnya? Terkadang aku merasa begitu marah kepadamu, tapi aku jauh lebih sering merindukanmu. Rasanya ... rasanya begitu sulit untuk melupakanmu,” resah Moedya dengan nada bicaranya yang terdengar cukup datar. Ia kini jauh lebih berani menyatakan perasaannya. Moedya tidak lagi menjadi pengecut yang hanya dapat bersembunyi.


“Aku tidak tahu, Moedya. Aku tidak bisa memberimu saran apa-apa, karena aku juga dulu merasa kesulitan untuk melakukannya. Aku hanya berusaha dan terus mendekatkan diriku dengan Edgar. Aku bahkan tidak menyadari jika akhirnya perasaan itu sirna dan tergantikan dengan rasa yang baru. Mungkin kamu bisa mencoba hal itu. Dekatkan dirimu kepada Diana, dan biarkan hatimu merasakan cintanya yang besar. Aku rasa, itu tidak akan menjadi sesuatu yang terlalu sulit bagimu,” papar Arumi seraya terus menahan tangisnya.


Arumi mencoba untuk tetap kuat, meskipun dulu ia pernah meratapi kehancuran hatinya, karena telah kehilangan seorang Moedya dari hidupnya. Akan tetapi, kini bukan waktunya lagi bagi dirinya untuk melakukan hal seperti itu. Ia tidak harus merasa kecewa lagi, meskipun ternyata air mata itu akhirnya terjatuh juga ketika Moedya menutup sambungan teleponnya dan pergi dari sana.


Ditatapnya kepergian pria itu dengan nanar, dengan linangan air mata yang terjatuh tanpa permisi. Biarlah air mata itu menjadi air mata terakhir dari Arumi, yang ia persembahkan untuk Moedya. Setelah ini, kisah Miemie dan Moemoe benar-benar akan berakhir. Tidak boleh lagi ada tatapan cinta yang terpendam di antara keduanya. Mereka harus benar-benar saling melupakan dan tidak boleh lagi saling merindukan, karena ada hati yang lain yang harus mereka jaga. Hati yang telah memberikan cinta yang besar untuk mereka berdua, sebagai pengganti cinta yang lama.


Arumi kembali menutup tirai jendela kamarnya ketika Moedya sudah benar-benar tidak terlihat lagi. Pria itu menghilang dalam kegelapan malam, dan ia juga telah Arumi lepaskan dari hatinya yang paling dalam.


Malam ini, rasanya sangat berbeda. Tiga hari menuju hari bahagia Arumi dan Edgar, tetapi gadis itu harus merasakan sebuah kegalauan karena cinta dari masa lalu. Arumi terduduk di ujung tempat tidurnya. Gadis itu termenung untuk beberapa saat lamanya.


Terbayang dalam ingatan Arumi, ketika awal pertemuannya dengan Moedya. Ketika tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya. Arumi masih ingat saat ia memberikan senyuman manisnya, ketika Moedya menyelamatkan mug yang akan terjatuh akibat ketelodarannya. Tiada hal yang paling Arumi sukai, selain saat ia duduk di jok belakang motor Moedya dan memeluknya dengan erat. Pria itu kerap mengajarinya cara melempar kerikil hingga menimbulkan riakan yang cantik. Moedya juga mengajarinya cara memetik senar gitar, meskipun pada akhirnya Arumi lebih memilih untuk menjadi pendengar saja.


Arumi melakukan banyak hal dengan pria bertato itu. Ia bahkan menyerahkan segalanya atas nama cinta kepada Moedya. Arumi tidak pernah menyangka, jika kisah cintanya dengan pria itu akan berakhir dengan menyedihkan.


Mulai saat ini, Arumi sudah sepenuhnya mengubur cerita lama itu. Semua kenangan indahnya bersama Moedya, harus ia buang jauh dan biarkan berlalu bersama waktu. Kini, ia harus menatap masa depan bersama Edgar, pria yang sudah berjuang mati-matian demi dirinya.


Arumi hanya berharap, semoga Moedya dapat benar-benar berubah. Semoga Moedya dapat mengubah cara pandang dan berpikirnya tentang cinta. Semoga pria itu akan jauh lebih menghargai apa yang telah menjadi miliknya, karena apa yang sudah terlepas dari genggaman kita, belum tentu dapat kembali kita raih dan kita miliki.