Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Kebetulan yang Tidak Diharapkan


Arumi melayangkan tatapan tajamnya kepada Edgar. Sementara Edgar justru bersikap sebaliknya. Ia masih memerlihatkan wajah yang bersahabat kepada gadis itu.


"Apa lagi yang kamu tunggu, Ed? Cepat buka pintunya!" Lagi, Arumi memberikan perintahnya kepada Edgar. Pria itu menanggapinya dengan santai. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya dan keluar dari mobil. Setelah itu, ia membukakan pintu untuk Arumi.


"Silakan, Nona," Edgar meletakan tangan kirinya di belakang sambil membungkukan badannya. Tidak lupa, ia juga mengulurkan tangan dari depan ke samping, sebagai tanda bahwa ia mempersilakan Arumi untuk segera lewat di hadapannya.


Arumi melirik ke arah pria itu seraya menyunggingkan senyuman tipis. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya dan memasuki coffee shop tersebut. Sedangkan Edgar mengikutinya dari belakang, dengan langkahnya yang terlihat begitu elegan dan menunjukan kelas sosialnya yang tinggi.


Coffee shop itu terdiri dari dua lantai yang bertema indoor dan outdoor. Kali ini, Arumi yang menentukan mereka akan memilih meja yang mana. Gadis itu memilih meja yang berada di bagian outdoor, yaitu lantai dua. Sebelumnya, mereka memesan terlebih dulu minuman yang paling direkomendasikan di tempat itu. Selesai dengan pesanan, Edgar segera membayarnya di kasir.


Edgar mengangguk dengan sikapnya yang kalem kepada Arumi. Ia mengisyaratkan jika semua prosedur pemesanan sudah selesai. Edgar juga mempersilakan Arumi untuk menaiki tangga terlebih dahulu, setelah itu ia kembali mengikuti Arumi dari belakang hingga mereka tiba di lantai dua.


Di sana berderet kursi dan meja dengan nuansa putih dan biru, selayaknya warna langit yang cerah dengan hiasan awan. Arumi memilih meja paling ujung, dekat pembatas besi yang dihiasi tanaman merambat.


Edgar kemudian menggeser kursi yang akan menjadi tempat duduk Arumi. Ia lalu mempersilakan gadis cantik itu untuk segera duduk. "Terima kasih," kali ini Arumi sedikit berbaik hati kepada pria rupawan itu. Edgar hanya tersenyum kalem. Ia lalu duduk di kursi yang berada di hadapan Arumi.


Seorang pelayan dengan seragam putih dan apron biru langit datang menghampiri mereka. Pemuda itu menghidangkan pesanan mereka berdua di atas meja. "Silakan. Selamat menikmati," ucapnya dengan sopan. Sementara Edgar hanya membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.


Ini adalah pertama kalinya Arumi datang ke tempat itu. Semenjak berpisah dengan Moedya dan kepergian Ryanthi, ia seakan menutup dirinya.


Ditatapnya pemandangan kota yang terhampar luas. Sesaat lagi, siang yang panas akan segera berlalu dan digantikan sore yang indah. Untunglah sudah beberapa hari ini hujan tidak turun.


Tatapan Arumi terus tertuju pada pemandangan sekitar tempat itu. Ia seakan dapat melihat seluruh kota dari sana, tapi tidak dapat menemukan sosok seorang Moedya. Sedang apa pria itu saat ini? Kenapa Arumi masih saja memikirkan mantan kekasihnya itu? Padahal Moedya sudah berpamitan kepada dirinya.


Sementara itu, Edgar duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Tatapan lembut dan penuh harap, terus ia layangkan kepada gadis cantik yang bahkan tidak menoleh sama sekali kepada dirinya. Edgar seakan dapat menebak apa yang tengah Arumi pikirkan. Akan tetapi, apa yang dapat ia lakukan untuk mencegahnya.


"Arum, cicipilah minumannya!"


Arumi seketika menoleh. Ia lalu mengangguk pelan. Arumi kemudian meneguk espresso-nya dan kembali meletakan cangkir keramik berwarna putih itu. "Enak," ucap Arumi. Ia mengomentari rasa dari minuman yang baru ia cicipi.


Edgar kemudian ikut meneguk espresso miliknya. Setelah itu, ia meletakan kembali cangkirnya dengan hati-hati." "Ya, ini enak," timpalnya. Ia setuju dengan pendapat Arumi.


"Oh iya, Arum. Katakan padaku, siapa tante berambut merah tadi?" Edgar mulai membuka percakapan di antara mereka berdua. Ia tidak ingin membahas sesuatu yang terlalu berat saat itu.


"Tante Ve ... i mean her name is Vera. Dia ... um ... dia saudara tiri ibuku, tapi usia mereka sama," jawab Arumi. Ia terlihat tidak terlalu nyaman. Mungkin ia belum siap untuk memulai perbincangan dengan Edgar.


"Oh ... begitu. Sepertinya ia sedikit ... naughty. Aku sering melihat karakter wanita seperti itu ... i mean ... ya ... maksudku tidak seperti ibu Ryanthi atau dirimu," Edgar terlihat kebingungan dengan ucapannya sendiri. Pada akhirnya ia menyesali kata-katanya. Ia kemudian menghela napas panjang dan menghempaskannya perlahan.


"Kenapa aku harus membahas karakter wanita di sini? Edgar ... kau memang payah!" Batin pria tampan itu.


"Kamu menyukai tempat ini, Arum?" Tanya Edgar lagi. Ia terus berusaha menarik perhatian Arumi yang lagi-lagi termenung.


"Ya," jawab Arumi pelan. Gadis itu terlihat sangat malas untuk menanggapi semua ucapan Edgar.


Edgar kembali meneguk minumannya. Ia menjadi serba salah saat itu. Diatatpnya gadis cantik yang selalu menjadi pengisi hatinya hingga saat ini. Segala upaya telah ia lakukan, untuk dapat menarik kembali Arumi ke dalam pelukannya. Akan tetapi, semuanya selalu berujung pada penolakan dari Arumi.


Edgar bukan seseorang yang pantang menyerah. Ia tidak peduli dengan sikap kasar dan kata-kata tajam dari gadis itu, ia hanya memiliki satu keyakinan yaitu suatu saat nanti Arumi akan kembai kepada dirinya.


Entah itu akan benar-benar terjadi atau tidak, tapi Edgar meyakini jika kekuatan pikiran akan dapat mengubah sesuatu menjadi sebuah kenyataan yang sesungguhnya.


Kekuatan pikiran dapat membuat kita semakin yakin, bahwa kekuatan harapan itu begitu besar dan menciptakan keajaiban yang terkadang melebihi apa yang kita inginkan.


"Arum, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" Tanya Edgar lagi. Ia terus memecah gumpalan khayalan Arumi yang sedang ia bangun atas nama Moedya. Sekali lagi Arumi menoleh kepada pria tampan itu.


"Tanyakan saja!"


"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk dapat melupakan aku?" Akhirnya Edgar dengan terpaksa harus menaikan level topik pembicaraan di antara dirinya dan Arumi.


Arumi terdiam menatap pria yang ada di hadapannya. Tidak butuh waktu yang terlalu lama baginya untuk lepas dari bayang-bayang Edgar, meskipun hingga saat ini pria itu masih selalu saja membayangi hidupnya.


Arumi terlihat tidak begitu nyaman dengan pertanyaan Edgar. Bagaimanapun juga, ia merasa tidak tega untuk mengakui apa yang ada di dalam pikirannya tadi. Namun, tidak ada salahnya jika ia bersikap jujur. Mungkin dengan begitu, Edgar akan sedikit berpikir dan tidak mengganggunya terus-menerus.


"Aku lupa pastinya, tapi ... seingatku tidak terlalu lama," jawab Arumi dengan nada bicara yang biasa ia gunakan, jika sedang berbicara dengan Edgar.


"Apa hubungan kita tidak meninggalkan kesan apapun bagimu?" Edgar terlihat sedikit kecewa dengan ucapan Arumi.


Arumi dapat melihat rona kecewa pada wajah rupawan itu. Akan tetapi, ia harus mengesampingkan rasa tidak enak di dalam hatinya, dan memilih untuk bersikap tidak peduli.


"Ya, tentu saja. Kita banyak bersenang-senang. Aku juga menikmati hari-hariku di Paris saat itu ...." Arumi terdiam untuk sejenak. Ia tertegun melihat dua orang yang baru saja datang, dan duduk di salah satu meja yang letaknya tidak jauh dari meja tempatnya saat ini.


Tatapan Arumi tidak teralihkan darinya. Pria itu, pria yang sejak tadi membuatnya abai terhadap Edgar yang jelas-jelas ada di hadapannya. Pria yang telah mengempaskan hatinya ke jurang kepedihan yang teramat dalam.


Hati Arumi semakin sakit ketika ia melihat gadis yang duduk di hadapan pria yang tiada lain adalah Moedya, dan gadis yang duduk di hadapannya adalah Diana.


Edgar terdiam. Ia lalu mengikuti arah pandangan Arumi. Seketika pria itu menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Mereka tampak serasi, bukan?" Ucap Edgar seraya kembali mengalihkan tatapannya kepada Arumi.