Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Back Home, Back to The Identity


Lemas. Arumi terduduk pada undakan anak tangga menuju teras tokonya. Ditatapnya langit malam yang gelap. Langit itu terlihat begitu kesepian, tanpa bulan ataupun bintang yang menemaninya.


Tidak berselang lama, tetes-tetes air hujan mulai jatuh. Semakin lama, air hujan itu semakin deras turun ke bumi. Sedangkan Arumi masih duduk pada undakan anak tangga itu. Ia tersenyum tipis. Setidaknya, malam ini ia akan ditemani oleh suara derasnya air hujan.


Udara malam terasa semakin dingin, ditambah dengan derasnya hujan yang turun. Arumi kemudian teringat pada ucapan Ryanthi.


Jika kamu merasa kesepian, maka dengarkanlah irama dari gemericik air yang jatuh! Ada senandung yang indah dalam setiap deraiannya, yang akan dapat menenangkan hatimu yang sedang gelisah.


Jika kamu merasa bosan, maka keluarlah dan rasakan hembusan angin! Ia akan membawamu terbang. Ia juga akan membuatmu menyadari, jika tidak ada hal yang terlalu berat yang dapat ia angkat dan ia hempaskan. Sebesar apapun benda itu, angin akan jauh lebih kuat dan berkuasa.


Itulah alam. Tidak ada satupun dari dirinya yang tidak memiliki makna dan kecantikan yang luar biasa. Ia akan selalu membuat kita tidak dapat berhenti untuk selalu mengaguminya.


Arumi terus termenung sendirian di sana. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini? Apakah ia akan selalu berdiam diri dan meratapi hatinya yang dipenuhi kabut pekat? Apakah ia tidak akan berusaha untuk melepaskan dirinya dari jeruji yang telah membuatnya terpenjara selama tiga tahun ini? Betapa ia telah menyiksa dirinya sendiri.


Arumi telah menyadari makna kehidupannya sedikit demi sedikit. Sudah terlalu banyak hal yang ia lewatkan. Ia terus menunggu pelangi, sementara ia tidak pernah menatap langit.


Ya, inilah saatnya bagi Arumi untuk kembali pada kehidupan. Inilah waktunya untuk kembali menjadi Arumi yang dulu, yang ceria dan penuh dengan semangat.


Sejujurnya, Arumi tidaklah menyukai dirinya yang sekarang. Ia merasa sudah cukup dengan melakukan renungan selama tiga tahun dengan hidup menyendiri dan mengasingkan senyuman dari paras cantiknya.


Lalu, apa yang akan ia lakukan untuk mengawali semuanya? Jawabannya ada pada sore itu, keesokan harinya.


Edgar mengernyitkan keningnya ketika melihat Arumi sudah siap menunggunya dengan sebuah tas jinjing yang cukup besar di dekatnya. Gadis itu berdiri dengan gayanya yang terlihat sangat tenang. Sebuah senyuman pun ia layangkan kepada pria itu.


"Are you okay?" Tanya Edgar dengan ekspresi wajahnya yang dipenuhi rasa heran.


"Of course!" Sahut Arumi dengan penuh semangat. "Tolong bawakan tasku!" Tunjuknya kepada Edgar. Ia kemudian berjalan menuruni undakan anak tangga. Sesaat kemudian, Arumi kembali berbalik. "Hati-hati! Tasnya berat ...." ujar Arumi seraya meringis melihat Edgar yang agak kesulitan mengangkat tas itu.


"No problem, Arum. I can do it. Aku sudah biasa olahraga angkat beban," sahut Edgar dengan kalemnya. Setelah itu, ia kemudian mengikuti langkah Arumi.


"Apa kamu membawa pulang batu bata di dalam tas ini?" Celetuk Edgar sambil berjalan menuju ke belakang mobilnya.


"Aku memasukan semua masalah dan beban hodupku selama tiga tahun di dalam tas itu," sahut Arumi dengan seenaknya dan seketika membuat Edgar tergelak.


"Aku merasa jika aku terlalu tampan untuk menjadi asisten pribadimu?" Canda Edgar setelah meletakan tas itu di dalam bagasi mobilnya. Ia kemudian membukakan pintu untuk Arumi


"Thank you, Ed!" Arumi masuk ke mobil dan duduk dengan tenangnya. Tidak lupa, ia memasang sabuk pengaman.


"Sepertinya ada yang berbeda hari ini. Kenapa aku mencium ada aroma keceriaan di sini?" Tanya Edgar setelah ia selesai memasang sabuk pengamannya. Seperti biasanya, ia selalu memberikan tatapan lembutnya untuk Arumi.


Arumi menoleh kepada pria tampan di sebelahnya. Pria yang masih menatapnya dengan sejuta godaan yang tidak dapat dibantahkan lagi. Arumi kemudian tersenyum simpul.


Arumi menoleh dengan sedikit senyuman di wajah cantiknya. "Aku hanya merasa bosan untuk berpura-pura," ujarnya. "Aku lelah untuk menjadi seseorang yang bukan diriku," lanjut gadis itu seraya kembali mengalihkan tatapannya ke depan. Sedangkan Edgar masih menatap lekat Arumi, meskipun kedua tangannya sudah ia letakan di atas kemudi.


"Are you sure, Beib?" Tanya Edgar.


Arumi menoleh. Ia kembali menatap Edgar untuk sesaat. "Ya," jawabnya pelan namun terdengar penuh dengan keyakinan.


Edgar tersenyum lembut mendengar hal itu. Sesaat kemudian, ia segera menyalakan mesin mobilnya. Akhirnya, mobil sedan hitam itupun melaju dengan tenangnya meninggalkan area parkir toko.


Edgar kembali membawakan tas milik Arumi saat mereka berdua berjalan memasuki rumah megah itu. Di dalam, mereka langsung disambut oleh Puspa yang saat itu tengah bermain dengan Dinan dan juga bayi kecilnya, Jenna.


Lirikan nakal Puspa mulai menggoda Arumi ketika ia melihat Edgar datang bersama sang adik ipar. Sedangkan Arumi tidak menggubris lirikan nakal dari kakak iparnya itu. Ia lebih tertarik untuk manggoda keponakannya.


"Hai, Dinan," sapa Arumi dengan hangat. Bocah kecil yang tengah asik bermain di lantai itu menoleh seraya menjulurkan lidahnya kepada Arumi. Hal itu membuat Edgar seketika tergelak.


"Dinan! Jangan seperti itu!" Sergah Puspa. Matanya melotot kepada putra sulungnya. Akan tetapi, Dinan tidak memedulikannya sama sekali. Anak itu kembali fokus pada aktivitasnya. Dengan gemas, Arumi mencubit pipi tembem keponakan kecilnya.


"Aunty! You're so mean!" Protes Dinan seraya mendelik kepada Arumi yang hanya tertawa sambil menjulurkan lidahnya. Arumi memang senang sekali menggoda anak itu, bahkan tak jarang hingga Dinan sampai menangis.


Tidak berselang lama, terdengar suara mobil Keanu yang telah memasuki halaman. Puspa segera berdiri. Ia harus menyambut sang suami yang baru pulang dari kesibukannya.


"Arum, titip Jenna sebentar!" Pesan Puspa. Ia kemudian beranjak menuju pintu keluar.


Sepeninggal Puspa, Arumi kemudian mendekati Jenna yang sedang tertidur pulas di kasur kecilnya. Arumi memperhatikan bayi mungil itu dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa takjub. Ada rasa haru dalam hatinya.


"Dia sangat lucu," ujar Edgar. Ia ikut memperhatikan bayi yang sedang tertidur pulas itu. "Apakah kamu tidak tertarik untuk memilikinya juga?" Goda pria itu lagi seraya melirik Arumi yang seketika melotot kepadanya.


Arumi tidak sempat menjawab pertanyaan dari Edgar, karena saat itu Keanu dan Puspa telah hadir di ruangan itu.


"Hai, Ed. How are you?" Sapa Keanu. Ia menyalami Edgar yang segera berdiri dan menyambutnya dengan hangat.


"I'm fine, thank you. Sibuk sekali, ya?" Edgar mulai berbasa-basi. Ia lalu mengikuti Keanu menuju ruang tamu dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Tidak juga," jawab Keanu. "Hanya ada sedikit urusan," lanjutnya. Keanu tersenyum dan menyambut Dinan yang datang menghampirinya. Anak itu kemudian duduk di atas pangkuannya.


"Sejak kapan kamu ada di Indonesia?" Tanya Keanu. Ia mulai mengajak Edgar untuk berbincang santai.


"Baru sekitar beberapa hari. Ada proyek baru yang sedang kuurus. Jadi, aku akan tinggal sedikit lebih lama di sini," terang Edgar.


Keanu manggut-manggut. "Bagaimana pekerjaanmu di Perancis? Aku melihat profilmu di salah satu media online kemarin. Ulasan mereka tentang dirimu sangat bagus," sanjung Keanu. Sesekali ia mengusap-usap rambut putra sulungnya, yang masih asyik duduk di atas pangkuannya.


Edgar tersenyum lebar. Pria itu memang sangat supel. Ia murah senyum dan juga terlihat sangat friendly. Mungkin karena itulah, ia dapat memikat banyak wanita dalam hidupnya. Tentu saja, selain karena alasan materi yang berlimpah. Edgar memang sebuah paket komplit yang luar biasa.


"Mereka terlalu berlebihan," sahut Edgar. "Kapan kalian ada rencana akan ke Eropa?" Tanya pria dengan senyum menawan itu.


Keanu menghela napas dalam-dalam. Ia lalu melirik Dinan yang saat itu bergelayut manja kepadanya. "Entahlah. Kami juga belum sempat mengunjungi makam ayah," jawab Keanu. Ia kemudian melihat ke arah Arumi yang duduk tidak jauh dari ruang tamu itu. Gadis itu sedang menunggui Jenna yang baru bangun.


"Kamu tahu sendiri bukan, selama tiga tahun ini Arumi bersikap aneh," ucap Keanu lagi dengan setengah berbisik.


Edgar kemudian mengalihkan tatapannya kepada Arumi untuk sesaat. Setelah itu, tatapannya kembali tertuju kepada Keanu. "Aku rasa, sebentar lagi dia akan mulai kembali pada dirinya. Aku melihat hal yang berbeda darinya sore ini," terang Edgar.


Belum sempat Keanu menjawab, tiba-tiba Dinan menyela obrolan kedua pria keturunan Perancis itu. "Daddy, aku punya mainan baru," ucap anak itu seraya menunjukan sebuah mainan yang berupa seekor tikus hitam kepada Keanu. "His name is Edgar," lanjut Dinan membuat Keanu dan Edgar sama-sama tercengang.


"Dinan, kenapa namanya Edgar?" Tanya Keanu dengan rasa tidak enak kepada Edgar.


"Tante Arum yang memberinya nama," jawab Dinan dengan polosnya.