
Dua bulan telah berlalu. Edgar telah berada di Indonesia. Ia juga mengajak Carmen bersamanya.
Ini adalah pertama kalinya bagi wanita paruh baya itu mengunjungi Indonesia. Ia begitu terkesan dengan keramahan warga pribumi.
Arumi menunjukkan kartu undangan yang sudah rampung dicetak dan siap untuk disebar. Rencananya, hari ini ia dan Edgar akan melakukan fitting baju pengantin. Arumi juga mengatakan, jika ia akan memberikan kartu undangan kepada Ranum. Edgar merasa tidak ada masalah dengan hal itu. Ia juga menemani Arumi ke sana dengan senang hati.
Mobil sedan hitam milik Edgar telah memasuki halaman rumah milik Ranum. Sebelum keluar dari dalam mobil, Arumi terdiam untuk sejenak. Ia seakan tengah menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Dari semenjak kejadian memalukan saat pesta pertunangan Moedya dan Diana waktu itu, Arumi belum sempat lagi menemui Ranum. Niatnya untuk meminta maaf atas kekacauan yang sudah dilakukannya, selalu saja tertunda. Apalagi, ia juga mulai disibukan dengan urusan asmaranya bersama Edgar.
“Kamu tidak akan turun, Babe?” tanya Edgar yang heran melihat sikap Arumi.
Arumi menoleh dan terlihat sedikit tegang. “Aku malu bertemu dengan ibu Ranum, Ed,” jawab Arumi pelan. Ada setitik rasa sesal di dalam sorot matanya.
Edgar menyentuh wajah cantik Arumi dan mengelusnya dengan lembut, sebelum akhirnya ia menenangkan gadis itu dengan ciuman hangatnya. “Karena itu aku menemanimu kemari,” ujar pria bermata abu-abu itu. “Tentu saja selain karena aku tidak ingin kamu bertemu dengan Moedya,” lanjutnya seraya keluar dan membukakan pintu untuk Arumi.
Arumi tersenyum kecil. Rupanya Edgar masih saja merasa ketakutan dengan Moedya. Ia tidak tahu jika Arumi sudah tidak berminat lagi, dengan pria tidak berpendirian seperti mantan tunangannya itu.
Saling bergandengan tangan, Edgar dan Arumi melangkah ke arah pintu masuk rumah tiga lantai itu. Seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka. Ia sudah mengenal Arumi dengan baik. Karena itu ia segera memersilakan mereka untuk masuk.
“Nyonya kemarin baru periksa dari dokter. Beliau sakit lagi,” ucap wanita bertubuh agak gemuk itu.
“Sakit apa?” Arumi terlihat sangat cemas.
“Biasa, Non. Seperti kemarin-kemarin,” jawab wanita itu lagi. “Sebentar saya beritahukan kepada nyonya dulu kalau ada Non Arum ke sini,” ucapnya seraya berlalu ke arah kamar Ranum. Sementara Arumi dan Edgar menunggu di ruang tamu.
Selang beberapa saat, munculah Ranum di ruangan itu. Wajahnya tampak sedikit pucat. Ia juga terlihat lemas. Ranum tertegun menatap Arumi bersama Edgar di sana. Sementara Arumi tak kuasa menahan air matanya.
Segera dihampirinya wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya. Arumi memeluk wanita itu dengan erat.
Ranum membalas pelukan Arumi dengan hangat. Air matanya mulai mengalir. Rasa haru itu tak dapat mereka sembunyikan lagi. Bagaimanapun juga, perasaan yang sudah Ranum berikan kepada Arumi sangatlah besar dan tulus. Terlepas dari kagagalan Arumi untuk menjadi menantunya, itu sudah tidak menjadi masalah yang berarti lagi bagi dirinya.
“Ke mana saja, Arum? Kenapa kamu menghilang dan tidak peduli lagi pada ibumu ini?”
Arumi melepaskan pelukannya dengan perlahan. Namun, kedua tangannya masih berada di lengan Ranum. “Maafkan aku, Ibu. Aku terlalu malu untuk menemuimu,” isak Arumi pelan.
Ranum mengernyitkan keningnya. Ia kemudian menyentuh wajah cantik Arumi yang sudah sekian lama tidak ia temui. “Kenapa kamu bicara seperti itu, Nak? Kenapa kamu harus merasa malu menemui ibumu sendiri?”
“Jangan bicara seperti itu, Arum! Aku adalah ibumu, dan kamu adalah putriku!” tegas Ranum. Sesaat kemudian, tatapannya beralih kepada Edgar. Pria itu mengangguk sopan kepada Ranum.
“Apa kamu tidak ingin memperkenalkannya kepada Ibu?” Ranum melirik Arumi yang saat itu tengah mengusap air matanya. Arumi tersipu malu. Ia kemudian berdiri di dekat Edgar dan menggandeng lengannya dengan mesra.
“Ibu, ini Edgar Hillaire. Dia adalah calon suamiku. Kami kemari untuk memberikan kartu undangan dan tentu saja untuk meminta restu dari Ibu. Bagaimanapun juga, kami sangat mengharapkan doa terbaik dari seorang ibu yang luar biasa seperti dirimu,” terang Arumi dengan perasaan haru bercampur bahagia.
Arumi menoleh kepada Edgar yang saat itu tengah menatapnya juga. Edgar tersenyum lembut dan mengangguk pelan.
Ranum terseyum lebar mendengar hal itu. Meskipun ia sangat berharap agar Arumi dapat menjadi menantunya, tapi karena kenyataan berkata lain maka Ranum harus dapat menerima hal itu. Lagi, ia memeluk Arumi dengan penuh haru.
“Selamat, Arum! Ibu sangat bahagia mendengar hal ini. Jujur jika Ibu merasa bersyukur karena akhirnya kamu bisa menemukan seseorang yang benar-benar cocok untukmu,” ucap Ranum dengan tulus. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Edgar. “Apa dia bisa bicara Bahasa Indonesia, Arum?” bisik Ranum membuat Arumi tertawa geli. Begitu juga dengan Edgar.
“Bisa, Nyonya,” jawab Edgar membuat Ranum tercengang.
Arumi tertawa pelan. “Ed menguasai tiga bahasa, Bu. Aku rasa mungkin sebentar lagi dia akan belajar bahasa yang lain,” ujar Arumi seraya melirik Edgar dengan tatapan mesranya. Sementara Edgar, lagi-lagi ia hanya tersenyum kalem saat menanggapi ucapan Arumi.
“Arumi terlalu berlebihan, Nyonya,” ucap Edgar seraya mengalihkan pandangannya kepada Ranum. Senyuman ramah yang selalu menjadi ciri khasnya, terlihat dengan jelas ia persembahkan kepada Ranum. Meskipun Edgar tidak pernah menyukai Moedya, tetapi ia sangat menghargai seorang ibu.
Ranum tersenyum. Ia dapat merasakan jika pria yang dipilih Arumi adalah pria yang baik. Senyum itu lama-kelamaan menjadi sebuah keharuan yang dalam. Ranum kemudian menyeka sudut matanya. “Tolong jaga Arumi! Mendiang nyonya Ryanthi menitipkan Arumi kepada Ibu, tapi Ibu tidak mampu menjaganya dengan baik,” ucap Ranum dengan penuh haru.
Mendengar kata-kata Ranum dengan nada bicara yang terdengar sangat menyentuh, Arumi kembali menghambur ke dalam pelukan wanita itu. Sementara Edgar hanya terdiam memerhatikan adegan tidak biasa yang ada di hadapannya.
Edgar baru mengetahui seberapa dekat hubungan antara Arumi dengan ibunda Moedya. Ia kini mengerti, kenapa sangat sulit bagi Arumi untuk dapat melepaskan dirinya dari Moedya.
Pandangan Edgar tiba-tiba tertuju pada seseorang yang baru saja muncul di rumah itu. Seorang pria yang berdiri dan menatap mereka dari kejauhan dengan raut wajah yang cukup datar.
Edgar kemudian menyentuh pundak Arumi. Gadis itu lalu melepaskan pelukannya dari Ranum, dan kembali menyeka air matanya.
"Berikan kartu undangannya, Babe!" suruh Edgar dengan senyuman puas di wajahnya. Ia sepertinya sengaja melakukan hal itu di depan Moedya, untuk membuat Moedya cemburu kepada dirinya.