
“Ben?” Arumi mengernyitkan keningnya. Ia tidak menyangka dapat bertemu lagi dengan pria itu di sana. Ini sesuatu yang sangat kebetulan.
Ben menyunggingkan senyuman kalemnya. Seperti biasa ia terlihat tenang dan sedikit datar. Tatapan matanya pun jauh lebih tajam, jika dibandingkan dengan tatapan Edgar ataupun Moedya. “Yes, Arumi. It’s me ... again,” ucap pria itu dengan sikap ramah ala dirinya.
Arumi tersenyum aneh. Ia merasa jika ada banyak sekali kebetulan dalam pertemuannya dengan Ben. Seakan-akan, itu adalah sesuatu yang telah dirancang sebelumnya. “Apakah ini suatu kebetulan?” Gumam Arumi seperti pada dirinya sendiri.
“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Arumi. Semua hal sudah merupakan jalan dari Tuhan. Percaya atau tidak, tapi ... Tuhan yang telah mentakdirkan kita untuk dapat bertemu kembali di sini,” ujar Ben. Ucapannya telah mengingatkan Arumi pada kata-kata yang pernah diucapkan oleh Moedya beberapa waktu yang lalu.
Arumi tersenyum seraya manggut-manggut. Ia merasa canggung dan bingung harus berkata apa. “Aku tersesat kemari,” ucap gadis itu masih dengan senyuman manis yang memerlihatkan sepasang lesung pipit di pipinya.
“Kau tersesat ke tempat yang tepat, Nona Cantik,” balas Ben. Ia mencoba untuk mencairkan rasa kikuk di antara mereka berdua.
Arumi membelalakan kedua matanya. Ia paham dengan maksud dari ucapan Ben. “Jadi ... ini kedai sederhana yang kamu katakan padaku?” Tanya Arumi dengaj ekspresi wajah tidak percaya. Terlebih karena yang ia masuki bukanlah sebuah kedai pinggir jalan yang biasa saja.
Tempat yang ia masuki saat itu adalah sebuah restaurant yang terbilang mewah dengan interior yang sangat indah dan nyaman. “Kedai sederhana-mu sangat luar biasa,” gumam Arumi pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Ben.
Pria dengan tampilan casual itu hanya tertawa pelan. Sesaat kemudian ia segera mengajak Arumi untuk duduk di salah satu meja yang tadi menjadi pilihan Arumi. Sedangkan Arumi sendiri masih terus mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan itu. Sepasang matanya terus menyapu setiap hal yang ia anggap sangat menarik di tempat itu.
“Jadi, kapan kau tiba di sini, Arumi?” Tanya Ben. Pandangannya masih terus ia layangkan kepada gadis cantik yang tengah duduk di hadapannya.
“Aku tiba di Perancis kemarin, sekitar dua hari yang lalu dan baru mampir kemari hari ini. Ya, sebenarnya aku baru tiba hari ini di sini. Aku baru kembali dari mengunjungi makam orang tuaku,” terang Arumi. Rasa canggungnya perlahan memudar. Gadis itu kini terlihat jauh lebih rileks dari sebelumnya.
Ben masih menatap Arumi dengan lekat. Ada kekaguman dalam sorot matanya. Tentu saja, Arumi adalah gadis yang sangat cantik. Pria manapun yang mnatapnya pasti akan terpikat olehnya, meskipun itu hanya sekadar mengagumi.
“Apa kau akan lama berada di sini, Arumi?” Tanya Ben lagi.
“Aku rasa tidak. Aku masih punya kesibukan lain di Indonesia,” jawab Arumi. Ia terdiam karena saat itu ia merasakan ponselnya bergetar. Arumi segera memeriksanya.
Edgar kembali menghubunginya. Arumi tertegun untuk sejenak. “Maaf, Ben. Aku permisi sebentar,” ucap Arumi seraya berlalu dari hadapan Ben. Ia harus segera menjawab panggilan itu. Setelah agak menjauh dari Ben, Arumi kemudian menjawab panggilan telepon dari Edgar.
“Ed ....” sapanya pelan.
“Where are you?” Terdengar suara maskulin Edgar dari seberang sana. Ada sedikit kecemasan dalam nada pertanyaannya.
Arumi tidak langsung menjawab. Gadis itu mengeluh pelan. Dalam satu hari ini, Edgar sudah menghubunginya sebanyak dua kali. Arumi menjadi sangat heran. Edgar terkesan mengkhawatirkannya secara berlebihan.
“Kamu melacak ponselku, dan aku tidak mungkin bisa berbohong lagi padamu. Aku tidak sedang di rumah,” sahut Arumi dengan malas. Arumi adalah tipa gadis yang tidak menyukai sebuah aturan yang terlalu mengekangnya. Ia tidak menyukai sesuatu yang bersifat posesif.
Terdengar helaan napas berat Edgar di ujung telepon. Pria itu seperti tengah menyesalkan sesuatu yang bahkan tidak Arumi mengerti. Akan tetapi, gadis berambut panjang itu mencoba untuk dapat memahami semua kekhawatiran yang dirasakan oleh sang kekasih.
“Um ... begini ... Ed. Aku baru kembali dari makam orang tuaku. Sekarang aku tersesat di restaurant sea food, tapi ....” Arumi kemudian menoleh kepada Ben yang saat itu tengah menatap ke arahnya. Segera, Arumi mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ada rasa tidak enak dalam hatinya.
“Aku akan pulang sekarang,” ucap gadis itu pelan.
“No. problem, Ed! Aku senang karena kamu sangat perhatian padaku,” ujar Arumi basa-basi. Meskipun di dalam hati ia merasa risih.
“Kembalilah ke Paris, Arum! Lebih baik jika kamu berada di sini, di tempatku,” pinta Edgar.
“Kita bicara lagi nanti jika aku sudah di rumah,” ujar Arumi lagi. Ia merasa tidak enak kepada Ben yang masih menunggunya dan terus memerhatikannya sejak tadi.
“Okay, babe! Cepatlah pulang! I love you dan beri aku satu ciuman,” Edgar tertawa pelan, sebelum kemudian mengakhiri obrolan mereka berdua. Ia tahu jika Arumi tidak akan memberikan apa yang ia minta.
Sementara itu, Arumi segera kembali ke meja di mana Ben tengah menunggunya. Arumi kemudian duduk di hadapan pria itu dengan anggunnya.
“Apa itu telepon dari pacarmu?” Selidik Ben dengan raut sedikit kecewa.
Arumi mengangguk pelan. “Maafkan aku, Ben, Aku harus segera pulang,” ucap Arumi seraya merapikan rambut panjangnya. Sementara Ben masih terus menatapnya dengan sorot mata yang sangat aneh.
"Pacarmu sepertinya cukup posesif, Arumi. Apa kau tidak risih dengan sikapnya yang seperti itu?" Pancing Ben.
Arumi menggeleng pelan. Ia tidak harus membahas masalah pribadinya dengan seorang pria yang baru ia kenal. "Dia sangat baik dan perhatian padaku," Arumi mulai memuji Edgar, meskipun sebenarnya ia memang sedikit risih dengan sikap dari pria itu.
"Sayang sekali jika kau tidak mencicipi dulu menu andalan di sini,” sesal Ben. Ia seakan tengah menahan Arumi agar tidak pergi secepat itu.
Arumi tersenyum kecil. Ia dapat memahami maksud dari pria dengan tampilan casual itu. Akan tetapi, ia tidak ingin membuat masalah dengan Edgar, terlebih mereka baru saja memulai ssebuah hubungan.
“Maybe next time, Ben. Aku masih memiliki waktu beberapa hari di sin,” ujar Arumi. Ia tidak ingin membuat Ben merasa semakin kecewa. Arumi kemudian beranjak dari duduknya dan diikuti oleh pria yang terlihat sangat nyaman dengan celana chino pendeknya itu.
“Kau harus berjanji untuk mampir kembali kemari, Arumi!” Ujar Ben diselingi senyuman khasnya. Meski agak kecewa, tetapi ia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
Arumi membalasnya dengan sebuah senyuman. Ia tidak ingin berjanji atau apapun, karena ia takut tidak dapat menepatinya. “Aku usahakan, Ben,” jawab gadis itu seraya menatap keluar restaurant. Raut cemas kembali menghinggapi wajah cantiknya. Ia berharap semoga ketakutannya tadi tidaklah nyata.
Ben dapat melihat kecemasan di wajah Arumi. Pria itu terlihat penasaran. “There’s something wrong, Arumi?” Tanyanya.
Arumi terlihat kikuk. Ia kembali tersenyum dan menggeleng pelan. “Nothing,” jawabnya ragu. “Aku permisi dulu. Jika ada waktu aku pasti mampir lagi kemari. Aku akan mengajakku sepupu-ku juga,” ujar Arumi. Akan tetapi Ben tidak terlihat begitu senang. Pria itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan.
Sesaat kemudian, Ben pun mengantar Arumi hingga ke luar restaurant. “Sebenarnya aku jarang berada di sini, Arumi. Jadi, jika kau melihatku ada di restaurant ini ... maka itu artinya kau sedang beruntung,” gurau Ben membuat Arumi kembali tersenyum. “Aku harap kamu tersesat lagi kemari,” ujar Ben lagi.
Untuk sesaat Arumi menoleh kepada pria itu. Ben memiliki kontur wajah yang sangat tegas dengan mata abu-abunya yang indah. Meski ia tidak setampan Edgar, tapi ia termasuk ke dalam jajaran pria seksi yang menarik.
Sementara Ben tidak melepaskan pandangannya sejak tadi dari wajah cantik itu.