
Arumi mendelik tajam kepada Edgar yang saat itu terlihat begitu puas. Rasa kesal dalam hatinya kian menjadi. Edgar seakan merasa menang atas diri Arumi.
Arumi kemudian mengalihkan pandangannya dari Moedya dan Diana yang tampak tengah berbincang serius. Pria itu tidak menyadari jika Arumi dan Edgar pun ada di tempat itu.
Sementara Edgar terus menatap Arumi. Gadis itu kini terlihat begitu kacau dan gelisah. Ia bahkan bermaksud untuk pergi dari sana. Namun, dengan segera Edgar mencegahnya.
"Duduk, Arum!" Titah Edgar dengan nada bicara yang tidak biasa. Sorot matanya juga tampak jauh lebih tegas.
"Tidak! Aku ingin pulang!" Tolak Arumi seraya meraih tasnya.
"Aku bilang duduk!" Sekali lagi Edgar berbicara dengan nada tegasnya. Sementara Arumi hanya menatapnya dengan tajam.
"Aku bilang ... aku ingin pulang!" Arumi tetap membantah dengan tak kalah tegas.
"Duduk dan habiskan espresso-mu! Bersikaplah yang wajar dan tunjukan jika kamu tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka!" Ujar Edgar dengan nada bicara yang jauh lebih lunak dari sebelumnya.
Arumi terdiam. Ia masih menatap Edgar yang saat itu terlihat sangat tenang. Edgar kembali memberi isyarat agar Arumi segera duduk.
Tidak karuan perasaan Arumi saat itu. Akan tetapi, ia mulai memahami maksud Edgar. Arumi kemudian mencoba untuk menenangkan dirinya. Diraihnya cangkir berisi espresso pesanannya tadi. Arumi kembali meneguknya beberapa kali.
"Tenangkan dirimu, Arum!" Ujar Edgar dengan setengah berbisik. "Berpura-puralah tidak melihat mereka!" Lanjut pria itu lagi.
"I cant't, Ed. Aku tidak bisa melakukan hal itu," bantah Arumi pelan.
"Jika pacar berandalan-mu saja bisa, lalu kenapa kamu tidak?" Sanggah Edgar dengan sedikit jengkel akan sikap keras kepala Arumi, yang sulit untuk diajak bekerja sama.
"Kenapa aku harus melakukan hal tidak penting seperti ini?" Bantah Arumi lagi.
Edgar kembali menyandarkan tubuhnya. Sikap tenang yang ditunjukan Edgar, berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukan oleh Arumi yang tampak gelisah. "Let's play, Beib!" Ujar Edgar dengan senyum khasnya.
Arumi pada akhirnya menurut saja. Ia lalu mengela napasnya dan mengempaskannya perlahan. Arumi kemudian membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia juga mulai menenangkan dirinya, dengan kembali meneguk espresso-nya.
"Apa yang terjadi? Hubungan kalian telah lama berakhir, sangat lama. Lalu, kenapa kamu masih terlihat kacau seperti itu?" Edgar tampak sangat penasaran. "Ya Tuhan! Cintamu terlalu besar untuk berandalan itu, Arum!" Lanjut Edgar dengan jengkel.
"Kamu sudah mengetahuinya. Kenapa masih bertanya?" Sahut Arumi tak acuh.
Edgar mengempaskan sebuah keluhan pendek. Rona kalem pada wajah tampannya mulai sedikit terusik, tetapi Edgar adalah tipe pria yang mampu mengendalikan dirinya. Ia dengan sangat lihai menyembunyikan perasaan itu.
"Kenapa, Arum? Lihatlah di sana! Mantan kekasihmu sedang bersama kekasihnya yang baru. Apa lagi yang kamu harapkan dari pria itu?" Protes Edgar. "Kamu adalah gadis yang pintar dan selalu berpikir rasional! Kenapa sekarang semua pemikiranmu menjadi berubah total? Kamu terlihat sangat ... oh, aku tidak tega mengatakannya kepadamu!" Keluh Edgar dengan sikap yang ditunjukan oleh Arumi.
Arumi tidak segera menjawab. Terkadang gadis itu berpikir bahwa ia memang terlihat sangat konyol. Akan tetapi, kenyataannya ia tidak mampu untuk melawan rasa itu. Rasa yang besar, yang masih tersisa dari hubungan percintaannya bersama Moedya.
Harapan yang sempat datang seperti sebuah udara baru baginya, tiba-tiba harus kambali sirna. Ciuman dan sikap Moedya, sejujurnya telah memunculkan kembali sesuatu yang sekian lama Arumi simpan rapat-rapat.
Edgar menunjukan rona tidak suka dengan ucapan Arumi. Edgar sangat pintar. Ia dapat menebak le mana arah pembicaraan gadis itu.
"Jangan katakan jika dia kembali untuk menggoda dan memberimu harapan lagi!" Sergah Edgar. Nada bicaranya terkesan tegas tapi pelan.
Arumi tidak menjawab. Sepasang matanya yang indah terlihat menyiratkan sesuatu, sebuah jawaban yang tidak terucap.
Edgar dapat melihat hal itu dengan sangat jelas. Rasa hati ingin mengeluarkan segala unek-uneknya terhadap Arumi, tetapi terus ia tahan.
"Apakah kalian masih sering bertemu?" Selidik Edgar dengan ekspresi wajahnya yang mulai terlihat dingin.
Arumi menggeleng pelan. Sesaat kemudian, ia tampak berpikir. "Tidak ... maksudku ... kami bertemu kemarin ...." Arumi terdiam dan kembali berpikir seraya menatap pria yang ada di hadapannya. Ia pun mengernyitkan keningnya.
"Kenapa aku harus memberikan penjelasan kepadamu? Aku tidak harus merasa bersalah untuk apapun yang kulakukan, dan kamu tidak harus ikut campur dalam hidupku. Dalam hal apapun itu!" Sergah Arumi.
Edgar seketika tersenyum simpul. Wajah tegangnya mulai sedikit terlihat tenang kembali. "Aku merasa bingung dengan semua ini, Arum. Aku sangat kebingungan," keluh pria tiga puluh tahun itu.
"Aku tidak menyalahkanmu atas perasaan yang terlalu besar kepada berandalan itu. Aku juga merasakan hal yang sama terhadapmu," ujar Edgar. Ia sepertinya merasa kesulitan untuk memilih kata-kata yang paling tepat, yang dapat ia gunakan untuk memberikan suatu penjelasan kepada Arumi.
Edgar merapatkan kedua telapak tangannya dalam posisi berdiri. Ia lalu menempelkan itu pada mulutnya, dan menjadikan kedua ibu jarinya sebagai penopang dagunya. Edgar terlihat berpikir.
"Bagaimana, apa yang kamu rasakan? Apakah terasa menyakitkan atau justru kamu menikmati kebodohan yang telah kamu pelihara selama bertahun-tahun?"
Arumi masih terus menatap pria dengan sorot matanya yang dalam itu. Ada makna yang harus ia artikan dalam ucapan Edgar barusan. Ia tahu dan benar-benar sadar jika dirinya telah melakukan hal yang sia-sia.
"Ada sebuah harapan yang kembali, Ed. Aku merasa dapat bernapas lagi dengan normal. Akan tetapi, dengan segera aku harus kembali terempas dengan sangat kencang, bahkan jauh lebih kencang dari sebelumnya," ujar Arumi dengan mata menerawang pada suasana sore yang mulai menyelimuti kota.
"Luka yang sudah kurekatkan dengan susah payah, akhirnya kembali menganga dan mendatangkan rasa sakit lagi untukku," ucap Arumi lagi dengan lirih.
Edgar hanya terdiam. Ia merasa malas untuk menanggapi ucapan Arumi. Akhirnya mereka berdua sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Edgar kembali meneguk espresso-nya. Pria itu lalu berdiri. "Ayo, kita pulang!" Ajaknya.
Arumi terheran-heran dengan sikap yang ditunjukan Edgar. Namun, akhirnya ia pun ikut berdiri.
Moedya yang saat itu tengah berbicara serius dengan Diana, tanpa sengaja menoleh ke arah mereka berdua. Ia menatap Arumi yang tengah melangkah pergi bersama Edgar.
Ada perasaan lain di dalam hati kecil Moedya, ketika ia melihat Edgar yang menggenggam tangan Arumi dan menuntun gadis itu pergi dari sana.
Pria berambut gondrong itu kemudian menggaruk keningnya beberapa kali. Ia juga tampak menutupi rasa gelisah yang tiba-tiba menyapanya dan membuatnya hilang konsentrasi.