Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Sebuah Rayuan Es Krim


Arumi telah selesai berpakaian. Ia sudah terlihat cantik dan rapi saat itu. Tujuannya kali ini ialah ruang kerja sang kakak. Kebetulan sekali, karena Edgar pun sedang berada di sana. Arumi bisa langsung melayangkan protesnya dalam sekali waktu.


Melihat sang istri yang sudah tampil cantik, Edgar tersenyum manis seraya menyambut wanita berambut panjang itu. “Sudah siap untuk pergi, Sayang?” tanyanya masih dengan sikapnya yang terlihat sangat tenang, meskipun ia tahu jika Arumi sebentar lagi pasti akan mengeluarkan kicauannya.


Arumi tersenyum dengan sangat dipaksakan. Jelas sudah, karena ia sedang merasa kesal terhadap sang suami. “Oh iya, Sayang! Siap tidak siap aku harus selalu merasa siap, karena kamulah bosnya mulai saat ini!” sindir Arumi dengan nada ketusnya.


Melihat sikap yang ditunjukan sang istri, Edgar hanya tertawa pelan. Sementara Keanu bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. “Maaf, karena aku tidak ingin terseret dalam urusan rumah tangga orang lain. Jadi, sebaiknya aku permisi dulu,” Keanu melangkah ke arah pintu. Namun, sebelum ia sempat keluar, Arumi telah terlebih dahulu memanggil namanya. Keanu tertegun dan menoleh. “Ada apa, Arum?” tanyanya seraya menatap Arumi dan Edgar secara bergantian. Ia memberi isyarat kepada Edgar, seakan bertanya apa yang terjadi. Sementara Edgar hanya mengulum senyumnya.


“Aku tidak tahu jika kalian berdua sudah melakukan negosiasi di belakangku. Kenapa Kakak harus langsung memberi izin kepada suamiku yang bossy ini?” protes Arumi.


“Izin tentang apa?” Keanu berpura-pura tidak mengerti. Ia berkali-kali melirik Edgar yang saat itu hanya senyum-senyum.


“Ayolah, Kakak! Jangan berpura-pura!” sergah Arumi. “Rupanya Kakak ingin segera mengusirku dari rumah ini!” celoteh Arumi membuat Edgar dan Keanu sama-sama mengulum senyumnya. Kedua pria yang selalu terlihat kalem itu, hanya menundukan wajah mereka.


Melihat sikap mereka berdua, Arumi merasa semakin jengkel. “Kalian berdua ... menyebalkan!” gerutunya.


“Apa masalahnya, Arum?” tanya Keanu setelah ia berhasil mengendalikan dirinya dari rasa geli atas protes keras yang dilayangkan sang adik. “Edgar sudah memberikan penjelasannya kepadaku, dan aku rasa tidak ada salahnya jika kamu langsung berangkat ke Perancis,” Keanu berkilah. Ia masih terus bermain mata dengan adik iparnya.


Mendengar jawaban sang kakak yang dirasa tidak memuaskan, Arumi kemudian mengalihkan tatapanya kepada Edgar. Ia menunggu pria itu untuk mengatakan sesuatu yang lebih dapat ia terima. Sementara Edgar hanya balas menatapnya.


“Tidak ada yang ingin Anda katakan, Tuan Hillaire?” tanya Arumi masih dengan nada dan ekspresi wajahnya yang terlihat jengkel.


“Aku akan menjelaskannya padamu, Sayang. Bagaimana jika sambil berkeliling? Aku sudah terlanjur menyiapkan mobilku pagi ini,” jawab Edgar seraya mengedipkan sebelah matanya.


Arumi mendengus kesal. Ia berlalu begitu saja meninggalkan kedua pria itu. Sementara Keanu dan Edgar hanya terkekeh saat Arumi sudah keluar dari ruangan itu.


Singkat cerita, sepasang pengantin baru itu kini telah berada di jalan. Suasana lalu lintas pada pagi menuju siang itu cukup lengang, mungkin karena saat itu merupakan jam kerja. Edgar pun dapat memacu kendaraannya dengan tanpa gangguan yang terlalu berarti.


Selama di dalam perjalanan, Arumi tidak banyak bicara. Hal itu telah membuat Edgar merasa tertantang untuk sedikit mengganggunya.


Disentuhnya paha sang istri, hingga bagian bawah dress yang dipakai Arumi sedikit tersingkap. Arumi terdiam seraya memerhatikan tangan Edgar yang bergerak nakal di atas pahanya. Arumi juga tidak merespon apa yang dilakukan oleh Edgar, ia hanya mengela napas panjang dan mengembuskannya dengan sedikit kesal.


Edgar meraih tangan kanan Arumi dan menciumnya dengan mesra. “Biar kujelaskan padamu, Sayang,” ucapnya sambil terus mengemudi. Helaan napas berat, terdengar jelas dari bibirnya. “Sebaiknya kita mampir di suatu tempat dulu. Bagaimana menurutmu?” tawar Edgar. Pria itu masih terlihat sangat tenang, bahkan ketika ia harus mengemudi dengan satu tangan.


“Terserah!” jawab Arumi dengan ketus dan tanpa menoleh sama sekali.


Edgar tertawa pelan. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya. Mobil yang dikendarainya pun berbelok ke sebuah pusat perbelanjaan yang terbilang mewah.


Setelah menemukan tempat untuk memarkirkan mobilnya, ia segera keluar dan melepas kaca mata hitamnya. Dengan senyuman hangat, Edgar membukakan pintu untuk sang istri yang tengah merajuk kepadanya.


Arumi tidak tersenyum sama sekali. Wajah cantiknya ditekuk sempurna, bibir tipisnya pun terlihat semakin tipis. Ia bahkan tidak mengucapkan terima kasih ketika Edgar membukakan pintu untuknya.


Arumi berlalu begitu saja, seandainya Edgar tidak menahannya. Dipeganginya pergelangan tangan Arumi, sehingga wanita itu terdiam meskipun tidak memerlihatkan wajahnya. Edgar kemudian mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Jangan sampai aku meciummu di sini! Ingat, Sayang! Kita tidak sedang di Perancis.”


Arumi menoleh. Beberapa saat kemudian, ekspresi wajahnya perlahan berangsur normal. Wanita itu kembali menoleh kepada Edgar dan tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan. Setelah itu, ia melanjutkan langkahnya dan mendahului Edgar.


Sementara Edgar hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan segera mengikuti sang istri. Kembali diraihnya jemari lentik itu dan dituntunnya hingga memasuki area dalam mall tersebut. Edgar bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya ketika mereka sama-sama menaiki eskalator. Sesekali ia memainkan jari telunjuknya pada telapak tangan Arumi, yang berada dalam genggamannya.


Masih terus berjalan berdampingan, mereka berdua menyusuri setiap bagian dari mall tersebut. Entah apa yang tengah mereka cari, tapi akhirnya Edgar membawa Arumi pada sebuah kedai yang menjual es krim. Tanpa bertanya terlebih dahulu, ia memesan dua buah es krim dengan rasa green tea dan mint. Setelah itu, mereka mencari tempat untuk duduk yang dirasa nyaman.


“Jangan merayuku dengan eskrim!” sergah Arumi masih dengan nada bicaranya yang ketus.


“Siapa yang sedang merayumu? Aku hanya ingin mengajakmu bicara sambil makan es krim,” balas Edgar seraya mencicipi es krim yang ia beli tadi. “Mau mencicipi es krim punyaku, Sayang?” tawarnya seraya menyodorkan satu sendok kecil es krimnya ke dekat mulut Arumi.


Arumi menatap Edgar untuk sesaat. Namun, pada akhirnya ia melahap es krim itu. Arumi pun meringis. “Kenapa kamu menyukai es krim rasa mint?” tanya wanita itu dengan heran.


“Kenapa kamu menyukai es krim rasa green tea?” Edgar balik bertanya. Sedangkan Arumi memilih untuk tidak menjawab. Ia kembali melahap es krimnya.


“Ada yang mengatakan jika penyuka es krim rasa mint adalah orang yang perfeksionis dan cenderung menyukai sesuatu yang agak ribet. Entah itu benar atau tidak, tapi aku memang menyukai segala sesuatu yang terlihat sempurna ... seperti dirimu,” Edgar mengakhiri kata-katanya dengan sebuah rayuan untuk Arumi. Wanita itupun menatap Edgar sambil mengulum sendok kecil yang ia pakai untuk menyendok es krimnya. Sesaat kemudian, ia memutar bola matanya demi menanggapi rayuan kadaluarsa dari sang suami.


“Kamu tidak percaya padaku? Ya, kamu tidak harus percaya padaku, tapi dengarkan penjelasanku!” pinta Edgar masih dengan senyum kalemnya.