Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Autumn Dorielle Hillaire


Autumn Dorielle Hillaire, itulah nama bayi kecil berjenis kelamin perempuan yang telah dilahirkan oleh Arumi. Bayi yang kini tertidur lelap dalam gendongan sang ayah, yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Arumi. Semua rasa sakit dan lelahnya, kini telah terbayar dengan sebuah hadiah yang tak ternilai.


Arumi telah berpindah ruangan. Ia menempati kamar inap di paviliun rumah sakit yang lebih dari sekadar nyaman. Carmen yang saat itu sudah berada di sana, merasa sangat bahagia. Cucunya telah lahir ke dunia dan tentunya akan meramaikan rumah megah, yang selama ini selalu sepi.


“Tangan dan kakinya sangat mungil, Bibi,” ucap Edgar. Ia tak henti-hentinya mengagumi anugerah terbesar dalam hidupnya. Ia masih merasa belum percaya jika dirinya kini telah menjadi seorang ayah.


“Dia sangat lucu, Ed. Aku yakin dia pasti akan mewarisi kecantikan ibunya,” ujar Carmen seraya melirik Arumi yang belum turun dari ranjang. Arumi hanya tersenyum saat menanggapi ucapan Carmen.


“Sayang, bolehkah aku menggendongnya?” Arumi merentangkan tangannya. Ia meminta bayi mungil itu untuk diberikan ke dalam dekapannya.


Edgar menoleh kepada Arumi. Ia seakan tidak ingin membagi bayi itu dengan sang istri. Awalnya Edgar menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Arumi memerlihatkan wajah memelas kepadanya.


Sesaat kemudian, Edgar lalu tertawa pelan. Ia menghampiri Arumi dan menyodorkan bayi mungil itu kepada ibunya. Edgar pun duduk di dekat Arumi dan mencium kening sang istri dengan mesra.


“Terima kasih, Sayang. Ini adalah kebahagiaan yang sangat sempurna untukku,” ucap Edgar pelan. Arumi meliriknya dan tersenyum. Belum sempat ia berkata apa-apa, terdengar sebuah ketukan di pintu. Dengan segera Carmen membukanya.


Seorang pria berdiri di sana dengan membawa sebuah bucket mawar putih yang cukup besar. Ia tersenyum datar terhadap Carmen. “Saya ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya Hillaire,” ucap pria tersebut. Sementara Carmen terdiam untuk sejenak. Ia tidak mengenal pria itu, karenanya ia harus meminta izin dulu kepada Edgar.


“Anda siapa? Tunggu sebentar, saya akan memberitahu Ed!” ucap Carmen seraya kembali ke dalam dan menemui Edgar, yang masih asyik bercengkrama bersama istri dan bayi mungilnya.


Carmen berdiri di dekat ujung ranjang. “Ed, ada tamu untukmu,” ucap Carmen.


Edgar menoleh dan bertanya, “Siapa, Bi?”


“Aku,” terdengar suara dari seorang pria yang tiba-tiba muncul di dalam kamar itu. Seorang pria yang telah berhasil membuat Edgar dan Arumi seketika terdiam dan saling pandang.


Benjamin Dru Evariste, telah berdiri di sana dengan ekspresi wajahnya yang terlihat datar. Ia menatap Edgar dan Arumi. Tatapannya kemudian beralih pada bayi mungil yang sedang terlelap di dalam dekapan Arumi.


Melihat kehadiran Ben di sana, Edgar segera beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri pria itu dan berdiri di hadapan Ben, yang kemudian menyodorkan bucket bunga yang ia bawa kepada dirinya. “Aku tidak membawa yang lain selain ini,” ucap Ben.


Edgar menatap pria itu dengan tajam. Sesaat kemudian, ia menerima bunga pemberian dari Ben. Bunga mawar putih yang sangat cantik. Bunga kesukaan Arumi. Sepertinya, Ben memang sengaja membawakan bunga itu untuk dia.


“Bunga kesukaanmu, Arumi,” ucap Ben seraya melirik wanita cantik yang kini telah menjadi seorang ibu. Sementara Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap pria yang selalu tampil dengan ekspresinya yang datar.


“Untuk apa kau datang kemari?” tanya Edgar seraya meletakan bunga pemberian dari Ben di ujung ranjang.


Ben masih melayangkan tatapannya kepada Arumi yang saat itu lebih memilih untuk mengalihkan perhatiannya pada Elle, panggilan dari bayi kecilnya. Ia tidak ingin melayani tatapan mata pria yang telah membuatnya merasa begitu ketakutan.


“Berhenti menatap istriku seperti itu!” sergah Edgar. Ia jelas tidak menyukai sikap Ben yang masih menunjukkan ketertarikannya kepada Arumi, yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya. Ben pun akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Edgar.


“Aku tidak akan segan-segan untuk mengusirmu dengan tidak hormat dari sini, jika kau masih bersikap kurang ajar terhadap istriku!” ancam Edgar.


Ben tidak segera menjawab. Sesaat kemudian, ia menyunggingkan sebuah senyuman sinis di sudut bibirnya. Ben kembali mengalihkan tatapannya kepada Arumi. “Selamat, Arumi. Akhirnya kau telah menjadi seorang ibu, meskipun tadinya aku berharap jika akulah yang menjadi ayah dari bayi itu,” ujar Ben dengan entengnya. Perkataannya yang terlalu berani dan terdengar sangat kurang ajar, telah membuat Edgar menjadi naik pitam.


Ditariknya kerah dari kemeja yang dikenakan Ben saat itu. Edgar mencengekram erat kerah baju itu. Sorot matanya tajam ia arahkan kepada pria bertato yang ada di hadapannya. Edgar sudah tidak sabar untuk melayangkan tinjunya.


“Pergilah, Ben! Aku ataupun suamiku akan memaafkanmu dengan tulus, selama kamu tidak lagi mengusik kehidupan kami berdua. Marilah kita menjalani hidup masing-masing dalam ketenangan. Aku rasa itu akan jauh lebih baik,” Arumi menyela dengan suaranya yang terdengar begitu lembut, membuat Edgar mengurungkan niatnya untuk melampiaskan kekesalannya terhadap Ben. Ia juga melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


“Kau dengar itu, Ben? Aku tidak peduli meskipun dulu kita adalah teman bermain. Jika kau berani bersikap kurang ajar terhadap istriku, maka aku pastikan jika bukan penjara yang akan kau tuju! Ingat ucapanku baik-baik, karena aku tidak main-main kali ini!” ancam Edgar dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tegas.


Edgar tidak akan berkompromi lagi dengan sesuatu yang akan mengusik, dan membahayakan orang-orang yang dicintainya. Ia tidak peduli siapa pun yang akan dihadapinya, yang pasti ia kini telah memiliki kewajiban yang jauh lebih besar untuk dapat memastikan keamanan dan kenyamanan dari keluarganya.


Mendengar ancaman yang serius dari Edgar, Ben hanya tersenyum simpul. Setelah itu, ia kemudian berkata, “Tenang saja, Ed. Aku tidak akan mengganggu ketentramanmu dan juga Arumi. Aku dan Mirella akan pindah ke Lyon dan memulai bisnis baru di sana,” Ben kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arumi.


Tatapannya untuk wanita itu, seketika berubah lunak dan terlihat penuh cinta. Ia lalu melangkah ke dekat Arumi dan berdiri di sebelah ranjang itu. Sementara Edgar, tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh pria dengan tato di pergelangan tangan dan lehernya.


“Arumi, aku akan pergi. Namun, sekali saja kudengar Edgar menyakiti atau menyia-nyiakanmu ... maka aku pasti akan kembali untuk membawamu pergi darinya,” ucap Ben dengan bersungguh-sungguh, meskipun mimik mukanya terlihat cukup datar.


Mendengar hal itu, Arumi segera memalingkan wajahnya. “Pergilah dan bawa adikmu jauh-jauh, karena aku sangat tidak menyukainya!” suruh Arumi dengan nada yang cukup tegas.


“Maafkan aku, Arumi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu. Justru akulah yang merasa terskiti. Aku menjadi pengagum rahasiamu setelah sekian lama, bahkan hingga saat ini ... dan entah sampai kapan. Aku menyesali diriku yang tak diberi kesempatan untuk dapat memilikimu meski hanya sekejap,” ungkap Ben dengan sejuta sesal di hatinya.


"Hentikan semua omong kosongmu dan pergilah dari sini!" sergah Edgar dengan tegas.


Ben kembali melayangkan tatapannya kepada Edgar. Ia kembali menyunggingkan senyuman sinisnya. "Tenanglah, Ed! Aku kemari untuk berpamitan, bukan untuk mencari keributan. Aku harap, kau bisa menjadi pria yang bersyukur karena telah dipilih oleh Arumi. Seperti yang kukatakan tadi, jaga dia baik-baik jika kau tidak ingin kehilangan dia!" Ben mengancam balik Edgar.