Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Lepas Kendali


Malam itu, Keanu sudah tampil rapi dengan setelan kemeja dan jas. Ia terlihat sangat tampan dan gagah.


"Jangan tampil terlalu tampan! Aku tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian para gadis di pesta nanti," ujar Puspa seraya merapikan bagian depan jas Keanu.


Mendengar ucapan sang istri, Keanu hanya tersenyum kalem. "Lalu, kenapa kamu sendiri terlihat sangat cantik malam ini?" Balasnya seraya menyentuh wajah Puspa dengan lembut, membuat ibu dua anak itu tersipu malu. Namun, meskipun malu-malu nyatanya ia tidak menolak ketika Keanu menghadiahinya dengan sebuah sentuhan lembut di permukaan lipstik merahnya.


"Pastikan jika Dinan tidur nyenyak malam ini!" Pesan Keanu sambil duduk dan memakai sepatunya.


"Ya. Zul akan menjaga anak kita dengan baik, dengan begitu kita bisa pacaran dengan tenang," gurau Puspa dengan diselingi tawa pelan. Setelah selesai merapikan dirinya di depan cermin, ia kembali menoleh kepada Keanu.


"Sayang, apa Arum akan ikut dengan kita?"


"Entahlah. Aku tidak yakin, tapi coba kamu lihat ke kamarnya! Semoga gadis itu tidak berulah macam-macam," ujar Keanu. "Aku akan menyiapkan mobil dulu."


"Aku akan ke kamar Arum. Aku rasa dia sudah sangat dewasa untuk dapat menerima hal seperti ini," Puspa kemudian berlalu ke lantai dua, menuju kamar Arumi.


Berdiri di depan pintu berwarna putih, Puspa mengetuknya beberapa kali. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam. "Arum! Arum! Apa kamu ada di dalam?" Panggil Puspa.


Hening. Tidak ada tanda-tanda jika Arumi ada di dalam kamarnya. Puspa kemudian memutar handle pintu dan ternyata tidak terkunci. Ia pun segera masuk.


Lampu di dalam kamar belum dinyalakan, atau mungkin sengaja dimatikan. Puspa lalu menyalakannya dan mulai memeriksa setiap ruangan di dalam kamar adik iparnya, tetapi tidak ada siapa pun di sana selain dirinya. "Ke mana Arumi?" Gumam wanita bertubuh mungil tersebut. Puspa kemudian mematikan kembali lampu kamar itu dan keluar.


Menuruni anak tangga, Puspa segera menghampiri Keanu yang saat itu sudah menunggunya. "Bagaimana, Sayang? Apa Arum akan ikut bersama kita?" Tanya Keanu.


"Arumi tidak ada di dalam kamarnya, Sayang," jawab Puspa dengan wajah serius.


Keanu mengernyitkan keningnya saat mendengar laporan dari Puspa. "Barusan aku lihat mobilnya masih ada di garasi," ujarnya dengan tidak mengerti.


"Dia tidak ada di dalam kamarnya, Sayang!" Puspa menegaskan bahwa ia tidak mungkin keliru. "Coba kamu hubungi dia!"


Keanu lalu merogoh ponselnya. Ia mencoba untuk menghubungi ponsel Arumi. Akan tetapi, sudah beberapa kali dicoba, ternyata Arumi tidak menjawab panggilan darinya. "Ke mana gadis itu?" Gumamnya khawatir. "Aku harap dia ... sebaiknya aku menghubungi Edgar," Keanu lalu menghubungi pria yang kini telah menjadi rekan bisnisnya itu. Ia menanyakan keberadaan Arumi.


"Kalian pergi saja! Biar aku yang mencari Arumi," ucap Edgar. Ia yang baru selesai mandi, tidak jadi naik ke tempat tidurnya. Edgar segera berganti pakaian. Malam itu, ia memakai celana jeans lengkap dengan blazer hitamnya.


Selang beberapa saat, pria dengan postur 180 cm itu sudah berada di jalan dengan mengendarai mobil sedannya. Sesekali Edgar melirik layar ponselnya yang menunjukan di mana Arumi berada.


Ya, Edgar telah memasang software di ponsel Arumi, untuk melacak lokasi dan mengaktifkan GPS yang tertaut dengan ponselnya. Itulah Edgar, Arumi tidak keliru ketika ia mengatakan jika Edgar bisa melakukan hal yang jauh konyol dari sekadar mengikutinya. Kecurigaan Arumi terbukti benar.


Pada akhirnya, mobil yang Edgar kendarai berhenti di depan sebuah night club elite. Edgar memicingkan matanya ketika ia melihat seorang gadis dengan mini dress merah yang sedang berdiri dengan sedikit gontai. Edgar sudah dapat memastikan jika gadis yang tiada lain adalah Arumi, tengah berada dalam pengaruh alkohol.


Sebenarnya, Arumi bukan seorang peminum. Ia bahkan akan langsung mabuk hanya dengan beberapa tegukan saja. Akan tetapi, terkadang gadis itu memang seringkali bersikap bandel.


Dengan segera, Edgar melepas sabuk pengamannya. Ia lalu keluar dari mobilnya dan bermaksud untuk menghampiri gadis itu. Namun, tiba-tiba sebuah taksi berhenti di hadapan Arumi dan membawa gadis itu pergi dari sana.


"Mau ke mana kamu, Arum?" Gumam Edgar pelan. Jalan yang Arumi lewati bukanlah jalan menuju rumahnya, terlebih ketika tidak lama kemudian taksi itu berhenti di depan sebuah rumah mewah.


Arumi tampak keluar dari dalam taksi dan melangkah masuk ke rumah itu. Ia juga lolos begitu saja dari pengawasan satpam di sana, mungkin karena penampilannya yang rapi dan terlihat sangat cantik malam itu.


Tanpa berpikir panjang, Edgar lalu keluar dari mobilnya. Ia mengikuti Arumi masuk ke rumah mewah itu. Di dalam sana cukup ramai. Sepertinya di sana sedang diadakan sebuah pesta.


Edgar terus mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan itu. Ia juga mencari Arumi ke bagian ruangan lain, tetapi ia tidak menemukan gadis itu.


"Hai, Ed!" Terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Edgar segera menoleh.


Adam, sahabat sekaligus rekan kerjanya datang menghampirinya. Mereka berdua kemudian bersalaman. "Aku pikir kamu tidak diundang, Ed," ucap pria yang berpostur tidak jauh lebih tinggi dari Edgar.


"Ya, memang. Aku kemari untuk ...." Edgar tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ia mendengar suara Arumi tidak jauh dari sana. "Nanti kita lanjutkan!" Ucap Edgar seraya menepuk pundak Adam. Ia kemudian beranjak dari sana dan menuju keluar yaitu area kolam renang.


Seketika Edgar tertegun ketika melihat Arumi yang mabuk, hilang kendali di depan para tamu undangan yang lain dan juga di depan Moedya serta Diana.


"Oh my God, Arum! Jangan sampai kamu mempermalukan dirimu sendiri," gumam Edgar lagi. Ia saat itu melihat Keanu dan Puspa yang tengah berusaha untuk mengajak gadis itu pergi dari sana, tetapi Arumi terus menolaknya.


"Lepaskan aku, Kakak! Aku sengaja datang kemari meskipun entah aku diundang atau tidak ... i don't care!" Racau Arumi dengan sikap berdirinya yang sedikit gontai. Terlihat jelas jika saat itu ia tengah dalam keadaan mabuk.


"Arum, hentikan! Ayo kita pulang!" Ajak Keanu dengan tegas. Ia sudah gemas dengan kelakuan sang adik, tetapi pria itu masih berusaha untuk bersikap tenang.


"Tidak, Kakak! Aku tidak akan pergi sebelum aku mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada mereka berdua," tunjuk Arumi kepada Moedya dan Diana. Diana sendiri saat itu sudah terlihat gelisah karena ulah sahabatnya yang telah mengacau di pesta pertunangannya.


"Arum, Sayang ... pulanglah, Nak!" Ranum ikut menenangkan gadis yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya itu.


"Tidak Ibu! Aku bukan calon menantumu lagi! Jadi ... aku tidak harus menuruti perintahmu!" Tolak Arumi. Sesaat kemudian, ia kembali mengarahkan perhatiannya kepada Moedya dan Diana.


"Hey, Moedya!" Seru Arumi dengan lantang. Sementara Moedya tidak menyahut sama sekali. Ia hanya menatap gadis itu dengan lekat.


"Arjuna Moedya Aryatama alias Moedya alias Moemoe! Kamu ... kamu adalah pria paling brengsek yang pernah kutemui ... bahkan kamu jauh lebih brengsek dari Edgar!" Racau Arumi lagi seraya terus menunjuk ke arah Moedya.


"Arum! Hentikan!" Bentak Keanu. Ia kembali meraih tangan gadis itu dan bermaksud untuk membawanya pulang.


"Lepaskan aku, Kakak!" Tolak Arumi. "Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepada pria menyebalkan itu!" Tunjuk Arumi lagi kepada Moedya. "Come on, Moemoe! Katakan pada kakak-ku agar dia mengizinkanku untuk bicara! Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan-ku selama ini," racau Arumi lagi sambil terus menggenggam tali tas selempang kecil yang dibawanya.


Moedya kemudian melirik Keanu. Ia memberi isyarat agar membiarkan Arumi untuk bicara. "Apa yang ingin kamu katakan, Arum?" Tanya Moedya. Pria itu masih terlihat tenang.


Seketika Arumi tertawa. Entah apa yang dirasa lucu oleh dirinya. "Kamu tahu kenapa aku tertawa, Moemoe?" Racau Arumi lagi.