
Arumi menghapus air matanya lalu bangkit. Ia kemudian beranjak menuju laci di sebelah tempat tidur, dan membuka laci itu satu persatu. Arumi mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya untuk keluar dari kamar itu.
Hampir putus asa, ia berkali-kali menyibakan rambutnya yang acak-acakan. Jangankan untuk berdandan dan menyisir rambutnya, ia bahkan belum sempat berganti pakaian sejak kemarin. Arumi tidak tahu di mana koper miliknya. Padahal di dalam koper itu terdapat semua barang-barang yang ia butuhkan.
Arumi terduduk untuk sejenak dan berpikir. “Oke. Lain kali aku akan membeli tas dengan ukuran yang jauh lebih besar dari ini!” gerutu Arumi seraya meletakan tas selempang kecil miliknya. Arumi kemudian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu.
Ada satu pintu di sudut ruangan itu, entah itu pintu ke kamar mandi atau bukan. Arumi kemudian beranjak ke sana dan membuka pintu itu. Ternyata pintu itu menuju walk in closet, di mana terdapat lemari kaca yang cukup besar dengan furniture pelengkap lainnya.
Arumi mengedarkan pandangannya, ia kembali mencari sesuatu. Sialnya, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa selain puluhan lembar fotonya yang terpajang dengan tidak beraturan, bahkan ada beberapa yang masih di simpan di atas meja dengan menggunakan penjepit kertas.
Arumi tertegun. Ia kembali ke ruang utama kamar itu dengan membawa penjepit kertas tadi.
Berbekal dari kegemarannya menonton film action Hollywood, Arumi membentuk penjepit kertas itu dengan sedemikian rupa. Setelah itu, ia kemudian memasukannya pada lubang kunci.
“Ayolah!” resahnya. Ternyata hal itu tidak semudah seperti yang ia lihat di film-film. Arumi bahkan sudah hampir putus asa.
Ditariknya napas dalam-dalam dan ia mulai menenangkan dirinya. Untuk sesaat, ia membayangkan kebersamaannya dengan Edgar. Seketika semua semangatnya kembali hadir dan memenuhi seluruh tubuhnya. Arumi kembali mencoba.
Sementara itu, Ben ternyata menemui seseorang di suatu tempat yang cukup sepi. Seorang pria bertubuh tinggi dan kurus yang tiada lain adalah Damian Petit. Tanpa banyak bicara, Ben segera mencengkeram kerah baju pria kurus itu dengan sorot mata yang dipenuhi kemarahan.
“Katakan padaku apa yang sudah kau lakukan terhadap Arumi? Kenapa kau melibatkan gadis itu. Arumi bukan urusanmu, Brengsek!” sentak Ben tanpa melepaskan cengkeramannya.
Petit hanya tertawa pelan. Ia tidak terlihat takut meskipun Ben menunjukkan kemarahan yang luar biasa kepada dirinya. “Aku hanya menuruti perintah dari adikmu, Tuan,” jawabnya dengan tenang.
“Kau bekerja padaku, bukan pada adikku!” bentak Ben lagi seraya melepaskan cengkeramannya dengan kasar. “Hari ini aku melihat Arumi ada di sana. Kau bahkan tidak mengkonfirmasikan apa-apa padaku!”
“Aku hanya menuruti perintah adikmu tercinta. Kau tau kan jika aku tidak akan mungkin menolak permintaannya. Lagi pula, sebenarnya itu hanya tempat sementara untuknya, karena rencananya kami akan memindahkan gadis itu ke tempat lain,” terang Petit.
“Arumi ada di bawah pengawasanku saat ini dan aku tidak akan mengizinkan siapapun, termasuk kau ataupun adikku untuk mengusiknya!” tegas Ben dengan telunjuk lurus di depan wajah tirus Petit.
“Bukankah seharusnya kau senang karena sudah berhasil menggenggam semua yang Edgar Hillaire miliki, termasuk gadis cantik itu,” ujar Petit. “Dia merupakan bonus yang tidak terduga untukmu, meskipun setelah ini aku pasti harus memberi penjelasan kepada adikmu. Dia sama pemarahnya sepertimu,” ujar Petit. Pria itu terlihat sangat tenang dan seakan tidak memiliki beban sama sekali.
“Aku sarankan, sebaiknya sekarang kau temui tuan Hillaire dan rayakan kemenanganmu di depan mukanya! Ia baru menanyaiku tentang si rambut ikal. Aku rasa saat ini dia masih ada di kantor. Cepatlah temui dia!” ucap Petit dengan seringai jahatnya.
Ben terdiam. Ia seperti tengah memikirkan ucapan Petit. Rasanya pasti menyenangkan jika memang hal itu bisa ia lakukan.
Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir tipis pria itu. Tatapan tajam kembali ia layangkan untuk pria bertubuh kurus itu.
“Jangan melakukan sesuatu, jika bukan atas perintahku!” tunjuk Ben lagi sebelum ia kembali ke mobilnya dan pergi dari tempat itu meninggalkan Petit seorang diri.
Ben melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan Edgar. Dengan langkah penuh percaya diri, ia memasuki gedung megah tiga lantai itu. Setelah mendapat persetujuan dari Edgar untuk bertemu, Ben segera menuju ke ruangan pria itu.
Tatapan tajam keduanya saling bertemu. Mata abu-abu mereka mulai beradu dan seakan ingin saling mengalahkan satu sama lain.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Edgar. Ia mulai membuka percakapan di antara mereka. Ia masih duduk dengan penuh wibawa di belakang meja kerjanya.
Ben menyunggingkan senyuman sinisnya. Sebelum berbicara, ia melihat ke sekeliling ruang kerja Edgar dan memastikan jika ruangan itu aman dari alat penyadap atau hal lainnya. Dengan setengah membungkuk, ia meletakan kedua tangannya pada pinggiran meja. “Aku ingin mengajakmu berbisnis,” jawab Ben dengan seringai aneh di wajahnya.
“Aku tidak tertarik membuka restoran seafood,” ledek Edgar dengan tenang dan membuat Ben tertawa.
“Tenang saja, lagi pula aku sudah memiliki pelayan yang cukup di restoranku,” balas Ben dengan tak kalah tenang. “Mari kita bahas sesuatu yang lebih menarik dari itu! Tentang Arumi misalnya ....”
Raut wajah Edgar seketika berubah ketika ia mendengar Ben menyebut nama Arumi. Edgar kemudian berdiri dan segera menghampiri Ben yang saat itu mengubah posisi berdirinya menjadi lebih tegak. Ia juga menghadap kepada Edgar.
“Kau akan merasakan akibatnya jika sampai kau ada hubungannya dengan penculikan Arumi!” ancam Edgar dengan tegas. Sementara Ben lagi-lagi hanya tertawa pelan puas.
“Aku rasa ... aku harus membelikannya banyak baju baru,” jawab Ben yang kembali tertawa dengan penuh kemenangan.
Dengan segera Edgar menarik leher baju pria di hadapannya. Kemarahan yang luar biasa mulai muncul di dalam sorot mata yang biasa terlihat teduh itu. Edgar bahkan sepertinya tak akan segan untuk membunuh Ben saat itu juga.
“Katakan di mana Arumi sekarang!” Edgar dengan nada bicaranya yang sangat tegas.
“Hey, Bung tenanglah! Gadis-mu baik-baik saja. Dia masih terlihat manis dan sangat cantik meskipun rambutnya sedikit acak-acakan. Aroma tubuhnya pun masih harum, meski dia belum berganti baju sejak kemarin,” jawab Ben yang telah membuat amarah dalam diri Edgar kian memuncak.
Dikepalkan tangannya dengan sempurna dan dilayangkan dengan cepat ke wajah Ben yang saat itu tidak sempat menghindar. Ben terjerembab di atas meja kerja Edgar. Sebelum pria itu sempat bangkit, dengan segera Edgar kembali mencengkeram leher bajunya dan melayangkan tinjunya dengan tangan kanan.
“Katakan di mana Arumi! Jika tidak, kau akan menerima sesuatu yang lebih buruk dari ini!” ancam Edgar. Akan tetapi, Ben justru malah tertawa. Entah apa yang menurutnya sangat lucu, yang pasti sikapnya telah membuat Edgar semakin emosi.
Lagi, Edgar mengangkat kepalan tangannya dan bermaksud untuk kembali ia layangkan ke wajah Ben. Namun, ia harus mengurungkan niatnya, karena mendengar suara seorang wanita yang tiba-tiba berada di ruangan itu.
“Lepaskan kakak-ku, Tuan Hillaire!”
Edgar menoleh. Mirella telah berdiri di sana dengan tatapannya yang tajam. Gadis berambut coklat itu kemudian melangkah ke arahnya. “Lepaskan kakak-ku sekarang juga!” tegas gadis itu.
Edgar masih memegangi leher baju Ben. Ia menatap pria itu untuk sejenak. Sesaat kemudian, Edgar lalu mengalihkan tatapannya kepada Mirella. “jadi, bajingan ini adalah kakak-mu?” tanya Edgar seraya mengernyitkan keningnnya. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Ya. Dia adalah kakak-ku. Bukankah dulu kalian sering bermain bersama?”
Tersentak dan tidak percaya. Edgar kembali mengarahkan pandangannya kepada Ben. Dengan kasar, ia melepaskan cengkramannya dari leher baju Ben. Pria itupun segera berdiri tegak, kemudian mengusap sudut bibirnya yang terluka dan meneteskan darah segar.