Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Dalam Secangkir Teh Hangat


"Ibuku mengajariku membuat teh dalam beberapa waktu terakhir ini," ucap Moedya seraya mempersilakan Arumi untuk mencicipi teh buatannya.


"Apanya yang sulit dalam membuat teh?" Arumi menyunggingkan senyuman kecilnya seraya mencicipi teh yang disajikan oleh Moedya.


"Segala hal akan terasa sulit jika bukan merupakan keahlian kita," jawab Moedya dengan datar. "Apakah aku sudah mengatakannya padamu kemarin? Saat kita bertemu di klinik itu," Tanya Moedya. Ia meneguk tehnya, kemudian kembali meletakan cangkirnya di atas meja kecil yang ada di hadapannya dan Arumi.


"Tentang apa?" Tanya Arumi. Hatinya mulai resah. Ia tidak tahu apa yang akan Moedya katakan kepada dirinya.


Moedya kembali meneguk tehnya. Ia kemudian tersenyum kecil. Senyuman yang terlihat samar namun sangat menawan di antara jenggot yang mulai menghiasi wajahnya yang maskulin.


"Kamu terlihat semakin cantik," sanjung Moedya seraya meletakan kembali cangkirnya. Sesekali ia menatap kepada Arumi yang tampak tersipu malu dengan sanjungan yang tiba-tiba darinya.


Rasa hati ingin melonjak dengan kegirangan, tetapi Arumi terus berusaha untuk mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin jika Moedya melihatnya bersikap terlalu berlebihan.


"Um ... terima kasih," sahut Arumi pelan. Ia menjadi sedikit kikuk karenanya.


"Sejak kapan kamu menjadi pendiam, Arum?" Tanya Moedya lagi. Ia kembali menatap Arumi.


"Entahlah. Aku tidak pernah mengingat-ingat hal itu. Aku juga tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda dari diriku selain ... usiaku yang terus bertambah," ujar Arumi. Ia menghilangkan rasa gugup di dalam dirinya dengan meneguk teh yang disajikan Moedya untuknya.


"Kamu suka tehnya?" Moedya masih terus melayangkan tatapannya kepada Arumi yang saat itu balas menatap dirinya. Kedua bola matanya tampak sangat bercahaya, dengan seutas senyuman yang terlukis di bibir joyfull orangenya yang terlihat sangat segar.


"Seorang teman membawakan oleh-oleh dari kampung halamannya di Jambi. Katanya ini adalah teh yang sangat terkenal dan sudah mendunia. Teh yang sering dikonsumsi oleh para bangsawan," tutur Moedya.


"Ibuku sering mengkonsumsi Teh Putih. Alasannya karena kandungan kafeinnya yang cenderung lebih rendah, tapi sebenarnya aku masih tetap lebih menyukai soft drink, karena minuman itu ada di dalam kulkas dan tidak membuatku repot saat ingin meminumnya" ujar Moedya dengan diakhiri tawa pelan. Ia merasa lucu akan ucapannya sendiri.


Arumi pun tersenyum mendengar hal itu. "Ternyata kamu belum banyak berubah," ucap gadis itu.


"Tidak banyak hal yang berubah dari diriku ... selain usiaku yang terus bertambah," sahut Moedya dengan suara beratnya yang dalam. Suara yang selalu Arumi rindukan.


Keheningan kembali datang menghampiri mereka berdua. Arumi masih merasa bingung untuk merangkaikan kata-kata yang akan ia ucapkan. Sementara Moedya, ia memang tidak terlalu memikirkan sebuah topik perbincangan. Ia lebih senang menatap kecantikan Arumi dengan berlama-lama.


"Katakan padaku, Arum!" Suara berat Moedya kembali memecah keheningan di antara dirinya dan Arumi. "Apakah saat ini kamu masih sendiri?"


Bergetar hati Arumi mendengar pertanyaan seperti itu dari bibir Moedya. Haruskah ia kembali berharap? Kenapa Moedya ingin mengetahui hal itu? Apakah pria itu masih menyimpan rasa perhatiannya kepada dirinya?


Ada banyak pertanyaan yang berputar di dalam pikiran Arumi. Di satu sisi gadis itu merasa senang, tetapi di sisi lain ia juga merasa resah. Ia takut jika itu hanya merupakan sebuah basa-basi yang Moedya tanyakan, hanya untuk sekedar mengusir sikap canggung di antara mereka berdua.


Moedya tahu ada sesuatu yang tengah mengusik hati Arumi. Ditatapnya gadis yang tengah menundukan wajahnya itu. "Arum ... apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya.


Arumi tidak menjawab. Ia masih terus menunduk dan menggigit bibirnya sendiri. Untuk sesaat terdengar sebuah isakan pelan darinya. "Sebaiknya aku pulang saja," ucap Arumi seraya beranjak dari duduknya. Ia bermaksud untuk pergi dari ruangan itu. Akan tetapi, dengan segera Moedya meraih tangannya dan membuat Arumi menghentikan langkahnya.


Moedya kemudian berjalan mendekat. Tanpa di duga ia kemudian menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya.


Terkejut itulah yang Arumi rasakan. Ia tidak ingat dirinya mimpi apa semalam sehingga saat ini ia tengah berada di dalam pelukan hangat Moedya. Ya, pria itu memeluknya dengan sangat erat.


Perlahan Arumi menurunkan kedua tangannya. Tangan dengan jemari lentik itu kini sudah melingkar dengan nyaman di pinggang Moedya. Arumi dapat merasakan betapa hangat tubuh pria itu. Ia juga segera memejamkan matanya dan menempelkan pipinya di dada bidang berlapis kaos hijau army itu.


Untuk beberapa saat lamanya, Arumi kembali merasakan detakan jantung sang mantan kekasih. Suara detakan itu terdengar memacu dengan semakin kencang, ketika Moedya semakin mempererat pelukannya.


Arumi merasakan dirinya semakin terhanyut dan melayang dengan sangat ringan, ketika Moedya mulai mengecup keningnya dengan lembut. Ia tidak percaya jika hal ini kembali terjadi kepada dirinya. Ia hanya berharap semoga ini bukanlah sebuah harapan semu yang Moedya berikan untuknya.


"Kenapa kamu tidak mengerti? Aku sangat merindukanmu, Arum ...." ucap Moedya dengan setengah berbisik. "Aku rindu memelukmu seperti ini," ucap Moedya lagi.


Arumi tidak dapat berkata apa-apa. Ia menjadi semakin bingung. Akan tetapi, ia tidak ingin larut dalam kebingungan yang ia rasakan saat ini. Arumi hanya ingin menikmati rasa nyaman ketika berada di dalam pelukan hangat Moedya.


Beberapa saat lamanya mereka berdua terhanyut dalam irama masa lalu yang hangat dan menenangkan. Arumi begitu terbuai. Rasa sepi yang ia rasakan selama ini, seakan sirna hanya melalui satu pelukan saja.


Perlahan Moedya merenggangkan dekapannya. Tangan kanannya kini beralih pada wajah cantik Arumi. Ia membelai lembut pipi kemerahan gadis itu dan membuat Arumi merasakan getaran itu menjadi lebih kuat.


Apakah Moedya akan melakukannya? Apakah ia akan membuat rasa haus di dalam diri Arumi menjadi sirna dan hilang dengan seketika?


Arumi merasakan helaan napas berat itu mulai menghangat di wajahnya. Rasanya begitu menenangkan dan teramat indah ketika wajah maskulin itu berada tepat di hadapannya. Arumi bahkan merasakan hidung Moedya menyentuh hidungnya dengan lembut.


Dire•masnya bagian depan kaos polos yang dikenakan oleh Moedya. Arumi masih menantikan hal itu datang padanya.


"Apalagi yang kamu tunggu?" Batin Arumi. Ia tidak sabar menantikan sesuatu yang sudah lama sangat ia rindukan. Akan tetapi, Moedya rupanya belum ingin memberikannya kepada Arumi, meskipun ia tahu jika Arumi sudah sangat gelisah karenanya.


"Bolehkah?" Bisik Moedya.


Arumi tidak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk pelan.