Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Menuju Moedya yang Baru


Moedya melangkah masuk bersama Ranum ke dalam bangunan dua lantai, yang telah direnovasi menjadi terlihat jauh lebih modern. Butik itu kini dikelola oleh putri bungsu Rania yang bernama Tya. Gadis manis yang terlihat sangat senang ketika melihat Ranum datang ke sana. Ia menyambut wanita itu, dengan sikapnya yang yang sangat ramah. Sedangkan Moedya, memilih untuk duduk santai di sofa yang ada di sana seraya memainkan ponselnya.


Sesekali, Moedya melihat ke sekeliling ruangan itu. Tidak ada yang menarik baginya. Tempat itu hanya berisi deretan baju-baju dengan model aneh dan tidak bisa Moedya pahami. Ia bahkan tidak mengerti, bagimana bisa seorang wanita merasa nyaman dengan pakaian seperti itu?


Pandangan Moedya kembali pada layar ponselnya, sebelum akhirnya teralihkan pada seraut wajah cantik yang baru saja keluar, dari dalam kamar ganti dengan membawa sebuah gaun berwarna putih tulang di tangannya. Dengan segera, Moedya memasukan ponselnya ke dalam jaket. Ia lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri si pemilik wajah cantik itu.


“Di!” panggil Moedya dengan tidak terlalu nyaring. Gadis yang tiada lain adalah Diana, segera menoleh kepadanya. Ia terkejut melihat Moedya berada di sana. Diana hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil kepada pria itu.


“Ke mana saja kamu? Kenapa tidak membalas pesanku? Kamu juga tidak menjawab panggilan telepon dariku,” cecar Moedya. Ia memberondong Diana dengan banyak pertanyaan sekaligus.


Diana terlihat tidak nyaman. Gadis itu tampak ingin menghindari Moedya, tapi dengan segera Moedya meraih lengannya dan menahannya. Diana menatapnya untuk sejenak. Setelah itu, ia kemudian memalingkan wajahnya.


“Ada apa, Di? Apa masalahmu?” tanya Moedya dengan penasaran.


“Tidak ada. Aku hanya sedang ingin sendiri,” jawab Diana tanpa menunjukkan wajah cantiknya kepada Moedya.


Moedya terus menatap gadis itu. Ia semakin merasa heran, karena Diana tidak biasanya bersikap seperti itu kepada dirinya. Diana tidak pernah menolak ataupun mengabaikannya,tapi kali ini gadis itu bersikap aneh dan jual mahal.


“Ayo kita bicara sebentar!” ajak Moedya.


“Apa yang harus kita bicarakan? Aku rasa tidak ada yang terlalu penting bagimu dalam hubungan kita!” tolak Diana dengan tegas tapi pelan. Ia tidak ingin ada orang yang mendengar perbincangan antara dirinya dan Moedya.


Moedya mendekti gadis itu dengan tanpa melepasknan tangannya dari lengan Diana. Ditatapnya wajah gadis itu dengan lekat. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bersikap sangat aneh?” selidik Moedya.


Diana tidak menjawab. Gadis itu masih terus saja memalingkan wajahnya. Berkali-kali ia mencoba menarik lengannya yang masih dipegangi dengan cukup kencang oleh Moedya.


“Aku sudah mengatakan jika aku bersedia menemanimu ke pesta pernikahan Arumi, tapi kenapa kamu masih bersikap seperti ini?”


“Aku tidak peduli meskipun kamu tidak bersedia menemaniku. Aku bisa pergi sendiri!” tegas Diana.


Moedya tersenyum simpul. Sepertinya ia mulai dapat menangkap maksud dari sikap aneh Diana. “Bagaimana jika kita bicara sebentar?” bisik Moedya.


Akan tetapi, sebelum Diana sempat menjawab, Ranum telah terlebih dahulu menghampiri mereka. Ia kemudian menyapa Diana dengan hangat. Sungguh terlihat aneh, meskipun Diana adalah putri dari sahabat dekatnya, tetapi keakrabannya sangat jauh berbeda dengan yang Ranum tunjukan kepada Arumi. Masih terlihat ada rasa canggung dalam senyum sapa keduanya.


“Apa Ibu masih lama di sini?” tanya Moedya kepada Ranum.


“Memangnya kenapa?” Ranum balik bertanya.


Moedya melirik Diana untuk sesaat. “Aku punya sedikit urusan dengan Diana,” jawab pria dengan jaket kulit hitam itu seraya merebut gaun yang tengah Diana pegang. Gaun itu kemudian ia berikan kepada Ranum. “Bungkus yang ini, Bu! Nanti kami kemari lagi,” ucap Moedya tanpa menunggu jawaban dari Ranum. Ia langsung saja meraih pergelangan tangan Diana, dan menuntunnya keluar dari dalam butik.


“Lepaskan aku!” Diana menolak untuk ikut dengan Moedya. Akan tetapi, Moedya tidak peduli. Pria itu terus memegangi pergelangan tangan Diana dan membawanya masuk ke mobil. Ia bahkan memasangkan sabuk  pengaman untuk gadis itu, karena Diana hanya terdiam cemberut.


“Terserah kamu,” jawab Moedya yang kini sudah sibuk dengan kemudinya.


Diana mengeluh pelan. Ia tidak menjawab. Gadis itu terlihat semakin malas untuk menaggapi sikap menyebalkan Moedya. Berhubung tidak juga ada jawaban dari Diana, maka Moedya berinisiatif mengajak Diana ke danau tempat dulu biasa ia bertemu dengan Arumi. Mereka berdua masih duduk di dalam mobil.


Cuaca siang itu terasa panas, tapi angin berhembus dengan cukup kencang di tepi danau itu. Diana masih terdiam dan melihat sekeliling tempat itu dari dalam mobil. “Di mana ini?” tanyanya seraya menoleh kepada Moedya.


Moedya tidak langsung menjawab. Pria itu tersenyum simpul. “Apa kamu mau turun?” tawar Moedya.


“Di sini panas. Aku tidak membawa krim anti sinar matahari. Jangan sampai kulitku terbakar,” tolak Diana dengan ekspresi yang kurang nyaman.


Moedya kembali tersenyum simpul. Ia lalu melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil. Setelah itu, ia mengjak Diana untuk keluar, meskipun gadis itu terlihat enggan untuk mengikutinya.


Melihat sikap Diana yang demikian, Moedya tersenyum seraya melepas jaket kulitnya. Ia melingkarkan jaket itu di pundak Diana, sehingga menutupi kulit putih sang kekasih. “Kamu tidak memerlukan krim anti sinar matahari lagi,” ucap Moedya yang saat itu berdiri tepat di hadapan Diana. Sementara Diana hanya terdiam dan merasa heran dengan sikap Moedya, yang tiba-tiba berubah drastis. Terlebih ketika Moedya meraih jemarinya dan mengajaknya untuk berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.


Mereka berdua berdiri di bawah pohon itu dan merasakan embusan angin yang cukup kencang. Lama- kelamaan, Diana mulai menikmati suasana itu. Ini pertama kalinya ia menikmati suasana alam yang begitu menenangkan. Selama ini, ia hanya berkutat dengan dunia gemerlap. Mall, salon, butik, atau hanya sekadar berjemur di pantai. Itu juga ketika ia memutuskan untuk mengambil liburan di musim panas.


“Apa kamu sering kemari?” tanya Diana, seraya melirik ke arah Moedya.


Moedya menoleh ke arah gadis itu. Ia kemudian mengangguk. “Hampir setiap sore,” jawab Moedya. “Aku sudah sering kemari. Sejujurnya aku biasa datang kemari dengan Arumi. Kami biasa menghabiskan senja di sini,” terang Moedya membuat wajah Diana seketika berubah masam. Gadis itu tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah danau. Sementara Moedya terus menatapnya. Ia ingin melihat reaksi gadis itu, dan ternyata Diana masih menunjukkan rasa cemburu terhadap dirinya.


Moedya kembali meraih jemari lentik dengan kuteks berwarna biru langit itu. Ia menggenggamnya dengan erat. “Aku masih ingin tetap kemari setiap senja. Aku harap kamu bersedia menemaniku untuk melihat perubahan warna langit di sini, bersamaku," harap Moedya.


Diana menoleh dan mengernyitkan keningnya.


"Apa kamu baik-baik saja, Moe?" tanya gadis itu dengan keheranan.


"Berikan aku waktu untuk dapat memperbaiki diriku. Aku berjanji padamu, aku akan mengubah semuanya meskipun secara bertahap. Tolong, bantu aku dan biarkan aku menjadi Moedya yang baru,” ucap Moedya lagi dengan bersungguh-sungguh. Sementara Diana masih menatap pria itu dengan rona tidak percaya.


"Sungguh? Apa kamu benar-benar yakin dengan semua ucapanmu tadi?" tanya Diana lagi. Ia masih belum percaya dengan perubahan sikap yang ditunjukan oleh Moedya. Moedya mengangguk dengan yakin.


"Aku akan berubah, tapi secara bertahap. Aku harap kamu ada di sampingku, untuk membantuku dalam perjalan menuju Moedya yang baru," ucap pria itu lagi dengan senyum penuh arti.