
Sekitar pukul sebelas malam, Arumi terbangun. Ia lalu menyibakan rambut panjangnya ke belakang. Arumi kemudian membetulkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia merasa begitu lelah, setelah melakoni beberapa ronde panas dengan Edgar dari semenjak siang tadi.
Ditatapnya wajah tampan sang kekasih yang saat itu masih terlelap. Edgar juga terlihat sangat kelelahan. Namun, bagaimanapun juga mereka harus segera pulang. Terlebih, karena besok Arumi akan kembali ke Indonesia.
Arumi perlahan turun dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Ia lalu membersihkan beberapa bagian tubuhnya, dengan menggunakan air hangat. Setelah beberapa saat, Arumi pun keluar dari dalam kamar mandi dan bermaksud untuk segera berpakaian.
Gadis itu mengeluh pelan. Ia baru ingat jika pakaian beserta aksesoreisnya, berada di atas sofa ruang tamu. Tempat di mana tadi mereka mengawali ronde pertama.
Hanya dengan menggunakan handuk, gadis itu lalu keluar kamar dan mengambil pakaiannya. Ia juga mengambil pakaian milk Edgar. Satu hal yang menarik perhatiannya ialah ketika ia melihat ponsel milik Edgar yang menyala.
Arumi segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja itu dan memeriksanya. Akan tetapi, ponsel itu memakai kode pin yang tidak Arumi ketahui rangkaiannya. Alhasil, Arumi tidak dapat memeriksanya. Ia pun membawa serta ponsel itu ke dalam.
Sesampainya di dalam kamar, Arumi segera mengenakan pakaiannya. Setelah itu, ia kemudian duduk di tepian tempat tidur, tepat di dekat Edgar yang masih terlelap.
Arumi tersenyum lembut. Ia tidak tahan untuk tidak mengecup wajah tampan itu. Gadis itu kemudian mendekat dan mengecup kening Edgar dengan lembut. Tidak puas hanya di sana, kecupan lembut Arumi kini berpindah pada pipi dan permukaan bibir Edgar, hingga pria itu bereaksi.
Edgar merangkul tubuh Arumi hingga gadis itu kini berada tepat di atas tubuhnya. Ia tersenyum manis menyambut wajah cantik yang berada tepat di atas wajahnya. “Apa masih kurang?” tanyanya dengan nakal.
Arumi hanya mencibir seraya menjulurkan lidahnya. Sedangkan Edgar hanya menanggapinya dengan tawa pelan.
“Kita harus segera pulang! Jangan sampai kakak-ku beranggapan jika aku kembali diculik, meskipun aku merasa sangat bahagia jika diculik pria sepertimu,” ujar Arumi dengan genit dan membuat Edgar memukul pinggulnya dengan gemas. Arumi meringis pelan, sedangkan Edgar justru terlihat senang.
Ditatapnya wajah cantik Arumi yang saat itu terlihat sangat natural. Edgar kemudian mengalihkan sentuhannya pada wajah yang tidak akan dapat ia sentuh untuk beberapa waktu ke depan. Ia pasti akan sangat merindukan saat-saat seperti itu.
“Jika boleh memilih, sebenarnya aku tidak ingin pulang. Aku ingin tetap di sini dan membuatmu bangun kesiangan sehingga kamu ketinggalan pesawat,” celoteh Edgar dengan entengnya.
Arumi kembali menjulurkan lidahnya, membuat Edgar semakin gemas kepadanya. Dengan segera pria itu membalikan posisi mereka. Kini Arumi yang berada di bawahnya. Edgar juga mencekal kedua pergelangan tangan gadis itu, sehingga Arumi tidak dapat berkutik lagi. “Kamu tidak bisa melarikan diri dariku,” ucapnya dengan senyuman yang terlihat sangat nakal.
“No! Kita harus pulang dan ....” Arumi tidak melanjutkan kata-katanya karena saat itu ponsel milik Edgar terdengar berdering. “Ponselmu,” ucap Arumi.
“Biarkan saja,” sahut Edgar dengan tak acuh. Namun, tidak berselang lama, ponsel itu kembali berdering.
“Kenapa tidak diangkat? Lagi pula, siapa yang menghubungimu tengah malam begini?” selidik Arumi dengan nada curiga. “Aku harap bukan seorang wanita,” ucap Arumi lagi dengan malas. Ia lalu menyingkirkan tubuh Edgar dari atas tubuhya. Gadis itu kini berdiri di dekat jendela kaca yang lebar dengan tirai yang terbuka.
Sementara Edgar, ia duduk sambil melipat kedua tangannya yang ia letakan di atas lutut yang ditekuknya. Edgar kemudian melirik ponselnya yang berdering sejak tadi. Merasa penasaran, ia lalu meraih benda tipis itu dan mulai memeriksanya.
Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar ponselnya. Edgar merasa ragu. Ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Diraihnya celana jeans yang tadi dibawakan oleh Arumi dari ruang tamu dan dipakainya. Setelah itu, ia lalu menghampiri Arumi yang masih berdiri di dekat pintu kaca menuju taman sebelah kamar itu.
Edgar kemudian memeluk Arumi dari belakang seraya menciumi pundak dan leher gadis itu. Arumi menyandarkan tubuhnya di dada Edgar. Gadis itu memejamkan matanya seraya tersenyum manja. Namun, sesaat kemudian ia kembali teringat jika mereka harus segera pulang.
“Aku harap ada keajaiban,” sahut Edgar. Ia lalu mencium pipi Arumi. “Ya sudah, aku ke toilet dulu,” Edgar melepaskan pelukannya dan segera berlalu ke dalam kamar mandi. Sementara Arumi masih berdiri di dekat pintu kaca itu. Ia temenung untuk sesaat, sebelum akhirnya ia mendengar ponsel milik Edgar kembali berdering.
Arumi menoleh ke arah ponsel itu. Meskipun agak ragu, tetapi ia memberanikan diri untuk mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di atas kasur. Arumi tertegun menatap layar ponsel yang memerlihatkan sebuah nomor tanpa nama.
Dilihatnya ke arah pintu kamar mandi. Ia rasa Edgar tidak akan segera keluar dari sana. Sementara posel itu terus berdering. Arumi memberanikan diri untuk menjawab panggilan itu.
Terdengar sapaan dari seberang sana yang membuat sepasang mata Arumi bergerak dengan tidak beraturan. Gadis itu tampak resah. Ia kemudian membalas sapaan itu.
”Apakah benar jika ini nomor tuan Hillaire?” terdengar suara seorang pria dari ujung telepon.
“Ya, “jawab Arumi. “Who is it?” tanyanya dengan penuh curiga.
“Maaf, bisa bicara langsung dengan tuan Hillaire? Ada sesuatu yang sangat penting yang harus saya sampaikan kepadanya,” sahut si penelepon.
Arumi terdiam, terlebih saat itu Edgar sudah keluar dari dalam kamar mandi. Ia menatap aneh kepada Arumi, yang tengah menjawab panggilan telepon untuknya. Arumi merasa tidak enak karena telah bersikap seperti itu, tapi ia segera menyerahkan ponsel itu kepada Edgar.
Dengan wajah yang sedikit tegang, Edgar menerima ponsel itu dari Arumi. Setelah mengucapkan sebuah sapaan, terdengar jawaban dari seberang sana.
“Ed, ini aku Durant. Aku menghubungimu sejak tadi, tapi tidak kau jawab juga,” ucap pria yang ternyata bernama Durant itu dengan sedikit mengeluh.
“Oh ...Durant. Apa kau mengganti nomormu?” tanya Edgar lega. “Maaf, tadi aku sibuk,” ucap pria itu lagi seraya melirik Arumi yang saat itu segera memalingkan wajahnya, karena merasa risih dengan tatapan yang dilayangkan Edgar kepadanya.
“Ada apa? Sudah lama kita tidak bertemu,” lanjut Edgar.
“Bisakah kita bertemu besok siang? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Aku tidak janji. Aku ada urusan penting besok,” tolak Edgar seraya kembali menatap Arumi.
“Kalau begitu sore saja,” Durant terdengar begitu memaksa ingin bertemu dengan Edgar, membuat pria itu mengernyitkan keningnya dengan heran. “Boleh aku tahu ada apa?” selidik Edgar dengan penasaran.
Durant tidak segera menjawab. Mungkin ia sedang berpikir atau entahlah, yang pasti Edgar masih menungggu jawaban darinya. Sementara Arumi sudah terlihat gelisah karena malam kian larut dan mereka harus segera pulang.
Beberapa saat kemudian, pria di ujung telepon itu terdengar kembali bicara. “Ya, aku ingin membahas sesuatu yang sangat penting denganmu, yang tidak bisa kuceritakan lewat telepon. Aku harap kau bersedia meluangkan sedikit waktumu untuk bertemu denganku.”
“Apakah sepenting itu? Tentang apa?” tanya Edgar.
“Tentang Mirella.”