Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Moedya's Warm Lips


Beberapa saat lamanya Arumi terhanyut dalam permainan lembut yang dilakukan Moedya. Tiga tahun sudah, ia tidak merasakan sentuhan itu. Arumi yakin jika kali ini, ia tidak sedang berhalusinasi seperti tempo hari. Ini benar-benar terjadi dan dapat ia rasakan dengan sangat nyata.


Bibir itu terasa begitu hangat dan segar. Ini masih terbilang pagi, jadi Moedya mungkin belum menyentuh rokok, kopi, ataupun soft drink, yang terkadang membuat Arumi merasa terganggu.


Arumi masih berdiri mematung. Ada rasa tidak mengerti di dalam hatinya. Namun, rasa senang jauh lebih besar dari segala rasa yang berkecamuk dan membuatnya gelisah.


Perlahan, Moedya melepaskan bibir dengan warna joyfull orange itu. Ia membiarkan Arumi untuk mengambil udara dan bernapas dengan leluasa. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena sesaat kemudian ia kembali membungkam gadis itu dan melanjutkan permainan kecilnya.


"Tidak apa-apa, Arum!" Bisik Moedya sesaat kemudian.


"Apa-apaan ini, Moedya?" Tanya Arumi dengan heran.


"Aku sangat merindukanmu, dan aku tidak dapat menahan diriku lagi," ujar Moedya dengan kedua telapak tangannya yang masih berada di wajah Arumi.


"Jangan menggodaku! Aku tidak ingin menjadi gadis yang jahat dengan ...."


"Jangan bicara seperti itu!" Pinta Moedya pelan.


"Diana ...."


Mendengar nama Diana disebut oleh Arumi, Moedya segera melepaskan wajah cantik itu. Ia menggaruk keningnya untuk sesaat, setelah itu ia lalu berdiri dengan setengah bersandar pada meja berlapis stainles yang sangat mengkilap.


"Ibuku tidak menyetujui jika aku menjalin hubungan dengannya, dan itu sebenarnya membuatku merasa sangat senang," terang Moedya.


Arumi memalingkan wajahnya dengan dingin. Ia kembali meraih mangkuk berisi mentega dan mulai menata alat-alat perbakingannya. "Omong kosong!" Umpat Arumi pelan. Tentu saja, itu ditujukan untuk Moedya. Pria yang hanya tersenyum menanggapi umpatan yang ditujukan kepadanya.


"Itulah kenyataannya," ucap Moedya lagi. Ia mencoba untuk meyakinkan Arumi.


"Lalu? Kamu memutusakan hubunganmu dengan Diana dan mulai menggodaku? Enak saja!" Arumi masih bersikap ketus kepada pria itu.


"Tidak begitu, Arum!" Sanggah Moedya. Ia kemudian menegakan tubuhnya dan kembali mendekati Arumi. Moedya berdiri di sebelah gadis itu dengan posisi menyamping. Ia menatap Arumi yang tengah menyibukan diri dengan peralatan kuenya. Gadis itu seakan tengah bersembunyi dari tatapan dalam, yang Moedya layangkan kepadanya.


"Arum, aku ingin kita memperbaiki semuanya. Hubungan kita yang telah rusak dan hancur. Mari kita bangun kembali!" Ajak Moedya dengan penuh harap. Ia berkata dengan suara beratnya, yang telah membuat Arumi menjadi hilang konsentrasi.


"Apa maksudmu?" Tanya Arumi. Ia berpura-pura tidak memahami ucapan Moedya barusan.


"Aku yakin kamu pasti sangat memahami apa yang kukatakan, Arum," ujar Moedya tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun, meski Arumi tidak juga menoleh kepadanya.


"Bagaimana jika aku menawarkan perdamaian kepadamu?" Tawar Moedya lagi.


Arumi tertegun untuk sejenak, tetapi tetap tidak menoleh kepada pria yang sedari tadi berdiri di sampingnya dan menatapnya. Arumi kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Arum, tolonglah! Katakan sesuatu!" Pinta Moedya.


Arumi kembali menghentikan aktivitasnya. Untuk kali ini ia akhirnya menoleh. Sepasang matanya yang indah, menatap lekat pria yang baru saja menciumnya dengan tanpa permisi. "Semudah itukah?" Tanya Arumi datar.


"Maksudmu?" Moedya balik bertanya.


"Aku melakukannya, karena aku pikir kamu telah membuka hatimu untuk Edgar," kilah Moedya.


"Jadi ... kamu melakukan itu untuk membalasku?" Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Arumi. Ia pun menggeleng dengan tidak mengerti.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu, Moedya? Jangan keterlaluan!" Sergah Arumi.


"Ayolah, Arum! Aku tidak menyukainya!" bantah Moedya.


"Aku tidak peduli! Itu bukan urusanku!" Tegas Arumi.


"Wow ... Arum. Apa taringmu sudah kembali?" Kelakar Moedya. Ia mengangkat kedua tangannya sebatas dada.


"Ya. Jadi jangan macam-macam karena aku bisa saja menggigitmu!" Sahut Arumi dengan ketusnya.


"Aku rasa ... aku akan menyukai hal itu," bisik Moedya dengan nada merayu.


Arumi kembali menghentikan aktivitasnya. Ia lalu melirik pria yang kini tengah tersenyum dengan kalem kepada dirinya. Sementara Arumi justru menatapnya dengan sinis. "Sekali playboy, tetap saja playboy!" Umpat Arumi lagi.


Moedya tertawa pelan mendengar umpatan dari Arumi. Ia justru terlihat senang dengan semua sikap sinis gadis itu kepadanya.


"Ya, dan kamu menyukai ciuman dari seorang playboy sepertiku," balas Moedya membuat Arumi seketika menjadi salah tingkah. Gadis itu tidak membalas ucapan Moedya. Ia malah berpindah tempat ke bagian yang lain dari dapur itu.


"Apa kamu tidak punya pekerjaan hari ini sehingga sudah menggangguku pagi-pagi begini?" Sindir Arumi. Ia mulai risih karena ucapan terakhir yang dilontarkan Moedya kepadanya.


Moedya kembali berdiri sambil menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja. Lagi-lagi, ia menggaruk keningnya seraya tertawa pelan. "Entahlah, tapi hari ini rasanya aku terlalu bahagia sehingga melupakan semua pekerjaanku," jawabnya dengan tenang.


Arumi menghela napas panjang. Ia kemudian menatap pria itu. "Kenapa ibu Ranum tidak menyetujui hubunganmu dengan Diana?" Tanya Arumi. Tiba-tiba ia merasa tertarik untuk kembali membahas masalah itu. "Bukannya Diana putri dari sahabat dekatnya?" Lanjut Arumi.


"Ya. Akan tetapi ibuku tidak menginginkan Diana. Dia selalu menginginkanmu untuk menjadi menantunya," sahut Moedya dengan seenaknya.


"Wah ... kedengarannya sangat memaksa. Lalu ... bagaimana seandainya kita memang tidak berjodoh?"


Moedya tersenyum lebar sehingga mempeihatkan deretan giginya yang terawat, meskipun ia seorang perokok dan pecinta kopi. "Jangan bicara seperti itu, Arum!" Sergah Moedya. "Dengarkan aku! Selama tiga tahun ini, aku tidak dekat dengan gadis manapun, apa lagi sampai menjalin suatu hubungan yang serius," terang Moedya.


"Oh, ya? Apakah kamu menginginkan agar aku dapat mempercayai hal itu? Sayangnya ... tidak!" Lagi, Arumi berkata dengan nada ketus kepada Moedya.


"Kamu sudah mengenalku, Arum. Meskipun aku memang terkadang menyebalkan, tapi aku adalah pria yang bisa dipercaya. Itu suatu kenyataan yang sudah tidak terbantahkan," ujar Moedya dengan penuh percaya diri.


"Bullshits!"


Bukannya tersinggung, Moedya justru malah kembali tertawa pelan. Ia lalu menghampiri Arumi dan kembali beridri di sebelah gadis itu dengan posisi menyamping. "Itulah yang terjadi, Arum. Aku tidak bisa untuk tidak memikirkanmu. Semua kenangan di antara kita ... semuanya, Arum!" Ucap Moedya. Pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.


"Lalu?"


Moedya terdiam untuk sejenak. Ia kemudian menggaruk keningnya. "Aku tidak akan banyak bicara, karena pasti akan terdengar sedikit berlebihan," ujarnya. Ia lalu menghela napas dalam-dalam. "Setidaknya, aku tidak lagi bersembunyi, Arum. Entah dengan dirimu, apakah kamu berani untuk bersikap terbuka atau tidak?" Tantang Moedya, membuat Arumi kembali terdiam seraya menatap lekat kepada pria itu.