Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Seperti Pernah Bertemu


Arumi menuruni deretan anak tangga seraya menggeret koper dengan ukuran sedang, yang diisi dengan berbagai peralatan miliknya. Hari ini ia akan berangkat ke resort milik Keanu dalam rangka acara liburannya. Sayangnya, ia tidak jadi berangkat bersama Edgar, karena pria itu masih ada urusan yang harus ia selesaikan. Akan tetapi, itu tidak menjadi masalah besar bagi Arumi, karena kunci mobilnya telah kembali ke tangannya. Lagi pula Arumi adalah gadis yang mandiri, ia tidak membutuhkan seorang pengawal yang akan mengikutinya ke manapun ia pergi.


 


Dimasukannya koper itu ke dalam bagasi mobilnya. Akan tetapi, sebelum ia masuk ke mobil, ia harus tertegun karena melihat seseorang yang datang saat itu. "Ah ... tidak! Kenapa aku harus kembali melihat pria itu?’’ Batin Arumi. Gadis itu pun segera menurunkan kaca mata hitam yang sejak tadi berada di atas kepalanya.


 


Entah ada urusan apa Moedya datang ke sana. Namun, satu hal yang pasti jika ia ke sana bukan untuk menemui Arumi. Moedya melepas helm-nya dan menoleh kepada Arumi. Akan tetapi, gadis itu memilih untuk segera memalingkan wajahnya. Ia juga dengan segera masuk ke mobilnya. Sementara Moedya memilih untuk turun dari motornya dan segera masuk.


 


‘’Dasar pria menyebalkan!’’ Umpat Arumi seraya mulai melajukan mobilnya. Sedan putih itupun keluar dari halaman luas kediaman keluarga Winata.


 


Beberapa saat di perjalanan, akhirnya Arumi tiba di resort mewah yang sudah berdiri sejak lama itu. Ya, resort itu dibangun oleh Adrian dan Surya, bahkan sempat juga dikelola oleh Ryanthi selama beberapa waktu hingga akhirnya kini beralih ke tangan kepada Keanu.


 


Lewat tangan dingin Keanu yang memang mewarisi darah bisnis yang sangat kental dari Adrian yang menjadi gurunya secara langsung, resort itu kini semakin jauh berkembang. Hal itu pula yang membuat Edgar merasa tertarik untuk mengajak Keanu bekerja sama.


 


Arumi langsung disambut oleh dua orang petugas di sana ketika ia baru turun dari mobilnya. Tanpa harus diperintah, pria dengan seragam berwarna hitam segera membawakan koper milik Arumi. Sementara pria yang satu lagi bertugas untuk memarkirkan mobil Arumi ke tempat parkir yang telah disediakan khusus, bagi para pengunjung yang akan menginap di tempat itu.


 


Surya Alam Winata, berdiri di atas lahan seluas lima belas hektar dan memiliki seratus lima puluh villa atau paviliun yang indah. Setiap villa memiliki teras dan taman sendiri, dan tentu saja kolam renang pribadi. Bagi yang ingin menikmati pemandangan lebih, maka pengunjung bisa memilih villa khusus yang langsung menghadap ke laut.


Pastinya siapa pun yang datang dan menginap di sana, maka ia akan merasa menjadi seorang bangsawan, karena akan dimanjakan oleh berbagai fasilitas mewah dengan pelayanan yang tidak akan mengecewakan.Tentu saja, karena harga sewa untuk sekali menginap di sana pun terbilang sangat fantastis, yaitu sekitar sembilan juta juta rupiah.


 


Itu juga yang dirasakan oleh Arumi saat ini. Ia menempati sebuah villa yang langsung menghadap ke laut. Kamar yang ditempatinya pun terasa begitu sejuk dengan jendela kaca yang lebar di sekelilingnya. Arumi pun sangat menyukai tempat tidurnya yang berhiaskan kelambu berwarna putih. Sudah seharusnya Arumi pergi berlibur sejak lama, bukannya malah mengurung dan mengasingkan dirinya.


Betapa bodohnya ia saat itu. Akan tetapi, Arumi mencoba untuk tidak memusingkan semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia sudah bertekad untuk melangkah dan mulai meninggalkan masa lalu yang membuat hidupnya terasa sangat kacau.


 


Ditatapnya kolam renang dengan air berwarna biru yang sangat jernih. Ingin rasanya ia untuk segera menceburkan dirinya ke sana. Akan tetapi, tubuhnya terasa sangat lelah. Arumi lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur hingga tanpa ia sadari, ia akhirnya terlelap.


 


Keesokan harinya.


Setelah selesai melakukan olahraga ringan di halaman villa, Arumi beristirahat untuk sejenak sambil menikmati menu sarapan yang sudah tersaji untuknya. Suasana di sana memang sangat nyaman dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata.


 


Sore itu, cuaca sangat mendukung bagi Arumi yang sudah berniat untuk berjalan-jalan di pantai. Sebuah hotpants jeans dengan kaos press body berwarna putih, menemani langkah Arumi saat menyusuri pantai berpasir putih itu.


Angin berhembus kencang saat itu. Arumi memutuskan untuk menggulung rambutnya. Rupanya sejak tadi ia menjadi pusat perhatian dari seorang pria asing yang diam-diam mengaguminya. Pria yang kini berjalan menghampirinya.


"Beautiful," ucap pria dengan postur yang hampir sama dengan Keanu. Berambut cepak dengan sorot mata yang dalam berwarna abu-abu. Ia memakai kemeja tipis dengan kancing yang dibiarkan terbuka seluruhnya sehingga mengekspos perut sixpack-nya.


Arumi kemudian mengalihkan tatapannya pada bagian bawah pria itu yang memakai celana pendek berwarna hitam, dengan sepasang sandal jepit sebagai alas kaki. Satu hal yang menjadi perhatian Arumi ialah, tato yang memenuhi lengan pria itu, yang terlihat jelas dari balik lengan kemeja yang ia lipat hingga ke atas.


Arumi tersenyum kecil. Gadis itu kemudian segera mengalihkan pandangannya ke laut lepas. Tidak lama lagi, senja akan datang. Arumi ingin melihat matahari terbenam di sana.


"Why are you alone?" Tanya pria itu. Terdengar begitu sok akrab dan terkesan merayu.


Arumi lagi-lagi tersenyum kecil. "I'm not alone," jawab gadis itu. Sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan pria asing itu.


Si pria segera mengedarkan pandangannya ke setiap bagian tempat itu.,"Apa ada sesorang yang sedang mengawasi kita dari kejauhan?" Tanyanya. Ia sepertinya begitu yakin jika Arumi memang sendirian di sana.


"Ya," jawab Arumi singkat. "Sorry, but i have to go," Arumi membalikan badannya dan bermaksud untuk beranjak dari sana. Akan tetapi, ia lalu menghentikan langkahnya. Arumi kembali menoleh kepada pria itu.


"Sebentar lagi matahari akan terbenam. Terlalu sayang untuk dilewatkan," ucap pria itu lagi. Ia menunjukan raut muka yang begitu hangat dan bersahabat kepada Arumi.


"Ya ... memang," jawab Arumi setuju.


Pria itu tersenyum. Sesaat kemudian, ia lalu menyodorkan tangannya dan mengajak Arumi untuk bersalaman. "My name is Benjamin Beaufort. You can call me Ben," pria itu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang terlihat cukup sangar.


"Arumi," balas gadis itu seraya menyambut tangan Benjamin. Mereka pun bersalaman. "Where are you come from, Ben?" Tanya Arumi.


"France," jawab Ben tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis itu. "By the way ... namamu terdengar sangat cantik. Sama persis seperti orangnya," sanjung Ben.


Arumi mengangguk pelan. Akan tetapi, ia tidak terkesan dengan sanjungan dari pria itu. Ia juga merasa heran, karena di dunia ini seakan tidak ada negara lain selain Perancis.


"Ada masalah?" Tanya Ben ketika melihat Arumi terdiam untuk sejenak.


"Oh ... tidak! Tentu saja tidak!" Sahut Arumi dengan sedikit gelagapan. Baru saja ia akan kembali bicara, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menyebut namanya. Suara yang sudah sangat akrab di telinga Arumi. Arumi pun segera menoleh.


Edgar telah berdiri tidak jauh dari Arumi dan Ben. Pria itu masih setia dengan senyumnya yang menawan.


"Kapan kamu datang? Kenapa tidak memberitahuku?" Arumi belum pernah sebahagia itu saat melihat Edgar. Senyum lebar dan binar indah menghiasi wajah cantiknya.


"Baru saja," jawab Edgar dengan kalemnya. Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapannya kepada Ben. Pria yang juga saat itu tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat aneh.


Edgar berpikir untuk sejenak sambil terus menatap pria itu. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Edgar kepada Ben seraya mengernyitkan keningnya.


Ben tampak tersenyum simpul. Ia masih melayangkan tatapannya yang aneh kepada Edgar, "Aku rasa tidak," jawabnya dengan begitu tenang.