
Edgar bertindak cepat. Tanpa memedulikan kondisi tubuhnya sendiri, hari itu ia langsung datang ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang penculikan terhadap kekasihnya Arumi.
Ia disambut hangat oleh seorang petugas di sana. Kebetulan, Edgar juga menjalin komunikasi yang baik dengan kepala polisi setempat, yang merupakan sahabat lama Joaqcuin Guzman, ayah angkatnya. Jadi, anggap saja ia memanfaatkan hal itu untuk mempermudah langkahnya dalam mencari keberadaan Arumi.
Hampir dua jam, Edgar menceritakan kronologis lengkap tentang kejadian yang dialaminya hari itu. Semua ia ceritakan, termasuk ciri-ciri fisik kedua pria yang merupakan pelaku penculikan terhadap sang kekasih. Ia juga mengatakan jika mobil yang mereka gunakan adalah mobil perusahaan miliknya, jadi hal itu bisa membantu para petugas polisi untuk melacak keberadaan mobil tersebut.
“Terima kasih, Tuan Hillaire atas laporan Anda. Kami rasa ini sudah lebih dari cukup. Kami akan segera memulai penyelidikan. Nanti kami akan menghubungi Anda kembali. Sekarang, silakan Anda pulang dan beristirahat! Kami berjanji tidak akan membiarkan kasus ini sampai berlarut-larut,” ucap petugas yang menangani laporan dari Edgar barusan.
Edgar berdiri dan menyalami petugas polisi itu. “Saya sangat mengharapkan bantuan dari pihak Anda, Pak,” ujar Edgar dengan penuh harap.
Petugas polisi itu mengangguk dengan yakin. “Ya, Tuan Hillaire. Kami akan melakukan semaksimal mungkin untuk dapat menemukan keberadaan calon istri Anda. Sudah merupakan tugas kami untuk memberikan perlindungan kepada seluruh warga. Anda berdoa saja semoga kita dapat segera menemukannya dalam keadaan yang sehat dan tidak kurang satu apapun,” balas petugas polisi itu.
Setelah berpamitan, Edgar kemudian melangkah keluar. Tidak ada sedikitpun senyum di bibirnya. Wajah tampan itu kini tampak sangat menyedihkan dengan luka lebam di beberapa bagian. Akan tetapi, itu bukan hal yang penting bagi Edgar. Keselamatan Arumi adalah segalanya.
Hingga malam tiba, Edgar masih duduk merenung di ruang kerjanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Edgar dapat melacak keberadaan Arumi lewat ponsel. Dengan segera ia meraih ponselnya. Beberapa saat lamanya ia menunggu, tapi ia masih belum menemukan titik lokasi di mana Arumi berada.
“Apa mungkin ponselnya mati?” Gumam Edgar. Ia kemudian mengeluh pelan. Edgar menopang keningnya. Resah dan gelisah. Rasa khawatir yang teramat dalam terus menghantuinya. Edgar tahu jika Arumi adalah gadis yang kuat dan berani, tapi kini ia tengah berada di tangan orang-orang yang jahat, yang bisa melakukan apapun terhadap dirinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu ruang kerjanya. Carmen masuk dengan wajahnya yang penuh kasih. Edgar segera menyembunyikan semua kesedihannya dari wanita itu. “Bibi belum tidur?” Tanya Edgar seraya beranjak dari belakang meja kerjanya. Ia menyambut wanita tua itu dan mengajaknya untuk duduk di atas sofa yang ada di sana.
“Aku tahu jika kamu juga pasti belum tidur, Ed,” balas Carmen. Tatap matanya penuh dengan kesedihan saat melihat Edgar yang tengah terpuruk karena penculikan Arumi.
“Aku tidak bisa tidur, Bi,” ujar Edgar pelan. Ia mengalihkan tatapannya pada lantai kayu berlapis karpet merah bermotif.
“Aku tahu kau pasti sangat mencemaskannya. Namun, kau juga harus ingat dengan kesehatanmu, Nak. Jika sampai kau sakit, lalu siapa yang akan mencari Arum? Kau harus kuat dan jangan sampai terpuruk!” Carmen mengelus lembut rambut Edgar.
“Ini sudah hari kedua, Bi. Pihak kepolisisan belum juga menghubungiku,” resah Edgar. Ia seperti bukan Edgar yang biasanya, yang selalu terlihat tenang dalam berpikir dan setiap kali melakukan sesuatu.
“Kau adalah pria yang cerdas, Nak. Aku yakin kau akan menemukan cara untuk dapat segera menemukan keberadaan Arumi. Yakinlah, Tuhan pasti akan selalu membantu dan memudahkan setiap niat baik dari umatnya. Untuk saat ini mungkin terasa berat. Akan tetapi, jika kau sudah tiba pada satu pintu yang akan membawamu pada pintu berikutnya, maka kau akan segera dapat menuntaskan masalah ini. Aku berharap, Tuhan menghukum mereka semua yang telah membuat Edgar-ku menjadi seperti ini! Hukum mereka!” Carmen terdengar begitu emosinal.
Wajah tua-nya terlihat sangat berapi-api dengan sorot mata yang tegas. Edgar menatap wanita yang sudah ia anggap sebagai pengganti orang tuanya itu. Dipeluknya wanita itu dengan hangat. Edgar bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati dan tidak membiarkan dirinya benar-benar sendirian.
Di ‘Kandang Babi’.
Arumi terbangun pagi-pagi sekali. Samar-samar ia mendengar suara seseorang entah dari bagian mana bangunan itu, tetapi ia dapat mendengar dengan cukup jelas suara seorang pria yang tengah marah-marah. Berkali-kali ia bicara dengan nada yang cukup tinggi. “Sudah kubilang jangan sampai ada yang terluka! Kenapa kalian justru malah mencelakainya? Dasar bandit tidak berguna!” Makinya.
“Ah ... sial!” Gerutu Arumi dengan kesal. Ponselnya telah kehabisan baterai. Ia ingat jika charger ponselnya ia letakan di dalam koper. Lalu ... di mana kopernya sekarang?
Arumi kembali ke pintu. Ia memutar handle pintu itu bahkan mengguncang-guncangnya. Namun, pintu itu ternyata terkunci dengan sangat rapat.
Arumi menendang pintu itu dengan penuh emosi, sehingga menimbulkan kegaduhan di sana. Para pria yang tengah berkumpul di bagian depan ruangan dari bangunan itu akhirnya merasa terusik dengan kegaduhan tersebut. Begitu juga dengan seorang pria yang berada di kamar sebelah kamar yang ditempati oleh Arumi.
Ia terbangun dan ketika mendengar Arumi berteriak-teriak dengan lantang dan tanpa karuan. Beribu kata makian kasar meluncur deras dari mulut gadis itu. Arumi tidak peduli dengan apa yang akan terjadi karena ulahnya itu.
Ya, meskipun ia sudah berjanji kepada Keanu dan dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan membuat kekacauan lagi, tapi lain dengan saat ini. Semakin ia membuat keonaran, maka ia akan semakin diperhatikan.
Pria yang berada di kamar sebelah, terus mendengarkan semua kegaduhan yang ditimbulkan oleh gadis itu. Ia tidak tahu jika mereka juga menyekap seorang gadis di sana. “Keterlaluan!” Geram pria yang tiada lain adalah Henry, orang yang merupakan suruhan Edgar.
“Apakah semua wanita seperti itu? Mereka selalu membuat kegaduhan di pagi hari?” Tanya salah seorang pria yang ada di sana. “Seperti ibu tiriku saja,” gerutunya sambil beranjak ke kamar yang ditempati oleh Arumi.
Sementara itu, Arumi terus menendang pintu dengan keras hingga ia menyadari jika ada seseorang yang datang ke sana. Arumi pun segera menepi dan merapatkan tubuhnya ke dinding.
Begitu pintu terbuka, Arumi segera melayangkan tendangannya kepada pria tadi hingga ia terhuyung ke depan dan hampir jatuh terjerembab. Sebelum pria itu sempat berdiri, Arumi kembali mendaratkan tendangannya pada bok•ong pria itu hingga ia benar-benar jatuh tersungkur.
“Cium lantai itu, Tuan Brewok!” Cibir Arumi.
Dengan segera ia mengambil kunci dan keluar dari dalam kamar. Arumi kemudian mengunci pintu itu dari luar. Dengan penuh waspada, ia melangkah dan menyusuri lorong yang akan membawanya ke ruangan depan, barulah menuju pintu ke luar.
Akan tetapi, sebelum Arumi meninggalkan tempat itu, perhatiannya kini tertuju pada kamar yang berada di sebeIah kamarnya. Arumi mendengar ada seseorang yang menggedor pintu itu. Sementara pria tadi juga terus menggedor pintu kamar yang Arumi kunci dari luar.
Arumi bermaksud untuk menghampiri pintu kamar sebelah. Namun, langkahnya harus terhenti karena ia mendengar ada langkah kaki yang menuju ke arahnya. Arumi segera mencari tempat untuk bersembunyi. Ia melihat ada lemari kayu yang cukup besar di sana. Tanpa berpikir panjang, Arumi segera menjejalkan tubuhnya ke dalam lemari itu. Ia membuka sedikit pintu lemari itu dan mengintip ke luar. Terlihat ada dua orang pria yang datang ke sana. Seorang dari mereka adalah pria berambut ikal kemarin, dan seorang lagi ... entah siapa.