Sugar Mamy

Sugar Mamy
Pertaruhan


"Siapa....?" Dion yang sedari tadi memperhatikan obrolan kami dengan segera bertanya.


"Itu..... Yang punya tattoo sayap burung Di punggungnya Dan teman kuliah ku"


Aku dan Dion sama - sama menghembuskan nafas panjang...


"Luna....." jawab kami bersamaan.


Wanita yang sungguh - Sungguh tidak pernah berharap untuk aku libatkan dalam hidupku. Semua Di antara kami hanya masa lalu.


******


"Jadi...." Maria memutar maniknya " saksi yang paling bagus tentu adalah Luna, kemudian Ronald sebagai temanmu saat itu baru kita minta Sandrina sebagai pemilik property"


Aku masih diam sambil menggigit bibirku sendiri berharap, Maria akan langsung ke saksi yang paling mudah untuk di rayu. Ronald misalnya, paling cuma butuh ditraktir clubbing ke LA atau liburan ke santorini. Masih Bisa di usahakan.


"Aku mau Luna, agar processnya cepat"


Dan sudah ketebak yang Maria mau.


"Ronald aja ya?"


Maria menggeleng "Itu alternative berikutnya. Permasalahannya Ronald bukan orang yang butuh image, kesaksiannya mungkin akan banyak mearacau Dan Bisa berubah"


"Apa bedanya dengan Luna?"


"Ayahnya seorang menteri, dia tidak akan membeberkan hal - hal negative yang mungkin kalian lakukan selama bersama" Maria mencoba menangkap pandangaku yang tertunduk.


"Kita tahu banyak orang bersenang - senang tanpa batasan Norma saat muda" Maria masih meneruskan kalimatnya. "Bukan berarti itu Bisa di maklumi, kamu perlu tetap tampak menjadi lelaki baik - baik"


Itu tidak salah, tapi apakah Luna akan benar - benar bekerja sama dengan kami Tanpa imbalan?


"Aku yang bernegoisasi, kamu terima jadi"


"Yakiin....???" Aku merasa sedikit cemas dengan keputusan Maria "Luna bukan orang yang mudah, meski Berat, aku akan mencoba bernegosiasi. Setidaknya kami pernah sepakat"


"Tapi dia tidak menepati kesepakatan kalian dengan baik, dengan kenyataan dia mengharapkanmu saat ini"


Benar juga, tipe Luna tidak sepenuhnya seperti ku. Seharusnya dia lebih menyukai lelaki Latin seperti Anthony. Jadi.... Dia sekarang lebih matre atau perhitungan.


"Tania anakku bagaimanapun dia pasti akan minta imbalan dariku" satu sudut bibir Maria terangkat "Resiko itu harus aku hadapi bukan Di hindari"


"Mar.." Aku coba menahannya ketika akan meninggalkan tempat duduknya "Jangan lepasin aku ya..."


Ketakutanku Luna akan meminta Maria untuk menceraikanku. Dan Maria menyetujuinya demi mendapatkan Tania.


"Aku yakin aku pasti berharga buat kamu kan? "


Maria hanya menarik nafas dalam - dalam Dan berlalu.


*****


"Kalau aku dan Tania jatuh ke laut, siapa yang kamu tolong Mar" Aku hanya memastikan Maria tidak menggadaikanku.


"Bukan dua - duanya, aku akan telpon 911" jawab Maria tanpa expresi, ketika membantuku mengancingkan lengan kemejaku.


"Kok gitu... Kamu nggak cinta sama kami?"


"Aku nggak bisa berenang"


Oh iya bener juga. "OK kita rubah situasinya, kalau aku dan Tania jatuh ke kandang macan? Siapa yang akan kamu bantu?"


Maria menyipitkan matanya ke arahku.


"Kamu punya hati Har?"


Aku mengangguk


"Aku akan menyelamatkanmu, tapi pastikan Di Tanganmu ada Tania. Kalau tidak..."


Maria mengikat erat dasi Di leherku.


"Kalau tidak" Maria merapikan bagian pundakku "Aku pastikan kamu hidup dengan memohon kematian Di setiap detiknya, kamu akan menyesal pernah selamat dari kandang macan itu"


Aku hanya mematung mendapatkan ancaman yang Maria lontarkan.


"He... He... MAR.. aku hanya bercanda, Kenapa kamu ngancamnya serius banget"


"Aku tidak pernah bercanda untuk urusan keluarga" Maria merapikan dasiku sekali lagi.


"Kabari aku tempat Dan waktu, kapan Luna mau menemuiku. Lebih cepat lebih baik, sebisa mungkin dalam Minggu ini" Maria mengingatkanku.


"Yakin.. Nggak mau ganti Ronald saja?"


"Har...."


"OK.. OK..."


*******


Sayang sekali Luna bukan wanita yang asik seperti dahulu. Wanita berbentuk seperti luna harusnya malu menjadi pelakor.


Tapi dunia ini sudah berbeda, tidak masalah mendapatkan apapun dengan mengorbankan apapun.


"Ahirnya kamu menelpon aku juga" Suara luna terdengar lembut Dan manja. Dari suaranya saja kata cantik Bisa aku label kan.


"Aku sedikit meminta bantuanmu"


"Hmmmm.... Kamu mau kita ke hotel mana?" pertanyaan luna terlalu terus terang.


Luna tertawa ringan "20 menit lagi?"


"OK" aku langsung menyanggupi.


*****


Senyum luna merekah ketika melihatku muncul menghampirinya. Dia memang masih secantik dulu, bahkan nampak lebih matang.


"Ahirnya kita bisa berduaan lagi"


"Yup" Aku hanya merespon singkat.


Luna mengangkat gelas cocktailnya dan tersenyum ke arah lain. Seorang pria ber paras Latin rupanya sudah menyapanya sebelum aku datang.


"Cute guy" Puji luna dengan manik yang kembali ke arahku. "Salahmu terlambat sepuluh menit, kita tidak bisa kemanapun dari sini nanti"


Setidaknya masih ada yang tersisa dari Luna yang aku kenal.


"Aku pikir kamu sudah menjadi seperti kakakmu, tapi masih sama aja"


"Sedikit berbeda, aku mulai tertarik dengan hal yang lebih serius seperti pernikahan"


"ehem... Kamu Bisa memulai dengan pria itu" Aku menunjuk Pada pria yang baru melempar senyum Pada Luna.


"Good to be playmate, untuk pernikahan belum tentu dia memenuhi syarat"


"Harusnya suami orang juga Di luar kriteria"


"Kamu membicarakan tentang dirimu? Ada sedikit pengecualian tentang itu"


"Misalnya"


"Kamu adalah pewaris tunggal Tower High"


"As simple as that"


Luna kembali melempar senyum ke arah pria yang sama "Well"... Luna menarik nafasnya dalam - dalam "Ayahku akan mencalonkan untuk posisi yang lebih penting ke depannya"


"Kamu butuh dukungan??"


Luna mengangguk pasti.


"Kamu salah alamat, aku tidak sehebat itu. Seharusnya kamu menggoda ayahku dari Pada aku. Karena jelas dia pemilik ya hingga saat ini, apalagi suami orang bukanlah halangan bagimu"


"Kamu mengejekku?"


"Aku bicara kenyataan"


Kami Saling menatap dalam henning untuk beberapa saat, sebelum ahirnya


Luna menyesap cocktailny.


"Kamu tidak berniat hanya menggunakanku untuk membuat wanita tua itu cemburu bukan?"


"Tentu tidak, hubungan kami bukan kekanak - kanakan seperti itu"


Luna tertawa kecil "Kamu belum tua Har.. Menikmati masa mudamu bukan hal yang buruk"


"Aku sedang melakukannya dengan cara yang baru"


"Really....???? Dengan Maria???"


"Dan anak - anaknya" sambungku jelas.


Hah... Luna tertawa renyah.


"Karena itu aku Di sini, aku butuh kamu sebagai saksi untuk liburan kita yang ini" Aku menyodorkan foto ku dan Maria saat itu.


"Aku ingat liburan ini, kita pindah ke lantai atas, karena balkonnya yang sedang bermasalah"


Aku lega mendengar pernyataan luna. Berarti dia cukup Bisa mengingat dengan detail.


"Dalam kasus apa yang sedang kamu hadapi"


"Aku dan istriku sedang mengajukan hak asuh penuh putri kami"


"Putri Maria Dan anak tiri kamu tepatnya?"


"Benar, tapi bagaimanapun dia putri ku bukan. Tiri atau tidak, akan sama saja"


Luna menggesek dagunya yang membelah indah secara perlahan.


"Artinya kamu tidak akan bercerai dengan Maria dalam jangka waktu lama? Atau mungkin akan Berahir menjelang tahun politik berikutnya?"


" Dua - duanya tentu tidak" sesuai dugaan Luna tidak mungkin melakukannya tanpa imbalan. "Aku bebas kan kamu untuk membuat penawarannya. Asalkan bukan pernikahanku"


"Bagaimana kalau kita berlibur bersama. Sekali lagi?" tawa luna berderai "Tentu tidak bukan?"


"Aku dengar Maria cukup hebat dalam urusan Bisnis" Luna menyesap habis sisa cocktail Di gelasnya "Aku ada negosiasi Bisnis yang perlu ke ahlian lebih"


Aku tidak ingin menebak atau memancing maksud Luna.


"Aku ingin Maria melakukannya untukku, dengan jaminan tanpa gagal" Luna mengetukkan jarinya beberapa kali. Seolah menungguku me respon.


"Aku ingin lebih tahu detail projek ya"


"Aku tidak perlu tahu detail kasusmu, jadi kita barter dengan seimbang... Bagaimana?"