Sugar Mamy

Sugar Mamy
Kumpul


Aku.... Mau Hamil..


Elena mengutarakan Keinginannya yang agak terdengar aneh Di Telinga Dion..


"Apakah aku sedang di lamar?"


Elena menggeleng, "Aku yakin aku tidak mandul"


"Kamu Ingin hamil hanya untuk pembuktian? Atau karena sungguh - Sungguh ingin memiliki anak?" Dion hanya memastikan tujuan Elena.


"Mungkin lebih tepatnya, aku ingin jadi wanita sempurna"


Dion menelan ludah kasar, sudah dia duga wanita manja ini, tidak mungkin tulus 100% menginginkan anak seperti Pada umumnya.


"Aku ingin anak laki - laki"


Kelanjutan ucapan Elena lebih membuat Dion menggeleng keras. "Anak tidak bisa di pilih dengan pasti, terserah kepada takdir"


"Itu keyakinanmu bukan keyakinanku"


Ke angkuhan Elena memang tak terbantahkan.


"Apakah kamu mengejar sesuatu?" Dion ahirnya mencoba menebak ambisi wanita yang menjadi sugar Mamy nya beberapa tahun terahir.


"Ada.. Aku ingin melahirkan putra mahkota untuk keluarga Bisnis ku!!" Elena tertawa lebar. "sudah seharusnya aku mulai memiliki julukan lain selain putri haram"


Dion ikut tertawa kering Dan sedikit hawatir. Karena, kemungkinan besar dia adalah ayah bayi itu.


"Putra kebanggan yang di calonkan jadi penerus telah melarikam diri dari posisinya, yang tersisa hanya ayahnya yang bermasalah" Elena menjelaskan singkat situasinya. "Aku akan jadi harapan baru, bagaimanapun untuk dunia Bisnis aku cukup bersih"


"Jadi..... Apakah aku ayahnya?"


Elena mengangguk Dan mengeluarkan Sebuah map dari tasnya yang terdampar Di sofa.


"baca baik - baik Dan tanda Tangani"


"Tapi... Aku lebih suka jadi pegawai... Aku tidak suka politik" Dion mencoba memepertahankan kedamaian hidupnya.


"Itu Di urus nanti.. Aku hanya butuh anak bukan rekan politik"


"latar belakangku hanya yatim piatu"


"Aku hanya butuh lelaki" tegas Elena.


Dion menghembus nafas cepat. "Apakah kamu Bisa pastikan aku akan hidup damai?"


"Aku tidak akan melibatkanmu... Srlain sebagai ayah dari anakku" Elena mengambil duduk Dan mengibaskan rambut indahnya "justru bagus berarti aku tidak perlu bernegosiasi dengan keluargamu"


"hmmm... OK" Tidak buruk menikah dengan Elena, mungkin dia sedikit angkuh Dan dominant. Tapi banyak point lain yang tidak mungkin ada Pada wanita lain.


"Ups..! Aku ingin anak kita lahir dalam pernikahan. Jadi... Jangan lupa pakai Pengaman"


"Aah... Sure"


*****


Dion memutar - mutar otaknya, mencoba menemukan kebenaran dari rasa bersalah yang seharusnya tidak perlu. Mulutnya kaku memandangku yang tentu sama terkejutnya ketika kami bertemu Di restaurant yang sama denganku.


Tengiang - ngiang kejadian saat itu...


"What is a matter Harr?? We like and love each other... Nggak ada yang salah"


"And you also fucking each other..!!"


"We are couple.." Elena mendongak tegak menantangku "Kamu seharusnya panggil saya Tante Elena!! Respect me.."


Elena benar.. Tapi aku memang tak pernah memanggilnya tante. Karena dia selalu bertingkah lebih muda dari usianya, Namun tak ku sangka dia juga ahirnya berpacaran dengan yang jauh lebih muda.


****


Aku yakin dia sama terkejut ya denganku yang mendapati bahwa Sugar Mami nya adalah tanteku. Namun Elena seperti biasa selalu bersikap tidak acuh akan segala hal.


Yang benar saja... Elena dengan bangga membisikkan bahwa dia akan menikah Dion.


Kenyataan itu, membuatku cukup marah Dan kesal. Tapi dalam lubuk hatiku aku setuju bahwa hal itu bukan Sebuah kesalahan.


"Apakah kamu serius akan menikahi Dion?" aku langsung membuka percakapan kami Pada into keresahanku.


"Apa kakek menyetujuinya?"


Elena tertawa renyah dari seberang sana dengan nada manjanya "Kamu sendiri tidak pernah meminta ijin ketika menikahi Maria, Kenapa aku harus ijin? "


Aku hanya sanggup mendengus kesal meski itu benar.


"Jadi... Kenapa menelponku?"


Ah... Aku hampir lupa dengan tujuan utamaku. "Aku mau mengajakmu mengunjungi Renata... Kamu belum bertemu dengannya sejak dia menikah,"


"Benar juga! Aku juga sekalian meminta rekomendasi tentang pelaksanaan pernikahan" Elena terdengar terlalu gembira untuk yang satu ini.


" Apakah aku mencium niat lain dari pernikahan ini?" Aku menggerutu "Apapun itu... Yang jelas jangan memakan banyak korban"


"Hi... Siapa yang sedang bicara? Bukankah kamu mengorbankan keluargamu untuk menikahi Maria? Aku hanya berusaha mengisi ruang kosong yang kamu sisakan..."


Aku mengerti, ke mana tujuan Elena. Dan aku mengerti pula Kenapa dia menginginkannya lebih, dari Pada harta keluarga. Sepenggal cerita yang terang selalu Berahir dengan kepingan cerita lain yang semakin memperburuk keadaan.


Aku tergelitik untuk menjelaskan situasi ku yang Sebenarnya, tapi aku rasa tidak akan berguna melakukannya. Lebih baik aku fokus Pada masa depan. Dan membiarkan masa lalu menggulung semaunya.


"Aku akan kirim alamat Renata, pastikan kamu tidak terlambat. Istri ku tidak menyukai kehilangan waktunya untuk menunggumu" Aku kembali ke point yang aku inginkan.


"Tak ku sangka kamu Berahir hanya menjadi budak wanita dengan jangkauan yang tidak seberapa itu"


Aku hanya tersenyum simpul Dan mengahiri sambungkan sellular kami tanpa ada kata perpisahan.. Rasanya tidak tahan mendengar Mulutanja Elena menghina Maria yang jauh lebih baik darinya.


Tanpa harta dari keluarga besar kami, Elena bukan siapa - siapa. Semua uang Dan Fasilitas yang dia miliki hanya sebatas pemberian kakek semata. Demi harga diri.. Huh.


"Elena setuju?" Suara Maria menggema


Aku mengangguk Dan menghampiri Maria yang berjalan lamban dengan perut besarnya.


"Dia bukan orang yang sulit, mungkin hanya sedikit lebih sabar menghadapinya"


"Aku hampir tidak percaya dia adalah tantemu, Elena masih nampak sangat muda Di banding Usianya"


"Jangan khawatir aku juga akan seperti itu Dan mungkin lebih baik"


"Itu justru membuatku semakin khawatir, karena aku akan menua sendiri"


Bersama Maria yang hamil aku belajar untuk tidak banyak bicara, dia selalu terus mendetail meski hanya hal yang sepele Dan mengeluhkan hal - hal yang cukup memusingkan. Sungguh jauh berbeda dari yang biasanya.


Siapa bilang hanya ibu yang menderita selama masa kehamilan. Seorang ayah juga, mungkin bukan fisik tapi lebih ke psikologi.


"Tidak penting siapa yang lebih tua, yang penting kita tetap bersama bukan?"


Aku menuntun Maria menuju sofa Dan beralih menuangkan segelas Air mineral untuknya..


"Aku rasa sore ini kita Bisa ke tempat Anthony, aku berharap kita Bisa santai Di sana hingga Tania tidur" Aku memandang wajah Maria yang nampak berfikir "Bagaimana?"


"Apa mungkin..?"


"Kita mencoba.....dulu, anggap saja dia harus berkenalan dengan adiknya"


Aku mengelus perut Maria


****


Dion pasti ikut datang? Aku masih belum terbiasa melihatnya bergabung Di keluargaku.


"Sorry... I got invite as well"


"Aku nggak ngundang kamu" Gerutuku ketika Dion mrnghampiriku "Mataku masih allergy lihat kamu sama Elena" terus terang lebih baik bukan.


"Sebenarnya, aku juga kurang biasa melihatmu menjadi suami Bosku Har! Hingga saat ini Dan aku sudah mulai berdamai" Dion hanya mengangkat Bahu Dan mengikuti Elena yang menghambur dengan santainya ke ruang tengah rumah Anthony.


Ruang tengah itu lebih mirip dengan Sesi pemotretan dari Pada kumpul keluarga. Semua terdiam Sejenak, dan menunjukkan sikap Alpha masing - masing. Genetik super yang dominant Pada fisik kami memang tidak bisa terelakkan. Termasuk aku.


Aku menoleh Pada Maria yang dengan berada Di sampingku, Di banding kan semuanya secara fisik dia mungkin lebih mencolok apalagi saat ini dia sedang hamil, menata penampilan tentu hal yang cukup sulit untuknya.


"Aku senang kita semua berkumpul selayaknya keluarga" Maria membuka keheningan dengan suara berwibawanya yang tidak terbantahkan. "Apakah kita juga Bisa mengajak Tania bergabung, karena aku rasa tidak akan Ada hal yang perlu dia lewatkan" Mata Maria menyorot lurus ke Anthony tanpa berkedip.


.