
Mungkin aku jahat memberi saran Renata untuk bercerai. Tapi jauh selain tentang keuntunganku, yang aku nasihatkan tidak salah. Meski mungkin tidak ada cinta, paling tidak Saling memenuhi kewajiban, bukan hanya mengambil Hak saja.
Renata hanya terdiam dan mulai menggunakan otaknya untuk berfikir.
"Bagaimana? Jangan berfikir hanya dengan nafsu karena penampilan Anthony yang menggoda. Berfikirlah bahwa kamu juga manusia"
"Ah... Jangan menasehatiku, kalau istrimu juga tidak jauh berbeda denganku. Aku yakin dia juga tergoda dengan Anthony Di masa lalu Dan tergoda denganmu Di masa sekarang"
"Tapi bukankah dia memilih untuk melepas Anthony, padahal dia sudah beberapa langkah jauh Dari tahapmu saat ini. Anthony bukan lelaki yang mudah Di tolak bukan?"
Renata mendengus kesal dengan semua sudut pandangku yang memukul mundur segala Alasannya.
"Jangan sampai, kamu bernasib seperti Maria Dan Tania. Saat nanti kalian memutuskan berpisah" kali ini lebih mirip seperti aku yang sedang meratap."Anyway... All of these, just my perspective though. Keputusan ditanganmu"
"Kamu mau cuci Tangan dari masalahku?"
"Aku bukan Dinas social, Jadi aku hanya dapat membantu dalam waktu dekat Dan memiliki expired date" Aku memutar manikku Pada benda pipih canggih Di meja kami. "Seperti yang kamu tahu, aku bukan pengangguran, ada banyak hal yang harus aku cari solusinya karena ulah Papi Dan Suamimu yang tampan itu"
"Hah... Apakah kalian masih dalam masalah?"
"Tanya saja Pada CEO kamu tercinta itu, aku malas menjelaskannya. Karena aku yakin kamu juga tidak bisa membantu" Aku segera beranjak dari tempat dudukku. "Ah iya, jasaku tidak ada yang gratis. Aku pasti meminta bayaran"
"Huh.... Dasar! Apa yang kamu minta sebagai imbalan"
"Pikirkan dulu apakah masalah ini penting bagimu. Yang jelas aku bukan lintah darat, jadi kamu tidak usah khawatir akan mati karena membayar jasaku"
"Menikah dengan wanita yang lebih tua, sepertinya bagus untukmu. Setidaknya kamu mulai menggunakan otakmu"
"Aku anggap itu pujian Dan jangan cari aku lagi kalau kamu tidak menyetujuinya"
"Jadi.... Apakah kamu akan memutuskan hubungan denganku juga?"
"Itu urusanmu... Lagi pula, kamu sama sekali tidak berusaha membantuku bertemu dengan Tania. Dari segala hal kamu tidak ada gunanya bagiku"
"Ha.. Ha.. Ha..." Renata tertawa lepas, tapi aku tak tertarik lebih lama lagi menghabiskan waktu dengan pemuja visual. Yang hanya menilai hidupnya sendiri menjadi budak atasnya. Makan tuh good visual.
******
Persidangan Papi sudah mulai Di gelar. Obsesi Mami untuk menjodohkanku dengan Luna juga belum sirna.
"Mami juga tidak keberatan, dengan anakmu Dan Maria. Bagaimanapun dia adalah cucuku" Sudah ke sekian kali dia menelponku hanya untuk mengatakan kalimat menyedihkan itu.
"Dari Pada mami sibuk memulung anak yang telah Mami terlantarkan. Bagaimana kalau mami berusaha mencari saksi atau bukti yang bisa meringankan Papi Di persidangan. Atau setidaknya Mami datang ke persidangan memberi dukungan"
"Huh... Papimu masih Di vonis bersalah, mana mungkin mami datang ke sana. Kalau ternyata hukumannya jadi lebih Berat, mau Di taruh Di mana wajah mami. Nanti wartawan motret - motret lagi.. Huh!!".
"Sepertinya Papi kena pelet sama Mami deh..Bye Mi" Aku menutup telpon sekaligus memblokir telphone Mami. Aku berencana unblock ketika Papi sudah bebas saja. Tidak pernah ada topik penting darinya, yang ada Mami hanya membuatku makin pusing.
Ada hal yang perlu aku fokus kan, seperti akusisi Bio chemical. Yang aku targetkan akan sudah beres sebelum Papi bebas.
"Adi.... Apakah Roselyn sudah memberikan draft dari Bu Maria soal Bio Chemical?"
"Belum pak, menurut Roselyn akan diberikan sore ini"
"Tolong, kamu siapkan juga draf untuk investor lain, maaf hari ini kamu harus lembur"
"Baik pak.. Saya mengerti, memang kebutuhannya mendesak"
"Besok kamu ambil libur saja, saya Akan urusan sisanya"
"Terimakasih banyak Pak"
"Cheers!! "
******
"Aku sudah tidak sabar melihat nama Dan wajahku terpampang Di beberapa tempat" Sambut Elena usai kami sama - sama keluar dari ruang meeting Di kantor Mas Aryo.
"Aku pastikan itu terjadi, tapi kamu juga harus tangguh menerima badainya"
"Kamu belum membereskan urusan kakek?"
"Kita selesaikan bersama bukan?"
"Maksudmu?" Elena agak sedikit panik
"Setiap benih butuh hujan, agar tumbuh. Serta butuh badai yang besar agar benih itu Bisa menyebar luas"
"Kamu memanfaatkanku?"
"Kita ini rekan bisnis tentu saja harus Saling memberi untung, fokuslah Pada hasilnya" Aku berdecih kecil, Elena kebiasaan dapat menyelesaikan semuanya dengan uangnya. Menahan Badai pasti seperti mimpi buruk baginya.
"Tunggu..." Elena menahan langkahku "Kamu pasti membereskannya bukan?"
"Kamu sudah lihat sendiri berapa angka yang masuk dari kantong ku? Tidak mungkin aku membiarkannya menguap"
Elena melipat lengannya Dan mulai mendesis pelan.
"sebentar lagi kamu akan memiliki pengakuan, jangan siksa lagi Dion untuk memberi keturunan. Dia tidak berhak menanggung dosamu" Aku mendengar umpatan keluar dari mulutnya. Wanita super itu pasti mengeluh akan posisinya yang kembali berada Di bawahku.
"Every thing is good?" Tiba - tiba mas Aryo sudah ada Di antara kami.
" We are great" , jawabku cepat " it's All done" Aku melempar senyum Pada Elena yang masih menatapku dengan kurang ikhlas..
"Aku ingin membicarakan soal persidangan Papi, bisakah minta waktu sebentar?" Aku segera mengangkat topik baru, sebelum Elena mencoba mnyuarakan pendapat yang sia - sia.
"OK.. Kita keruanganku" Mas Aryo menyambut ku dengan baik "Permisi ibu Elena saya pamit dulu" Tanpa menunggu, aku mendahului mas Aryo untuk memasuki ruangannya.
Mas Aryo yang mengikutiku Di belakang segera mengintip sosok Elena yang belum bergeming dari balik tirai ruangannya.
"Ah... Hampir tak percaya dia itu tantemu" Aku membiarkan mas Aryo menyaksikan wanita yang memang sedikit ajaib Di luar sana "Lebih takjub lagi, dengan usianya yang sudah kepala empat"
"Jangan terlalu lama nanti naksir" Godaku, Elena memang satu Di antara ribuan wanita, yang cukup beruntung. Karena itulah dia sering lupa usianya.
"Tidak salah kamu memilihnya menjadi directors sekaligus brand ambassador product Bio chemical yang baru" Mas Aryo sudah berada Di mejanya Dan mengambil beberapa berkas persidangan Papi.
"Aku langsung To the point saja" Aku mulai menyilangkan kakiku Dan menarik nafas dalam - dalam "Aku ingin Pada sidang kedua Papi, cobalah membuatnya lebih lama. Serta bantu mengexpose berita tentang Papi dari sidang yang lalu"
"Bukankah, itu akan memperburuk citranya?" Aku mengangguk, "Tapi akan meredakan kemarahan publick, karena mereka akan berfikir bahwa Papi memang sudah membayar kelalaiannya secara penuh, itu akan meringankan sanksi social Papi" Mas Aryo menatapku heran.
"Berita buruk tentang Papi akan membuat harga saham Tower High akan lebih terjangkau, Aku merencanakan untuk meningkatkan Jumlah saham yang aku miliki"
"Masuk akal dari segi Bisnis, tapi apakah kamu sudah berdiskusi dengan ayahmu?"
Aku menggeleng, "Papi pasti bertanya Pada Mami yang pasti bilang No. Lagi pula, aku yang membiayai persidangan jadi secara tidak langsung. Semua terserah kepadaku"
Mas Aryo tersenyum kecil "Rupanya, Maria sedang memelihara Harimau tanpa Di sadarinya"
"Well, kucing pun akan mengaum bila dibesarkan oleh Harimau? Atau mengonggong bila besar bersama Anjing" Aku hanya mengangkat bahuku. "I just choose the best for me"
.
"