Sugar Mamy

Sugar Mamy
Menyerang


Aku memutuskan mengatur pertemuan untuk berdiskusi dengan Mas Aryo.. kadar kepercayaanku pada Dion terus terang sedang berkurang. Untungnya hingga saat ini tidak ada yang tahu akan asal muasal pernikahanku dengan Maria. Mungkin Mas Aryo tahu, mengingat dia yang selalu mengelola semua persoalan hukum Maria.


"Tumben kamu berinisiatif sendiri menemuiku" sambut Mas Aryo dengan ramah.


"Iya Mas, karena kali ini urusan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan Maria"


Mas. Aryo menatapku heran cukup lama.


"Apakah kamu melakukan kesalahan?"


"Bukan aku... tapi aku sedang menaruh curiga"


"Oh ya...? Siapa?"


"Papi ku..."


Mas Aryo langsung serius menanggapiku. "Kesalahan apa yang kamu curigai dari Papimu sendiri?"


"Aku rasa Papi terlibat kasus korupsi, aku tahu Papi sangat kaya dan mungkin orang tidak percaya dengan kecurigaanku"


Mas Aryo masih mendengarkanku dengan khidmat.


"Tapi salah satu investor Papi sudah positive menjadi tersangka korupsi dan investigasinya sedang berjalan. Serta kegigihan Papi menikahkanku dengan Melissa hingga saat ini membuatku curiga bahwa Papi ingin melindungi dirinya dari kesalahan yaitu korupsi"


Mas Aryo mulai mencerna ucapanku yang mungkin cukup berantakan, karena aku menyampaikan dengan sedikit emosi.


"Aku tahu kondisi perusahaan Maria sedang kritis, tapi aku cukup tabungan untuk membayarmu dalam menyelidiki kasus ini, karena aku percaya bahwa sebagian besar petaka di perusahaan Maria juga karena Papiku"


Mas Aryo tersenyum tipis, matanya sedikit berbinar memandangku. "Kamu tidak malu kalau ternyata ayahmu benar - benar terbukti terlibat ?"


"Tidak... aku tidak butuh reputasi Papiku"


Mas Aryo mengangguk paham "Aku tidak akan memungut biaya untuk ini, jadi kau simpan saja uangmu"


"Eh... Tapi mas..."


"Anggap saja aku sedang melakukan aksi bela negara... bukan karena itu kamu, jadi kamu tidak perlu berhutang budi padaku"


Jawaban Mas Aryo membuatku membeku. Maria benar - benar beruntung memiliki teman yang baik, tidak seperti teman - temanku.


"Wah... terima kasih banyak mas!" Aku segera menjabat erat tangan Mas Aryo.


"Kamu... sungguh mencintai Maria?" Tiba - tiba pertanyaan itu muncul di antara kami.


"Tentu saja!" jawabku mantap, meski aku tahu mas. Aryo sempat ragu dariku. "Aku tidak pandai meyakinkan orang, tapi waktu pasti mendukung kebenaran dariku"


Mas Aryo tertawa kecil Dan menepuk pundakku. "Jangan khawatir, aku akan melakukan investigasinya segera"


"Oh iya mas... bisakah kamu menyelidiki ayah Melissa? Karena bisa jadi dia membantu Papi juga karena karena ada keuntungan.. Hehehe maaf aku minta lebih"


"OK... Aku tidak masalah, tapi nanti mungkin aku akan butuh bantuanmu".


"Tidak masalah mas.. Aku siap"


Aku keluar kantor Mas Aryo dengan perasaan sedikit lega. Mungkin karena aku sudah merasa tidak sendiri? Paling tidak aku sudah mempunyai partner seorang pengacara bisa aku ajak berkomunikasi secara langsung, tidak melewati Maria.


"Kamu sungguh yakin tidak masalah Tania ada di tangan Anthony?"


Aku membuka obrolan di kala kami usai bermain basket di atap rumah..


"Tidak, Anthony adalah ayah yang baik aku harus memgakuinya"


"Kalaupun dia ayah yang baik Kenapa dia melarangmu untuk bertemu dengan Tania, padahal itu tidak baik bukan?"


" Dia ingin menguasai keadaan selama persidangan berlangsung dan setelah mendapatkan hak asuh Tania, aku boleh bertemu dengannya, itu tidak masalah "


" Namun harus di rumahnya? ".


Maria menarik nafas sesaat " Hal itu akan aku urus nanti "Maria melempar bola basket ke arah ring"


"Good shoot!!" pujiku ketika bola itu memasuki ring "Kamu kalah tinggi saja"


"Bermain basket denganmu bukan untuk kalah atau menang, aku hanya ingin bermain saja"


"Kamu Sungguh tidak tahu bagaimana bergaul sebagai seorang kekasih? Kamu pikir, kami para lelaki menyukai menghabiskan waktu bersama kekasihnya dengan permainan basket yang tidak seimbang begini?"


"Paling tidak aku sudah berusaha"


"Berusahalah lebih dari ini untukku, aku bukan lagi suami yang kamu bayar, jadi posisi kita berimbang"


"Aaah... Kenapa aku sedikit menyesalinya, bagaimana kalau kamu hitung saja tagihanku padamu dan aku bayar ketika keuanganku kembali" Maria coba menawar dengan senyum yang cukup lebar.


"No.. Way.. Aku baru saja menikmati harga diriku yang baru, dan aku tidak akan melepaskannya lagi"


"Uhf.... Aku harus bersiap kalau begitu.." Maria mengangkat alisnya sambil mendengus "Menghadapi harga dirimu yang mungkin membuatmu pergi dariku..."


Aku memiringkan kepalaku. Mencoba mengkoreksi kata - kata Maria. "Dari mana kamu mendapatkan kesimpulanmu seperti itu?"


"Karena aku Sungguh - Sungguh tidak tahu caranya bergaul sebagai pasangan atau berusaha mendapatkan hati laki - laki" Maria mencoba berbalik bersiap meninggalkan atap.


"Kamu menyerah begitu saja?" Aku menahannya sejenak.


"Aku tidak pandai berenang diantara cerita romansa kehidupan yang kalian sebut asmara, karena aku sibuk belajar terbang tinggi hingga tiada hujan yang bisa menghantam seperti elang" Maria menjelaskan tegas siapa dirinya "Bila ada yang ingin bersamaku, aku akan mengajaknya terbang bersamaku tapi aku tidak akan pernah turun dan berkubang dengan air hanya untuk mendapatkan kisah romantics, karena aku tahu aku hanya punya sayap bukan sirip"


Aku hanya memaku mencerna ucapan Maria yang tak bisa terelakkan bahwa dia telah membangun sayap untukku terbang bersamanya.


"Sepertinya aku juga mulai kehilangan siripku" Aku menggumam otomatis.


"Kamu sendiri yang bilang ya..? Jadi jangan meminta untukku berenang tanpa tujuan, aku tidak main - main ketika menerima lamaranmu"


Kenapa aku jadi merasa sedang diancam? Maria tetap adalah Maria dan dia selalu berada di posisi Alpha "Hah... Berarti kamu memang istriku bukan?"


"Tentu saja!!"


" Lebih baik aku menagih jatahku sebagai suami, langsung ke inti romansa nya"


"Siapa takut!!"


Setidaknya sekarang Maria bisa menjadi istri yang sepenuh hati, dan sepertinya aku juga mulai menjadi suami yang sepenuh hati.