
Aku sudah menunggu Maria hampir satu jam lamanya. Seingatku dia berangkat lebih awal dariku ke kantor, tapi mengapa sudah hampir jam makan siang Maria juga belum muncul.
"Sudah lama menunggu?" suara Maria tidak seempuk biasanya.
"Ada yang kurang berkenan?" Aku sedikit heran.
Maria menarik nafasnya dalam - dalam dan segera membuka pintu ruangannya.
"Masuk..." tanpa menungguku langkah Maria melaju cepat ke arah mejanya.
" Hanya sebuah kecurigaan" Maria memutar tubuhnya dan segera mengarahkan sepasang maniknya padaku. "Kamu sedang menggali kuburanku?"
"Bisa lebih jelas, tidak perlu kata kiasan. Aku tidak begitu pandai menebak"
Maria meraih map kulit dari tumpukan dokumen di mejanya.
"Kamu mengajukan penjualan kapalku?"
"Oh soal itu" Aku menerima map itu dan menunjukkan halaman ketiga "Aku sudah memberikan alasannya pada lembar ketiga dan selanjutnya"
"Aku tidak bodoh Har.. Asset perusahaanku berkurang secara bertahap di tanganmu. Tanpa penjelasan lebih detail yang bisa aku cerna"
Aku mendekati wanita yang berperan ganda pada hidupku, Boss sekaligus istri, serta investor utama untuk strategy investasi yang aku bangun.
"Tujuanku jelas, aku ingin kamu mendapat hasilnya. Tanpa menghawatirkan hal yang lain" Aku coba mengarahkan pembicaraan kami untuk lebih jelas.
Hasilnya?
"Bila kita tidak sanggup melawan, kita Bisa menghancurkan" Aku memberi jeda sejenak dan memberikan map itu kembali ke tangan Maria.
"Mereka hanya tahu kamu sebagai pemilik Globalindo tidak lebih. Kita sudah banyak masalah dari banyak segi, kesulitan suplier, legalitas produk baru kesulitan dalam kelancaran transportasi, dan banyak lagi. Andaikan Papi dan Anthony melepaskanmu reputasi kita sudah berantakan" Aku menjelaskan keadaan yang sudah tidak bersahabat.
"Kamu tidak menjabarkan detail rencamu padaku" Maria rupanya kurang senang dengan langkahku.
" Bila kita tidak bisa menang, lawan kita juga tidak " Aku menekankan sekali lagi prinsip strategyku.
"Apakah kita terlalu kecil?" Maria menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, helaan nafasnya mencerminkan kekecewaan. "Kamu berhasil mendapatkan 5% saham Tower High dari Elena, Apakah kamu berencana kembali kepada indukmu?"
Aku menggeleng pasti "Aku juga berencana akan mendapatkan saham Renata, tapi aku menunggu mendapatkan nama lain untuk itu, agar tidak terlalu mencolok"
" Jelaskan"
"Aku akan memecat Anthony lewat dewan direksi Tower High, Hal itu akan membuka peluang lebih besar untuk kita mendapatkan Tania. Tapi, tentu Papi tidak akan senang dengan kenyataan itu Apabila aku berhasil"
"Dan dia akan menyerangku lebih massive" Maria mulai bisa mengikuti arah berfikirku kali ini. "Kamu hanya punya 5% saja, apakah cukup?"
"Aku berencana akan mendapatkan milik Renata, On progress"
"Aku tidak yakin dia akan menyetujuinya"
"Mau bertaruh?" Aku bukan anak baru lagi, aku sudah mulai Bisa bertaruh dengan Maria pada tahap ini.
"Aku merasa telah memelihara Harimau"
"Seperti kamu tahu, aku murid yang baik dan pintar. Aku selalu mendengarkan guruku tercinta" Aku tersenyum penuh Arti sambil menunjukkan lembar persetujuan yang menjadi tujuanku menemui Maria hari ini.
"Huh! Aku pikir kamu tidak pernah mendengarkanku"
"Mana mungkin apalagi ketika kamu mendendangkan namaku dengan merdu, seperti lolongan paus di tengah samudra. aku sangat mendengar kainnya dan menikmatinya " jawabku sambil menggoda.
"Aku sedang serius?"
"Antara suami istri, sisi seperti itu juga hal yang sangat serius"
"Back to the point, apakah kamu berencana memukul mundur perusahaanku juga?"
"Bukan pilihan utama, tapi bisa jadi itu jadi option paling masuk akal. Aku tidak mengerti sebesar apa egois Papi ketika di siram dengan egois Mami. Kemungkinan perusahaanmu diserang lebih hebat ketika Papi bebas bukanlah kecil" Aku tidak menampik tuduhan Maria. Tapi aku percaya Maria memahami bahwa aku tak akan mencelakainya. Meski nampaknya seperti itu.
"Selama ini kalian hampir bekerja sama dan bergerak dalam hal yang mirip serta berkesinambungan. Karena itulah aku perlahan mencari cara, jikalau memang saatnya mereka menghantam. Itu hanya kosong, we easy to survive. Tidak seperti sebelumnya" Bagaimanapun aku harus meyakinkannya lebih.
Maria masih ragu dan terlihat masih sulit mengambil keputusan untuk menyetujuiku.
"You are improve a lot, I admit it" Aku merasa Maria sedang memujiku bukan?
"As you wish..!! Well, tiga business kita yang baru, designer, scientist dan kita masih punya Ryusu Home Ware. Semua di tunjang oleh otak brilliant manusia. Kali ini aku pasti bisa mengejar mantan terindahmu Jonathan itu"
"Kenapa harus bawa - bawa mantan"
"Tentu saja, Di antara semua mantanmu aku merasa aku yang paling bodoh"
"Karena kamu yang paling muda, belum berpengalaman itu normal" Maria mulai mengamati lagi lembar - demi lembar di tangannya.
"Padahal kalau secara fisik dengan semua wanita yang pernah dekat denganku mungkin kamu tidak bisa di hitung, tapi aku malu bila melihat sisi lainnya. So far, hanya Luna yang cukup bisa di pertimbangan bersaing secara keahliannya denganmu. Tapi dia juga masih mengandalkan orang tuanya, jadi masih tidak sebanding denganmu. Jadi secara trade record percintaan aku jauh kalah denganmu "
" Manusia bukan untuk di bandingkan, aku menolak yang satu itu "Maria mengahiri cepat bahasa yang di luar pekerjaan" Terus terang aku jadi susah menerkamu sejauh ini"
"Mudah saja, tanda tangani Dan lihat hasilnya hmmm..."
" Kamu tahu kan? Ini bukan hanya persoalan kecil ? "
"Absolutely!" Aku mengetuk lagi meja di hadapan kami. Agar Maria mengalihkan pandangannya kembali Pada hal serius yang terjejer Di meja.
"Tujuanku satu Mar" Aku mendekati Maria "Aku akan membuatmu berlutut dan hanya memandangku sebagai yang terbaik. Aku suamimu yang lebih darimu, aku tidak akan melihat mata garangmu itu kearahku karena kamu lebih pintar atau kaya dariku, aku pastikan ketika harga diriku kembali nilainya akan berlipat - lipat dan aku pastikan kamu tidak akan pernah melepaskanku. Karena hanya aku yang pantas untukmu"
"Jadi cuma soal itu.."
"Ini besar untukku, bukan cuma.."
"Kalau begitu aku akan ikut bertaruh" Maria mengangkat penanya lagi, kali ini dia memutar kursi ya dan mengeluarkan booklet berukuran A5 serta menyerahkannya padaku. "Globalindo adalah milikku, hampir seluruh hidupku. Andaikan suatu saat harus runtuh aku ingin dia runtuh sebagai perusahaan yang besar"
Maria mengisyaratkanku untuk mengambil booklet itu. "It's mean A lot buatku Har"
"So, we work hard and we Should play hard" Maria memang susah di kalahkan atau mengalah "Ready for scream louder tonight" Aku mengerlingkan mataku.
"Kamu terdengar sangat menyeramkan saat ini" Maria Ahirnya membubuhkan tanda tangannya.
"Jangan lupa, kamu yang menciptakan aku"
Maria berdecih, "sepertinya aku mengajarimu berlebihan"
"Three round"
Maria menggeleng "Satu"
"4 round"
Maria menggeleng lagi"OK.. Dua"
"Lima"
Maria terdiam dan menatapku dengan tajam.
"I will double it, kalau kamu menawar lagi"
Aku menarik map yang sudah di tanda tangani Maria, aku memberanikan diri menatapnya kembali. Hanya mengingatkan Maria, Di ranah tertentu dia tetaplah tidak lebih kuat dariku. "Kamu tahu aku pasti menang"
Aku segera melangkah meninggalkan ruangan "Jangan terlalu capek ya sayang" godaku dengan senyuman semanis mungkin sebelum menutup pintu
Tanpa menjawab, Maria melempar bolpoint ke arahku yang tentu saja gagal mengenaiku.
Aku memberanikan kembali membuka pintu dan menawarkan , "Mau makan siang bareng?" salah satu jariku menunjuk pada jam dinding.
Harusnya aku sudah menduga jawabannya " Apakah kamu butuh satpam untuk meninggalkanku sendiri?"
Dasar Maria galak!
See you tonight..
******