
Deru hujan yang sepertinya semakin menjadi latar yang bagus dari malam panas kami. Ternyata berantem itu menyenangkan, jika di selesaikan. Maria sama sekali tidak jual mahal malam ini. Meski tetap aku yang dominant. Tapi kemampuan Maria mengimbangiku rupanya berkembang cukup bagus. Bukan hanya secara fisik tapi juga mental, karena dia sama sekali tidak ingat akan kontrak kerja yang dia tagih dariku esok hari. Hanya ada aku dan Maria.
*****
Matahari sudah mulai menyapa, bau semerbak butter tercium sangat keras ketika aku membuka pintu. Dan perlahan suara tangisan Yodha terdengar Sejenak dan kemudian perlahan menghilang. Aku menggeleng sejenak, meski wanita makhluk lemah. Tapi mereka selalu punya tenaga untuk mengurus anak dan dapur.
Aku segera membersihkan diri, dan menggaet celana pendek serta kaos cotton. Jam kantor masih ada berselang dua jam lagi.
"Sarapan?" tawar Maria ketika melihatku menghampirinya.
Aku hanya mengangguk dengan pandangan mengkoreksi penampilannya. Daster, setelah sekian lama Maria mulai mengenakannya lagi.
"Just in rush" Maria mengerti atas aksi protesku "Yodha bangun lebih pagi"
Aku hanya mengangguk sekali lagi dan meneguk segelas cappuccino yang baru di sajikan di meja. "Kamu lagi manggang apa?"
"Croissant" jawab Maria singkat.
"Sepertinya kamu juga sudah sarapan lebih dulu baby?" aku menyapa putraku yang semakin mirip denganku. Sorry... Aku tidak banyak menjenguknya.
"Ini beberapa kontrak yang sudah aku pilih, aku ingin kamu membaca itu lebih dulu sebelum yang lainnya" Maria menyodorkan tablet ke hadapanku di iringi dengan dua buah croissant cinnamon dan almond " Aku sangat menyarankan untuk mengambil kontrak dengan Plaza Imperial untuk showroom display. Namun kamu perlu bernegoisasi sedikit untuk posisi outlet kita"
"Hmmmm.... Hmmmm..." Aku hanya manggut - manggut dan heran, kapan Maria selesai mengerjakan semuanya? usai malam yang panjang kemaren.
"Dan...."
Ternyata masih ada lagi "Aku sudah memikirkan soal diskusi kita di acara Alberto. Aku tidak bercanda untuk memintamu memghitung"
Kali ini aku terperangah. Aku pikir semua sudah usai, dan kami pada keputusan yang final. "A..." aku berniat ingin mengutarakan pendapat. Tapi Maria segera memotong.
"Cinta itu urusan lain, aku butuh komitmen yang lebih jelas" kami berdua hanya Saling menatap hingga... " Apapun yang terjadi dan apapun gossip yang ada di luar sana, aku butuh jaminan utuh hingga Tania ada di Tanganku"
"Kamu tidak percaya padaku??" Sejenak hatiku merasa rontok.
"Percaya itu urusan yang berbeda. Kalau kamu memang bisa di percaya seharusnya kamu tidak akan ragu untuk menandatangani perjanjian kedua kita"
Saranku, siapkan mental baja ketika kamu menikahi perempuan besi. Seperti yang terjadi padaku.
"Aku tunggu kamu di kantorku sore ini"
"Kamu sudah masuk kerja??" aku masih belum usai dengan rasa terkejut sebelumnya kini sudah ada yang baru lagi.
"Aku tidak punya alasan untuk menunda" Maria tersenyum Sejenak "Oh iya, jadwal persidangan ayahmu akan di ajukan tiga hari lagi, Jangan lupa serahkan berkas Bio chemical padaku sebelum itu"
Aku tertawa renyah, welcome to the jungle.
"Aku juga ingin menagih janjimu. Soal keluargamu"
Maria memutar maniknya sesaat.
"I don't want the word No" Aku segera menyela sebelum ada suara lain yang keluar dari mulut Maria.
Maria hanya menghembus nafas kasar dan mengikutiku menyantap croissant yang ada di piringnya.
******
Deru suara mesin cuci terdengar dari ruang laundry kami.
"Kamu yang mencuci?"
Maria yang masih memakai daster itu mengarahkan wajahnya padaku dan menjawab dengan ramah "Iya"
"Tinggal masukin ke mesin cuci, Yulia juga bisa kan?"
"Hasil perbuatanmu semalam aku tidak ingin orang lain melihatnya" Maria menunjukkan pakaian dalamnya yang sudah berbentuk abstrak.
"Seharusnya hanya dessert, tapi sepertinya ini main course"
Maria mengangguk dengan statis dan kembali merebut benda itu serta menggabungkannya dengan yang lain.
"Jadi harga diriku akan segera berkurang lagi usai aku menandatanganinya siang ini?" Aku tidak keberatan dengan komitmen tapi aku tahu angka nominal yang bergulir membuatku merasa lebih rendah.
"Tidak akan ada yang berubah, aku cuma butuh jaminan"
"I understand" Aku meletakkan telapak tanganku pada mesin cuci yang mulai menyala lagi.
"Mar..!!"
"Hmmm.."
"Hold this" Aku menarik kedua telapak tangan Maria untuk menegang bagian atas kanan dan kiri mesin cuci.
"Farewell freedom" ucapku lirih di telinganya di ikuti serangan di bagian intinya. Tubuh kami bergetar bersamaan dengan ritme mesin cuci yang ternyata, cukup membuatku ingin lebih.
"Another one.." setelah beberapa saat aku mengangkat tubuh Maria untuk mengambil duduk di atasnya, dan sekali lagi.
Keringat peluh bercucuran secara perlahan diantara kami. Tidak ada kata yang bisa terucap. Sesekali sudut mata Maria mengawasi pintu yang tak sempat aku tutup. Aku tidak peduli, ini rumah kami dan kami sudah menikah.
Kedua nafas kami rasanya mau habis ketika mesin cuci sudah berhenti. Sepasang manik Maria pun tak sanggup menatap garang lagi. Dia hanya sanggup bersandar pada dadaku yang masih naik turun.
" Har..." desisnya.
Aku segera menutup kedua bibirnya dan menurunkannya. Kami sama - sama duduk bersandar menatap pintu mesin cuci yang sudah berhenti berputar.
"Not bad..." desisku di antara nafasku "Aku rasa aku mulai tidak keberatan dengan daster"
Maria mencoba memukul lenganku dengan jemarinya yang tanpa tenaga. Namun hanya berahir sepasang lengannya melingkar di tubuhku tanpa ada kata - kata lagi.
"Well done?" Aku mencoba mengkonfirmasi atas perasaan dari activitas yang baru terjadi.
"Insane" Maria hanya mendesis pelan, dengan wajah yang masih tenggelam di ketiakku. "Jangan lupa semua pekerjaanmu, pastikan kamu tidak telat sore ini" Lanjutnya dengan nafas yang lebih baik "
" Seriously...? "Aku mempertanyakan, bagaimana mungkin dia masih memikirkan hal itu.
Maria mengangguk " Aku tetap professional anyway "Wajahnya tertawa kecil.
" Tentu saja, kalau kamu hanya mendesah. Mungkin aku berfikir bahwa kamu orang lain"
"Seburuk itukah?" Maria Kini menengadahkan wajahnya.
"Ah.. Yup.." aku mengangguk meyakinkannya.
"Apakah kamu tidak keberatan?"
"Apakah aku masih di pertimbangkan?"
"Come on Har.... Apa aku seburuk itu?" Maria mulai merapikan rambutnya.
"Ini sulit, meski aku keberatan. Tapi kadang aku merindukannya"
Maria meraih bibirku, "Kamu bebas mengkritikku dan aku akan memdengarkan" segurat senyum tersaji dengan jemarinya yang mulai merapikan rambutku " Aku butuh kepastian kamu di sisiku itu saja, jangan berubah"
"Jadi boleh sekali lagi" candaku ketika Maria mulai berdiri ke arah mesin cuci.
"Ahmm No! The game not fun whitout money" tepisnya "Kita harus segera kembali bekerja"
"Siap boss!!" seruku sambil berdiri dan menepuk pantat Maria "See you!!"
Maria hanya melambaikan tangannya dengan wajah kembali serius mengeluarkan satu per satu cucian ke dalam keranjang.