Sugar Mamy

Sugar Mamy
Reuni


Elena!!! Aha.. Aku rasa itu Bisa jadi Tiket untuk mempertemukan Maria Dan Tania, sekaligus aku bisa mencoba menyelidiki seberapa jauh hubungan Elena Dan Dion. Sekali dayung dua tiga pulau terlampui.


" Kita ke rumah Anthony... Dengan damai Dan aku jamin nggak akan Ada keributan, just family matter"


"Bagaimana kamu Bisa menjamin situasinya? "


"Anthony sangat menyukai posisinya sekarang bukan? Jadi dia tidak akan menunjukkan belangnya Di hadapan salah satu pemegang saham Tower High yaitu Elena" Aku mengerlingkan mataku Pada Maria dengan sesuap nasi goreng di sendok yang siap aku suapkan padanya.


"Ada urusan apa Elena ke rumah Anthony?"


"Bagaimanapun dia juga keluarga Renata Dan seingatku Elena tidak datang Di pernikahan mereka, jadi wajar kalau berkunjung"


"Jadi aku bisa bertemu Tania?"


Aku mengangguk


"With peace?" Tanyanya Lagi


"Absolutely...!! Trust me.." aku melempar senyum untuk kesekian kalinya "Aaaa..."


Maria membuka mulutnya lebar Dan segera melahap suapanku dengan perasaan Bahagia.


****


Aku melangkah dengan ragu memasuki area kantorku sendiri. Alasannya jelas karena Dion. Kok Bisa sih... Dion pacaran sama Elena.


Dion memang teman baikku tapi gara - gara itu aku jadi kurang rela dia menjadi pacar Elena yang merupakan tanteku. Apakah mungkin aku akan Berahir memanggil Dion paman.


Aku berhenti Di depan meja Dion, tanpa mengarahkan pandangan. "ikut ke ruangan saya sekarang!!" Aku mencoba menaikkan tone suaraku, agar berkesan ga rang.


"Ah.. O.. OK pak!!"


Aku sengaja tidak beranjak hingga Dion berdiri dari kursinya Dan segera berdiri Di belakang ku, maklum dia sering kabur klo merasa terancam. Kali ini aku pastikan dia tidak akan lari dari ancaman ku.


"masuk!!" Aku membuka pintu ruanganku Dan mempersilahkan dia masuk terlebih dahulu. "Kamu Bisa duduk Di sofa" Aku segera menutup pintu.


"Seberapa serius kamu dengan Elena?" aku bertanya tanpa basa basi.


"Jadi kita tidak bahas kerjaan?" Rupanya Dion ingin tetap privacy dariku.


"Ketenanganku adalah aset agar pekerjaan lebih lancar Dan aku sedang tidak tenang atas hubunganmu dengan Elena"


" huh... Kenapa jadi begini? We are start in benefit Dan sedang berfikir in serious"


"Kamu Di bayarin sama Elena" Aku tak ragu menebak.


Dion memutar matanya. "Iya...!! I need that saat itu Dan itu bukan tawaran yang buruk"


"Tapi Kenapa harus tanteku.."


"Mana aku tahu dia tantemu, aku mengenalnya terlebih dahulu sebelum kamu"


"Sejak kapan kamu Di peliharanya hah!!?"


"Sejak dia mulai sering dijodihin sama keluarga kamu, aku Di sewa untuk menghancurkan setiap kencannya... Dan kami Berahir with benefit"


"Prak..!!" Aku tak sengaja menampar Dion.


"Elena sangat cantik Di mataku Har.. Munafik aku kalau tidak tertarik padanya" Dion masih sanggup menjawab"


******


Elena tentu mudah memikat siapa saja termasuk Dion. Berawal hanya ngintip murid kelas memasak tetangganya hingga nekat kenalan ahirnya Dion pun berhasil berteman dengan Elena saat Di semester ahir masa kuliahnya.


Meski usia terpaut cukup lumayan, Namun Pada masa itu nampaknya tidak terlalu kelihatan, bukan hanya Dion yang memang cukup dewasa, tapi juga Elena yang memang selalu awet muda hingga sekarang.


Hari itu, adalah hari putusan perceraian Elena. Dion tahu betul kalau Elena sangat mencintai suaminya. Namun terkadang, cinta saja tidak cukup untuk Sebuah pernikahan.


Elena yang selama ini tinggal Di luar negeri, tiba - tiba menelphonnya Dan mengajaknya untuk berpesta Pada malam itu Di Sebuah club ternama untuk merayakan perceraiannya. Tanpa tanggung - tanggung Elena membooking satu club penuh.


Dion sengaja datang agak terlambat, agar wajahnya yang bahagia Bisa di simpannya rapi dalam hingar bingar party. Dia sudah pernah patah hati beberapa tahun lalu oleh cinta pertamanya, kali ini hati Dan perasaan itu perlahan mendapati harapan.


"Hi.. Yon kok telat!? "Sapa Elena yang melihat Dion baru saja datang menghampirinya.


" Biasa.. Ada kerjaan yang harus selesai hari ini... Sorry "


" huh... Masih karyawan saja belagu "


Ini yang membuat Dion selalu tak berani mendekati Elena. Dirinya hanya karyawan biasa, dan dari keluarga biasa - biasa saja. Andai saja Tante Tari, tetangganya bukan cheff mungkin Dion tidak akan pernah Bisa melihat apalagi berteman dengan tuan putri seperti Elena.


Tawa Dan tarian Elena sepanjang party membuatnya seolah dalam kebahagiaan yang tak terkira, Namun seberapa banyak minuman Alcohol yang diteguknya mengtakan hal sebaliknya. Dion yang sedari awal selalu mengamati Elena, meski hanya sesekali bergabung berdansa dengan wanita cantik itu mulai menyadari bahwa Elena sudah cukup mabuk.


" Istirahat dulu Na..."


Dion membopong Elena yang mulai sempoyongan menuju ke salah satu sudut sofa. Meski menurut, Elena menolak tawaran Dion untuk menyangga tubuhnya.


"Aku bisa Jalan sendiri... Aku nggak mabuk" Elena terus berjalan dengan langkah sempoyongan Dan hampir jatuh dua kali.


Dion hanya menghela nafas panjang mendapati keadaan teman lamanya yang perlahan lebih nampak menyedihkan.


"Brak..!! Elena ahirnya jatuh ke lantai, Dion yang mengikutinya hanya sanggup menahan bagian kepalanya.


" Pulang Aja Na...!! "


Elena menatap Dion dengan wajah mabuknya" Partinya udah nggak asik Di sini.. Pindah yuk "


" CK.. CK.. Masih mau party lagi? " Dion susah payah menegakkan kembali tubuh Elena yang memiliki tinggi sepadan dengannya. Namun yang lebih sulit adalah menghindarkan kedua maniknya dari Dada Elena yang terexpose indah Di depannya.


" OK... Kita party dalam mimpi aja yuk..!!! "


" Mimpi..? Tempat party baru..? Aku kok nggak tahu.."


"Iya.. Baru"


Dion melanbaikan tangannya ke arah petugas yang sedang berjaga untuk mennyiapakan mobil Elena. Dan 10 menit kemudian ahirnya Dion berhasil memasukkan wanita itu ke dalam mobil.


Elena melantur ke sana kemari tentang segala hal. 30 pesen sisanya adalah tentang mantan suaminya. Berkali - kali dia berteriak " Horeee aku single !!! ".


Satu sisi Dion Lega wanita impiannya itu single, tapi Di Sisi lain dia juga cemburu Karena nampaknya Elena masih mencintainya.


"Namanya Karma itu pasti datang!!" Elena menggumam "Entah padamu atau keturunanmu" lanjutnya yang kali ini menempaykan kedua telapak tangannya Di sepasang pipi Dion. Lihat aku... Aku cantik, sexy, kaya, aku juga setia, tapi tetap saja dia selingkuh... Karena.. Ini karma.. "Geriutunya ketika mereka sudah sampai di Apartment Elena.


Elena tanpa permisi mencium Dion dengan cukup antusias." Aku juga bagus urusan ini " Elena tertawa lepas, Namun menitikkan air mata.


" Kamu yang terbaik, lebih baik kamu tidur "Dion merebahkan tubuh Elena Dan menutupinya dengan selimut hingga sebatas leher. Bukan apa - apa, permasalahannya adalah dia juga lelaki normal, mendapatkan ciuman dari tubuh molek wanita impiannya tentu Bisa mempengaruhi pertahanan bagian nafsu dirinya.


"Uhf... Ahirnya" Dian mendengus kesal Dan memutuskan pergi tapi...


Elena sudah kembali duduk Dan memeluk dirinya.


"Kamu nggak percaya...?"


"Percaya... Udah tidur ya.." Dion merebahkan tubuh Elena Dan kembali mencoba menyelimutinya. Namun Di luar kendali Elena sudah menangkap sepasang bibirnya sekali lagi.


Tubuh Dion mulai bergetar.. Menahan sisa - sisa pertahanannya yang mulai runtuh. Jemari Elena pun mulai cekatan menyentuh bagian sensitif Dion yang Sudah protes untuk di bebas kan dari Sarang ya sejak beberapa waktu yang lalu.


"Elena... Stop" Dion coba menolak sambil coba menyingkirkan Tangan Elena. Namun Elena malah menangis.


"Apa aku seburuk itu hingga kamu menolak ku?"


Posisi Dion menjadi Serba salah. Andai kan Elena sadar bahwa ini adalah dirinya Dan dia mengajaknya berbuat lebih tentu dia akan bersemangat menerima tawaran wanita cantik ini, Namun Dion sadar Elena masih berfikir dia adalah mantan suaminya.


" Kamu cantik dan hebat.. Tidak perlu bukti"


Elena membuka bagian atas tubuhnya Dan membiarkan asetnya yang sangat indah tertangkap dengan jelas oleh sepasang manik Dion.


Dion hanya menggeleng Dan takjub, tenaganya sudah tak mungkin membendung apa yang di tahannya.


"Sangat ba.. Ba.. Gus Dan cantik" Guman Dion reflek mendaratkan tangannya Di sana.


Elena kembali menciumnya, membuat tubuh mereka tak berjarak.


"Maaf... Aku sulit bertahan kalau begini keadaannya"


Tanpa berfikir lagi, Dion melakukan keahliannya sebagai laki - laki Pada Elena. Meski nama mantan suaminya sesekali muncul dari bibir sexynya. Dion tidak keberatan.


Kapan lagi, bisa mendapatkan tubuh sempurna dari wanita yang di impiannya sejak bangku SMA ini. Dion hanya konsentrasi Pada apa yang telah Di impikannya Di atas ranjang bersama Elena selama bertahun - tahun Dengan berbagai Variasi.


"Ini bukan salah ku, ini mau kamu Elena" Desisnya.


Elena hanya melenguh antara sadar Dan tidak.


"Di... Dion..!" Elena sempat menyebut itu dengan ragu, tapi dia sudah tidak cukup tenaga Dan kesadaran, siapa yang sesungguhnya bersamanya melakukan permainan yang sulit di ahirinya saat itu.


.