
Maria nampak manis Dan ramah menyambut Yulia yang sedang berada Di halaman rumah kami. Dengan tawanya yang renyah. Candaan terlontar secara natural dari sepasang bibirnya.
Hampir tak percaya dia adalah wanita yang sama yang hampir membuat jantungku copot Di ruang Rapat tadi.
Tanpa menoleh padaku yang memandangi punggungnya sedari tadi. Maria membawa putra kami ke dalam rumah.
Sebuah pemandangan indah Maria dengan busana rapinya yang terbuka setengah bagian, demi memuaskan dahaga Yodha. Bayi kecil yang sudah lebih leluasa bergerak itu, mulai banyak bertingkah saat menyesap benda favoritnya.
Samar - samar terdengar kesibukan yulia yang sudah mulai mempersiapkan Yodha untuk mandi.
"Auh.. Ssst"
"Kenapa?" tanyaku spontan.
"Gigi Yodha sepertinya akan segera tumbuh.." hanya seorang ibu yang mampu tersenyum ketika tergigit tubuhnya oleh anaknya.
Aku mulai mengikuti gerakan Tangan Maria yang memberikan sisi lainnya. Namun Maria segera menyadari sesuatu hingga kembali menutup ya.
" Kenapa? " tanyaku lagi spontan.
" Bekas yang dari Ayahnya belum sembuh" Jawab Maria tenang.
"Oh.." Aku mengusap wajahku perlahan. Aku menyerang tubuh Maria cukup kasar ahir - ahir ini.
Ada rasa cemburu mengingat malam itu. Mungkin aku terbiasa dengan wanita Di masa laluku yang mengenakan Busana sexy, Dan membuat lelaki lain melihatnya dengan perasaan iri padaku.
Namun aku mudah tersulut emosi bila hal itu terjadi Pada Maria. Sayangnya, aku juga melupakan emosi itu padanya.
"Masih sakit?"
Maria termenung sedikit. "Tidak apa - apa" jawabnya kemudian. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna sebelum kedua Tangan mungil mulai mencubit pipinya.
"Aku mandi dulu"
Aku segera meninggalkan Maria bercengkrama dengan Yodha. Dan mulai mengeluh Di bawah guyuran air.
Bukankah yang harusnya trauma adalah Maria, Kenapa sepertinya justru aku? Aku mengacak rambutku yang mulai basah. Menejamkan mataku Sejenak Dan sekali lagi gambaran hari itu terlintas.
Tiba - tiba...
Aku menarik tangannya dengan reflect. Dan membuat tubuhnya segera berada Di dalam kungkunganku.
"Aku cuma..." suara Maria tercekat di antara hujaman air.
"Mau makan apa malam ini" Lanjutnya dengan lirih "
Aku menghela nafas perlahan.
" Kamu sudah basah"Tatapanku tertuju nada baju Maria yang sudah terguyur air "Mandi sekalian"
Maria membuka sedikit mulutnya seakan ada kata lain yang ingin Di ucap.
"Kita Bisa delivery order" potongku yang mulai membantunya untuk menanggalkan pakaian ya.
"Sakit?" tanyaku ketika melihat bekas bekas luka yang belum sembuh sempurna.
"Sudah tidak begitu" Desis Maria yang membasuh pelan.
Aku mendaratkan kecupanku Sejenak. Seiring dengan jemariku yang menyentuh luka Di paha Maria.
Nando berusaha cukup keras, Pada sisi ini. Namun Maria memenangkan pertarungan, meski ada luka yang tidak sedikit.
"Kalau aku terlalu kasar kamu Bisa protes" Ahirnya aku membisikkan kalimat itu.
Maria mengangkat wajahnya padaku. " Apakah tubuh seukuranku Bisa cukup punya tenaga untuk berkata - kata?"
Aku mengerutkan keningku Dan menatap lurus Pada sepasang manik Maria yang terbingkai dengan lentik air.
" Tenagamu tidak kecil?" Maria memilih memutar tubuhnya Dan mulai menutupi perlahan dengan gumpalan Busa.
Aku berusaha mencerna Sejenak makna kalimatnta yang perlahan aku pahami seiring guyuran air yang mengusur Busa itu.
"Really?" gumamku sendiri yang Kini mulai merapatkan diri.
Maria menghentikan shower yang menungi kami. Titik titik air berubah segera menjadi embun Di atas lapisan kulit Halusnya.
"Kalau pelan - pelan?"
"uhf... Aku sudah tidak percaya denganmu soal itu."
"Sebentar saja"
Maria menggeleng Dan meninggalkanku. Tangannya yang cekatan segera meraih bathrobe Dan membungkus tubuhnya tanpa sepatah kata.
"Aku ada meeting besar malam ini" Maria menyambutku Di depan kamar mandi dengan satu set pakaian yang sepertinya untukku.
"Aku ikut"
Maria mengangguk. "Aryo juga ikut"
"Lebih karena topiknya yang besar"
Tanpa ragu aku segera memanggutnya.
Maria mendorongku "Hanya sebentar kan?" lirih suara dari sepasang bibir yang belum kering itu.
"Ah..." Aku mengangguk dengan Tangan yang segera berpindah ke pinggangnya.
Maria memukul ringan lenganku yang mulai menariknya erat "Tapi beneran pelan - pelan, jangan bohong"
Aku sekali lagi mengangguk. Maria nampak ragu Sejenak, sepasang maniknya mencoba mencari sesuatu.
Tentu saja aku bergerak cepat sebelum dia berubah pikiran.
*****
Maria menyuruhku membantunya mengoleskan konselar Pada tengkuknya.
"Meeting malam ini dengan calon mentri Dan kamu membuat tanda sejelas ini" Keluh Maria.
"Kamu tidak bilang" gerutuku.
Maria hanya mendengus tanpa menjawab.
"Ini" Aku menyodorkan blazer berleher tinggi yang aku temukan Di tumpukan bajunya. "Aku tahu ini fall collection fendy 2013, tapi tidak akan terlihat old style"
Maria menatap sesaat busana yang aku maksud.
"Kamu Bisa memadukannya dengan pleated skirt agar nampak lebih modern"
Aku meraih rok yang aku maksud Dan segera kembali ke hadapan Maria yang nampak cemberut.
"OK!!" Maria segera meraih keduanya Dan mengenakan ya dengan cepat.
Bunyi klacson terdengar dari luar rumah.
"Itu pasti Aryo" Maria segera memeriksa penampilannya Dan sekilas melirik isi tas kerjanya.
"Ayo" Maria menarik lenganku Dan segera membuatku mengikutinya hingga ke gerbang rumah.
"Aryo nggak masuk" otakku masih tidak begitu mengerti tentang rencana mendadak ini.
"Tidak ada waktu" Maria segera mengetuk jendela mobil mas Aryo. "Hi, Harry ikut"
Tentu saja, aku tidak akan membiarkan istri ku keluar sendiri malam - malam tanpa ku lagi.
"Kamu duduk Di depan Har" Maria membuka kan pintu depan mobil mas Aryo yang tanpa ragu segera aku masuki.
"Semua sudah siap?" Tanya Maria yang segera bergabung Di jok belakang.
"Kamu periksa dulu Mar" Mas Aryo menanggapi dengan Tangan yang mengulurkan tas kerja tipis ke arah Maria.
Seketika lampu dalam mobil menyala Dan jemari beserta manik Maria mulai mengamati dengan seksama beberapa dokumen.
"Apa aku datang terlalu awal?" Mas Aryo memecah keheningan.
"Tentu tidak" jawab Maria tanpa berpaling.
"Syukurlah" Mas Aryo melempar senyum padaku dengan aura sedikit nakal. "Aku tidak bermaksud menganggu pekerjaan rumah Kalian"
Aku dan Maria segera menatap mas Aryo bersamaan.
"Ah..." Mas Aryo tertawa kaku Dan menunjuk Pada bekas Di leherku. "itu.."
Maria langsung kembali menunduk Dan Pura - Pura memeriksa dokumen.
"Namanya juga punya istri"
Mas Aryo hanya manggut - manggut Sejenak. Dan mulai melakukan mobilnya.
Tanpa aku sadari aku juga mulai senyum - senyum sendiri. "Ternyata Maria sudah mulai Bisa membuatnya" batinku.
***'**
"Selamat Malam pak?" Suara Maria yang syahdu mengalun seiring dengan hembusan angin malam "Saya Maria, ingin mengatur pertemuan dengan bapak" lanjutnya usai mendapat jawaban.
"Saya masih Di Jalan, lagi pula saya rasa sekarang sudah cukup larut. Sa..."
"Mobil saya ada Di belakang mobil bapak sekarang, saya tidak perlu waktu banyak" Maria segera mencegah penolakan seiring dengan Mas Aryo yang segera memotong jalur mobil pria yang di panggil bapak.
"Sekarang mobil saya Di depan bapak" Maria segera keluar dari mobil tengah tenang tanpa melepas handphone Di satu sisi Telinganya.
Pria itu nampaknya tidak menjawab lagi. Dan tentunya menuruti permintaan Maria.
Tubuhnya yang nampak tidak muda mulai keluar dengan perlahan. Diapun menarik nafas dalam - dalam. Dan....
Pria itu tidak asing untukku...