Sugar Mamy

Sugar Mamy
Hari pertama


"Start for today.... Or just for today?" Aku menegaskan maksudku...


Sepasang manik Maria mulai menegang dengan ribuan bimbang yang bisa aku tangkap dari Raut wajah Maria..


"Har...." suara Maria seakan tercekat kikuk untuk keluar.


Yup hanya itu, Aku tersenyum kering karena sepertinya perasaanku yang perlahan tumbuh Pada Maria tidak seiring dengan perasaan yang di miliki Maria kepadaku.


Aku memilih berjalan mendahului Maria, hanya karena aku malas dengan kalimat Maria yang sekali lagi menegaskan benteng Di antara kami. Klo aku warung kelontong, Maria pasti sudah dapat hadiah piring.


Hawa hangat perlahan mampir Di kemariku membuyarkan gumamanku sendiri.


"Aku ingin seikat bunga mawar..." suara Maria mengikuti.


"Belum ada yang pernah memberiku seikat bunga mawar... Kita Bisa mulai dari situ"


Wanita memang makhluk berkode terumit Di dunia.


"Berarti.. Iya kan?" aku mencoba memecahkan kode.


Maria hanya mengangkat alisnya dengan kedua bibir yang tertutup Rapat.


"Iya..?" tegasku lagi meski Sebenarnya sudah mengerti, Namun tetap menginginkan kata kepastian itu keluar dari Mulutnya.


Sebenarnya siapa yang menginginkan bunga Mawar? Karena Pada ahirnya bunga ini bersarang Di tanganku sejak berpisah dengan penjaga florist. Maria pun hanya diam seribu bahasa tanpa membahas kelanjutan kata "Iya" yang di sampaikannya secara tersirat.


Atau memang begini orang pacaran? Mungkin banyak wanita yang pernah dekat denganku, Namun semuanya no komitmen. Kalau di hitung, Maria ini adalah yang pertama. Yang lainnya hanya Friends with Benefit, just benefits with romance as flavor.


Hanya langkah Maria yang berirama merdu terdengar Di sepanjang koridor Apartment. Sesekali aku mencium bunga mawar yang belum juga Di jamah oleh Maria meski awalnya dia yang meminta. Dan anehnya aku hanya membiarkan kami hanya saling membisu hingga sejauh ini.


Aku membiarkan Maria memasuki apartment terlebih dahulu. Aku mencium bunga mawar itu sekali lagi sebelum aku memutuskan mengunci pintu. Aroma ini serasa tidak asing sedari tadi, bukan karena aku sudah memeluknya sejak setengah jam yang lalu. Tapi...


"Maria..."


Benar.. Aroma ini adalah aroma khas rambut Maria yang saat ini nampak mulai Di gulung memusat Di kepalanya. Sebuah lekuk leher jenjang terukir jelas dari pendar cahaya rembulan yang terpantul dari jendela. Jendela yang saat ini aku syukuri karena lupa menutupnya.


Dan Kini, nafasku sudah memburu Di ceruk leher itu. Mendekap erat pinggang ramping pemiliknya...


"Maria...." Desisku mencoba ingin menawarkan sesuatu yang sudah memuncak Di ubun - ubunku.


Maria membalasku dengan senyuman tersipu untuk pertama kali, tanpa ada kata tapi atau menghindari. Jemarinyapun segera bertaut denganku menciptakan tarian berirama nafas yang bersahutan tanpa batas gema Dan hanya namaku serta namanya yang menjadi liriknya. Semua mengalir tanpa batasan, umur, pekerjaan atau apapun Di antara kami. Hanya kami...


"empat jam?" Maria melempar wajahku dengan bantal yang pasti tidak membuatku meringis kesakitan, Namun lebih kepada kepuasan.


"Great Start.. Isn't it?" Sambutku dengan bertanya balik.


"Besok kita sudah mulai bekerja, aku belum memeriksa presentasimu"


Ah... Maria sudah kembali ke habitatnya menjadi pencetak uang yang unggul.


Aku mengubah posisiku menjadi miring Dengan satu tangan menyangga kepalaku. Mendengarkan dengan khidmat tentang seminar singkat bersama Maria tentang pekerjaanku esok hari.


Aku hanya mampu tersenyum Dan memanggut sepasang bibir polosnya.


"Jangan terlalu khawatir, everything will be Ok" hiburku akan ke khawatirannya.


*****


Kehangatan kami semalam serasa hanya seperti mimpi. Aku bangun dengan pemandangan Maria yang sudah rapi dengan laptop menyala. Sepasang maniknya sibuk memeriksa pekerjaanku.


"Selamat Pagi...."


Aku mengucek mataku sesaat, memastikan bahwa wanita yang kulihat benar adalah Maria.


Mungkin yang semalam adalah mimpi? Tapi seikat mawar yang sedang bertahta Di nacas adalah mawar yang sama yang kubeli semalam.


"Untuk Bagian ini..." Maria mendekatiku yang masih malas keluar dari lipatan selimut. "Kamu harus memasukkan graphicnya" Maria melanjutkan ocehannya.


Aku menarik nafas dalam - dalam Dan menghembuskan perlahan.


"Kirim ke Dion, kalau sederhana begitu dia Bisa melakukannya bukan?" Gumamku sambil mencoba mengamati Maria yang sedang duduk Di sampingku.


"Yang semalam itu beneran kamu kan Mar?" Aku mencoba meyakinkan diriku, dengan bertanya saja.


wajah Maria yang masih belum bermakeup nampak memerah.


"So.... About us.." aku mengubah posisiku menjadi duduk "Kita pasangan kan? bukan cuma aku saja kan?"


"Bukan hal yang perlu di bahas, kamu sudah tahu jawabannya" Maria menghela nafas kasar "Tapi... Presentasi kamu ini harus Di bahas sekarang, waktunya tinggal dua jam lagi"


Satu sudut bibirku terangkat Dan enggan turun. "Maria... Maria.."


Maria mengecup pipiku.


"Sudah..!" sekilas senyum tersirat "cepatlah Mandi... Aku siapkan sarapan dulu Dan kita bahas beberapa poin yang perlu sedikit improvisasi"


"Siap Bos!" jawabku sekenanya, nasib nikah ma bos seperti ini, Baru saja membuka mata sudah di tidong pekerjaan.


"Oh.. Iya.. Baju hari ini sudah aku letakkan Di kursi kerjamu" jemari telunjuk Maria mengarah Pada kursi yang hanya berjarak 150 centi meter dari tempatku berbaring saat ini.


"Oookay"


****


Langkah Maria menggema seperti biasa, nada ya juga tetap rancak, Namun yang berbeda hari ini adalah dengungan dari bisikan para karyawan yang sepertinya menggunjingkan kami.


Semua ini gara - gara Melissa, yang memfitnah Maria seenaknya.


"Dion...! Tolong info ke bu. Lia untuk membuka lowingan pekerjaan. Untuk semua posisi" Perintah Maria yang cukup mengagetkan


"Aku tidak menyukai bekerja dengan yang lebih mementingkan menggunjingkan atasan yang membayar gaji mereka dari Pada melakukan pekerjaannya lebih baik.


" Ah... Iya bu.. Saya mengerti" Dionmulsi memutar kakibya menuju ke ruangannya.


"Setelah itu, kamu juga ikut meeting"


"Tentu bu.."