
****
Seperti biasa Mas Aryo selalu sigap ketika Di perlukan. Lebih dari sekedar teman mereka juga partner professional yang cukup bagus.
"Bagaimana keadaanmu Mar?" Tanya mas Aryo yang menyambut kami di receptionist. "Aku nggak nyangka kalau kamu langsung bekerja"
"Aku juga" Aku ikut menyela. Wanita lain sudah meratap di rumah dengan peristiwa kemaren. Tapi Maria, langkahnya cukup tegas dan seperti tidak terjadi apa - apa.
"Karena aku jadi makin yakin apa yang harus aku lakukan dan semuanya harus segera" jawab Maria yang segera menyandarkan tubuhnya Di pusat sofa ketika memasuki ruangannya.
"Kamu mau segera memproses peristiwa kemaren?"
Maria memutar maniknya dan memandangku Sejenak.
"Apa Bisa segera? Bukti dan saksi? "
"Sayang sekali cctv di gedung semuanya mati hari itu. Alasannya karena ada pemeliharaan " Mas Aryo memijit pelipisnya Dan segera bergabung Di sofa "Anehnya cctv baru menyala ketika kalian sudah di lantai tempat room kalian berada "
" Dan semua hidangan sudah di sediakan, termasuk minuman Dan makanan" Maria merenung Sejenak "Berarti butuh waktu lebih lama" Desisnya.
"Kenapa hanya kamu Dan Nando yang ada Di ruangan itu" Aku mulai mengungkapkan ke tidak nyamananku. Mendapati Maria dengan kakak Melissa yang jelas - jelas menaruh hati pada istriku berduaan.
"Seharusnya Melissa yang datang hari itu. Menurut Nando, Dia menggantikannya secara mendadak" Sambung Mas Aryo yang rupanya sudah sempat menanyakan perihal itu Pada yang bersangkutan.
"Lantas apa yang kalian bahas?"
Maria menarik nafas Sejenak "Apalagi? Tentu saja pekerjaan. Sebagai politikus tentu ayahnya tidak boleh memegang Bisnis lagi. Jadi Melissa menjadi salah satu pengurusnya"
"Apa dia Bisa bekerja?"Aku lumayan terkejut Melissa menjalani profesi sebagai bussines woman.
" Bukan Pembahasan yang penting soal personal Melissa "
Mas Aryo menahan tawa." Aku sekarang faham Kenapa kamu tidak pernah menyukai lelaki tampan, tapi ahirnya kamu harus menerima takdirmu Mar " Bagaimana mas Aryo masih Bisa bercanda dengan hal seperti ini.
" Jangan meledekku, paling tidak kamu Bisa belajar. Bahwa takdir tak Bisa di hindari "Maria hanya mendengus kasar.
" Kamu maunya bagaimana Mar...? Mau Di bawah ke ranah hukum segera?" Mas Aryo mulai merinci.
" Aku ingin penyelidikannya tidak setengah - setengah, Melissa Dan Luna jangan sampai terlewat "
" Kamu mengincar Melissa?" Aku jadi sedikit bingung.
" Sejauh ini ayah Melissa Bisa menepati janjinya. Meski dengan sedikit ancaman"
"Nando??" Aku tidak menyukai nama itu, dan aku sangat tidak menyukai kejadian semalam.
Maria tak menghiraukan pertanyaanku Dan beralih Pada Mas Aryo. "Dia bersedia bersaksi? "
Mas Aryo mengangguk "Dia sudah memberikan kesaksiannya, dan bersedia datang apabila diperlukan. Dia minta maaf padamu Mar"
"Jadi dia tidak masalah kalau aibnya juga terexpose?"
"Nando bilang, dia tidak masalah karena dia merasa dirugikan" Mas Aryo menanggapi dengan cepat.
"Dirugikan bagaimana, dia hampir diuntungkan" Aku langsung menyela.
"Nando Di bawah pengaruh obat perangsang, Sebenarnya hukumanya juga Bisa lebih ringan, terutama dia tidak sengaja meminumnya. Seseorang telah mencampurkannya dalam minumannya" lanjut Mas Aryo.
"Sebenarnya Nando bukan orang yang buruk, tapi semua manusia punya sisi hewannya." Maria membuang nafas jengah.
"Jadi..." Mas Aryo memandangku dan Maria secara bergantian.
" Kita urus ini dulu, aku mau fokus satu per satu" Maria mengeluarkan dokumen yang baru saja kami dapat kan.
"Kasus Anthony??" Mas Aryo langsung mengenali dokumen itu tanpa membuka ya. "Yakin???"
Maria mengangguk " Pada ahirnya aku juga harus menjelaskan ini Pada Tania, mengingat hubungan kami yang tidak baik - baik saja"
"Bagaimana Adi Dan Roselyn?" tanyaku.
"Kamu Dan Nando.. Apa yang harusnya private?" aku masih penasaran dengan obrolan mereka berdua. Cemburu itu natural.
"Sebenarnya ada situs alam yang bisa di sebut situs budaya Pada project yang mereka kerjakan.Nando memintaku membantunya untuk memastikan"
"Kenapa hal sederhana itu jadi rahasia?"
"Seperti yang kamu tahu, urusan budaya menjadi hal sensitive ahir - ahir ini. Hal seperti itu wajar terjadi, pengusaha seperti kami melihat peluang terlebih dahulu Dan baru resiko. Kemudian kami mempertimbangkan keuntungan"
"Aku ikut saja" Mas Aryo langsung meraih dokumen tentang Anthony Dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya.
"manipulasi yang di lakukan Anthony bukan hanya hukuman ringan, saranku... Cukup usir saja dari dunia Bisnis. Itu sudah cukup membuat Tania kembali ke Tanganmu"
saran mas Aryo tidak buruk. Meski aku tidak menyukai Anthony, aku juga tidak ingin Tania mendapati ayahnya dalam penjara. Rasanya tidak nyaman, meski kita selalu mencoba memahami.
"Hmmm..." Maria hanya menjawab dingin Dan membiarkan mas Aryo pergi tanpa menjawab ucapan selamat tinggal.
Aku setuju dengan saran Mas Aryo tentang Anthony. Maria memalingkan wajahnya padaku.
"Begitukah?"
Aku mengangguk pasti.
****
Hasil dari peluncuran produk Bio chemichal Sungguh memuaskan. Aku dan Maria tersenyum lega.
"Aku optimis, Bio chemichal akan Bisa go public dalam waktu kurang dari lima tahun"
Komentar Maria membuatku bersemangat. "Ternyata bukan casing ku saja yang bagus, bukan begitu Mar?"
Maria tersenyum simpul "Aku tidak memilih yang sembarang tampan. Apa yang aku keluarkan, aku juga berharap kembali secara berlipat" Maria mengangkat kedua pundaknya serempak.
"Aku akan segera bertemu dengan ayah Melissa, beserta Nando Dan Melissa juga" Maria menatapku dengan sepasang maniknya yang selalu hitam pekat. "Aku berharap kamu ikut, tapi aku tidak memaksa"
Aku masih diam Dan hampir tak percaya Maria lebih berani dari perkiraanku.
"Secepat ini?"
"Aku ingin semua selesai sebelum Rapat pemegang saham Tower High" Maria menghela nafas Sejenak "Aku akan ikuti saranmu soal Anthony"
"Tapi aku ingin sedikit lebih kejam" terkadang jiwa jahat susah terkendali. Namun pada ahirnya wajah malaikat Tania membuatku lebih terkontrol "Aku hanya bercanda"
Maria tersenyum lega "Aku ingin semua selesai Har. Sejak awal aku ingin hidup normal"
"Benar, dari awal kamu selalu mengantakan itu. Dulu aku tidak mengerti, aku pikir wanita hebat sepertimu akan selalu ingin berada di atas angin"
Maria tersenyum tipis Dan cukup manis. "Aku hanya terhempas oleh takdir. Menjadi miskin itu bukan hal buruk, hanya saja membuat kita menjadi yang selalu terinjak Dan aku hanya bertahan"
Sepertinya kami mulai sedikit mirip secara nasib. Meski dengan background yang berbeda.
"Kamu tidak mau mencoba menjadi putra tunggal seperti ku, aku rasa hasilnya tidak jauh beda"
Maria menggeleng, "Sebaiknya kita pulang, aku merindukan anak kita"
Ah iya... Aku beranjak dari tempat duduk ku dan melangkah ke arah Maria yang mulai bergerak ke arah pintu.
Namun Tanganku tanpa sadar telah mencegah pintu terbuka "Tapi, bukankah dia akan menyambutmu dengan tangisan?"
"Bukan hal yang baru, aku menyukainya" sepasang alis Maria mengerut dengan heran.
"Ayahnya juga menyukainya, hanya saja ayahnya ini menginginkan sedikit rasa sage tanpa Di ganggu"
"Ah..." Sepasang manik Maria mengerjap perlahan dengan sorot mata yang semakin pekat seiring lampu ruangan demi ruangan yang mati dengan perlahan.
"Hanya sebentar saja..." Aku selalu menawarkan tawaran yang sama. Dan selalu Berahir sama, bahwa aku tidak menepatinya.
Ini pertama kali aku bisa memaksa Maria mengenakan baju kerja dengan warna yang cerah. Sayang bila tidak mencicipinya.