Sugar Mamy

Sugar Mamy
Bantuan


"50 outlet?" Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, ketika membaca email dari Om Johan. " Bukankah awalnya groceries store yang di tawarkan padaku adalah untuk mensupport restaurant kami yang di new York? Kalau begini, ini namanya Bisnis baru skala dananyanyapun jauh lebih besar dari yang kami sepakati"


Aku memutar lagi dengan cermat presentasi om Johan dengan baik. "Ini skalanya Bisa membuat pabrik Bumbu masakan. Perputarannya cukup besar Dan cepat, apakah ini cara Om Johan membantu Maria? Dengan menciptakan peluang? Begitukah Caranya mencintai yang menjadi istriku saat ini? Berarti aku tidak boleh kalah darinya, Di mata Maria aku harus lebih unggul dari pria manapun.


Tapi hingga saat ini aku masih belum punya banyak uang Dan juga ide bagaimana cara membantunya, padahal hampir setengah atau mungkin keseluruhan masalah ini adalah berasal dariku.


****''


Sebuah ide melintas Di otakku, bukan yang terbaik tapi ada kemungkinan berhasil. Mungkin sedikit memalukan, tapi bukankah hasilnya akan pantas?


"Mar... Make love yuk!!" ajakku sekenanya ketika Maria usai mandi.


"tumben kamu ngajak secara baik - baik" Maria menanggapiku seolah aku hanya bercanda. Mengingat aku yang biasanya langsung mengambil tindakan.


"Aku mau punya anak dari kamu" jawabku yakin."Mungkin aku nggak brilliant atau punya keahlian untuk membantumu keluar dari masalah. Tapi aku punya caraku"


"dengan punya anak?" Maria mendengus singkat Dan melewati ku.


" Benar!" Aku berdiri Dan mengikutinya menuju dapur untuk minum infuse water yang sedang di simpannya Di kulkas. "Aku tidak punya uang banyak serta otak yang cukup tapi aku punya dua lutut untuk memohon ke Ayahku atas nama anakku agar dia membantu melepaskanmu"


Maria tersedak mendengar ideku..


"Aku sanggup berlutut seharian, dua hari juga Bisa aku nggak masalah"


Maria mengembalikan botolnya "simpan harga dirimu itu, kita masih Bisa bekerja keras... Aku tidak akan merendahkan suamiku meski aku sedang kesulitan" jawabnya sambil berlalu.


Tapi aku tidak menyerah, aku mengikuti Maria yang mulai memilih pakaian.


"Andaikan bukan Papi..." aku mulai mendengung Di Telinga maria "Mami pasti tersentuh, kamu tahu kan.. Mami itu siapa?"


"Iya" jawab Maria singkat " Putri dari Nilaam Patel Dan John Kildman"


"Dan mereka adalah salah satu pemilik saham Di everyday chocolate" Aku menyambung. "Perusahaan yang kamu incar"


Maria mulai memperlambat gerakannya dengan mata yang masih menatapku tanpa berkedip.


"Tapi aku tidak menjamin keberhasilannya, tapi Bisa di coba kan?" Aku Kenapa jadi gugup. Maria Sungguh nampak cukup berani Dan bersinar seketika meski kedua Mulutnya masih bungkam.


"Bagaimana?" Aku mencoba bertanya akan hasil dari tawaran ku " Kamu ingin punya anak tiga bukan? Dan usiamu sudah di atas tigapuluh lima, dan aku adalah ayah yang paling tepat untuk anakmu selanjutnya, tsrlepas apapun itu nanti kedepannya" Aku menarik nafas dalam - dalam " Aku tampan, sehat, dan memiliki latar belakang yang berpengaruh"


Kenapa aku jadi nyerocos begini.. Hrrr


"Auh....!"


Maria menarik bajuku dengan kuat dan mulai menciumku. Aku anggap ini adalah wujud dari persetujuannya. Benar kata om Johan. Maria naturally matrealistik hanya sulit menerka kapan Dan Di mana titik matre itu berada.


******


"Wow!?! Are you really Maria???" aku hampir tidak bisa percaya apa yang baru saja aku alami. Aku belum pernah melihat Maria begitu dominant Di ranjang seperti beberapa jam lalu. Bagaimana Bisa wanita kecil itu membuatku Bisa cukup lemas, padahal biasanya aku yang menghabiskan tenaganya.


"Kamu nggak sedang kesurupan kan?" Aku mencoba bertanya Di antara nafasku yang berantakan.


Maria hanya menggeleng cepat, sepertinya dia juga sulit percaya dengan apa yang telah terjadi di antara kami.


Aku melirik jam Dinding kamar kami


"3 jam..?" aku memekik terkejut.


Mariapun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil menngeleng - ngelengkan kepalanya.


Aku pun jadi tertawa lepas..


"Jadi begini kamu Sebenarnya?" Aku coba membuka paksa sepasang Tangan itu dari wajah Maria.


"Bisa kamu lupakan saja, anggap saja tidak pernah terjadi Dan kita tidak mengulanginya lagi"


Maria memohon Dan merengek?


"Hah... Enak saja!" Aku mencibir "Kamu baru menunjukkan dirimu Sebenarnya, dan kamu suruh aku melupakannya? Non sense"


"Maaf, aku hanya lepas kontrol"


Aku membuang nafas kasar "Bagian mana yang membuatmu lepas kontrol? aku ingin mengulanginya lagi" Aku mengambil posisi Di atas tubuh Maria.


"Kenyataan aku anak Mamiku atau bagian aku berlutut Di hadapan orang tua ku?" Aku memperjelas sejarah percakapan kami sebelum sosok liar Maria tiba - tiba menyerangku tanpa ampun.


"keduanya Saling berkesinambungan bukan?" kata Maria terbata..


Aku benci mengenal istri ku lewat mantannya. Tapi, tanpa om Johan aku juga tidak akan Bisa melihat sosok Maria yang ini.


*****


Maria tidak tertarik dengan ketampanan. Tapi dia adalah sosok matrealistik yang berwibawa, ketika kamu menemukannya. Maka kamu akan mendapati siapa Maria.


*****


"Jadi, kamu setuju dengan usulku?"


Maria hanya diam dan memberiku puppy eyes. "Aku... Ha..rus.. Bagaimana?"


Aku hanya mendengus "Ayo mandi.., dan segera tidur, aku butuh lebih banyak istirahat untuk menghadapimu"


Hujan Di luar cukup deras, dan ini bukan pertama kalinya. Tapi ini pertama kalinya aku memeluk Maria saat kami tidur bersama.


Dalam hati aku berdoa... Semoga saja misiku berhasil Dan bisa meringankan beban kami.