Sugar Mamy

Sugar Mamy
Memusingkan


"Kamu jahat!!!" Mami langsung berteriak dari arah seberang sana.


"Mami???" Ini masih jam Enam pagi, biasanya ini jadwal mami yoga sama teman - temannya atau sama personal instructor.


"Kamu bilang mau kasih waktu dua Minggu, tapi kenyataannya ini baru lima hari" lanjut mami yang masih bernada tinggi di ikuti dengan isakan.


"Soal itu...?" aku coba mencari alasan untuk meredam amarah mami."bukan aku" Ahirnya Mulut ini mengelak. Menjadi orang yang di salahkan untuk sekali itu nggak enak apalagi dua kali, jawaban menghindar adalah jurus otomatis dari otakku saat ini.


"Memang siapa lagi selain kamu? "


"Mami Bisa selidiki siapa aja yang bermasalah dengan Papi, nanti pasti ketemu kan?" elakku yang tidak sepenuhnya salah.


Secara technical bukan aku yang melaporkan, tapi Maria. Dan saat ini Maria Bisa di bilang musuh Papi, bukan hanya aku seorang. "Di cek juga soal om Handoyo, beliau punya musuh juga nggak?" tuduhanku makin melebar ke mana - mana, memang berbohong itu bikin nagih. "Jangan langsung main tuduh"


Andai saja aku menjawab," iya itu aku mi" Apakah akan berbeda kenyataan bahwa aku dan keluargaku sedang tidak akur?. Tapi sebagai seorang anak, jauh dari lubuk hatiku aku masih tidak ingin ada masalah Di antara kami lebih dari yang sudah ada.


"Mami... Jangan banyak memusuhiku mi, aku akan segera jadi ayah...." Ahirnya kabar ini hanya mampu aku sampaikan lewat telphone. "Aku perlu konsentrasi lebih Dan juga kerja keras untuk menafkahi keluargaku. Papi yang buat keputusan, sudah seharusnya dia mempertanghung jawabkannya " lanjutku dengan nada malas melanjutkan obrolan yang membuatku pusing.


"Alaaah... Paling cuma alasan!!" nada mami masih meninggi..


"Terserah!"


"Ayah..??" rupanya mami baru mencerna ucapanku. "Berarti kamu punya anak Dan mami punya cucu.. Gitu..?"


"Hmmm..." Aku menjawab malas.


"Dari si Maria?"


"Emang dari mana lagi?" Mami benar - benar merusak moodku pagi hari ini.


"yaah.. Kali aja... Kamu kan rupawan"


"Tapi aku nggak murahan Mi..!"


"Tapi dulu teman dating kamu ganti - ganti?"


"Tapi... Aku nggak pernah mendua.." Aku menarik nafas panjang "Kenapa mami harus bahas yang aneh - aneh?"


"Mami masih males punya menantu Maria..." Mami mulai menggerutu.


"itu urusan Mami...!" Aku menutup salur an telpon Dan memutuskan untuk men silent sementara. Karena Bisa jadi seluruh keluarga akan menyalahkanku.


Dan....


"Selain anak.. Kita tidak ada urusan yang lain. Aku pasti akan mendapatkan Tania kembali, lihat saja nanti" Maria melempar handphonenya ke sofa Dan segera menghambur ke halaman belakang. Tanpa menyadariku yang sedang memperhatikannya.


"Anthony..??"


"Hmmm..."


"soal Tania?


Maria menggeleng..." Soal Papi kamu "


Apakah Anthony sudah menduga itu adalah Maria? Tapi bagaimana dia tahu?


" Kok Bisa dia menghubungi kamu? "


" Apakah kamu begitu tidak mengenal ayahmu sendiri? "


Maksud pertanyaan Maria Sungguh sulit aku pahami saat ini. Tapi dia benar, aku tidak pernah benar - benar mengenal Papi selain ketika sebagai seorang ayah saja.


"Ayahmu pembisnis yang baik" Maria mulai mengerti jawabanku lebih cepat "Musuh ayahmu yang bersih Bisa di hitung Jari Dan aku salah satunya, wajar kalau Anthony selaku CEO akan cukup panik dengan situasi ini"


"Apa kamu memberitahunnya bahwa kamu yang melaporkan?" Aku jadi penasaran.


"bukan hal yang penting buat Di bahas" Maria memilih untuk mengahiri obrolan pagi yang cukup memusingkan.


"kira - kira kapan kita Bisa bertemu dengan Tania?"


"Ini agak sulit, Anthony mengatur pendidikannya jadi home schooling" Maria mendengus cepat "Aku tidak ada pilihan selain ke rumahnya, tapi satu sisi aku nggak ingin Tania melihat kami bertengkar"


Aku rasa Anthony memang hanya menggunakan Tania untuk sering - sering bertemu dengan Maria. Dia mungkin baru menyadari perasaannya Pada Maria usai mereka bercerai.


"Nggak usah bikin humor yang nggak lucu" Maria selalu menepis kemungkinan Anthony jatuh cinta Padanya. Meski dari sisi pandangku hal itu cukup jelas.


"Tapi Bisa jadi... Hati dia sudah berpindah padamu"


"nggak usah bahas yang ngawur gitu.. Ah.." Maria selalu tidak tertarik. "Kita sarapan Di luar saja yuk!" sekilas senyum merekah Di wajah Maria. "Aku pengen croissant Di roof top café"


"Cafe yang itu?" aku mencoba menebak "Yang kita makan sebelum aku cek gedung pernikahan?"


Maria mengangguk "Aku lagi ngidam nih, sarapan Di sana sama kamu" Senyum Maria semakin lebar.


"Yakin kamu lagi ngidam?"


Maria melingkarkan tangannya Di pinggang ku "Yakin.. Pake banget!"


Aku hanya tertawa kering menanggapinya. Dalam hati aku berharap semoga semua karyawan Di sana sudah beralih profesi yang lebih baik. Sehingga tidak tersisa saksi peristiwa saat itu.


"Lebih baik kamu segera mandi sebelum Yulia datang" Maria mendengus mencium bau badanku yang belum mandi usai olah raga ringan pagi ini.


"Hmmmm..." Aku juga jadi ikutan malas menjawab Maria yang selalu skip pertanyaan yang dia rasa tidak perlu "Aku kalau mandi lebih cakep lho Mar" celetukku menggoda.


"Apa bedanya? Karena jadi wangi?"


"Kalau wangi itu hasilnya, tapi ini processnya"


"Cuma urusan basah doang mana Bisa huh!"


"Yakin... Nggak mau lihat?" Aku sengaja melepas kaosku Dan melemparkannya ke wajah Maria. Sejenak aku memamerkan garis tubuhku yang terukir indah dengan otot yang tegas. Maria hanya mendengus ringan sambil menggeleng. A


Akupun memutuskan melangkah meninggalkan Maria sendiri, aku penasaran seberapa banyak meningkatnya hormon Pada masa kehamilannya saat ini. Seharusnya dia sudah mengikutiku dari belakang. Tampangku yang rupawan Dan tubuh yang cukup atletis seharusnya sudah cukup menarik perhatiannya Kecuali...


"Dasar bukan wanita normal..." gerutuku menerima kenyataan bahwa Maria mengabaikan salah satu karya terbaik tuhan sepertiku.


"CK.. CK...ternyata kamu tidak membual" suara Maria terdengar Di antara gemericik air Di sekitarku.


Wajahnya yang polos menyapukan pandangan padaku dari atas ke bawah Dan arah sebaliknya.


"You can join anytime babe?"


Maria hanya tersenyum Dan mendekat. Ternyata dia masih wanita normal. Namun, justru keadaan yang berubah menjadi tidak normal.


"Ting.... Tong.." suara bell pintu gerbang berdenting.


"Yulia.." Pekik Maria.


"Ting....tong.." bel itu berbunyi sekali lagi.


Aah.. Iya kami lupa kalau akan ada orang lain yang datang Dan pergi Di rumah inj setiap hari selain kami.


"Kalau nggak Di bukain dia nggak Bisa masuk kan?"


Maria menggeleng..


"Ting... Tong" Suara Bell itu masih belum menyerah.


"Kalau begitu... Kita lanjut..."


"Tapi... Aku butuh Di periksa kan, tekanan darah Dan yang lainnya"


"Ting... Tong..." Suara Bell itu mulai membuat andrenalinku terpacu. Aku tidak akan melepaskan Maria yang sudah di bawah kungkunganku.


"Hari ini aku antar ke dokter Eva sekalian kita makan croissant impianmu itu"


"Janji?"


"Ting... Tong.." Bell itu masih saja berbunyi.


"Janji..!!!"


Selaluuuu saja ada persyaratan Di antara aku dan Maria.


"Ting... Tong..." Maaf... Kami Akan mengabaikan suara bell itu.