Sugar Mamy

Sugar Mamy
Pergantian


"Papi menyerah begitu aja, sama Maria?"


"Lantas Papi harus bagaimana?"


"Masih banyak perempuan yang lebih layak dari Pada Maria" Mami mengikuti Papi ke walking closet dengan gaun yang masih sama "Kalau luna atau Melissa sudah tidak bisa di harapkan. Bukankah masih ada Cecilia putri Pak. Jaya yang masih menjabat sebagai anggota dewan?"


"Ada berapa lagi calon yang mami punya?" Papi membalikkan badannya Dan memandangi mami yang sulit mengubur rasa kecewanya.


"Tapi Papi setuju dulu sama Mami"


Papi hanya berdecih Dan melewati Mami begitu saja..


"Harry sudah menelurkan dua perusahaan sekaligus dengan baik" Papi mulai menata bantal " Pengaruh Maria sepertinya cukup baik, Tower High Bisa lebih berkembang dengan pesat begitu kami bergabung"


"Apanya yang bisa berkembang, semua perusahaan baru Harry tidak ada yang IPO. Pasti hanya heboh Di awal saja"


"Membuat Sebuah perusahaan juga tidak semudah Mami merengek ke Papi. Paling tidak dia Bisa berhasil Di langkah awal itu sudah nilai Plus" Pak Raja mulai menata tubuhnya Di atas kasur empuk Dan bantal an yang nyaman.


"Apakah hanya karena Maria menjamin Papi kemudian semua berubah?" Mami masih tidak ingin membiarkan perdebatan itu tenggelam begitu saja.


"Itu juga Bisa di hitung" Papi yang tadi ya ingin mengatupkan kedua kelopak matanya, Sejenak mulai membuka matanya lebar - lebar. "Kenapa mami tidak bisa melakukan hal yang sama? Kita punya pengacara hebat Dan tidak terkendala secera financial"


Mami ahirnya menahan nafasnya untuk beberapa saat "Itu karena aku peduli dengan perusahaan, aku tidak mau publick tahu Apabila kesalahanmu me dapat dukungan dariku"


Papi serentak kembali mengangkat separuh tubuhnya "Bukankah itu tidak salah?" sepasang mata penuh wibawa itu mengamati istrinya yang mulai mengambil duduk Di tepi ranjang "Kamu yang menerima Handoyo sebagai investor Di perusahaan kita, kamu yang membuatku tergiur bahwa Handoyo akan membantu kita dalam Kelancaran proyek - proyek besar? Mana?"


Mami Kini hanya sanggup berpalinh Dan merajuk.


"Dia bahkan tidak membagi pisau cukurnya untukku Di penjara Dan kamu tidak pernah ingat untuk membawakannya"


Papi kembali merebahkan kembali tubuhnya Di atas kasur Dan bantal berbahan premium.


"Aku rasa Maria lebih menguntungkanku kedepannya, dan dia tidak sungkan mengambil resiko" Papi mulai perlahan menutup kedua kelopak matanya "Sebaiknya kamu juga cepat tidur, begadang hanya akan mempercepat kulitmu menjadi keriput"


Mamipun segera berdiri Dan melangkah dengan keras, berharap Papi menyadari bahwa dia Sungguh tidak puas.


******


Aku merenggangkan sendiku. Ototku rasanya perlu sedikit istirahat, setelah semua yang terjadi. Santai Di kantor, bukan alternatif yang buruk. Karena biasanya lebih giat ketika bos ada.


Namun...


Aku mengucek mataku, sedikit merenggangkan leherku ke kanan Dan ke kiri. Menatap lurus Pada Dion yang baru keluar dari kamar mandi.


Semua orang berhak ke kamar mandi Dan tentu wajar mereka mandi Di kamar mandi. Tapi tidak Di kamar mandi kantor bukan.


"Ah..." Kami mengguman bersamaan. Tapi seiring kami sama - sama melepaskan nafas kami.


Aku rasa dugaanku tidak salah.


"Kamu nggak pulang?"


Dion menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Tumben bau parfume murahan? Ledekku ketika mendekatiya.


" Mau sarapan Di kantin? Aku yang traktir "


Tanpa menjawab Dion segera menggandeng Tanganku erat. Dan memamerkan gigi putihnya yang masih nampak segar.


Aku hanya mendengus. Seharusnya Dion tidak ada hubungannya dengan urusanku Dan Elena.


"Kamu Di usir?"


"Lebih tepatnya aku yang keluar, bodohnya aku tidak bawa apapun" Dion mengaduk mie instant kuah hangat yang baru ditaburinya dengan bubuk cabe.


"Yakin lambung kamu aman, sepagi ini makan pedas?"


"Kamu udah kayak ibu - ibu Har"


"Aku ini perhatian, kalau kamu masuk rumah sakit aku juga yang pusing" Aku menyambut hangat jus avocado pesanan ku. "Lagian ngapain kamu kaburnya ke sini? Bukankah kamu vice director Di Bio chemical"


Dion menaikkan kedua bola matanya Dan menghembus nafas kasar.


"Aku belum siap Di pecel sama Elena" Dion segera memasukkan mie yang ke mulutnya.


"Kamu selingkuh?"


Dion menggeleng, dengan cepat dia menelan Mie Di mulutnya Dan segera meneguk teh tawar hangat Di sisi kanannya.


"Ini gara - gara Rapat Di Tower High" Dion memutar bola matanya b eberapa kali " Pantesan Di numpukin aku dengan semua pekerjaan, ternyata dia sibuk mengurus sahamnya kembali Di Tower High"


Dion me minum lagi tehnya dengan cepat. "Tapi Anehnya, Kenapa dia jadi marah - marah. Bukannya malah happy" Dion menggeleng kan kepalanya untuk sekian kali Dan segera memasukkan sendok kedua mie pedasnya.


"Kamu nggak tahu kalau aku dan Elena bernusuhan lagi?"


Dion menghentikan aksinya menyeruput mienya yang masih setengah perjalanan.


Sepasang matanya membulat ke arahku.


Tapi kemudian dengan cepat dia melanjutkannya sekaligus menelan ya dengan cepat.


" Gara - gara kalian nih, aku jadi bersyukur jadi yatim piatu" Dion mengeluhkan pedas untuk sesaat, dan mulai melanjutkan ucapannya setelah meneguk minumnya " Buat apa punya saudara kalau berantem terus"


"Ngaca Yon!!" Aku mulai nggak terima, meski ucapan Dion ada benarnya "Kalau aku nih takdir. Nah kamu, hidup udah tenang, ngapain nikah tapi hampir nggak pernah damai"


"Yeee... Skak mat deh!" Dion kembali melahap mienya. Dan Akupun segera menikmati juice Di Tanganku.


"Kali ini serius banget ya..?" :


"Hmmm.... Aku butuh Direktur baru Di Bio chemical"


"uhuk..." Dion terbatuk dengan mendadak "Serius???"


"


"