Sugar Mamy

Sugar Mamy
Suami Istri



Kalian mengerti bukan, Kenapa aku membenci make up Maria? Dia Sungguh nampak jauh lebih tua. Padahal dia lumayan awet muda, menurutku. Apalagi seusai mandi dengan wajah yang masih setengah basah, serasa melihat Buah baru keluar dari lemari es. Sanggup menghilangkan dahaga.


"Boleh aku menyuarakan pendapat?"


"hmmm" jawab Maria.


"Kamu harus belajar lebih sopan Pada suamimu" Aku mulai protesku yang pertama "Panggil aku dengan panggilan Mas.. Misalnya atau honey atau hubby.. Jangan hmmm"


"Mas..??? Kamu mau aku panggil mas?"


"OK.. Nggak masalah, kamu Bisa latihan sekarang"


"Mass Har..???" Maria memanjangkan kalimat hingga terdengar aneh.


"Biasa aja"


"hmmm.."


"Mas..!!!"


"OK mas" Maria tertawa kecil. " rasanya aneh, Bisakah kita hanya memanggil nama saja seperti biasa"


"Nope, aku mau posisiku lebih jelas Di antara kita"


"OK... Mas"


"Kemudian... Kamu ganti warna lipstick kamu itu, pakai ini" Aku menyodorkan lipstick berwarna pastel "


" Aku seperti perempuan penggoda, kalau memakainya. Aku nggak mau! " Maria menolak tegas.


Sepertinya Maria benar juga, bisa jadi nanti banyak yang naksir. Aku jadi banyak saingan dong.


" OK, aku setuju.. " Aku memasukkan lagi lipstick ke kantongku" Aku mau tahu jadwal kamu setiap hari "


" Kamu Bisa menanyakan itu Pada Roselyn"


"OK!"


"Aku mau tahu password handphonemu"


Maria menunjukkan handphonenya Dan membuka passwordnya "Kamu Bisa mengecek apapun yang kamu suka" Maria menggeleng pelan, apakah aku terlihat posesif?.


"Kenapa kamu tidak punya teman cewek?" Aku baru menyadari semua daftar teman Maria rata - rata cowok.


"Kalau kamu sebagai perempuan apa kamu mau berteman denganku?" Kebiasaan Maria menjawab pertanyaan dengan pertanyaan membuatku sering jadi bingung.


"Kenapa perempuan tidak mau berteman dwnganmu?" Tapi sekarang aku bukan amatir aku bisa membalas kembali.


" Aku nggak asik Har!"


"Mas...!!" Aku mengingat kan Maria akan panggilanku yang sudah kami sepakati.


"Aku nggak asik orangnya Mas...! Iam straight forward person"


Jangankan wanita aku saja tidak begitu nyaman awalnya, hanya saja Maria cukup sopan Dan memiliki nada suara yang nyaman.


"karena aku tidak ingin membuang - buang waktu" lanjut Maria. "Seperti saat ini"


"Maksudmu??"


"Apa manfaatnya kamu mengecek handphoneku? Memintamu memanggil mas atau hal lain yang tidak produktive?"


"Aaa..."Aku hendak mengantakan sesuatu. Tapi benar juga, aku juga belum tahu manfaatnya selain karena aku menyukainya.


" Bukankah kamu jatuh cinta padaku ketika aku yang seperti itu? "


" Itu..." Benar juga yang Maria katakan, aku mencintai Maria karena perbedaan yang dia miliki, Maria yang ada Di hadapanku sekarang. Yang tidak manja dan kadang kurang sopan padaku, tapi good manner.


" Kalau kamu memberi makan egomu terlalu banyak, maka kamu tidak akan punya tempat untuk yang lain" Maria menjelaskan maksud Dan tujuan pertanyaannya. "Kamu mau makan apa? Aku masakin.. Harry!" dia Sungguh - sunnguh menekankan namaku dengan jelas.


"Eh... Tadi sudah sepakati mau manggil aku dengan kata Mas.. Bukan?"


Aku protes seketika mendengar Maria kembali memanggil ku Harry..


"Cancel.. Because no reason and benefit" Maria segera menuju dapur Dan meninggalkanku terdampar Di sofa sendiri.


"Tunggu..!!" Aku segera mengejarnya "yakin cuma itu alasan kamu tidak mau memanggilku mas.. Atau kamu yang egois?" Aku balas protes.


"Suami atau istri memiliki kedudukan yang sama Dan Hak yang sama"


" Bukankah istri harus nurut suami?" Aku mencoba membawa subjek yang sensitive.


"Tentu saja, tapi istri juga berhak menolak ketika perintah itu tidak bermanfaat atau berakibat kurang baik. Karena akibatnya adalah Di tanggung bersama"


Kayaknya aku salah berdebat dengan Maria, karena sudah jelas kalau dia lebih matang dariku.


"Mulutmu memang tidak bisa compromised.... Kamu tidak mencoba sedikit menjaga harga diriku"


"Lebih baik aku yang begini Di dalam rumah, jadi kamu Bisa keluar rumah dengan hasil pemikiranmu tentang pendapatku"


"Kalau aku negative?"


Maria tersenyum "Tidak akan"


"Bagaimana kamu tahu?"


"Kamu akan mengahiri hubungan kita seperti Anthony" Maria masih tidak menyurutkan senyumnya dengan sepasang mata yang memandangku teduh " Thank you for being wise"


"Itu kan... Aku yang wise.. Bukan kamu"


Maria tertawa "Makan apa?" dia masih ingat tujuan utama ya menuju dapur.


"Apa aja, yang penting dessertnya adalah kamu"


******


"Maria Pinsan?"


Aku memekik mendengar telephone dari roselyn


"Kirim alamat rumah sakitnya ke saya segera" pintaku Pada Roselyn.


"Mau ke mana?" Dia bertanya ketika melihatku yang setengah berlari menuju area parkir.


"Urusan mendadak" jawabku cepat, dan segera memasuki mobil.


Sayang.... Aku mulai kehilangan kepercayaanku Pada diyon. Jadi aku sama sekali tak berniat mengajaknya, untuk urusan Maria.


Apakah permohonan Maria untuk perpanjangan tempo Di tolak? Hingga dia tidak bisa menahan stress? Angka 100milyar tetap besar meski kamu seorang trilyuner. Oh Mar.... Dengan cara apa aku bisa membantumu saat ini.


"Di mana?" Aku segera menelpon Roselyn ketika sampai di lobby rumah sakit.


"Kamar Anggrek ruang 4" jawab Roselyn singkat, yang di ikuti dengan kakiku yang segera berlari mengikuti papan petunjuk.


" Bagaimana ibu?"


"Belum sadar Pak.."


"Kata dokter bagaimana?"


"Ah.. Lupa Tanya, saya ikut panik"


"Ya sudah, kamu Bisa kembali ke kantor biar saya yang jaga"


"Baik pak" Roselyn segera beranjak meninggalkan kami berdua.


Wajah Maria nampak sedikit pucat. Tentu saja badannya lemas. Aku mengusap beberapa kali pipinya.


"Keluarganya?" Suara seorang wanita berseragam dokter memasuki ruangan.


"Saya suaminya"


Perempuan itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya "selamat pak Anda akan menjadi seorang ayah" ungkapnya optimise.


"A... Ayah..???"


"Iya, ibu Maria positive hamil"


Aku langsung memeluk Maria yang masih belum sadar juga, hingga mengabaikan ukuran Tangan dokter yang bernama Eva, tertera Di name tag nya.


"Maaf..." Dokter Eva meminta perhatianku Sejenak. "Ibu. Maria perlu banyak istirahat"


"Pasti dok..."


"ibu Maria td datang dengan mengalami pendarahan"


"Ha.... Terus gmn dok.. Maria baik - baik saja?" Aku mendekati dokter Evs Dan menggenggam kedua pundaknya "Bayinya baik - baik saja?"


"Semuanya baik - baik saja. Ini cuma karena sepertinya ibu Maria telah melakukan activitas fisik secara berlebihan"


Jelas Dr. Eva yang membuatku menutup Rapat bibirku. "Jadi untuk tiga bulan kedepan Di saran kan untuk tidak melakukan hubungan terlebih dahulu, untuk kebaikan ibu Dan anak"


"Ah iya.. Dok"


Dokter Eva segera beranjak meninggalkan kami dengan perasaan bersalah tertinggal Di dadaku.


Masih teringat peristiwa pagi ini.


_____________pagi sebelum kerja ________


Kami menyukai ototku?


"Ah... Mungkin aku juga membencinya secara bersamaan.


"bagaimana kamu membencinya, bukankah ini Bagus" Aku coba mengangkat satu lenganku Dan menunjukkan otot ototku.


"itu pertanda kamu kuat" Maria mengangguk Dan menyapukan pandangannya Pada tubuhku.


"Benar... Aku mendekati Maria Dan menghimpitnya Di antara wastafel sepasang senyum aku pasang baik - baik." bagaimana? " Aku memastikan Maria untuk lebih melihat tubuhku lebih dekat Dan mencium aromanya yang maskulin." Bagian mana yang kamu benci? "


" Ah... Ya ya..."


Aku mengangkat wajah kecil Maria Dan membiarkannya menatapku Sejenak, aku ingin dia menyadari seberapa tampan suaminya ini. "Bagaimana? "


"Kamu bagus....tapi lebih baik cepat berpakaian sebelum masuk angin"


Maria memang susah di goda, tanpa pikir Panjang aku langsung mengangkat tubuhnya Dan meletakkannnya Di meja wastafel.


"Aku benci ini" Ucapnya "karena aku tidak berdaya di dalam genggamanmu"


"Maka terima saja ya?" Aku menorehkan senyum penuh arti.


Ah.. Aku selalu menyukai ketika kulit Maria usai Di bilas dengan air hangat, beberapa pendar merah nampak Di beberapa kulitnya yang tipis. Mungkin Maria tidak secantik super Model. Namun penampilannya saat itu seperti buah yang baru Di petik, penuh rona.


Kami menghabiskan waktu hingga hampir tiga jam lamanya. Setelah melakukan hal yang yang sama dengan durasi lebih panjang Pada malam sebelumnya.


Maria pasti marah kalau dia tahu apa penyebab dia pinsan. Uhf..


"Harry...??? Roselyn mana?" Maria mulai bangun Dan bersuara lirih. Tapi Kenapa dia mencari Roselyn.


"Aku suruh dia kembali ke kantor" jawabku dengan nada agak kecewa. "Kenapa tidak mencari ku"


"Maria meraih handphonenya Dan me yerahkan padaku"


"Kamu tolong forward Calenderku Pada Roselyn, kita tidak bisa terlambat membayar pajak lagi kan?"


Maria... Maria.. Masih saja dia berfikir soal pekerjaan padahal dia sedang dalam kondisi seperti ini.


"Ah.. OK.." Aku segera melakukan perintah Maria Dan kembali menyerahkan benda pipih itu kepadanya.


"Dokter sudah datang, aku Kenapa?"


"Kamu baru sadar kalau kamu Di rumah sakit?" aku mendengus kesal.


Maria menghembuskan nafas perlahan.


"Sorry... Tapi aku Kenapa? Apa dokter sudah menjelaskan?" Maria menatapku satu dengan wajah pucatnya yang tetap tersenyum.


"Kita Akan jadi orang tua Mar... Kamu akan segera punya baby" Aku tidak bisa menahan senyumku yang cukup lebar.