
Proses pengadilan masih berlangsung panjang, dan kesulitan Di perusahaan juga masih belum usai. Maria terpaksa menjual satu kapal pengangangkutan tambang, untuk memenuhi kebutuhan keuangan, dan memindahkan beberapa staff dari pelabuhan ke bagian perkebunan kopi yang baru Di rintisnya ketika awal kami menikah.
"Kalau terus begini, perusahaan kita Bisa Tutup Mar! Boikot dari beberapa asosiasi benar - benar merugikan" celetukku setelah Rapat bulanan kami Di kantor Maria.
"Kamu benar, bagaimana lagi... Sudah begini, yang kita harus pikirkan adalah Jalan keluar"
"Tapi permasalahannya lebih cepat dari process solusinya"
Maria tersenyum tipis, "Kamu mulai kritis.. I like it"
"Maksudnya..? . Apa aku dulu tidak begini?"
Maria menggeleng," kamu yang dulu akan banyak menvari penyebab masalah daripada solusi"
"Tapi itu juga perlu.." aku membela sosok ku yang dl.
"perlu tapi bukan untuk kasus yang seperti sekarang"
"Jadi bagaimana solusinya?" Aku langsung mencoba menuju tujuan percakapanku
"Aku belum tahu, untungnya saat ini fashion lumayan berkembang cukup tinggi, karena life style social media. Jadi profit garment kita sangat membantu"
"Bagaimana dengan coklat?"
Maria memejamkan mata Dan memutar kursinya sesaat.
"Tidak buruk tapi jauh dari perkiraanku, aku berharap kita mendapatkan kontrak export untuk coating dari Everyday chocolate product, market mereka cukup besar"
"Sudah sampai tahap mana?"
Maria mengangkat bahu, berarti kami masih dalam tahap awal. Dan itu Bisa memakan waktu selama satu tahun. Sedangkan keuangan kami sepertinya rontok hampir setiap bulan.
"Bagaimana usahamu dengan Johan, aku dengar restaurannya cukup berkembang"
"Oh ya..?"
"Kamu tidak memeriksanya dengan Johan?"
"Aku percaya padamu Mar..."
Maria menggeleng.... "Big No... Dengan siapapun kamu harus memeriksanya, aku akan minta Johan mengirim laporan keuangannya padamu"
"Tidak usah, aku akan menghubunginya" potongku, mana mungkin aku membiarkannya bernostalgia dengan mantan kesayangannya itu "Aku berfikir untuk menemuinya sekalian bertukar pikiran"
Maria menatapku heran "Aku harap kamu benar - benar belajar Dan bukan membicarakan hal yang lainnya"
Aku lupa Maria cukup pintar untuk menebak isi pikiran. Sebenarnya aku juga berencana berdiskusi tentang mereka Di masa lalu.
"Aku serius... Ingin belajar" Aku mencoba meyakinkannya.
"Aku akan percaya, and let see... What you get after meet him"
"OK..!!"
Aku segera menelpon om Johan ketika aku sampai di kantorku.
"Hi.. Om... Apa kabar? Lagi ada Di mana?"
Aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Hai Har... Aku baru landing tadi malam, aku juga mau rencana untuk diskusi sama kamu kalau ada waktu"
Ah... Pucuk di cinta ulampun tiba.
"Bagaimana kalau sekalian main basket sore ini" ajakku tanpa ragu.
Om will Dan om Johan adalah teman ku main basket sebelum aku menginjak bangkuk sma, siapa sangka aku berujung menikahi mantan pacarnya. Ternyata hidup ini benar hanya seluas daun kelor, untuk kasusku.
"Ok... Sama Willy juga.."
"Oh.. Ya.. Ya... I see.." Om Johan menarik nafas dalam - dalam " I am so sad about that"
" Thank you Om... Kita ketemu Di Olimpic house? Lapangan basketnya baru launching Dan belum rame.. Makanan kantin di sana juga lumayan"
"OK... Sampai ketemu"
Telepon aku Tutup begitu saja. Meski setelahnya aku sedikit merasa nggak enak. Tapi bukankah Maria terkadang juga seperti itu, aku rasa Om Johan tidak akan masalah.
*'*' '****
Seperti dugaanku lapangan basket Di sini masih belum popular. Orang jaman sekarang lebih suka fitness Dan body builder dari Pada olah raga permainan group. Padahal kita Akan lebih dari sekedar olah raga, tapi juga belajar menerima kekalahan Dan berusaha untuk menang. Kalau istilahku sih... Kita belajar jadi kesatria.
" Hi.. Har..!!!" Om Johan menghampiriku setengah berlari. Meski dia tidak muda seperti aku, tapi garis ketampanannya tidak punah. Aku benci senyumnya yang indah itu, karena aku yakin senyum itu salah satu kenangan indah cintanya dengan Maria.
Fisik om Johan juga masih sangat bagus Dan Bisa tergolong sexy.
" Sorry agak telat dikit.. Kelewatan tadi.. Jadi harus outer balik"
" Ah.... Iya.. Its OK... Aku pemanasan dulu om, aku tunggu Di lapangan"
Om Johan hanya mengacungkan jempol Dan langsung menuju ke ruang ganti, sementara aku hanya mencoba berlari - lari kecil keliling lapangan.
Kami bermain satu lawan satu sekitar satu jam lamanya. Stamina om Johan perlu aku acungi jempol, karena terus terang aku kalah.
" Wah... Om Johan masih tangguh nih urusan lapangan"
Om Johan tertawa renyah "usia boleh tambah Har, tapi stamina Dan semangat harus makin maju dong!?"
"Om Healthy life juga" Aku masih menata nafas usai pertandingan sengit kami.
"Iya dong!!!"
Dasar sebelas dua belas sama Maria..
"Om..... Ngapain sih repot - repot buka Bisnis kuliner, om.. Udah kaya banget Di usia kurang dari 40 tahun, dan udah banyak free time" Aku mengawali diskusiku.
Om Johan ini, kekayaannya udah kayak Papi. Memang warisan, tapi dia cukup brilliant. Di tangannya usaha ayahnya yang sudah sangat besar berkembang hingga tiga kali lipat. Waktu muda aku sering dibandingin dengan dua, karena kami sama - sama pewaris tunggal.
"karena aku suka makan, tapi istriku nggak Bisa masak" jawabnya enteng " Jadi aku buka restaurant, rencananya Di beberapa negara" lanjutnya sambil menyapu pandangannya ke sekeliling kursi penontin yang pasti kosong.
"Maria masih suka masak?"
Aku mengangguk "tiap hari, minimal sarapan"
Om Johan mengangguk angguk sambil tersenyum. "Jadi ikutan hidup sehat ya?"
Aku tertawa, benar juga.. Karena aku serum ah dengan Maria aku jadi ikut hidup sehat.
"Dia juga udah mulai menanam sayuran Di rumah, dengan cara organik"
"Ah... Itu aku mau diskusi sama kamu"
"soal Apa..?"
"Supermarket organic!" Om Johan melanjutkan minumnya "di new York belum banyak jadi ini peluang buat kita, sekalian kita Bisa dapat supplies murah untuk Bahan restaurant kita" Om Johan mulai menoleh padaku Dan menatapku dengan mata teduhnya, jujur saja sebagai laki - laki aku juga merasa mulai jatuh cinta kalau melihat om Johan saat ini "Kita Bisa menggunakan lahan perkebunan Maria untuk produksi beberapa rempah khas Asia. Kita buat system tumpang sari"
Tidak jauh beda dengan Maria, otak om Johan hanya soal pekerjaan. Tapi dia mengungkapkannya dengan nada yang nyaman Dan mempesona, aku yakin banyak orang yang langsung bilang iya jika melihatnya seperti ini... Termasuk Aku.
"Iya... Itu ide bagus, om Bisa kirim presentasinya ke emailku. Nanti aku bisa bahas juga sama Maria"
"Sure.." om Johan memukulkan ringan kepala tangannya ke pangkal lenganku.
" Kalau boleh tahu...." Aku sedikit menggantung ucapanku "Apa yang Membuat Om menjatuhkan pilihan om Pada Maria Pada saat itu? Dan Kenapa masih peduli sampai sekarang om?"
Om Johan mengurangi senyumnya secara bertahap hingga ia mulai menarik nafas dalam - dalam.