Sugar Mamy

Sugar Mamy
Lamaran


Aku tidak tahu harus berbuat apa dalam posisi saat ini, semua aset yang aku punya juga nggak sampai 100 Milyar..


" tenang saja, pasti ada Jalan keluar"


Maria mencoba menenangkanku.


Tapi wajah Maria yang nampak gugup. Adalah pertanda bahwa situasinya memang belum ada solusi. Apakah mungkin tidak ada solusi? Apa Maria akan menyerah? Dia tidak mungkin mau kehilangan semua yang dibangunnya dengan susah payah hanya untuk memepertahankan parasit seperti aku kan?.


Aku berlari kecil mengikuti jejak Maria yang baru saja memasuki ruangannya.


"Roselyn.. Bisa masuk ke ruangan saya" Maria memanggil sekertarisnya.


Aku hanya berfikir berdiskusi pekerjaan,


"Kenapa mereka Bisa menempatkan anak baru untuk hal se fatal itu" Aku masih emosi Dan protes Pada Maria.


"Masalah sudah terjadi Har! Bukan waktunya mencari yang salah" Maria segera memeriksa komputernya untuk beberapa kebutuhan data.


"Jadi kita bagaimana? Kondisi perusahaan terus merugi Dan sekarang kita harus membayar ke pemerintah dalam Jumlah sebesar itu?".


"Tidak ada pilihan kecuali membayar. Dan kita harus mulai mencari Jalan keluar untuk dana itu, solusi sementara adalah harus bertahan dahulu"


Maria nampak bertahan untuk tetap berfikir jernih.


"Ada yang bisa saya bantu?"


Roselyn ternyata sudah berdiri di a bang pintu yang lupa aku Tutup.


"Ah,...." Maria mengeluarkan beberapa map Dan kunci mobil dari lemari Di belakang mejanya. "Kamu urus penjualan ini, kemudian untuk pembayarannya tolong langsung dimasukkan ke rekening kantor.


" Mar!!! "Aku memekik "Kamu menjual asetmu?"


"Untuk bertahan sampai kita mendapatkan Jalan keluar" Maria kembali mengangkat gagang telephone setelah meminta Roselyn meninggalkan kami berdua "Dimas, tolong kirim ke saya daftar kreditur yang memungkinkan ke email saya"


"Kamu berniat meminjam uang?"


"Itu adalah cara berikutnya" Maria sedikit berbisik sebelum dia kembali melanjutkan kalimat berikutnya "Jadwalkan meeting saya dengan pihak perpajakan dengan subjek permohonan perpanjangan tempo pembayaran"


Maria menutup telephone Dan menarik nafas panjang.


Dan aku masih terbengong menyaksikan semua yang baru saja aku lihat.


" Tinggal menunggu hasil Rapat dengan pihak pajak, dan sementara itu kita Bisa mencoba mencari solusi dengan tenang" Maria mengangguk beberapa kali Dan mulai tersenyum seperti biasa.


Sepasang mata kami Saling menatap beberapa kali, Di kepalaku aku mulai khawatir Maria akan menendangku jika mau. Tetap bukankah aku sekarang tidak begitu buruk?


Aku memiliki Sebuah apartment, rumah di kawasan elite, mobil mewah dengan keamanan yang baik. Serta Sebuah restaurant yang mulai beranjak sukses Di New York. Aku juga memiliki deposito Dan beberapa barang dengan value yang cukup menjanjikan termasuk Berlian Dan jam Mewah. Harusnya aku tidak perlu khawatir kan?


"Kamu mulai mengerti keadaannnya?" Maria memecah keheningan Di antara kami "terkadang beginilah hidup" Maria menunduk sesaat sebelum ahirnya dia mengangkat kepalanya lagi. "Mungkin aku akan menyerah beberapa saat atas hak asuh Tania, Bukankah Renata wanita yang baik?"


"Ah... Iya.. Renata memang perempuan yang baik"


"Apakah kamu yakin kalau dia Bisa jadi ibu yang baik buat Tania"


Yah.. Mana aku tahu? Renata yang aku kenal adalah anak bungsu dari pamanku yang juga memiliki kuasa atas group Tower High. Hidup bergelimang harta Dan kasih sayang, ramah dan tidak pernah memiliki mimpi apapun selain menikmati kehidupannya yang santai.


"Bisa jadi...." hanya itu yang bisa aku jawab.


"OK..."Maria hanya mendengus sesaat" Kamu Bisa kembali ke kantormu, kalau ada pertanyaan kita Bisa membiarkannya saat Di rumah, kabarin aku kalau kamu ingin kita pulang lebih awal "


" OK!! " Aku mengambil langkah mundur Dan meninggalkan Maria sendiri.


" Kita pulang Yon!! " Aku memangil Dion yang sedang berbincang serius dengan para mantan rekan kerja kami dari Divisi marketing.


" Hai Har... "Mereka semua menapaku dengan ramah.


" Hai juga "Aku menyambut mereka sekenanya, Sungguh tidak ada mood bagiku untuk berbasa - basi. Tawa mereka Dan wajah yang tanpa khawatir membuatku cukup iri, karena mungkin andai saja aku tetap memilih duduk Di sana perusahaan Maria akan baik - baik saja.. Dan para pegawai tidak akan Ada kemungkinan kehilangan pekerjaan.


Aku mengangguk Dan segera melangkah ke area parkir.


Pikiranku mulai melayang ke mana - mana, bahkan beberapa ketakutan mulai mampir Di benakku termasuk aku mulai berfikir untuk meninggalkan Maria, supaya dia Bisa hidup dengan Baik seperti yang Di lakukan om Johan. Tapi, om Johan tidak punya pilihan Dan aku pasti punya meski aku belum menemukannya.


"Kamu nggak makan siang dulu Har?"


"Makan Di kantin kantor saja"


"Kamu nggak sedang berantem dengan bu. Maria kan?"


"Engak" jawabku singkat "Tapi...." aku mulai berfikir untuk menanyakan sesuatu "Kalau saja aku tidak bersama Maria Dan tidak memberimu kedudukan apakah kamu akan tetap menjadi teman ku Yon?"


"Bagaimana mungkin kamu masih meragukanku aku? Bukankah aku sudah menemanimu Dan membantumu mencari pekerjaan? Saat kamu terusir?" Dion mengingatkan hubungan pertemanan kami "Kamu beneran berantem dengan Bu. Maria?".


Aku menggeleng Dan memilih untuk memejamkan mata selama perjalanan.


******


Rute yang berbeda aku pilih untuk kepulanganku dari kantor hari ini. Aku ingin melihat rumah Maria yang sudah kami tinggalkan beberapa waktu lalu. Meski kenangannya tidak banyak. Tapi rumah itu adalah saksi bagaimana beberapa negosiasi antara aku dan Maria berproses.


Rumah itu nampak masih twrawat dengan beberapa bunga yang nampaknya juga mulai mekar Di halamannya. Semerbak bunga kenanga yang di tanam Maria di sudut kanan halaman cukup menusuk Hidungku, membawa nostalgia saat Maria menhajikan teh padaku Di beranda.


"Maria???" Ternyata tidak berbeda denganku Maria juga ada Di sini,


Tentu saja, untuk Maria rumah ini pasti lebih banyak kenangannya. Terutama tentang kebersamaannya bersama putri semata wayangnya Tania. Dan Karena Tanialah, Aku hadir dalam kehidupan Maria.


Aku menghampiri Maria yang sedang duduk lesu Di depan rumahnya yang bertempelkan poster DiJUAL, meski wajahnya tersenyum, sisa air mata masih nampak jelas di wajahnya.


"Hai...." Sapaku sambil mulai mengambil duduk Di Sebelahnya.


"Sorry... Bulan depan aku nggak Bisa lagi bayar kamu. Kamu Bisa bebas, kita Bisa diskusikan penyelesaiannya nanti" Maria benar - benar tidak berbasa - basi. "Aku hanya minta bantuan, untuk tetap tinggal sementara hingga aku mendapatkan tempat tinggal"


Aku menepuk ringan dahi Maria "Sekali - kali anggaplah aku sebagai manusia"


"Memang aku tidak?"


"Aku juga punya hati yang berisi cinta Dan etika" Aku mengacak rambutku sendiri "Andaikan kamu meragukan cinta ku, paling tidak percayalah Pada etikaku"


Maria hanya memandangku dengan wajah yang masih penasaran dengan maksud kalimatku.


"Aku tidak mau mengahiri apa yang terjalin Di antara kita" Aku memperjelas maksudku


"Seperti kamu bilang, aku bebas.... Jadi aku bebas juga untuk tetap bersama mu"


"Pikirkan baik - baik dulu" Maria menarik nafasnya perlahan. " Tidak ada uang bulanan lagi ataupun bonus"


"Bukankah itu seharusnya kewjibanku sebagai suami?" Aku merogoh kantong Celanaku Dan meraih kotak kayu yang aku ambil dari brankasku "Aku melamarmu Mar... Dengan ini?" Sepasang anting Berlian bersinar terang dari kotak kayu yang aku buka perlahan.


"Aku tahu, orang melamaf pakai cincin. Tapi, aku tidak tahu ukuran jemarimu, tapi boleh Di anggap ini sah kan? Cincinnya Bisa nanti"


Maria tertawa kecil, "Kamu tidak bergurau kan?" kedua matanya memicing tajam ke arahku. Wanita umumnya pasti akan mengagumi keindahan dari sepasang Berlian dari designer perhiasan ternama.


"Aku selalu serius mengambil keputusanku, dari Di usir Papi hingga menikah denganmu, semuanya belum ada yang bercanda bukan?"


"Ingat! Kalau aku bilang iya, kamu tidak bisa mundur lagi"


"Bukankah aku selalu Maju?"


"OK!?" Maria tersenyum Dan mengambil salah satu anting Dan mulai menempatkan Di Telinga kanannya "Aku terima" ujarnya dengan senyum Malu.


"Aku bantu untuk sisi Telinga kiri?" tawarku dengan anting Di jemariku yang sudah siap aku sematkan.


Maria hanya mengangguk menyetujuinya.