
Aku Sungguh tidak ingin mengambil langkah ini karena aku ingin menjaga tentang orang tua yang baik untuk Tania" Maria sedikit tertunduk Dan ragu.
"Maksudmu?? Ada cara lain??"
"Iya.... Tapi..." suara Maria menjadi lebih rendah "Akan mengahancurkan Anthony"
"pilihanmu sama saja, kalau kamu hancur Tania juga pasti hancur melihat berita tentang ibunya. Dan Di lain sisi juga sama. Yang terpenting, kita bisa membuatnya Bisa menghadapinya"
Maria menghempaskan tubuhnya kembali Dan menatap nanar Pada langit - langit.
"Aku pastikan aku akan membantu Mar.. Common..." aku mencoba membujuknya.
Tapi Maria belum merespon.
"Look Mar..!! Nggak ada orang yang hidupnya sempurna... Seberapa besar usahamu. Hukum alam akan selalu begitu, Tania juga harus menghadapi badai seperti manusia yang lain"
Kali ini sepasang mata yang hitam pekat itu mengarah padaku, mencoba mencari celah atas ucapanku. Namun hanya Berahir dengusan kecewa.
"We do it... Right? Dia juga mewarisi sifatmu. Dia pasti baik - baik saja"
Maria mengatupkan sepasang bibirnya sebelum ahirnya mengangguk menyetujuinya.
Aku bermaksud mendarat kan kecupan Di sudut bibirnya yang mulai terangkat. Namun...
"Ahirnya kamu kembali Har...!" Luna me... "Mami tiba - tiba muncul Dan mengejutkan kami.
" Maaf... Bukan menganggu.. Siapapun yang bersamamu mami tidak peduli, asal bukan wanita tua itu..."
" Mi...!!! " Aku tak Bisa menahan emosi.
" OK.. Mami keluar..! " suara mami juga ikut meninggi.
Aku mengusap wajahku kasar. Bagaimana mungkin mami Bisa masuk seenaknya ke kamar villa ini.
Moodku langsung berantakan. Raut wajah Mariapun langsung merah padam. Dia pasti malu kepergok mami dengan kondisi seperti ini.
Aku segera bangun Dan meraih kimono tidur yang selalu tergantung rapi di lemari.
"Mami yang seharusnya malu" Aku melempar satu ke arah Maria setelah mengenakan satu Di antaranya. "Pakai itu Dan segera temui Mami"
"Aku Sungguh berantakan"
"Lebih berantakan lebih bagus, biar mami sadar seberapa serius dia menggangguku saat ini"
"CK.. Aku mandi dulu Har.. Yang benar aja kamu, hasil kerajinanmu ada Di mana - mana"
Wanita memang paling ribet kalau urusan penampilan apalagi Maria.
"Jangan bikin urusan panjang... Ayo!!" Aku menarik lengan Maria Dan mengajaknya menemui Mami.
Aku tak peduli meski Maria enggan, tidak ada yang perlu malu Di antara kami. Posisi itu yang harusnya malu adalah Mami. Seenaknya saja memasuki ruang privasiku.
"Well.. Lebih baik kamu jadi playboy dari Pada seperti sekarang" Mami langsung menyambutku dengan ucapan yang cukup tajam.
"Tapi sayang aku harus mengecewakan mami" sambutku dengan cepat. Aku menarik paksa Maria yang sengaja bersembunyi Di balik punggungku. "Aku sedang bersama istriku"
Kedua manik Mami seakan ingin melompat ke arah kami. "Bagaimana mungkin, dia di sini?" pekik mami reffleks.
"Jadi...??" rasa curiga segera memenuhi otakku "Maria seharusnya Di mana selain Di samping suaminya sepagi ini?"
"Ah.. I... Itu..."
"Ehem... Di mana Mi?" Aku mulai tak ragu lagi mengambil duduk di seberang sofa tempat Mami bersemayam.
"mmmm.... Mungkin Di kantor?" Mami mulai kembali melemaskan lidahnya yang sempat kurang terarah dengan baik.
"Mungkin Sebaiknya Maria di kantor polisi sekarang?" Aku mengamati mimik Mami yang pucat untuk sesaat.
"Hah... Tentu Di kantor kerjanya, bukankah dia pekerja keras?"
" Jam sarapanku belum mulai, Maria masih memasak Di rumah Pada jam segini atau kami melakukan apa yang mami saksikan tadi" Aku menarik Maria yang masih berdiri penuh salah tingkah karena penampilannya yang jauh dari biasanya.
Maria hanya menunduk Dan membiarkanku menyandarkan dagu Di ceruknya.
"Aku rasa studio pilates Mami tidak dekat dari sini, apa Mami tidak akan terlambat kalau tidak segera pergi?"
Mami menarik nafas panjang tanpa melepaskan sorot matanya yang tajam ke arah kami. Tubuhnya segera terangkat dari sofa Dan melangkah dengan gaduh menuju pintu keluar.
" Aku harap mami tidak terlibat terlalu jauh dengan Luna "Aku menghentikan langkah mami yang tidak nyaman" Bagaimanapun aku tidak ingin Mami bertemu Papi Di penjara sebelum atau setelah dia bebas "
Mami memutar langkahnya ke arahku dengan Tangan melayang yang segera mendarat Di pipiku.
" Dasar anak durhaka! tidak puaskah kamu mengirim Papimu kepenjara? "
" Semua orang pasti akan menerima balasan dengan, atau tanpa aku" Aku berusaha tenang meski rasa Panas mulai menjalar Di pipku.
Kali ini Maria berdiri Dan mengambil tempat tepat Di hadapan Mami.
"Harry.. Benar. Tanpa mempedulikan hak saya, saya rasa andaikan anda memang bersama Luna, itu termasuk kriminal yang pasti akan bercela. Seperti apa yang dilakukan suami anda, dengan alasan hanya membantu teman tanpa keuntungan, tidak akan mengubah fakta bahwa beliau telah membantu tindak korupsi "
Sekali lagi Tangan Mami melayang ke arah Maria, Sungguh heran Maria sama sekali tidak mengelak atau mencegah.
" Ada Bisa menampar saya sekali lagi, tapi tetap tidak akan merubah kenyataan akan apa yang saya katakan "
Mami seolah ingin melakukannya lagi... Tapi dia ahirnya hanya menahan nafas Dan kemudian dengan segera meninggalkan kami sendiri.
Aku menarik Maria kembali ke tempatnya semula Di sisiku.
" You are always have a good words " pujiku yang jelas tidak salah.
"Hanya belajar dari pengalaman, menjadi wanita yang nggak eye catching terkadang perlu ke ahlian khusus untuk bertahan"
"Hmmm...." Aku mengamati Sejenak "Kamu selalu tidak percaya diri urusan ini"
"Aku menerima kenyataan dengan baik, dan menanganinya dengan bijak. Memiliki penampilan yang eye catching mungkin menyenangkan, tapi memiliki yang aku punya sekarang itu lebih berguna"
"Ya.. Ya... Jadi kaya memang lebih Bisa di nikmati dari Pada jadi cantik"
Maria hanya melempar senyum datar "kalau kaya kita Bisa menikmati, kalau cantik orang lain yang menikmati"
Benar juga, wanita hanya menikmati Kecantikannya dari pujian Dan perlakuan istimewa. Tapi kalau punya uang semuanya juga Bisa di dapat.
"Bisa kah kamu mengatur untuk baju kita? Kita harus segera mengambil berkas yang aku maksudkan tadi Dan mulai memprosesnya sebelum Rapat umum pemegang saham Tower High"
"Ah... Yup.., tapi aku lapar?" perutku sudah berbunyi nyaring.
" Jangan manja, kita Bisa makan drive thru ketika dalam perjalanan nanti"
"Tapi aku kangen masakanmu Mar"
"Itu Bisa di tunda.."
******
Maria mencebik sambil memandangi dirinya Di cermin. Sepasang matanya sama sekali tidak senang.
"Sage green ?? Seriously.... Pilihanmu ini tidak nampak Cocok untukku"
"Itu menurutmu bukan menurutku" Aku segera menyanggahnya.
Aura angker Maria sudah seharusnya Di hapus secara perlahan. Sudah terlalu sering dia mengenakan baju dengan warna suram.
"CK.. Aku kehilangan percaya diri kalau begini"
"Kalau aku bilang bagus, pasti bagus. Kamu menikah denganku, salah satu tugasmu adalah menyenangkanku. Jangan complain"
"Entahlah..." Maria melenggang keluar melewatiku begitu saja. "Kita langsung ke bank"
*****