
Sejak hari itu aku melihat Maria dengan cara yang berbeda, meski Sebenarnya secara global tidak banyak berubah. Maria tetap memasak untukku, menyiapkan keperluanku seperti biasanya. Perbedaannya, aku tidakeneruma pundi - pundi uang dalam rekening ku dan juga hadiah - hadiah.
Maria juga terkadang tersipu ketika aku mengamatinya, bukan menatapku kembali dengan aura Alpha yang sangat kental. Kamu juga mulai berbagi hobby dengan baik seperti bermain basket bersama, meski Maria benar - benar payah terutama dengan ukuran badannya yang kurang dari 160cm. Dan aku mulai belajar berkebun, mengenal struktur tanah tingkat kelembaban Dan lain - lain.
Kehidupan ranjang kami tentu jadi lebih baik, meski tetap dengan beberapa syarat seperti, harus Di rumah. Tapi, keadaan cukup berimbang kami sama - sama bergelora ketika melakukannya. Tidak adabpembicaraan tentang pekerjaan atau hal semacamnya yang sering merusak mood dari Mulut Maria. Meski kami saat ini masih sama - sama bertempur dalam masalah pekerjaan.
Beginikah rasanya ketika harga dirimu kembali? Inikah harga diri yang sering di agung - agung kan? Aku akui harga diri seperti ini memang tidak bisa di bandingkan dengan nominal..
"Kenapa senyum - senyum sendiri?" pertanyaan Maria membuyarkanku..
"Aku hanya merasa aneh, Kenapa aku lebih merasa senang Dan bahagia ketika kamu mulai menghakhiri aliran dana padaku"
Maria tersenyum sesaat, "ada beberapa hal yang tidak dapat di tukar dengan apapun" Maria melanjutkan menata hidangan sarapan kami Di meja makan. "Kamu Bisa bertahan untuk menghindari Melissa, tapi kamu memilih bertekuk Di kakiku" Lanjutnya saat mulai duduk Di sampingku.
"Tapi aku tidak menyesalinya, karena aku tidak mungkin Bisa belajar me lindungi diriku sendiri terutama secara financial, kalau aku tidak meringkuk Di kakimu"
"Jangan membahas hal yang sudah berlalu, lebih baik kita fokus kan pikirkan Dan tenaga kita untuk melancarkan Jalan kita ke masa depan yang baik"
Maria selalu menghindari membahas yang yang sudah selesai, meski Sebenarnya itu mengungkit kebaikannya atau keunggulannya. Mungkin hal itu yang membuatku merasa nyaman Di sisinya meski terkadang kata - katanya yang cukup tajam.
"Kamu makan yang banyak juga, agar aku segera melihat dua garis dari test pack bulan ini"
Maria hanya mengangguk Dan segera melahap sarapannya.
"Aku naik taksi saja ke tempat Aryo, kamu Bisa langsung saja ke Kantor pusat. Bantu aku investigasi siapa saja yang memiliki history pernah bekerja Di perusahaan ayahmu Dan juga perusahaan Melissa"
"Kamu akan memecat mereka?"
"Tidak, Aku hanya akan memindahkan mereka ke divisi yang tidak strategies" Maria menatapku sesaat "terkadang kita harus menutup mata hati kita dari rasa kasihan, untuk urusan seperti ini"
"Maksudmu?"
"Kamu tahu... Terkadang mereka yang berbuat tidak baik dalam keadaan yang penuh iba. Tapi sebagai orang yang mengayomi banyak karyawan, kamu tidak bisa mendengar kan hatimu untuk iba Pada satu orang dan megorbankan seluruh karyawan lainnya" jelas Maria.
Maria merapatkan bibirnya sambil menepuk pundakku. " kalau jadi pemimpin Di benci itu sudah biasa, kita hidup bukan untuk pujian, tapi hanya untuk melakukan hal yang benar. Dengan begitu kamu sudah berinvestasi untuk kedamaian hidupku sendiri Di masa datang Dan percayalah kamu tidak bisa mendapatkannya selain cara ini "
Aku mendaratkan ciumanku Pada Maria, aku menyadari, bagaimana rapuhnya diriku yang dulu ketika hanya melihat Kecantikan adalah pintu menjalin hubungan, Di bandingkan dengan cara berfikir Dan hati.
" take care!" Kami Saling melepaskan pelukan Dan berjalan menuju tujuan Masing - Masing.
Papi kalau saja kamu punya kesempatan mengenal Maria lebih dekat, aku yakin kamu tidak akan ingin melewatkannya sebagai bagian keluarga kita. Kecuali kamu benar - benar memepertahankan egois.
****
"Benar juga, dan mulai bertambah sejak aku mulai menikah dengan Maria" Aku menimpali dengan serius.
"Ternyata ayahmu cukup perhatian denganmu"
"Tapi dari segi negative" Aku mendengus kesal, karena baru menyadari bahwa Papi Sebenarnya masih memburu ku. "Kamu ada kenalan nggak yang lagi mencari jodoh"
"Kamu mau poligami?" Tanya Dion Polos.
" Pikiranmu hanya berputar di situ, huh!" Aku mulai seperti Maria, menganalisa cara berfikir orang lain "Aku mau mencoba mencari jodoh untuk Melissa, kalau saja dia tidak menginginkanku mungkin kondisinya akan lebih ringan"
Aku mulai berfikir untuk beraksi maju, dari Pada hanya diam dan bertahan. Kekuatan ayahku mungkin cukup besar saat ini. Tapi akan lebih besar ketika ayah Melissa benar - benar memenangkan pemilu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Wah... Itu agak sulit, kamu tahu sendiri circle pertemanan kita itu hampir sama.. Dan mereka sudah mulai meninggalkanku sejak aku membantumu apalagi malah menjadi sekertarismu"
Ah benar juga, kami memang sama - sama terbuang dari genk kami.
Tapi... Bagaimana mungkin Dion Bisa masuk genk kami padahal kamu hanya orang biasa?Aku mulai menyadari keunggulan Dion yang sempat aku abaikan. Kami selalu hanya bergaul dengan pengeluaran yang cukup besar. Gaji Dion Di divisi marketing saat itu tentu tidak begitu cukup untuk selalu berkumpul bersama kami.
Hmmm... Apakah justru Dion yang harus aku curigai?
****
Maria memutuskan untuk tidak melanjutkan pertarungan sengitnya dengan Anthony. Terlalu banyak hal yang harus Di korbankan. Selain karyawannya, Tania adalah korban terbesar dari konflik Di antara mereka. Itulah keputusan yang di hasil kan setelah dia kembali dari pertemuannya bersama mas. Aryo.
Maria berencana menerima saja keputusan pengadilan bahwa hak asuh jatuh ke Tangan Anthony. Dan kami boleh menjenguk Tania setiap saat dengan beberapa kondisi yang masih Bisa di bilang normal, hanya saja Tania tidak bisa menginap bersama kami. Pilihannya adalah kami liburan bersama, empat orang tua Dan satu anak. Compromise...
Urusan dengan Anthony mungkin Bisa akan di bilang beres setengahnya. Tapi tentu saja tidak dengan orang tuaku, mereka mulai mengajukan beberapa jadwal pertemuan tanpa Maria. Ayah terdengar cukup senang ketika aku menyetujuinya meski aku belum me jatuhkan pilihan akan waktu yang di ajukannya.
"Waktunya kita berdiskusi lebih banyak, termasuk kesalah pahaman" ujarnya ketika menutup percakapan kaki Di sambungan cellular.
Salah paham dari mana? Apa yang bisa membuat kita salah paham hingga aku harus menikahi Melissa? Itu hanya bahasa manipulatif saja. Jangan - jangan Papi benar - benar ikut dalam kasus korupsi itu, hingga dia tega mengorbankanku sebagai anak satu - satunya.
Akibat korupsi tidak sederhana untuk seorang pembisnis seperti Papi. Bukan hanya nilai saham perusahaan yang turun, tapi juga kepercayaan untuk kerja sama jangka panjang dengan relasi Bisnis akan bertahan berkurang. Dengan kata lain, pelan - pelan Bisnis Papi akan menurun. Meski Sebenarnya itu tidak akan membuatnya miskin. Tapi.. Pasti akan cukup melukai harga dirinya sebagai pembisnis terkemuka dengan reputasi gemilang selama ini.
Mungkin dia tidak akan Bisa membayangkan, bagaimana orang bergossip tentang dirinya. Bagaimana dia tidak memiliki cukup teman untuk bermain golf kesukaannya, atau hal - hal lainnya. Tapi bukankah kalau memang salah harusnya Papi menebusnya? Dan aku rasa itu juga merupakan investasi kedamaian untuk masa tua Papi.