Sugar Mamy

Sugar Mamy
Terungkap


"Jangan terlalu sombong, bahwa semua ini adalah karenamu" Anthony menggeleng cepat "Huh.. Ternyata kamu memang masih ingusan"


Jadi ada sebab lain Maria bermusuhan dengan Papi? Dan Sungguh kah itu bukan karena aku?


*****


Ucapan Anthony Di acara pagelaran busana Alberto terus mengiang Di telingaku. Bahkan aku lupa angka - angka Dan kontrak yang kami dapatkan dari pagelaran itu. Kecuali senyum Alberto yang sudah cukup mengangkat Sebagian Pikiranku.


"Congratulations!! I am happy dengan hasilnya. Ternyata kamu sangat jeli" Ucapan Maria hanya seperti angin saat ini. Aku hanya mampu memberi seulas senyum datar.


"Congratulations, aku penasaran dengan projek yang lain. Hubungi aku untuk kesepakatan yang kamu tawarkan" Kata - kata Elena yang paling aku tunggu jadi terasa hambar.


Aku memilih manepi Sejenak dari penat yang seharusnya aku nikmati "Terimakasih Adi untuk analisa kamu, keep your good work" ucapku tanpa semangat ketika berpapasan dengan Adi. Aku berniat mengucapkannya lebih baik lagi nanti.


Apa hubungan Maria dengan Papi? Menjadi topik yang mendominasi otakku. Apakah aku juga hanya dimanfaatkan Maria? Apakah aku juga hanya di hitung dari nilaiku saja bukan perasaanku sebagai manusia?


"Pesta itu harusnya kamu nikmati, aku dengar hampir 90% semua adalah hasil kerja kerasmu" Rupanya Dion juga turut menepi Di balkon.


"Jadi kamu Bisa faham Kenapa aku Di sini, aku lelah"


Dion memandangi jendela kaca Di samping kami, seakan Bisa menangkap ke mana arah mataku yang belum sempat terpisah ketika menginjakkan kaki Di lantai dek.


"Maria... Ibu Maria?" Tebak Dion yang pasti benar "Kamu juga kesulitan dalam pernikahanmu dengannya?"


Aku masih memilih diam, tahu apa Dion atas dunia kami. Aku mengikuti sarannya mengiyakan saran Papi untuk angkat kaki dari rumah tanpa sepeserpun, tapi dia lupa bahwa berurusan dengan Papi bukan cuma urusan harta. Tapi Papi juga mampu memboikotku dari hampir keseluruhan perusahaan. Hingga ahirnya aku terdampar Di perusahaan Maria.


"Para wanita matang itu hidupnya tidak pernah sederhana bukan?" Dion tersenyum simpul. Dengan perlahan dia mengisap rokok Di tangannya dan menghebuskannya tanpa tergesa - gesa.


"Apa Elena membuatmu kurang nyaman?"


"Untuk beberapa hal" Dion mulai mengangguk membenarkan "Apa bu Maria tidak begitu?"


"Hanya penyesuaian selera Pada awal, sisanya kami lebih dari baik - baik saja" Aku Sungguh jujur untuk hal satu ini. Dan aku pikir aku tidak perlu menceritakan lebih. Orang seperti Dion akan hanya berfikir aku terlalu berlebihan.


Aku bisa bayangkan pertengkaran macam apa yang Dion hadapi dengan Elena jika membahas hal ini.


Aku menarik nafas dalam - dalam "Bagaimana denganmu?"


"Entahlah, Elena terkesan lebih rumit dari Pada sebelumnya. Dia mulai banyak menghabiskan waktu dengan beberapa nama berpengaruh dari Pada bersenang - senang seperti sebelumnya"


"Apakah orang - orang dari Tower High?" Aku memang sedang malas, tapi kesempatan mengorek Dion tentang langkah Elena juga bukan mudah di dapat.


"Sebagian.. Tapi lebih banyak dari pihak luar termasuk beberapa temannya yang memiliki pengaruh Di bidang yang lebih berpengaruh dimasyarakat" Dion mengangkat alisnya.


"Ayah Melissa?" aku menebak nama yang tidak aku harapkan.


Dion menerawang Sejenak "Entahlah.. Mungkin, tapi lebih sering dengan Ayah Luna"


Meski aku juga khawatir, Namun paling tidak aku sedikit tenang. Karena aku dan Papi sudah sepakat tidak akan Ada lagi perjodohan.


"Bagaimana Perkembangan program kehamilan Elena?"


"Mau aku bantu jawab.. Hanya perkiraan" Kami Saling memandang sesaat "tapi jangan bilang jawabanku konyol"


Dion tertawa "Bukankah biasanya kamu sering berfikir konyol? Hingga saat ini aku masih belum Bisa mencerna Kenapa Ibu Maria memilihmu sebagai suami Pada saat itu"


"Ha.. Ha.. Ha.." Aku mencoba tertawa sekedarnnya "Bukankah aku sulit dilewatkan? Aku cukup menarik secara fisik bukan" Aku menaikkan lenganku Dan memamerkan ototku yang Sebenarnya terbungkus oleh tuxedo berwarna sky blue.


Dion membalas candaku dengan tawa yang tulus "Kalau wanita lain aku percaya tapi bukan Ibu Maria, kita sama - sama tahu siapa dia"


"Percayalah, aku ini special" Aku mengamati Dion Sejenak "Justru aku yang bingung Kenapa Elena berubah selera. Banyak lelaki yatim piatu yang pasti lebih menarik dari Pada teman ku yang baik hati ini"


"Bukankah kamu mau membantu ku menjawabnya?"


Aku menatap langit lepas Di atas kami "Sederhana... Hanya tidak ingin menjadi rumit"


"Rumit....???"


"Bukankah Elena lebih fokus dalam beberapa hal saat ini?" Aku kembali menatap Dion yang masih mengamati ku dengan menghisap rokoknya sesekali "Jadi dia tidak ingin Di repot kan dengan hal lainnya seperti urusan cinta"


Dion hanya mengerutkan keningnya "Semurah itukah aku?" Aku pikir ini adalah pertanyaan bercanda.


"Selama Elena masih sanggup membayarmu, berarti kamu tidak mahal" Akupun menanggapi dengan jawaban yang hanya candaan. Tapi,


Raut muka Dion nampak tidak senang. Ups! Apakah memang Dion juga Di bayar?


"Apakah kamu..."


Kalimatku belum usai, tapi Dion segera meninggalkanku sendiri usai mematikan rokoknya yang belum seluruhnya terpakai.


Aku membuang nafas kasar. Apakah sikapnya berarti membenarkan? Apakah Dion dalam kesulitan Ekonomi? Hingga menerima tawaran wanita seperti Elena? AH... tapi Kecantikan Elena sanggup memikat siapapun tanpa Di bayar.


Maria melambaikan tangannya padaku yang segera aku sambut. Meski aku merasa dongkol padanya karena banyak hal yang tak Di jelaskannya secara gamblang padaku. Tapi tak Bisa aku pungkiri, meraih tangannya Dan berada Di samping ya membuatku merasa setidaknya menjadi diriku sendiri tanpa khawatir. Meski sering kami berdebat karenanya.


"Are you OK?" sapa Maria ketika aku mrengkuh pinggangnya.


"Just Tired" jawabku malas. Meski Sebenarnya aku punya sederet pertanyaan yang ingin kuajukan Pada Maria.


"Aku bisa mengerti.." Maria mengelus punggungku.


Aku tersenyum datar,


"Alberto mencarimu dia ingin mengucapkan terimakasih padamu" Senyum Maria me ngembang sempurna "Aku senang kamu Bisa bekerja sama dengan Alberto"


"Apakah hanya karena Alberto?" moodku yang berantakan, membuatku hanya mampu mengeluarkan pertanyaan yang memancing argument ckck.


"Bukan itu pointnya" Maria masih belum menyadari akan perasaanku "Kamu berhasil mengubah permusuhan menjadi Bisnis yang menguntungkan" Senyum Maria masih merekah seiring matanya yang bersinar bahagia.


"Apakah kamu mencintaiku?" aku mengambil jeda Sejenak "Atau aku hanya katalisator untuk Bisnismu?"


Wajah Maria seketika membeku "hah...!!" senyumannya pudar perlahan "Maksudmu?"