
"permasalahannya Di sana, hanya sampai situ.... Kenapa tidak kamu terus kan? Kalau kamu baik dalam menghafal Dan membuat strategy, mungkin kamu Bisa belajar menjadi dokter Dan menjadi dokter bedah.. Dan tidak menjadi sugar Baby lagi.. Ketika ayahmu mengancammu "
" Deg...!! " Ucapan Maria benar.
Mar... Bisa ramah sedikit?... Senyummu memang indah tapi kata - kata tajam Dan dinginmu sering membuatku jadi Serba salah.
Aku memilih diam Dan membeku Di hadapan wanita satu ini. Dan aku mulai mengakui.
" Jangan membuat kebodohanku terlalu jelas.. .. "Aku mendengus kesal, meski aku tahu itu adalah kenyataan.
" Kamu cuma belum pintar.... Dan perlu belajar " sahut Maria yang rupanya sudah selesai membereskan barangnya.
" kamu sudah tahu kan.... Rasanya jadi miskin? Namun paling tidak kamu cukup rupawan jadi masih ada positifnya meski sedikit"
"Apa perbedaannya miskin dalam keadaan tampan Dan tidak"
"Aku harap kamu tidak pernah tahu? Karena kamu tidak akan pernah Di sana lagi" Maria tersenyum Dan berlalu.
Kata - kata Maria Memancing rasa penasaranku untuk mengikuti langkahnya.
"Bisa di perjelas kondisinya?"
"Ambillah kesempatan berada Di sisiku untuk belajar" Maria menjawab ku dengan ringan seiring langkahnya yang sedang menuju halaman belakang. "Setelah semua stabil.... Coba lah mencari ide untuk membuat perusahaan yang kamu suka"
Maria menepuk tempat dusuk Di sampingnya.
Tanpa segan Aku menerima tawarannya untuk bersanding Di sisinya.
Maria menarik nafas panjang.... "berfikirlah bagaimana buat melindungi dirimu sendiri, andaikan saja aku hancur Dan tidak bisa menopangmu. Kamu sudah Bisa berdiri di atas kakimu sendiri"
"Kamu nggak ada niat bunuh dirikan Mar...? Atau kamu sakit Dan sedang sekarat "
Tawa Maria berderai menanggapi pertanyaanku yang tidak sedang bercanda.
"Harry..." Maria terkekeh dengan ucapanku yang penuh rasa peduli "Perbaiki dulu cara berfikir kamu" Maria menggeleng sambil berdecak "Aku menasehatimu bukan untuk pesan terahir, lagi pula saat ini kamu suami sahku.. Kalau aku mati kamu otomatis mendapatkan lumayan banyak kekayaan ku... Ngapain aku repot - repot menasehatimu"
Benar juga...
"Kita tanam bunga dahlia saja di halaman ini" celetuk Maria yang mengganti topik seenaknya.
"Bukan mawar Dolcetto?" sindirku sambil mendengus.
Maria menggeleng sambil tertawa kecil "Kita mulai dengan jenis bunga baru ya?".
Aku setuju dengan mengangguk mantap. Maria bukan hanya istri, atau sekedar sugar Mamy dia juga memikirkan untuk kehidupanku tanpa menuntut banyak seperti orang tuaku sendiri. Thank you Maria.
**'*' '****
Keadaan perusahaan ahir - ahir ini mulai berantakan, satu per satu client perusahaan mulai membatalkan kontrak atau kerja sama. Perlahan pemasukan perusahaan juga mulai berkurang sangat lumayan.
Ancaman Anthony sepertinya bukan hanya gertakan sambal saja.
Jalannya persidangan urusan Taniapun berjalan cukup rumit, aku juga hadir beberapa kali untuk mengkonfirmasi tentang pernikahan kami. Saat itu nampaknya sangat lancar untuk dari sisiku, karena aku Sungguh nampak sebagai suami yang bertanggung jawab termasuk membeli rumah untuk keluargaku.
Namun bagaimanapun, penghasilan kami berasal dari perusahaan yang sama Dan perusahaan tersebut sedang dalam kondisi yang tidak sedang baik - baik saja. Andaikan perusahaan Maria merugi, total asset juga tidak cukup untuk membayar pesangon seluruh karyawan.
Perperangan strategy antara Maria Dan Anthony semakin menghawatirkan untuk keadaan Tania. Apalagi Anthony melarang Maria untuk mengunjunginya atas dasar ada kemungkinan bahwa aku dan Maria sudah mulai berselingkuh saat mereka dalam pernikahan. Fitnah yang Sungguh Di luar dugaan.
"Kamu mulai mengerti.. Kenapa aku tidak pernah mengahiri hubunganku dengan Johan dalam ikatan pernikahan?" gumam Maria seusai kami selesai menghadiri persidangan saat ini.
Aku hanya bengong menghadapi pertanyaan yang Sebenarnya tidak terlintas Di otakku.
" Perceraian....! Dan ini sangat mengerikan " Maria menutup kedua matanya Dan segera memgenakan kaca mata sun protector untuk menyamarkan kesembaban yang sedang mulai.
"Kamu masih berkomunikasi dengan Tania?"
Maria mengangguk... "untung Anthony menyetujui bahwa mbak Manda yang akan mengasuhnya"
"Kalian dulu sahabat yang cukup baik, Kenapa jadi mengerikan begini?" Sebenarnya aku tidak bermaksud bertanya Dan hanya ingin menggumam saja.
"Karena loyalti Dan perasaan itu ada expirate date - nya" Jawab Maria tanpa ragu "Seperti yang kamu alami juga dengan keluargamu"
"Oh iya..."
" Inilah.... Dunia yang sesungguhnya"
Maria melempar kunci mobilnya padaku.
"Kamu yang menyetir"
Aku menangkap kunci mobil itu Dan menurutinya tanpa membantah.
*'****
Daniel adalah seorang lelaki yang cukup cantik ber paras oriental. Meski sepasang matanya sipit, tapi cukup kharismatik. Lelaki Di sekitar Maria lumayan berjenis superior, semakin lama berada Di sisinya membuatku merasa tidak setampan yang selama ini Di elukan Mami Dan para gadis - gadis Di sekitarku.
"Suami Maria?" sapanya singkat dengan senyum yang menawan.
Aaah.. Satu hal yang sama dari Daniel Dan Maria, terkadang mereka memang langsung mengantakan isi pikirannya tanpa basa basi.
"Benar!" Mas. Aryo menjawab dengan lugas Dan akrab.
"Kenapa Maria tidak menemani?"
"Dia sedang sibuk... Kamu tahu sendiri keadaannya"
Ternyata para cowok juga bergossip. Terlihat jelas dari percakapanku awal mereka yang mengesankan mereka bertukar Informasi dengan cukup detail.
"Kita langsung ke intinya" Daniel mengulurkan Sebuah map dengan beberapa pertanyaan tentang diriku Dan Keinginanku, warna favourite Dan hal - hal semacam itu.
"Tanda Tangan dulu Niel" Mas. Aryo menyodorkan map "Ini surat confidential"
Surat confidential adalah surat perjanjian untuk merahasiakan semua kegiatan kami.
Daniel tanpa ragu menandatanganinya Dan segera me ngajak kami ke Sebuah ruangan president suit Sebuah Hotel bintang lima. Kami butuh menunggu sekitar satu jam, sebelum beberapa staff dari para brand International mulai berdatangan melakukan presentasi akan produk mereka.
Beginikah cara orang kaya berbelanja? Padahal aku lebih kaya dari Pada Maria, tapi cara berbelanja seperti ini baru pertama kali aku alami. Kemana saja aku? Papi hanya sibuk mengisi otakku dengan teori menghasilkan uang dari Universitas ternama Dan juga praktek magang Di perusahaan ber kredibilitas baik. Tapi dia tidak pernah memberiku pengalaman membelanjakan uangku seperti sekarang. Mungkin... Di mata Papi aku hanya mesin pengganti untuk menambah kekayaannya saja?
"Bagaimana kalau kamu hadiahkan Sebuah anting Berlian untuk Maria?"
"Tentu...!" Aku menjawab langsung, sudah sewajarnya aku berterimakasih Pada Maria.
*****